
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 134 ( Diki Patah Hati )
Pov Diki
Keluar dari rumah Novia aku langsung menaiki motor yang sengaja diparkir di luar pagar agar memudahkan ketika pulang.
Langkah yang terasa gontai yang hanya di iringi pandangan paman mantan istriku dan rivalku membuat aku bersedih. Tak ada lagi kehangatan, dulu posisiku seperti Adrian. Setiap datang selalu di sambut ramah dan pulang di barengi senyuman. Ah aku jadi rindu masa masa itu.
Niat awal aku ingin ke rumah Novia mengajak anak anak jalan jalan lalu ke rumah Nuri sebentar.
Tapi rencana kedua untuk bertemu Nuri aku batalkan. Selain karena sudah malas gara gara melihat semua kejadian tadi, memang aku juga malas ketemu Nuri.
Kalau bukan karena Amah yang terus memaksa aku untuk menemui Nuri mana mau aku kesana.
Makin kesini si Nuri itu makin kesana, entahlah seperti ada yang mengganjal tapi aku belum tahu itu apa. Kadang moodnya berubah-ubah.
Kadang senang, tapi cepat berubah sedih. Ketika aku menembaknya untuk jadi pacarku dia terlihat sangat girang. Bahkan dia sering mengajak ku keluar.
Awalnya aku cuma ngikutin mau Amah tapi kalau melihat perkembangan Novia dan Adrian ya sudah lah aku juga gak mau kalah. Aku mau nyusul untuk melamar Nuri.
Pikiranku benar benar kacau beberapa kali aku tersentak di motor bahkan di marahi pengendara lain. Mereka mengklakson ku dari belakang karena terlihat tak konsentrasi.
Daripada celaka lebih baik aku ke pinggir. Karena sekarang masih sekitar jam 7 jalanan masih sangat ramai. Aku putuskan untuk mampir di warung kopi di pinggir jalan.
Disana cukup ramai banyak kaum lelaki yang sedang nongkrong bahkan di jadikan basecamp untuk para driver online untuk sekedar berkumpul. Aku duduk di dalam di bangku pojok karena ingin menyendiri.
Ketika melihat keluar aku lihat ada driver yang baru datang setelah ku perhatikan motor dan platnya sangat aku kenali. Penasaran aku ingin lihat pemiliknya karena dia memakai jaket salah satu driver online.
Sesuai dugaanku dia itu Robi, sudah 2 minggu kami tak bertemu sejak kejadian pengusiran Amah pada Robi. Aku pernah dengar dari Cantika dua hari setelah pengusiran, Robi datang dan meminta uang pada Amah.
Untung saja Cantika keburu datang, dan melihat Amah hampir menyerahkan uang yang diminta Robi. Kudengar dari Cantika Amah langsung kikuk.
Cantika pun tak melarangnya, namun sesuai ancaman Cantika bila Amah kembali membantu Robi maka segala bantuan dari Cantika akan di cabut.
Padahal hari itu Cantika berniat memberikan uang bulanan pada Amah. Cantika pun pulang kembali ke rumahnya dan membawa kembali uang bulanan yang akan diserahkan pada Amah. Cantika pulang di iringi tangisan Amah yang meminta maaf padanya dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.
Namun Cantika terlanjur kesal dia tak mengidahkan permintaan Amah. Begitu sayangnya Amah pada Robi sampai mengabaikan permintaan anak anak yang lain.
__ADS_1
Padahal kami bukan berniat pelit hanya ingin Robi mulai belajar bertanggung jawab atas hidupnya dan keluarganya.
Robi turun dari motornya, membuka helm dan maskernya. Dia terlihat lebih hitam dan kusam mungkin karena sekarang berada di jalanan. Tak apalah biar dia lebih menghargai hasil cucuran keringat kami.
Jangan hanya mengandalkan di beri orang lain, apalagi terus meminta pada Amah.
" Gimana bro hari ini ramai? " tanya temannya ketika Robi menghenyakan bokongnya di bangku luar.
" Lumayan lah, lumayan sepi maksudnya hehee " jawabnya sambil mengambil gelas kopi kawannya kemudian menyeruput kopi tersebut.
Dasar Robi dimanapun selalu ingin gratisan. Kalau sudah watak memang susah.
" Kira kira yang rame dimana ya? mana udah malam " tanya Robi pada temannya.
Kasihan juga sih lihatnya terlihat lelah karena dia jadi double job. Selain jadi driver dia juga jadi guru honorer.
" Biasanya sih kalau malam di daerah alun alun rame. Cobain yuk kesana, aku juga mau kesana sekarang " kulihat temannya sudah berdiri menyusul Robi ikut berdiri dan menghabiskan kopi temannya.
Mereka berdua langsung pergi dengan motor masing masing. Untung aku di dalam jadi Robi tak bisa melihatku. Bukan takut aku hanya malas ribut, ngapain mesti takut sama dia toh dia yang salah kan.
Setelah Robi pergi bersama temannya sekarang tersisa tiga orang driver online di meja tersebut. Karena aku duduk di balik dinding belakang mereka jadi aku bisa mendengar jelas obrolan mereka.
" Kamu gak ikut? " tanya laki laki berbadan kurus pada temannya.
" Kirain cuma perasaan aku saja, selama aku kenal belum pernah dia ngeluarin duit minimal buat beli kopi. Jangankan buat neraktir, buat diri sendiri saja dia pelit "
" Kalau gak kita yang bayarin eh dia nyerobot kopi yang kita minum. Tuh kopi si Jack saja dia yang habisin padahal si Jack paling baru minum dua seruput hahaa "
" Iya kasihan si Jack, maaf maaf ya aku bukan perhitungan tapi kalau lagi gak ada duit bawaannya jadi kesal. Untung saja si Jack orangnya baik "
" Iya biarin sajalah, kayaknya sudah watak jadi susah "
" Mmhhh aku jalan dulu ya, ada order "
" Oke aku juga mau keliling ya "
Mereka pun pergi satu persatu, sebenarnya sakit hati juga adik sendiri di omongin di belakang sama teman temannya. Tapi mau gimana lagi emang salah si Robi juga yang ogah ngeluarin duit.
Apa Amah tahu ya kalau si Robi jadi driver ojol, tapi kok gak cerita ya.
__ADS_1
Satu jam aku berada di warung kopi ini kebetulan ada TV juga jadi bisa menikmati tayangan TV sehingga tidak terlalu bosan.
Karena di rasa sudah malam jadi aku memilih untuk pulang. Sebelum pulang ku buka ponsel ternyata banyak panggilan dari Nuri dan Amah. Pasti dia nungguin aku dari sore karena sudah janjian buat jalan jalan.
Masa bodoh lah, hatiku sedak terpotek gara gara lihat Novia jalan sama pacarnya tadi.
Segera ku bayar kopi dan beberapa gorengan yang sudah masuk ke dalam perutku.
" Baru pertama kesini ya Mas? " ujar si pelayan.
" Iya Mas " jawabku singkat
" Pantesan saya baru lihat makasih ya Mas "
Aku hanya mengangguk tak bicara panjang lebar. Belum tentu juga aku bakal mampir lagi. Malas kalau harus ketemu si Robi disini.
Pulang dari warung kopi aku sudah tak punya tujuan lain, lebih baik aku langsung pulang. Sedang banyak pikiran karena patah hati seperti sekarang lebih baik berdiam diri di rumah saja.
Cuma 15 menit aku sudah sampai di rumah. Kumasukan motor ke dalam dan berniat langsung istirahat.
Bughhh
Badanku langsung oleng karena mendapat serangan mendadak yang sungguh luar biasa. Langsung kulihat ke arah dimana bantal itu melayang.
" Amah apa apaan sih bikin aku kaget saja " mukanya di tekuk ketat seperti selempak baru.
" Kamu kemana saja sih bilangnya mau ketemu Nuri tapi gak datang datang. Dia terus ngehubungi Amah " mata Amah melotot sepertinya dia benar benar kesal.
" Heheee maaf Mah, tadi aku ada perlu tapi kemalaman ya sudah aku pulang saja. Besok lah aku ke rumahnya " biar Amah gak marah aku bilang saja besok mau ke rumah Nuri lagi.
" Kamu tuh bikin malu dasar jambu "
" Apa jambu? " bingung juga kan tiba tiba bilang buah buahan.
" Janji Busuk "
" Beuuhh sok gaul hahaaa "
Buggghhh
__ADS_1
Amah kembali melempari bantal kembali padaku. untung saja aku sudah siaga jadi aku bisa menghindar.
" Awas ya kalau kamu bohong lagi, pusing Amah di telepon Nuri terus "