arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Cantika Mengamuk


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 127 ( Cantika Mengamuk )


" Apa kamu naikan harganya dua kali lipat, kurang aj*r kamu Robiiii " pekik Cantika sambil berdiri.


Robi beringsut dari duduknya dia sudah tak bisa beralasan lagi karena orang yang menjadi partnernya sudah mengakui kesalahannya.


Tanpa disadari Robi yang masih kebingungan, tangan Cantika sudah mendarat di kepalanya.


" Aarrgghh kurang ajar kamu, kurang apa aku sama kamu hahhh " teriak Cantika sambil menjambak rambut Robi.


Saat ini bisa saja Robi melawan karena bagaimanapun dia lelaki yang tenaganya lebih besar dari Cantika. Tapi mengingat ada banyak orang yang berada disana tak mungkin dia melakukan itu.


" Berhenti Tik, sudah. Kalau begini caranya gak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita bicarakan dulu baik baik malu sama yang punya rumah " ujar Diki.


Akhirnya Cantika mau melepaskan jambakan tangannya di rambut Robi tapi matanya masih menatap tajam pada Robi. Sayangnya tak ada kilat penyesalan di wajah Robi. Yang ada urat urat wajahnya menegang seperti menahan amarah.


Diki pun melihat raut wajah itu membuat dia menggelengkan kepalanya.


" Dasar gak tahu malu, inilah akibatnya jika Amah terlalu memanjakannya, memberikan semua yang dia mau. Dia jadi tumbuh jadi orang tak tahu malu dan tak tahu diri " gumam Diki dalam hatinya.


" Duduk dulu Mbak, kita bicarakan dan dengarkan juga dari versi Mas Robi biar kita tahu dan yakin dengan kebenarannya " bujuk Bu Isma pada Cantika.


Melihat Cantika yang histeris Bu Isma pun turut prihatin. Uang yang di ambil adik dan orang kepercayaannya cukup besar. Tentulah uang itu akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk hal baik. Tapi jika sebaliknya maka sangat di sayangkan.


" Hik hiks, maafkan saya Bu. Saya gak bisa nahan emosi saya " tutur Cantika lirih.


" Saya mengerti Mbak, sebaiknya Mbak minum dulu atau bila perlu Mbak ke toilet dulu "


Cantika meraih gelas yang ada didepannya dan meneguknya pelan. Setelah minum Cantika mulai merasa sedikit tenang. Dia menghirup nafas kemudian membuangnya perlahan.


" Gimana sudah baikan Mbak? " tanya Bu Isma yang begitu sabar menghadapi Cantika.

__ADS_1


" Iya Bu saya sudah sedikit tenang, terima kasih " ucapnya sambil meraih tisu di depannya.


Ketiga orang lelaki yang ada di ruangan itu hanya bisa menunggu hingga Cantika tenang. Mungkin Diki bisa dengan sabar dan santai tapi tidak dengan Robi dan Pak Warso yang terlihat masih gelisah.


Ponsel di saku Robi terus bergetar, pastinya itu dari Ayu yang menanyakan keberadaan suaminya itu. Robi terus mengabaikannya karena untuk sekarang menjawab panggilan Ayu bukanlah pilihan yang bagus.


" Nah tadi kita sudah mendengar dari Pak Warso sekarang bagaimana dari versi Mas Robi apa ada yang ingin di sampaikan atau yang tadi di sampaikan Pak Warso benar adanya? " suara Bu Isma begitu tenang dan berwibawa sangat nampak kalau dia begitu terpelajar.


" Ya Bu saya memang menaikan harga sewanya menjadi 30 juta sesuai dengan yang disampaikan Pak Warso "


Mau tak mau Robi harus mengakui karena sudah tidak memungkinkan untuk berbohong. Apalagi untuk membela diri karena dia tak punya pendukung satu orang pun.


Dalam hati ia menyesal mengapa hari ini dia datang ke rumah ini. Seharusnya dia lakukan sedari kemarin. Tapi dikarenakan banyak tugas memeriksa hasil ujian semester an anak didiknya Robi jadi memundurkan waktunya.


Lebih menyesal lagi karena dia telah mengajak kerja sama dengan Pak Warso yang malah membuka mulutnya. Padahal uang yang diterima Pak Warso pun bukan uang sedikit tapi setengah dari uang yang diterima Robi.


Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur tak mungkin dia merubahnya kembali.


Padahal ketika pertama kali datang Bu Isma cukup kagum melihat Robi yang menurut ceritanya bahwa dia seorang guru, begitu sabar mengemong Chila yang sedang tantrum.


" Nah Mas Diki dan Mbak Cantika adiknya sudah mengakui juga kalau mereka sudah bekerja sama bermain di belakang kita " Bu Isma menekan kata terakhir sambil memandang ke arah Pak Warso.


Pak Warso menunduk merasa malu dan merasa bersalah. Dalam hatinya andai waktu bisa diputar dia ingin sekali kembali dan menolak ajakan Robi untuk menaikan harga sewa bangunan tersebut.


" Saya kecewa sekali sama kamu Warso, saya dan suami sudah sangat mempercayai kamu tapi malah mengkhianati kepercayaan kami " Bu Isma mengungkapkan kekecewaannya.


" Iya maaf Bu saya khilaf, karena saya lagi butuh uang untuk biaya anak saya sekolah " ujar Pak Warso sambil tertunduk menutupi pandangannya yang tak ingin terlihat sedang menangis.


" Warso, apa tidak salah uang itu digunakan untuk biaya pendidikan anakmu? seharusnya kamu menggunakan uang halal agar hasilnya barokah.


Ingat kala kamu menggunakan uang yang bukan hakmu bukannya tidak mungkin ilmu yang di dapat anakmu tidak barokah bahkan membuat anakmu menjadi sosok yang tidak baik "


mendengar penuturan Bu Isma, Robi sedikit tersentil. Dia merasa tersindir, diangkatnya wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Tapi dia malah melihat tatapan tajam dari kedua kakaknya.

__ADS_1


" Iya Bu, maafkan saya. Kedepannya saya berjanji tak akan mengulanginya lagi. Mohon Ibu mengampuni kesalahan saya hiks hiks " kini terdengar tangisan Pak Warso di ruang tamup yang sedang hening.


" Saya belum bisa menjawabnya, saya harus diskusi terlebih dahulu bersama Bapak. Sekarang saya hanya ingin penyelesaian untuk masalah ini. Dan saya mau penyelesaiannya win win solution. Terus terang saya malu dan merasa telah mengecewakan Mbak Cantika dan Mas Diki " paparnya.


" Saya hanya ingin uang saya kembali Bu, untuk biaya renovasi tak masalah anggap saja saya menyewa 15 juta per tahun sehingga biaya renovasi saya tanggung.


Tolong mengerti kondisi saya Bu, karena saya sudah mengalami kerugian yang cukup besar dengan barang barang rusak yang di gigit tikus. Apalagi, apalagi hiks hiks " ucapan Cantika terjeda dia mengambil tisu di meja.


" Apalagi uang modal tersebut hasil mengadaikan sertifikat rumah orang tua kami Bu hiks hiks " air mata Cantika kembali luruh.


" Astagfirullah, Warso kamu dengarkan? apa kamu gak kasian sama mereka? " Bu Isma terdengar geram.


" Iya Bu, maafkan saya Mbak. Saya gak tahu akan jadi seperti ini " sahut Pak Warso.


" Kalau untuk penggantian uang saya serahkan pada mereka ya Mbak. Karena itu di luar kuasa saya " jelas Bu Isma.


" Baik Bu saya mengerti " suara Cantika terdengar pasrah.


" Saya akan menggantinya Bu, tapi saya minta waktu. Karena uang yang saya terima kemarin sudah habis. Tapi saya gak akan ingkar janji " jelas Pak Warso untuk menenangkan Cantika.


" Tapi saya gak bisa lama menunggu Pak karena butuh uang untuk belanja barang baru dan renovasi dinding dan kerusakan lain yang belum kami ketahui " suara Cantika meninggi, sepertinya dia mulai lelah.


" Baik Mbak saya bicarakan dulu dengan istri saya " balas Pak Warso.


" Lalu bagaimana dengan Mas Robi? " kini semua mata beralih pandangan pada Robi.


Robi menjadi kikuk dia tak tahu harus menjawab apa karena dia tak mau rugi.


" Saya akan bicara dulu dengan istri dan Ibu saya " jawabnya singkat.


Cantika dan Diki langsung melengos, sudah tahu trik apa yang akan digunakannya.


" Baiklah saya faham lagipula ini sudah masuk ranah keluarga alangkah lebih baik jika di bicarakan di rumah saja "

__ADS_1


__ADS_2