
# Arisan Bodong Keluarga Suami ( Tetangga Julid )
Bab 48
Pov Bu Murni
Karena kejadian kemarin tekadku sudah bulat Diki harus bercerai dari Novia, melihat sikap Novia yang sudah sulit diatur. Apalagi ada campur tangan keluarganya rasanya tidak ada yang bisa diharapkan lagi.
Memikirkan ini membuat kepalaku tambah pusing. Tidak ada Novia sebenarnya aku lebih kerepotan karena Diki lebih sering tinggal disini.
Belum lagi pemasukan dari sewa bekas warung nasiku sudah tidak ada. Ini sih namanya sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan, karena tak ada anak perempuan. Dulu enak aku tinggal panggil Novia dia pasti langsung datang membereskan pekerjaanku.
Lain lagi si Ayu setiap datang dia hanya menyusahkan, tak pernah mau membantu bahkan anaknya diberikan pada Dina adikku untuk diasuh.
Sementara dia malah pergi bertemu temannya, terkadang dia datang hanya untuk tidur siang saja disini karena dia tak mau tidur siangnya terganggu dengan rengekan Chila.
" Mah sedang apa pagi pagi sudah melamun?" aku tersentak mendengar suara suamiku.
" Gak ada pak, baru beres bikin sarapan. Amah mau ke warung dulu ya " aku beringsut dari dudukku, masih merasa kesal dengan sikapnya yang selalu membela Novia.
Lebih baik aku ke warung pura pura belanja sekalian ngobrol sama tetangga. Daripada dengar dia ceramah lagi yang ujung ujungnya terus menyalahkanku. Sudah serasa paling benar saja hidupnya.
" Diki bangun mau kerja gak? sarapan udah siap amah mau ke warung dulu " kulewati kamar Diki dan menggedor pintu kamarnya agar segera bangun.
Gegas aku keluar rumah menuju warung si Juju. Keluar dari pagar dari kejauhan kulihat ibu ibu sedang belanja sayuran, lekas kudekati mereka sambil memilah sayuran yang akan aku beli.
" Bu Murni kemana saja, sudah berapa hari gak ke warung?" si usil Yati tukang gosip bertanya dengan suara dikeraskan berharap ibu ibu yang lain melihat kedatanganku.
" Ada Yat di rumah, kebetulan stok makanan di rumah banyak, saya kalau belanja gak pernah sedikit malas bolak balik ke warung. Kadang dikirimin sama anak menantu "
" Gitu ya bu, enak ya jadi Bu Murni anak mantunya baik baik. Ngomong ngomong si Diki mau cerai ya Bu sama Novia kok gak balik balik kesini Novia nya semenjak bertengkar "
Tahu darimana si Yati mereka mau bercerai, memang pantaslah dia disebut Ratu Ghibah di RT kami gosip terbaru pasti si Yati tahu duluan. Apa mungkin dia punya telinga di setiap rumah.
" Malas saya ngomongin si Novia mantu gak tahu diri sudah numpang pelit lagi, gak pernah mau bantu saudara "
__ADS_1
" Yang bener Bu masa iya numpang seingat saya Novia bayar uang sewa tiap bulannya " Si Siti main sambar omonganku saja.
" Kamu sok tahu Siti, jangan mentang mentang kamu dekat sama Novia ya ngomong seenaknya main fitnah saja menjelek jelekan saya " kesal sekali mendengar ucapan si Siti bisa malu kalau sampai ibu ibu pada tahu aku sudah berbohong.
" Saya gak yakin kalau Bu Siti bohong, dia orangnya jujur kok. Malah Bu Murni yang sering jelek jelekin Novia " timpal Yuyun.
Plaakk
Aku kesal dan langsung menampar si Yuyun tukang ghibah sekuat tenaga memakai kangkung yang sedang kupegang.
" Eh apa apaan ini seenaknya saja uugghh " Yuyun melemparku memakai tempe yang sedang dipegangnya.
Aku pun tak mau kalah kulempar saja si Yuyun dengan sayuran sayuran yang ada didepanku. Kami pun saling lempar sayuran. Bahkan posisi aku dan si Yuyun sudah dekat kami sudah saling jambak.
Ibu ibu yang lain malah menyoraki kami dan tidak berniat memisahkan. Mereka seperti sedang menonton pertandingan saja.
" Berhentiiii, jangan merusak warung saya. Kalau mau ribut pergi jangan disini " dengan lantang si Juju pemilik warung langsung berteriak sambil menyiramku dan Yuyun dengan seember air.
Seketika aksi kami terhenti mendengar teriakan Juju. Kami terengah engah dan berhenti. Kurang ajar si Juju dia fikir aku kucing yang sedang berkelahi seenaknya menyiramku dengan air.
" Dia yang mulai duluan menamparku dengan kangkung " Yuyun menunjukku dengan wajah merah menahan amarah.
" Makanya kalau jadi orang jangan suka fitnah punya mantu baik tapi malah dijelek jelekin. Kita juga tahu gimana perlakuan Bu Murni sama Novia "
" Ada urusan apa kamu mengaturku, kenapa kamu yang repot. Kamu juga Siti jangan mentang mentang dekat dengan Novia lantas fitnah fitnah aku " kutunjuk Siti tepat didepan wajahnya.
" Loh siapa yang fitnah, semua juga tahu Bu Murni gimana. Novia tidak pernah menjelek jelekan mertuanya. Bahkan saya lihat dia sangat sabar " Siti menjawabku dengan lantang sambil menepis tanganku.
Kulihat sekeliling mereka memandangku sinis. Kalau situasinya seperti ini aku tidak akan menang, karena banyak ibu ibu yang membela Novia.
" Diam kalian kalau tidak tahu masalahnya jangan ikut campur. Awas ya kamu Yun tunggu saja pembalasanku " kutunjuk wajah si Yuyun sambil melotot.
" Coba saja aku tidak takut, dasar mertua tukang fitnah. Kalau aku jadi menantumu sudah pasti akan kuracun " jawabnya sambil tersenyum menyeringai.
" Huhhhh gak sudi aku belanja disini lagi dasar ibu ibu rese, tetangga julid "
Aku pergi meninggalkan warung menuju rumah. Untung saja tidak terlalu jauh, dengan keadaan baju basah kuyup banyak tetangga yang memperhatikanku bahkan mereka berbisik bisik sambil menatapku.
__ADS_1
" Apa lihat lihat, mau aku siran juga? " ucapku dengan geram, sial benar hari ini.
Beginilah kalau hidup di gang permasalahan kita pasti jadi bahan gosip warga se RT bahkan se RW.
Braakkkk
Tiba di rumah aku langsung masuk dan kubanting pintu rumah dengan kuat, ada suamiku dan Diki yang sedang sarapan di meja makan.
" Astagfirullah Amah, apa apaan sih ngangetin saja. Itu juga kenapa baju basah gitu emang hujan ya "
" Hujan dari Hongkong, ini kerjaan si Juju. Main siram saja dia kira aku kucing main siram seenaknya "
" Kok bisa disiram?amah bikin ulah mungkin "
" Nggak " sanggahku
" Ini gara gara si Novia, semua tetangga membelanya " lanjutku.
" Lah emang Novia ada kesini kok gak mampir? "
" Dia gak ada, tapi tetap saja bikin masalah. Emang tuh mantu sudah kurang ajar, gak tahu diri malah bawa sial juga lagi "
" Amah kok bilang gitu sih, Novia kan istriku "
Apaan sih si Diki malah membela si Novia. Padahal tadi malam dia terlihat mulai terpengaruh ucapanku untuk menceraikan istrinya.
" Sudah jangan berisik, pokoknya Amah gak suka kamu bela si Novia cukup Bapak kamu saja yang membela si Novia jangan ikuti kelakuannya " ku tatap tajam wajah suamiku.
Suamiku hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil menarik nafas.
" Kamu Diki ingat pesan Amah semalam. Aku ibumu surgamu ada di kakiku sebaiknya ikuti saranku "
Aku bergegas pergi menuju kamar untuk mengganti baju. Sekilas kulihat suami dan anakku berusaha menahan tawa melihatku basah kuyup.
Memang sial hari ini, niat berghibah malah aku yang kena getah. Ini semua gara gara si Novia mantu sialan.
Ada gak ada tetap saja bawa masalah. Lebih baik aku segera menghubungi temanku siapa tahu punya anak gadis yang bisa dijodohkan dengan Diki.
__ADS_1
Mungkin kalau sudah dikenalkan Diki akan tertarik dan segera menceraikan Novia. Kalau hari itu tiba akulah yang paling berbahagia hahaaa..
Tunggu saja Novia, kamu pasti menangis memohon padaku...