
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 46 ( Rencana Menjual Warung )
Setelah kepulangan keluarga Diki yang berakhir dengan keributan, Novia dan keluarganya berkumpul di ruang tamu.
Hanya emah dan anak anak yang berada di kamar mereka masing masing. Karena menurut pendapat Arif mereka masih kecil dan emah sudah sepuh jangan sampai menjadi beban fikiran untuk emah.
" Rame banget sih tadi, satu keluarga sifatnya sama. Bibi udah pengen ikut nimbrung buat ladenin adiknya si Diki itu " ujar Nania begitu berapi api.
Dari cara bicaranya saja sudah terlihat dia sangat geram pada keluarga Diki terutama pada Cantika yang saat itu paling banyak berbicara.
" Bibi pasti ngintip ya di tembok sebelah udah gitu pasti kayak cicak nemplok nemplok gitu buat nguping hahahaa " semua ikut tertawa mendengar ucapan Manda.
Tentu saja mereka sudah tahu kebiasaan Nania. Siapa yang tidak tahu kebiasaannya yang suka menguping apabila ada hal yang menurutnya menarik untuk disimak. Dengan memakai alasan untuk berjaga jaga apabila butuh bantuan.
" Ya biasalah kamu kayak gak tau hobi bibimu saja dari zaman gadis emang begitu " ibu Novia membenarkan ucapan Manda.
" Setelah melihat kejadian tadi kamu segera fikirin langkah ke depannya mau gimana neng, Ibu khawatir sepertinya amah makin benci kamu, ditambah anak anaknya seperti anggap kamu itu musuh "
Bu Atikah mengungkapkan kekhawatirannya, karena dia tahu betul bagaimana karakter keluarga Diki apalagi dia cukup lama tinggal bersama Novia.
" Iya bu, Neng juga uda buat keputusan. Andaikan Neng minta bercerai dari A'Diki apakah paman dan Ibu gak keberatan? " Novia berbicara sambil menundukkan wajahnya, seperti sungkan menyampaikan niatnya.
Dia merasa malu dengan keputusannya karena dulu dia yang memaksa ingin menikah dengan Diki. Padahal keluarganya berharap Novia kuliah dulu, selain itu melihat usia Novia yang masih muda khawatir belum bisa mengurus rumah tangga dengan baik.
Tapi penyesalan memang selalu datang terakhir, karena kalau di awal tentu saja namanya pendaftaran. Novia pun harus menanggung semua resikonya.
" Emmm sebenarnya siapapun orang tuanya pasti sedih melihat anaknya bercerai, tapi kalau pernikahanmu membuatmu gak nyaman ya mending berpisah daripada malah jadi mudhorot " Arif menjawab pertanyaan Novia, dia tau Novia merasa malu sehingga dia pun berbicara dengan halus tanpa ingin menyalahkan Novia
" Iya bener Vi, teteh gak rela kalau kamu terus disakiti keluarga toxic itu. Kamu masih muda Vi jalanmu masih panjang.
Justru kalau kamu balik lagi teteh gak ridho, teteh bakal ganti nama kamu jadi ratu bucin " Manda memberikan pendapatnya juga.
" Gitu amat sih teh, bukan aku bucin tapi kalau udah rumah tangga itu ada banyak pertimbangan " Novia menyanggah ucapan Manda, karena sebelumnya dia memberikan waktu untuk Diki agar berubah, bukan karena bucin.
" Ya memang kalau sudah berumah tangga banyak pertimbangan tapi jangan sampai jadi bodoh gitu "
" Sudah sudah lagipula sudah terjadi.sekarang kita harus mencari solusi saja untuk Novia bagaimana bagusnya " Arif menyela ucapan Manda berusaha menengahi keponakannya.
Arif tahu tak ada maksud Manda menyakiti perasaan Novia dia hanya geram dengan Novia yang selalu mengalah.
" Ya iyalah udah disakiti bertahun tahun tapi masih bertahan, siapa juga yang gak gemes " Manda menjawab dengan ketus dia tetap tidak bisa menerima perlakuan keluarga Diki pada adiknya.
" Ngga lah teh aku tak berfikir untuk kembali, ini sudah aku fikirin sejak lama sepertinya berpisah jalan terbaik. Aku tinggal memberikan pengertian saja pada anak anak "
" Baguslah kalau begitu, terus saran teteh ya mending kamu jual aza itu warung amah. Sepertinya akan jadi sumber masalah apalagi ada di daerah rumah Diki"
" Bener neng mending kamu jual, kamu belikan rumah atau ruko nanti kalau kurang uangnya biar paman tambahin saja "
Mendengar itu wajah Novia terlihat berbinar dia seakaan punya harapan baru.
__ADS_1
" Nah itu rencana yang bagus, kalau Bibi pasti mau neng apalagi dapat bantuan dana "
" Iya nanti Neng cari pembeli dulu kan gak gampang kalau jual rumah atau bangunan itu. Bukan uang sedikit juga Bi, pasti yang beli mikir mikir dulu "
" Coba kamu tawarin dulu pada penyewa sekarang Neng, sapa tahu dia minat " Arif memberi sarapan pada keponakannya karena menurutnya kalau penyewa sudah lama menempati berarti dia betah dan tidak menutup kemungkinan si penyewa ada keinginan untuk membelinya.
" Iya coba besok neng tawarin sama Bu Ningsih ya, siapa tau dia minat "
" Sebaiknya kamu jangan kesana Ibu khawatir banget loh, takut ada masalah baru lagi "
" Gak lah malas juga kesana mending hubungi lewat telepon aza, kalau misal minat baru dibahas lebih serius ketemuan di luar juga gak masalah "
" Nah itu ide yang bagus, berarti untuk warung udah ada solusi ya "
" Iya, tinggal aku pengen cari rumah dulu. Gimana bi dapat info gak ada rumah yang bisa dikontrak dulu? "
" Loh kamu gak mau tinggal disini neng, kan disini rumahnya juga besar lagipula kita bisa jaga emah bareng bareng "
" Bukan gitu paman, aku hanya ingin mandiri dan ingin memiliki rumah sendiri. Lagipula disini sudah ada Bi Nania bisa jaga emah "
" Ya bagus juga sih niatnya, tapi sebaiknya jangan jauh jauh dari sini bukannya anak anak sekolahnya mau pindah ke daerah sini? "
" Aman paman, aku yang urusin soal kepindahan anak anak. Aku juga udah datangin sekolah baru. Mau mulai sekolah besok juga sudah bisa "
" Baguslah kasian anak anak kalau terlalu lama libur, tapi kamu udah kasih tau ayahnya anak anak neng? "
" Heheee belum paman, aku malas ngobrolnya lagian a' diki juga seperti gak peduli. Nanya kabar anak anak aza gak pernah "
" Iya bener nanti kalau kamu mau patahkan kaki si Diki bibi ikut ya dari dulu bibi gak suka sama dia, gak ada tegas tegasnya kayak bukan laki laki saja "
" Ah kalian sama saja, ini juga udah tua bukannya nasehatin malah ikut ikut an "
" Kamu gak boleh gitu, Diki tetap ayahnya anak anak. Jadi berhak mengetahui keadaan dan perkembangan anak anak " Arif menasehati Novia. Walaupun kesal pada Diki jangan sampai berimbas pada anak anak.
" Udah neng kamu jangan sedih gitu, kan, udah paman bilang sekarang kita hanya perlu memperbaiki keadaan "
Arif menyadari dari raut wajah Novia seperti merasa bersalah.
" Iya paman, neng minta maaf gara gara rumah tangga neng semua jadi ikut repot bahkan merasa malu karena keluarga a'diki tiap kesini pasti ujung ujungnya bikin ribut."
" Gak perlu minta maaf, kami semua mengerti. Lagipula siapa yang bisa tahu perkara masa depan. Cuma paman minta kamu fikirkan baik baik keputusan yang kamu ambil jangan sampe menyesal "
" Mana mungkin menyesal, justru kalau dia gak bercerai lebih menyesal hidupnya gak akan bahagia " Manda memberikan pendapatnya kembali.
" Iya teh aku nyesel, gak dengerin kalian. Tapi aku gak menyesal sepenuhnya karena ada Keysha dan Althaf yang jadi pelipur laraku "
" Ya sudah tak usah di bahas lagi bener kata paman itu sudah berlalu. Oh ya teteh kemarin liat ada ruko di jajaran gerbang komplek mau dijual coba kamu cek kali aza kamu cocok "
" Tapi kan warung Amah belum terjual aku belum ada duit, tabunganku pun gak besar harga ruko pasti mahal. "
" Kalau soal itu tenang saja, kan kamu masih punya aku sama paman. Kita pasti bantu kok. Hitung hitung ini hadiah buat Key dan Althaf "
__ADS_1
" Duh aku jadi gak enak terus saja merepotkan " Novia tersipu mendengar ucapan Manda.
Dalam hati Novia sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat peduli padanya dan anak anaknya.
" Alhamdulillah berarti permasalahan perpindahan sekolah sudah beres, ruko aku bisa antar kamu buat lihat besok sepulang kamu kerja dan urusan warung amah kamu bisa telepon dulu Bu Ningsih kan? "
" Iya bibi setuju dengan usul Manda. Kalian harus secepatnya bergerak supaya gak diganggu lagi sama keluarga Diki "
" Baiklah komandan saya siap melaksanakan titah anda " Manda mengangkat tangannya di keningnya seperti memberi hormat pada atasannya.
Semuanya tertawa melihat tingkah Manda walaupun dia terlihat kasar tapi itu hanya pada saat marah atau sedang membela diri, selebihnya dia merupakan wanita yang menyenangkan.
Setelah lama bercengkrama akhirnya satu persatu pamit ke kamar masing masing karena hari mulai malam.
Sebelum tidur Novia terlebih dahulu melihat anak anaknya yang terbiasa tidur bersama neneknya.
Terkadang Novia membacakan dongeng terlebih dahulu sebelum tidur. Walaupun di siang hari bekerja tapi dia selalu memperhatikan pertumbuhan anak anaknya.
" Gimana Vi anak anak udah tidur " Manda bertanya pada Novia yang baru saja masuk ke dalam kamar.
" Althaf udah tidur, Keyla belum tapi dia tak keberatan di tinggal kan ada ibu " Novia duduk di meja rias sambil membersihkan wajahnya.
" Oh, eemmhhh kamu yakin mau bercerai sama Diki. Udah difikirkan matang matang?" Manda bertanya pada Novia dengan ragu, dia takut adiknya merasa terpaksa karena dia sering memojokannya bahkan menjelek jelekan suaminya.
" Aku yakin kok, sebenarnya ini udah difikirin lama banget, cuma baru sekarang waktu yang tepat.
Bukannya teteh bakalan seneng kalau aku bercerai " Novia bertanya penuh selidik pada kakaknya.
" Ya gak gitu juga sih, siapa yang suka kalau ada salah satu keluarganya mengalami perceraian teteh juga tau kalau perceraian dibenci Allah.
Teteh hanya memastikan keputusanmu saja. Takutnya kamu ambil keputusan itu karena merasa tertekan atau ada hal yang lain. Intinya ikuti saja kata hati kamu.
Kamu yang lebih tahu perasaan kamu dan kamu juga yang bakal menjalaninya. Tapi terus terang aza kalau teteh bakal kecewa andai kamu balikan lagi sama Diki "
" Iya aku faham teteh bersikap seperti itu karena sayang sama aku. Tenang aza aku sudah sangat yakin, aku juga udah banyak rencana untuk kedepannya setelah ini. Aku hanya berharap dukungan dari teteh dan keluarga "
" Iya tentu saja akan kami dukung selagi itu baik buat kamu dan anak anak " mereka berdua pun berpelukan saling menguatkan. Ini seakan mengingatkan mereka pada saat mereka masih kecil.
" Selamat berjuang calon janda " ucap Manda sambil terkekeh.
" Dih ngeledek, selamat tidur juga kakak calon janda "
" Hahaaaa " mereka tertawa berdua, seperti tanpa beban.
Manda menutup badannya dengan selimut, Novia segera bersiap tidur. Sebelum tidur dia berniat mengirim pesan pada Bu Ningsih menawarkan warung yang ditempati Bu Ningsih.
[ Assalammu alaikum Bu Ningsih, maaf mengganggu waktunya. Saya berniat menawarkan bangunan yang ibu tempati sekarang. Saya berencana untuk menjualnya. Apabila Ibu minat nanti kita bisa ngobrol lebih lanjut. Kalaupun tidak minat saya akan menawarkan pada yang lain. Terima Kasih bu ] send.
Aku tak berniat menunggu balasan Bu Ningsih mungkin beliau sedang beristirahat. Lagipula Bu Ningsih juga perlu berfikir dan berembuk dengan suaminya.
Aku langsung menutup tubuhku dengan selimut, tak kuidahkan banyak pesan yang masuk dari a'diki. Menurut aku sudah tak penting hanya akan menambah masalah saja.
__ADS_1