
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 83 ( Sama Sama Julid )
" Mah si Novia itu makin sombong saja ya baru juga punya toko, bapakku saja punya toko grosir tapi gak kayak si Novia " ucap Ayu pada mertuanya.
Kini mereka sedang bertiga di ruang tamu setelah Diki masuk ke kamarnya. Sesekali Robi menyuapi Ayu baso yang diberikan Diki.
Ya seromantis itu mereka berdua, segala sesuatunya berbagi. Mereka terlihat kompak apalagi yang berbau gratisan.
" Iya, sebal sekali lihatnya. Apalagi kakaknya yang barbar itu " Robi ikut menimpali, bicaranya belepotan karena mulutnya penuh dengan baso.
" Aku punya ide, gimana kalau kita buka toko juga aku yakin toko kita pasti laku. Apalagi kalau soal fashion si Novia kalah jauh dari kita. Bener gak Yu? " Cantika mengeluarkan idenya.
" Kamu punya modalnya gak? " tanya Amah.
" Belum sih, tapi aku bisa minta Keenan. Kamu dong Yu patungan kan kalau toko rame untungnya pasti bisa balikin modal awal "
" Aku uang dari mana Teh, gaji Robi kan pas-pasan. Ini aza buat susu Chila sering dibantu Amah sama Bapakku " tolak Ayu.
" Cckkk kamu tuh diajak bisnis susah, coba kamu fikir fikir lagi. Kalau mau usaha tuh kita harus besar nyali. Gak masalah berkorban dikit "
" Kalau gitu Teteh saja yang modalin biar aku yang kerja, gimana? "
" Belum ada kalau harus ngeluarin modal sendiri. Makanya aku ajak kamu, gitu aza gak ngerti " Cantika terlihat kesal karena Ayu menolak ajakannya.
" Amah gimana kalau Amah modalin kita saja? " kini Cantika menatap Ibunya penuh binar harapan.
" Kamu tuh Amah duit darimana, duit dari Bapakmu kan gak seberapa. Uang kontrakan juga lebih banyak di pakai cicilan motor Robi " Bu Murni menekan kata terakhir sambil melirik ke arah Robi.
" Jadi Amah gak rela bayarin motor aku? " jawab Robi sambil memandang ke arah Ibunya.
" Iya, kamu gak pernah tepati janji. Maumu saja yang banyak kemampuan tak ada " Bu Murni menjawab dengan ketus sambil beranjak dari duduknya.
" Mau kemana Mah? " tanya Cantika.
" Keluar, sumpek di dalam " tanpa melihat ke arah anak anaknya Bu Murni langsung keluar menemui para tetangga yang sedang berkumpul.
" Kamu sih Bi, maunya gratisan mulu " Cantika jadi ikut kesal pada Robi
" Ah ini juga gara gara kamu, coba kalau gak minta dimodalin pasti Amah gak akan ingat soal cicilan motor " Robi balik menyalahkan kakaknya.
" Mau aku minta modal apa ngga tetep aza gak bisa dipungkiri kalau hidup kamu cuma gratisan.
Lagian wajar dong aku minta sama Amah. Baru kali ini kok, beda sama kamu tiap bulan dapat jatah " wajah Cantika terlihat sewot dan tak terima.
" Halah segitu saja sewot, kalau kamu mau ya tinggal minta sama Amah apa susahnya "
" Dasar benalu " Cantika terlihat kesal dia langsung menyambar tasnya.
__ADS_1
Tanpa pamit dia langsung berdiri dan berniat pulang.
Di pintu keluar dia berpapasan dengan Pak Imam " Kemana Tik? "
" Mau pulang Pak, tadi aku anter A'Diki dari pengadilan agama " jawab Cantika seraya mencium tangan bapaknya.
" Ya sudah hati hati di jalan "
Cantika hanya menganggukan kepalanya langsung keluar pintu.
" Kenapa kakakmu? " sekarang Pak Imam bertanya pada Robi.
" Lagi sensi Pak, gara gara minta dimodalin buka toko ke Amah tapi gak dikasih "
" Buat apa buka toko, tidak semua orang punya keberuntungan yang sama. Bapak juga denger toko Novia rame. Pasti kalian ingin mengikuti jejaknya kan? "
Suami istri itu tidak menjawab omongan Bapaknya. Mereka hanya terdiam tak berniat menimpali.
" A' aku mau keluar yang lihat Amah " Ayu meminta izin pada Robi.
" Ya sudah sana, mumpung Chila tidur " Ayu langsung keluar dan mencari ibu mertuanya.
Ternyata Bu Murni ada di warung Ceu Juju, banyak ibu ibu berkumpul disana sambil ngerujak bareng.
" Aduh asik banget ngerujak, mau atuh lah " Ayu langsung duduk tepat depan ulekan terlihat siap menyantap rujak.
" Kamu datang datang langsung duduk paling depan, kita aza yang patungan belum makan " Yati terlihat sewot.
" Cuma, cuma. Belilah. Kamu tuh jangan kebiasaan di rumah mertuamu gratisan dibawa kesini. Ini bukan rumah " Yuyun teman duet Yati ikut kesal melihat tingkah Ayu.
Apalagi menurut Yuyun, Ayu hanya menantu bukan orang sini asli. Seharusnya Ayu bisa jaga sikap.
Mendengar omelan Yati dan Yuyun wajah Ayu langsung merengut. Dia menatap Bu Murni.
Namun yang di tatap malah buang muka, mungkin masih kesal dengan kejadian di rumah.
Lagipula benar apa yang dikatakan Yati dan Yuyun kebiasaan Ayu yang suka gratisan harusnya tidak dibawa keluar. Karena belum tentu orang lain bisa memahami.
Melihat mertuanya tak menolong Ayu langsung diam. Mau pergi dia malu karena terlihat kolokan, mau tetap disitupun dia merasa dongkol.
Daripada tambah menambah masalah apalagi dia pendatang, Ayu jadi lebih memilih diam.
" Bu Siti mau kemana kok buru buru? sini kita ngerujak rame rame " Ceu Juju yang melihat Bu Siti hendak pergi dan terburu buru langsung menyapa.
" Aduh maaf itu ada saudara saya di depan "
" Saudara yang mana kok gak langsung kesini" Yati mulai kepo.
" Saudara jauh, tadi Novia telepon saya katanya butuh pekerja laki laki dua orang perempuan satu. Kebetulan saudara saya lagi nyari kerja. Jadi saya mau langsung ajak mereka buat ketemu Novia langsung "
__ADS_1
Bu Siti bicara panjang lebar tanpa memperhatikan di situ ada Bu Murni dan Ayu yang jelas jelas membenci Novia.
" Ekheeemm "
Deheman Yuyun menyadarkan Bu Siti, ternyata Bu Murni dan Ayu sudah menatapnya tajam.
" Eh maaf gak ada maksud apa apa saya kan cuma di tanya ya saya jawab. Permisi semua "
Bu Siti jadi merasa salah tingkah dia takut disangka memanasi Bu Murni dan Ayu.
" Ya Bu Siti, bilangin Novia kalau ada lowongan saya juga pengen kerja ya "
Yuyun berteriak dan hanya di balas anggukan Bu Siti. Lalu Bu Siti melanjutkan tujuannya bertemu saudaranya.
" Wah hebat ya Novia tokonya belum lama buka langsung nambah karyawan itu berarti tokonya rame " ucap Ceu Juju.
" Iya bener aku juga mau ngelamar ah kali aza masih ada lowongan " timpal Yuyun sambil mencolek sambal rujak.
" Mana mau Novia nerima kamu, kamu nanti bukannya kerja yang ada malah ngegosip. Cocoknya kamu kerja di akun gosip itu loh yang namanya Lambe Bibir Monyong hahaaa " Yati tertawa dengan keras.
Tapi Yuyun bukannya marah dia malah ikut tertawa bahkan lebih keras.
Mereka tak menyadari ada dua hati yang panas menggelegak mengalahkan gunung yang siap memuntahkan laharnya.
" Kamu kenapa Yu mukanya asam gitu kamu pasti iri kan sama Novia? kamu jangan iri Yu harusnya kamu contoh Novia kalian kan sama sama menantu "
Dengan santai Yuyun berucap tak peduli wajah Ayu yang sudah memerah menahan amarahnya.
" Maksud Teh Yuyun apa, dikiranya saya iri gitu? Maaf ya gak level asal Teh Yuyun tahu Bapak saya punya grosir sembako kalau saya niat buka usaha tinggal minta saja modal. Beres deh "
" Halah itu aza yang kamu omong dari dulu, kalau iya Bapak mu kaya gak mungkin kamu sering ke rumah mertuamu cuma untuk ikut makan.
Kamu kira orang sini pada gak tahu kalau kamu sukanya gratisan. Level kamu tuh jauh sama Novia " dengan lantang Yuyun menjawab ocehan Ayu.
" Teh Yuyun gak usah julid sama saya ngapain ngurusin urusan saya, urusin aza urusan Teh Yuyun. Kerjanya cuma cari bahan ghibahan nambah nambah dosa "
" Kamu sendiri julid sama saya, suka suka saya mau ghibah mau apapun toh gak minta makan sama kamu. Lain halnya sama kamu bolak balik kesini cuma buat minta makan "
" Kurang ajar kamu gak punya sopan santun " Ayu kesal dia langsung menumpahkan buah buahan di baskom untuk ngerujak.
Karena kelakuannya Ibu-ibu menjadi geram apalagi rujak tersebut dibeli secara patungan.
Bahkan Bu Murni pun ikut kaget tak percaya Ayu begitu berani melakukan hal tersebut.
" Duh aku harus siap siap lari kalau sampai ada keributan, aku gak mau ikut ikutan " gumam Bu Murni dalam hatinya.
" Hehhh Ayu ngapain kamu bikin kacau seenaknya aza main tumpahin buah buahannya, mau saya ulek mulut kamu Haaahh " seseibu yang dari tadi diam menyimak percekcokan Ayu dan Yuyun ikut geram.
Ayu yang mendengar ancaman tersebut seketika ciut nyalinya melihat Ibu itu berbadan gempal dan sudah mengangkat angkat ulekan siap menyumpal mulutnya.
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang Ayu langsung berdiri dan berlari menuju rumah, di iringi sorakan Ibu-ibu saling bersautan.
" Huhuuu "