arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Kedatangan Manda


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Pov Manda


Pukul 6 sore aku sudah tiba di kota kelahiranku, sudah lama aku tidak pulang. Tak jarang aku merindukan keluargaku tapi karena jarak dan waktu sehingga tidak memungkinkan aku untuk sering pulang.



Aku bekerja di sebuah perusahaan kontraktor besar, sering kali pekerjaan ini mengharuskanku untuk bekerja keluar kota mengunjungi proyek proyek yang ditangani perusahaanku.



Statusku yang single menjadikan sebuah kemudahan untukku bekerja di bidang ini. Memeriksa dan mengawasi proyek proyek di lapangan dan berkeliling kota.



Saking asiknya aku bekerja dan berkarir sampai lupa untuk mencari pasangan. Tidak sedikit juga laki laki yang tertarik dan mengejarku bahkan mengajakku serius ke jenjang pernikahan. Tapi rasanya belum ada yang satu chemistry.



Adikku sering mengingatkanku supaya secepatnya menikah ada suami yang menjagaku dan segera memiliki anak anak.



Aku pun tak menampik dari hati kecilku paling dalam sering merindukan segera memiliki anak anak yang lucu, menjadi ibu rumah tangga seutuhnya dan memiliki suami yang menjagaku.



Namun kekhawatiranku mengalahkan keinginanku yang sering juga berfikir kalau menikah pun bukan suatu jaminan kalau kita akan bahagia seandainya kita tidak menemukan orang yang tepat yang benar benar menyayangi, mencintai dan menerima kita apa adanya.



Rasanya kalau untuk contoh tidak perlu jauh jauh lah, aku sendiri tahu bagaimana kehidupan rumah tangga adikku.



Suaminya memang mencintai dan menyayanginya, tapi lebih besar rasa cinta dan sayangnya pada keluarganya.



Sehingga sering terjadi adikku diperlakukan tidak adil oleh suaminya hanya karena lebih mementingkan keluarganya sendiri.



Ibu sering bercerita padaku bagaimana keadaan rumah tangga adikku tapi Ibu meminta jangan sampai adikku tahu kalau ibu bercerita padaku.



Dia akan sedih dan malu mengingat dulu dia sangat keukeuh untuk menikah dengan Diki dalam usia yang masih muda.



Pamanku saat itu kurang setuju karena Novia masih sangat muda baru lulus sekolah 1 tahun dia sudah menikah padahal paman berharap Novia kuliah dulu.



Sambil menunggu pendaftaran ke kampus yang dia inginkan mungkin dia mencoba melamar kerja dan malah ketemu jodohnya disana.



Kami sempat menolak keinginnannya untuk menikah, namun Diki datang pada keluarga kami dan meyakinkan kalau dia akan menjaga dan membimbing Novia setelah menikah.



Tapi janji tinggallah janji, memang benar kita tidak bisa berharap pada manusia. Semua janjinya menguap begitu saja



Aku tidak terlalu mengenal diki secara langsung, sebab selulus aku kuliah D3 aku langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaanku sekarang.



Salah satu alasan kepulanganku karena mendapat kabar dari Ibu, adikku bermasalah kembali dengan keluarga suaminya.


__ADS_1


Kali ini aku tidak bisa mentolerir lagi, aku ingin adikku terlepas dari belenggu keluarga suaminya yang selalu bertindak sesuka hati.



Entah bagaimana akhirnya nanti apakah mereka akan bercerai atau memang Allah sudah menggariskan memang mereka berjodoh yang pasti aku harus memberi pelajaran pada keluarga toxic itu.



Aku tak rela adikku selalu ditindas. Adik kesayanganku yang perasa ini sebenarnya bukan tipe orang lemah tapi mungkin posisinya yang dituntut harus mengalah.



Atau mungkin dia memang bucin. Entah lah.



Kemarin malam ibu menghubungiku dan menceritakan masalah yang dihadapi adikku secara detail, tanpa fikir panjang aku langsung menghubungi bosku dan meminta cuti.



Aku beralasan ada urusan keluarga yang tidak bisa diabaikan, dan juga meyakinkannya aku bisa mengontrol pekerjaan secara online.



Sedangkan untuk sebagian pekerjaan yang tidak beresiko dapat di handle orang lain. Untungnya bos mengerti dan mengizinkanku.



Aku langsung memesan tiket kereta secara online malam itu juga untuk keberangkatan besok pagi.



Beruntungnya aku masih ada tiket tersedia, setelah memastikan jam keberangkatan aku segera packing barang barang yang akan kubawa.



Tidak banyak yang penting penting saja. Sisanya bisa aku beli di sana, kalau untuk oleh oleh nanti sambil berangkat menuju stasiun.


********



Sudah kuperhitungkan waktu tunggu nya agar kami sama sama tidak menunggu terlalu lama.



Sesampainya di taksi, aku langsung masuk dan duduk " Pak nanti mampir ya di toko kue Kartika Wati sebentar ada yang mau saya beli "


" Baik Bu "


Sekitar pukul 7 malam aku baru tiba di rumah emah, tempat ku terlahir dan tumbuh. Inilah tempat ternyaman di dunia rumah dan keluarga.


Tok tok tok


" Assalammu alaikum "


Bi Nania membuka pintu, matanya langsung melotot dan menjerit " Si eneng judes, Teh Teteh A' Arif ini ada Manda "



Kami langsung berpelukan kucium tangannya. Kemudian Bibi berteriak teriak kembali memanggil seisi rumah, ya ampun dia pun tetap tak lupa pakai julukanku ' Eneng Judes'.



Bagaimana nama itu tersemat aku pun sudah lupa. Ibu dan Novia datang berhambur memelukku para keponakan langsung bergelendot manja.



Menyusul Paman sambil memapah Emah, kupeluk mereka satu persatu dan kuciumi tangan mereka.



" Aku kangen banget masakan rumah, boleh makan gak? " ujarku dengan suara manja. Tak apa kan jarang jarang bermanja ria hahaaa.


__ADS_1


" Boleh atuh apa yang ngga buat neng judes cucu Emah mah " Emah menjawab dengan logat manja sehingga yang lain pun ikut terkekeh.



Kami langsung berkumpul di meja makan, moment langka yang bisa kami dapat bercengkrama bersama dan melepas rindu.



Makan kami diselingi cerita dan juga canda tawa. Selesai makan aku dan Novia pamit menuju kamar yang sekarang di isi Novia.



Selama disini aku akan tidur bersamanya, sambil bercerita dan mengingat masa kecil kami.



Sedang asiknya bercerita Novia pamit untuk melihat anaknya yang bungsu.


Drrttt Drrttt


Ponsel Novia yang di tinggal berbunyi, kulihat nama kontaknya Ayah. Ini pasti Diki, aku angkat sajalah lah nanti aku izin pada Novia menyusul.


[ Assalammu alaikum ]


[ Hallo ini Novia ?]


Dia bertanya, mungkin dia lupa suaraku


[ Heh Diki bukannya menjawab salamku dasar tidak sopan. kamu lupa sama aku? ]


[ Ini Teh Manda? ]


Rupanya dia masih ingat, pastilah aku kan pernah memarahinya gara gara dia membawa pulang Novia malam hari. Kuceramahi dia panjang lebar.


[ Baguslah kalau kamu ingat, ada apa kamu telepon? ]


[ Maaf teh kukira siapa, Novia nya kemana teh?]


[ Gak ada Novia lagi ke kamar mandi, ada apa? ]


[ Iya teh, kami sekeluarga mau datang ke rumah ada yang mau diselesaikan. Apa boleh? ]


Oh rupanya dia mau datang, baguslah aku juga sudah rindu keributan hahahaa.


[ Bolehlah kenapa gak boleh, ternyata punya nyali juga kamu. Kami akan tunggu kedatangan kalian ]


Selesai bicara aku langsung menutupnya, tanpa mengucap salam biar sajalah orang seperti dia tidak usah dikasih hati. Senyum sinis terkembang di bibirku.



" Ngapain cengar cengir sendiri teh? lagi bahagia ya " suara Novia terdengar tiba.


" Ini Vi tadi ada telepon dari Diki nanyain kamu, terus teteh angkat gapapa ya? Tadi dia bilang malam ini mau kesini kayaknya langsung jalan deh.


Emang ada apa sih Vi, apa kalian ada masalah sampai sekeluarga mau datang ?" aku bertanya pura pura tidak tau sesuai permintaan Ibu untuk menjaga perasaannya.



" Iya teh, biasalah masalah rumah tangga " lalu adikku bercerita panjang lebar tentang keadaan rumah tangganya dan keluarga suaminya serta permasalahan yang dihadapinya.



Dia pun meminta dukungan dariku agar selalu memberi support agar dia tidak merasa sendirian.



" Kamu tenang saja Teteh pasti akan selalu bantu kamu, karena kamu adik Teteh satu satunya. Bahagia nya kamu juga bahagia teteh, dan kesusahan mu juga kesusahan Teteh " kami langsung berpelukan untuk saling menguatkan.


Tok tok tok


Kami melepaskan pelukan, Novia berjalan membuka pintu.


" Neng itu ada keluarga Diki datang, cepatan kamu ke depan. Bibi males liat muka ibunya. Apalagi muka si Ayu cantik ngga muka udah kayak kesemek wajah putihnya berlebihan tapi leher item" Bi Nania ngomel ngomel.


" Iya Bi, Neng kedepan sekarang "

__ADS_1


Aku dan Novia segera merapihkan diri dan bersiap akan menuju medan peperangan..


__ADS_2