arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Diki VS Robi


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Mertua


Bab 56 ( Diki VS Robi )


Pov Amah


" Bu Murni tumben ke warung lagi udah berapa hari saya gak lihat Ibu ke warung " ngapain ini si Yati nanya nanya penuh basa basi kayak sayur lodeh sisa kemarin saja.


" Malas lihat muka kamu sama si Yuyun " kujawab dengan ketus tanpa melihat wajahnya mataku tetap tertuju pada sayur kangkung di depanku.


" Bu Murni ini pendendam banget, saya kan kan gak ikut ikutan "


" Halah kamu sama saja, kamu kan sohibnya si Yuyun. Sama sama tukang ghibah "


" Lah Bu Murni ini suudzon saja, lagian Bu saya bukan ghibah. Saya cuma menyampaikan berita saja. Harusnya orang orang merasa terbantu kan "


" Halah suka sukamu sajalah, yang pasti kamu tuh udah kayak CCTV hidup RW sini. Keliling ke tiap RT cuma buat cari ghibahan "


" Heheee dikit lah Bu, tapi beberan loh kemarin di grup Ibu-ibu heboh katanya motor Diki di ambil sama Novia. Emang bener ya Bu ?"


" Ah ngga, justru Diki ngasih motor itu buat Novia karena rumahnya jauh. Kurang baik apa anak saya, emang si Novia nya aza yang gak tahu diri.


Dengerin ya anak saya masih mampu beli motor yang lebih bagus dan lebih mahal dari motor kemarin " aku tak mau kalah dan terlihat tak mampu di depan tetangga tetanggaku.


" Hey Yati mana mungkin Bu Murni ngaku, dia kan gengsian. Jelas jelas banyak saksi yang lihat kalau motor itu di ambil paksa.


Karena gak terima sampai sampai kunci nya di lempar si Diki. Ih dasar gak tahu malu pake barang punya istri giliran diambil ngamuk ngamuk " si Yuyun ikut nimbrung obrolan kami, bikin hati tambah panas saja.


Ah sial dia lagi dia lagi padahal aku sengaja ke warung agak siang supaya gak ketemu sama si Yuyun.


" Diam kamu, emang tahu apa soal kejadian kemarin? Gak usah sok tahu kamu " kutunjuk mukanya dengan geram.


" Gak usah nunjuk nunjuk kali. Bu Murni lupa kalau adik saya juga kerja disana. Malah ya, dia lihat langsung kejadiannya alias Live.


Makanya Bu buruan si Diki beli motor kasian naik ojeg terus nanti duitnya habis. Bisa bisa jatah Bu Murni habis dipakai ojeg " si Yuyun bicara gak pake rem udah gitu kenceng lagi suaranya dasar tetangga laknat.


Daripada dengar ocehan mereka mending aku gak jadi belanja. Lama lama emosiku naik bisa bisa tawuran lagi disini.


" Ju saya gak jadi belanja " ucapku pada pemilik warung.


" Kok gak jadi Bu ini kan sudah dipilihin " si Juju protes karena sayurannya sudah aku pilah tapi gak jadi beli.


" Lain kali saja belanjanya, sudah gak mood " cepat cepat aku pergi daripada telingaku panas mendengar ocehan si Yuyun.


" Marah nih yeee, jangan marah marah Bu nanti darah tinggi hahaaa " si Yuyun bicara sambil berteriak.


Mereka semua kompak menertawakanku, ini semua gara gara mantu kurang ajar itu. Habis aku dihina hina tetangga.


***


" A'Diki masih pake ojeg nih mana motornya "


Itu seperti suara si Yati deh kok nyebut nyebut nama Diki. Kayaknya si Diki sudah pulang. Yah pantas saja ini sudah jam 5 sore bahkan hampir setengah 6 ini kan jamnya pulang kerja.


Ceklek


" Dah pulang Ki? "

__ADS_1


" Ya sudahlah Mah makanya ada di rumah, kalau belum pulang pasti masih di pabrik. Gak usah basa basi lah Mah " si Diki menjawab pertanyaanku dengan ketus.


Tahu aza dia kalau aku basa basi. Sabar sabar ini demi uang gajian yang belum ku terima dari Diki.


" Mmmhhhh Gimana jatah Amah? kamu kan udah gajian. Minimal uang buat beli sabun sama makan kamu. Kan kamu tinggal disini "


" Nanti lah Mah aku belum ke Atm "


" Ya sudah nanti ya jangan lupa " aku mencoba tersenyum, bahaya juga kalau dia marah bisa bisa jatahku tak diberikannya.


" Robi belum kesini Mah? "


" Belum, emang ada apa?"


" Ya mau ambil motorku lah kan aku sudah bilang kemarin "


" Kamu jadi ambil motor itu, terus gimana Robi nanti dia pakai apa? "


" Amah kok gitu, kalau Robi pake motorku terus aku pake motor siapa? Lagipula itu kan motorku. Kalau dia mau ya beli lah sendiri. Amah ini pilih kasih "


" Ya bukan gitu maksud Amah, kamu kan bisa ngomong sama Novia supaya balikin motornya. Masa dia gak kasian sama kamu "


Kucoba untuk membujuk Diki, kalau misal Robi tak ada motor sama aza dengan masalah baru. Dia pasti merengek padaku agar dibelikan motor.


" Nah itu Amah ngakuin kalau itu motor Novia, kenapa aku harus ambil motor orang. Sedang motorku di pakai orang lain, dipakai Robi anak kesayangan Amah itu "


" Bukan gitu maksud Amah Ki. Apa kamu gak kasian sama Robi adik kamu? "


" Terus Amah gak kasian sama aku? "


" Cckkk udah lah pusing Amah dengerin kamu, gak mau ngalah terserahlah " cape bujukin si Diki tapi dia gak faham faham keinginanku.


" Waalaikum salam " kami serempak menjawab salam.


" Nah tuh adikmu, fikirin lagi niatanmu itu "


" Gak ada yang perlu difikirin lagi, tekadku sudah bulat mau ambil motorku "


" Ada apa sih manggil manggil aku supaya datang ? " Robi datang sendirian tanpa ditemani istrinya.


" Motor yang biasa aku pakai diambil Novia, jadi aku mau ambil motorku yang kamu pakai " dengan tegas Diki bicara pada adiknya.


" Ya gak bisa gitu dong main ambil motor yang kupakai, ambil saja sana motor yang ada di istrimu "


" Eh kamu mikir gak sih motor yang kamu pakai itu kan motorku, aku ngasih pinjam ya bukan ngasih cuma cuma "


" I-iya aku tahu tapi kan kalau diambil aku pakai apa? "


" Itu urusanmu bukan urusanku, apa kamu mikirin aku mau pakai apa sekarang? "


" Pokoknya aku gak mau motor itu diambil " Robi mulai berteriak sehingga mengundang perhatian tetangga yang sedang nongkrong.


Tuh tuh kan apa yang aku takutkan terjadi tetangga yang kepo langsung berjajar di luar pagarku.


" Sudah sudah jangan ribut, kalian gak malu rebutan seperti itu? "


Robi langsung mengambil kunci motor yang digeletakannya di meja. Diki pun tak mau kalah dia merebut kunci motor yang dipegang adiknya.

__ADS_1


Jadilah mereka tarik tarikan kunci. Karena merasa kesal Diki akhirnya melayangkan pukulan pada Robi.


Robi pun tak mau kalah akhirnya mereka saling membalas pukulan.


Aku kaget tak menyangka mereka akan saling pukul " Argghhh toloonng tolooonngg "


Aku sudah tak memikirkan rasa malu lagi, yang aku ingat aku harus memisahkan kedua anak laki-laki ku yang sedang bertengkar supaya tidak terluka.


Para tetangga lelaki berdatangan dan berusaha melerai Diki dan Robi. Setelah dipisah 5 orang laki laki akhirnya mereka bisa dilerai.


Mereka pun berhenti saling pukul, tapi terlambat muka mereka sudah sama sama lebam bahkan rumahku berantakan.


Sedangkan tetangga perempuan mereka sibuk membicarakanku. Apalagi si Yati dia sudah seperti wartawan berdiri paling depan tak mau diam.


Bahkan dia mengeluarkan HP sudah seperti sutrada yang mau ambil gambar untung aku lihat, aku langsung memelototinya. Dia pun urung melakukannya. Huhhhh dasar CCTV berjalan.


Ya Allah bagaimana nasib hambamu ini, pasti bakal jadi seleb dadakan. Habislah aku jadi bahan ghibah satu RW.


Malah mungkin bisa bisa satu kelurahan tahu karena tetangga disebelahkuku bekerja dikelurahan mulutnya sama bocornya seperti si Yati.


" Ada apa ini rame rame seperti ini?" suamiku tiba tiba datang.


Aku menghampirinya sambil menangis " Hiks hiks ini Pak si Diki sama Robi ribut rebutan kunci motor. Si Diki mau ambil motor yang dipakai si Robi kan motornya diambil si Novia. Tapi Robi menolak mereka jadi berkelahi "


Tanpa sadar aku berbicara panjang lebar, seakan lupa kalau sekarang tetangga sedang berkumpul di rumahku menyaksikan perkelahian anakku.


" Owh gara gara motor, berarti motor yang biasa A' Diki pakai bukan di bengkel ya hehehee " si Yati berasa dapat durian runtuh mendengar ucapan jujurku.


Ah si*l aku lupa sampai sampai buka aib sendiri " Emang kenapa masalah buat kamu? "


Aku langsung membentak Yati kesal sekali lihat wajahnya yang terkesan meledekku.


" Jangan marah lah Bu, mending obatin anaknya daripada ribut sama Yati"


" Iya gimana sih Bu Murni ini "


Suara tetangga mulai bergemuruh entah bicara apa saja saking banyaknya yang bersuara.


" Mohon maaf Bapak-bapak dan Ibu-ibu anak saya sudah membuat keributan. Saya akan menyelesaikannya sendiri. Terima kasih atas bantuan dan perhatiannya " suamiku menangkupkan tangannya meminta maaf pada warga yang berkumpul di rumahku.


" Huhuuu "


" Huhuuu "


" Bikin ribut saja keluarga ini gak ada tenang tenangnya "


" Lain kali kita biarin saja biar sampai babak belur "


" .......... "


Para tetangga pun bubar walau masih terdengar ucapan ucapan sumbang mereka.


" Dasar tetangga sial*n, kepo bukannya simpati malah ngatain. Berengs*k " Kubanting pintu rumahku karena kesal mendengar ocehan mereka.


Aku langsung masuk ke rumah dan berbicara sambil menunjuk kedua anakku.


" Gara gara kalian rumah jadi berantakan, belum lagi kalian bikin Amah malu. Mau ditaruh dimana muka Amah ini. Malu malu huaaa huaaa "

__ADS_1


Aku menangis sekencang kencangnya sambil masuk kamar.


__ADS_2