
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 135 ( Obrolan Di Meja Makan )
Pagi harinya Diki bangun karena harus bekerja walaupun terasa malas. Setelah selesai bersiap dia langsung menuju meja makan untuk sarapan. Disana sudah biasa hanya ada bapak, ibu dan si bungsu Ikbal. Hanya saja Bu Murni sedang berada di dapur.
" Kamu lemas banget sih Ki, kenapa sakit? " tanya Pak Imam.
" Gak Pak " lalu Diki berbisik pada Pak Imam.
" Ah yang benar kamu Ki? " mata Pak Imam melebar.
" Rupanya kamu patah hati hehee " lanjut Pak Imam sambil terkekeh.
" Bapak kok kayak senang gitu dengarnya. Gak lihat apa aku lagi sedih " balas Diki sambil memanyunkan bibirnya.
" Siapa yang patah hati? " tanya Ikbal dengan mulut yang penuh makanan.
" Tuh kakakmu, ini pelajaran buat kamu kalau sudah punya istri harus tegas jangan plin plan. Nanti di ambil orang nangiiss. Jangan juga kamu mau di setir Ibumu, berbakti boleh tapi harus bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Belajarlah agama yang benar supaya gak salah ambil jalan hidup "
Nasehat panjang lebar keluar dari mulut Pak Imam. Membuat Diki mencebikan bibirnya.
" Tapi Bapak juga kalah sama Amah, selalu ngikutin maunya. Jadi nilai kita sama Pak heheee " Diki terkekeh.
" Makanya Bapak nasehatin Ikbal karena sudah ada dua laki laki dewasa bodoh yang salah jalan " tegas Pak Imam.
" Berarti Bapak dan A'Diki bodoh gitu? " tanya Ikbal lagi.
" Kurang lebihnya seperti itu hahaaa " Pak Imam dan Diki tertawa bersama.
" Kalian ngetawain apa sih kayak yang senang banget " Bu Murni datang sambil membawa bakwan yang baru di angkat dari penggorengan.
" Mmhhhh gak Mah, ini lagi ada cerita lucu " jawab Diki.
Diki melirik ke arah Ibunya dan menilik wajahnya " Mah kok mukanya gak pernah senyum kelihatan sedih terus sih "
Bu Murni tidak menjawab, dia hanya terdiam dengan wajah datar. Kemudian duduk dan ikut menikmati sarapan bareng.
" Apa peduli kamu? " tanyanya ketus.
Diki mengangkat kedua alisnya merasa heran dengan jawaban ibunya " Orang nanya kan boleh Mah, nanti kalau di biarin bilangnya punya anak gak perhatian. Tapi kalau Amah di tanya jawabannya ketus. Jadi serba salah "
" Gak tahu nih Amah semenjak A'Robi gak pernah kesini jadi melow terus " Ikbal ikut menimpali ucapan kakaknya.
__ADS_1
" Oh gitu padahal kalau Amah sedih kan bisa ke rumahnya. Gak usah mengkhawatirkan kita ya gak Pak, Bal? Sana saja sama anak emas kesayangan Amah " tambah Diki.
" Anterin saja Ki ke rumah si Robi. Palingan disana di suruh suruh si Ayu jadi pengasuh si Chila heheee " Pak Imam terkekeh.
Candaan ketiga orang di meja itu membuat hati Bu Murni hatinya panas. Dari matanya terlihat wajah kesal.
Braakkk
Bu Murni menggebrak meja sampai tangannya merah dan terasa kebas saking kuatnya. Piring dan gelas ikut bergetar, untung saja isinya tidak tumpah. Ketiga laki laki tersebut sampai berjingkat kaget. Tapi itu hanya sekejap lalu kemudian mereka terkikik.
" Pasti sakit tangannya ya Mah " tanya Diki dengan wajah polos.
" Hahaaaa " semua tertawa kecuali Bu Murni dia langsung berdiri menuju keluar dan membanting pintu. Dan sebelum itu matanya melotot memindai tiga laki laki tersebut.
Bruughhhhh
" Rusak deh itu pintu, kamu sih Ki keterlaluan" ucap Pak Imam tapi masih sambil tertawa.
" Ah nanti juga gak apa apa Pak. Oh ya kemarin aku mampir di warung kopi di jalan xxxx aku lihat Robi dia jadi driver ojeg online "
" Iya A' aku juga pernah lihat A'Robi boncengan sama Teh Ayu pakai jacket ojeg online. Tapi aku pikir cuma jaket pinjam atau apa gitu. A'Robi kan gengsian jadi rasanya gak mungkin dia mau jadi driver ojeg online " sahut Ikbal menambahkan perkataan Diki.
" Baguslah kalau gitu biar dia ngerasain susahnya cari duit " Pak Imam menyimak ucapan kedua putranya.
" Oh ya bagaimana kelanjutan soal uang sewa toko, si warso mau balikin uang yang sepuluh juta itu? " tanya Pak Imam.
Sudah dua minggu ini si Robi dan Ayu gak ke toko jadi Cantika juga gak fokus buat audit. Belum dia harus antar jemput anak anaknya sekolah " papar Diki.
Diki pun sebenarnya ingin membantu Cantika hanya saja memiliki pekerjaan utama yang tak bisa di tinggalakan.
" Kalau begitu biar Ikbal bantu A' nanti anak Teh Cantika Ikbal yang antar jemput asal ada motornya saja " adik bungsunya menawarkan diri ingin meringankan beban kakak kakaknya.
" Nah gitu dong, ini namanya anak Bapak " ujar Pak Imam sambil menepuk bahu Ikbal.
" Palingan dia cuma pengen pake motor iya kan? " menggoda Ikbal.
" Ya sekali kali kan gak apa apa heheee " sahut Ikbal membenarkan ucapan kakaknya.
" Nantilah biar Aa bilang sama Teh Cantika. Kalau bisa kamu juga banyu ke toko biar Teh Cantika gak terlalu cape " tambah Diki.
" Iya gampanglah itu " balas Ikbal.
" Ngomong ngomong soal barang toko apa benar itu hilang? " sepertinya Pak Imam masih penasaran.
__ADS_1
" Belum tahu juga Pak, kalau menurutku sih itu ulah orang dalam. Bapak juga pasti tahu siapa orangnya. Karena selama ini dia yang ngatur stok barang di toko "
Tanpa menyebut nama mereka bertiga sudah tahu siapa yang dibicarakan.
" Kok kamu bisa langsung mengarah kesana? " kening Pak Imam berlipat pertanda dia merasa penasaran.
" Walaupun aku tak ikut campur tapi sedikit banyak Cantika bercerita bagaimana alur kerja disana. Menurut cerita Cantika Robi dan Ayu yang memegang stok barang.
Bahkan ketika Cantika mau membantu mereka selalu menolak dengan alasan takut membuat Cantika lelah. Kalau menurut aku sih sepertinya dia menyembunyikan sesuatu "
Pak Imam manggut manggut mendengar penuturan Diki. Dia hanya bisa menarik nafas untuk meredakan kegelisahannya.
" Pantas saja Teh Ayu banyak uang, setiap kali kesini aku lihat dompetnya tebal terus " tambah Ikbal.
" Kamu di kasih gak? " tanya Diki menggoda Ikbal.
" Boro borong dia kan bisanya pamer, Ibu-ibu di depan sering di traktir baso. Aku malah di suruh jaga Chila "
" Hahaaa, kasiah deh loo " ujar kakak dan Bapak nya meledek Ikbal.
" Sabar ya Bal hahaaa " tambah Pak Imam.
" Emanglah si Ayu ini pelit, gila pujian pantesan berjodoh sama si Robi " ujar Diki sambil menarik nafas.
" Kebalikannya Novia ya Ki, tapi kamu gak kayak Novia Bapak rasa "
" Iya " jawab Diki lirih.
" Ahahaaa kasian deh looo " kini giliran Diki di ledek Ikbal dan Pak Imam.
" Sabar ya A' " tambah Ikbal menambahkan candaan seperti Pak Imam tadi
" Ah kalian nyebelin banget, pake acara balas dendam segala "
" Bapak minta tolong sama kalian, bantu Cantika untuk menangani permasalahan toko, kasihan dia.
Selain itu sertifikat rumah ini jadi jaminan andaikan Cantika tidak bisa melewati permasalahannya maka kita juga akan merasakan imbasnya "
Diki dan Ikbal faham dengan semua perkataan Bapaknya. Bagaimana jadinya andai cicilan rumah ini tak terbayar kemudian di sita Bank, mau tinggal dimana mereka nanti.
" Iya Pak kami faham, kami akan bantu sebisa mungkin " jawab kedua anak laki lakinya.
" Tapi enak juga ya gak ada A'Robi meja makan makanannya sering tersisa. Dulu kan setiap pagi dia sarapan disini belum minta di bungkus buat makan siang. Mana istrinya makan dan ikut ngebungkus juga "
__ADS_1
" Hussss kamu jangan ngomong gitu nanti Amah dengar kamu bisa kena semprot anak emasnya di omongin belum jatah makan siangmu di kasih Robi "
" Hahaaa " mereka tertawa barengan, hal yang sudah lama tak terjadi di meja makan rumah Diki.