
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Pov Diki
Sejenak aku rehat, motor pun sebentar lagi beres. Ku buka Hp iseng aku membuka status berharap Novia memposting fotonya dan anak anak.
Tapi tak ada status Novia, kulanjut melihat status yang lain. Ada Ayu dengan statusnya. Foto lengannya yang lebam sambil memegang rambutnya yang terlepas akibat jambakan Manda. postingan berikutnya kulihat gambar foto kantor Polsek.
" Ini maksudnya apa ya? kok mereka gak diskusi dulu nanya pendapatku " gumamku dalam hati.
Aku bergegas membereskan barang barangku, kurapihkan semua peralatan bengkelku. Kulangkahkan kakiku menuju rumah amah.
" Ayu, Robi ini maksudnya apa? kok ada status kantor Polsek kenapa kalian gak nanya dulu pendapatku " aku bertanya pada Ayu dan Robi yang sedang berada di ruang TV. Ayu sudah terlihat lebih baik rambutnya sudah tidak acak acakan lagi.
" Gak apa apa Diki, itu udah minta persetujuan Amah. Tadi Robi ngajak Ayu lapor ke Polisi tapi Ayu menolak. Tapi biar gak sia sia karena sudah terluka, Amah setuju saran Robi untuk menakuti istrimu " Amah datang dari dapur, dia menjawab pertanyaanku.
" Maksud Amah gimana, aku belum faham? " aku kembali bertanya karena masih belum mengerti.
" Tadi Ayu sengaja posting status supaya istrimu lihat. Dia pasti takut dilaporkan ke Polisi, nantinya dia pasti akan datang minta maaf. Kalau sudah gitu kita akan minta uang ganti rugi padanya. Kalau misal gak mau kita laporkan saja langsung " Amah menjelaskan panjang lebar maksud dan tujuan status ayu.
" Amah yakin ini akan berhasil? " aku merasa tak yakin dengan rencana Amah.
" Halah kamu, ya pasti berhasil kan bukti penganiayaannya ada. Lagipula banyak saksi yang lihat kok " Amah mencebikan bibirnya.
" Kalau gitu, aku juga mau ikut masukin tuntutan supaya dia pulang kerumah, aku tak mau bercerai dengannya " tiba tiba ide itu terbersit begitu saja.
Amah tak menanggapi ucapanku, begitupun Robi dan Ayu mereka malah membuang muka.
Ting
Ada pesan masuk ke hp Ayu, dia membuka hp nya.
" Dari siapa Yu, dari si Novia bukan ?" Amah begitu bersemangat.
" Bukan mah dari teh Cantika, dia nanyain kondisi aku " ujar Ayu.
" Kalau menurutku kita pancing Novia di grup. Kalau hanya di WA takutnya dia gak lihat. kita ngobrol di grup biar dia baca percakapan kita. Kalau kita bakal ngelaporin dia " Robi memberi usul pada kami.
__ADS_1
Akhirnya kami membuat pancingan untuk Novia agar dia tahu kalau kita berniat melaporkannya.
Kami pun ngobrol di grup, dengan Cantika yang mengawali obrolan. Tapi tak kusangka obrolan itu sangat menyudutkan Novia. Aku sudah menyuruhnya meminta maaf agar semua masalah beres.
Namun obrolan di WA tersebut makin memperlihatkan ketidak sukaan Amah pada Novia.
Bahkan dengan terang terangan Amah menyuruhku untuk bercerai. Ya Allah bagaimana ini aku tak mau bercerai dari Novia.
Tapi dia sepertinya terlihat sangat marah, bahkan dia balik mengancam akan melaporkan Ayu dan Amah karena tindakan mereka.
Dan dia mengatakan bahwa kami yang memulai keributan ini. Kemudian Novia keluar dari grup keluarga.
Aku penasaran dan mendatangi Amah " Mah ini maksudnya gimana, sebenarnya awal masalahnya seperti apa? "
Aku duduk di ruang TV bersama Amah, Ayu dan Robi. Mereka saling terdiam tak ada yang mengeluarkan suara.
" Jangan bikin malu diri sendiri, katakan ada apa sebenernya " hening tak ada yang bersuara.
" Katakan !! " kugebrak meja didepanku, semua terhenyak. Bahkan Bapak datang dari depan rumah terburu buru.
" Ada apa ini, Diki kenapa kamu marah? " Bapak bertanya dengan suara panik.
Bapak terduduk sambil menggelengkan kepalanya " Sudah bapa duga, Novia bukan tipe orang usil kalau tidak di ganggu dia tidak akan mengganggu ".
Amah mendelik mendengar bapak bicara. Dari wajah Amah tetap terlihat tak ada penyesalan.
" Malu Mah, kasian Diki. Dia masih berharap pada Novia jangan memperkeruh suasana " lanjut Bapak.
" Robi ceritakan bagaimana awalnya " aku menyuruh Robi dengan nada tinggi karena Amah dan Ayu hanya diam.
" Aku gak tau, kan aku tadi ikut benerin motor. Yang aku tau Ayu izin ke pasar bersama Amah. Aku menawarkan untuk mengantarkan pun mereka nolak " alasan Robi bisa kuterima, karena dia memang bersamaku.
" Lalu siapa yang punya ide mengambil uang sewa dari warung seperti yang dikatakan Novia? " Kukeluarkan suara dengan nada tinggi, sebab Amah dan Ayu tak mau buka mulut.
Ayu dan Amah saling berpandangan, kemudian amah menunjuk Ayu.
Ayu tertunduk tak berani mengangkat wajah. " Bagus, rupanya luka yang kamu terima itu hasil dari perbuatanmu sendiri "
__ADS_1
" Jangan bicara sembarangan kamu " Robi tiba tiba mendorong tubuhku.
Aku pun tak terima kudorong balik tubuhnya hingga terduduk. Kuraih kerah bajunya tanganku sudah terangkat bersiap memukul.
" Berhentiii " Bapak berteriak berbarengan dengan jerit tangis amah.
" aakkhhh jangan huaaa huaaa kalian ini bersaudara jangan ribut gara gara perempuan tak tau diri itu huaaa huaaa " suara Amah yang kencang mengudang tetangga berdatangan. Mereka berkumpul depan pintu pagar.
Ayu menangis sambil memeluk Robi. Tanganku mengambang di udara. Kutarik tanganku sembari beristighfar " Astagfirullah "
Mereka terdengar riuh dan bertanya " ada apa lagi, tak pernah ada ketenangan di keluarga ini "
" Siapa lagi yang ribut sampe terdengar keluar?
" Kenapa lagi? ganggu orang saja "
Dan masih banyak pertanyaan yang lain, di luar benar benar terdengar riuh.
Tak lama lewat jendela kaca rumah kulihat Pak RT datang membubarkan tetangga " Sudah bubar bubar jangan berkumpul disini. Biar saya ke dalam saya akan coba bantu untuk menenangkan "
Warga pun perlahan membubarkan diri, lalu pak RT mengetuk pintu rumah.
Bapak berdiri untuk menemui pak RT, mereka terlihat ngobrol. Bapa merapatkan kedua tangannya di depan dada memohon maaf atas keributan yang keluarga kami buat.
Setelah beberapa lama pak RT terlihat pamit pulang, Bapak pun kembali masuk ke dalam rumah.
" Sudah puas kalian bikin malu " Bapak bertanya menatap kami semua.
" Maaf pak aku emosi " aku tertunduk. Robi tak mengeluarkan suaranya. Matanya terlihat nyalang, rupanya dia memendam amarah padaku.
" Aku tak mengira kalau Amah bersekongkol dengan Ayu " lanjutku berbicara dengan lirih.
" Tapi kamu tadi menyetujuinya kenapa sekarang berubah fikiran? bahkan tadi kamu berniat untuk ikut menuntut Novia agar kembali ke rumah " ujar Robi bersuara dengan keras.
" Karena aku tak tau ada cerita bohong di belakangnya, harusnya kamu sebagai suami melarangnya. Kini terserah kalian kalau keluarga Novia menuntut balik aku gak akan ikut campur " aku menjawab tak kalah kerasnya.
Aku segera keluar dari rumah Amah menuju rumahku, keluar dari pagar rumah Ibu-ibu di warung sedang berkumpul ngobrol dan melihat ke arahku.
__ADS_1
"Dasar emak emak, ghibah terus kerjaannya " aku menggerutu dalam hati.