arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Dasar Riya


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 67 ( Dasar Riya )


Akhirnya Diki bisa tidur dengan nyenyak malam ini, hari ini dia ingin istirahat dan tidur nyenyak agar besok bisa pamer motor baru di pabriknya.


Walaupun tadi sore dia sempat kesal dengan drama Nuri yang ingin di antar pulang. Walau tak bicara secara langsung tapi Diki faham. Cuma dia berlaga tak faham saja.


Amah yang tahu situasi dia langsung memaksa Diki agar mengantar pulang Nuri. Diki pun mengajak Ikbal agar membawa motor Bapak dan mengikuti dari belakang. Supaya nanti mereka pulang berboncengan.


Dan supaya tak ada lagi drama ' Motornya boleh dipakai A'Diki dulu nanti kalau aku ada perlu dan A'Diki ada waktu tolong antar aku ya '.


Diki sudah tau drama apa yang akan dilakukan Nuri untuk mengikatnya.


Andai saja masih lajang mungkin Diki gak akan berfikir dua kali untuk menerimanya, tapi Diki masih bingung dengan statusnya.


Malam ini bukan Diki saja yang bisa tidur nyenyak, Amah pun sama. Keinginannya memiliki motor baru sudah terlaksana bahkan tadi sebelum tidur dia selfi dulu duduk di motor Diki.


Tak lupa Amah bikin status di WA nya dengan caption " Motor baru say, cashhh no kredit kredit '.


Lebay kan reader ??


Sebelum tidur Diki memeriksa HP nya, ternyata ada banyak pesan dari Nuri mengucapakan selamat tidurlah, jangan lupa gosok gigi, jangan lupa mimpiin aku dan bla bla bla bla..


Diki merasa seperti ABG kembali dia hanya senyum mesam mesem.


" Apakah aku mulai suka Nuri? " Diki jadi berfikir demikian. Tapi diabaikannya fikiran itu. Saat ini satu fokusnya hanya ingin segera bertemu Novia untuk memperlihatkan motor barunya.


****


Pagi harinya semua sudah bangun, seperti biasa Diki yang akan berangkat bekerja, Ikbal yang pergi sekolah dan Pak Imam yang ikut bekerja di rumah saudara sedang sarapan di meja.


Suasana kali ini terasa berbeda, Bu Murni masih terlihat bahagia mungkin efek dari motor baru.


Bahkan Diki seperti tak fokus karena sedang menyusun kata kata apa yang diucapkan bila bertemu Novia.


" Kamu boleh senang Ki dengan motor barumu bulan depan uangmu berkurang bayar cicilan " ucap Pak Imam sambil memasukan sesendok nasi goreng ke mulutnya.


" Kenapa sih Pak, seperti gak suka Diki punya motor baru " Amah membela Diki.


" Ngapain iri, Bapak sudah merasa cukup dengan keadaan sekarang dan apa yang Bapak miliki. Buat apa banyak gaya nanti pusing sendiri "


Mendengar ucapan Bapaknya Diki jadi sedikit tak berselera. Memang benar apa yang diucapkan Bapaknya.


Cicilan motor ini sangat besar Setengah gajinya habis untuk bayar cicilan mana tenornya panjang lagi. Maklum harga motor diatas 60 juta.


Tapi apa masih bisa dia memberi nafkah pada anak anaknya. Belum jatah Amah, belum kebutuhan dia sendiri.


" Duh gawat ini, gara gara kemarin nafsu pengen motor baru kok gak dihitung sampe kesitu " Diki berucap dalam hati.Dia jadi merasa sedikit tidak tenang.

__ADS_1


" Udah Ki kamu gak usah dengar omongan Bapakmu. Dia emang gitu, dimatanya cuma Novia yang paling benar " muka Bu Murni berubah jadi masam.


" Ya udah aku berangkat dulu Pak, Bu. Bal mau bareng gak? " ajak Diki pada Ikbal.


" Mau lah, sekalian nyoba motor baru " Diki dan Ikbal pun tertawa.


Dua adik kakak itu pun pamit dan menyalami orang tua mereka.


Setelah Ikbal sampai disekolahnya yang setiap hari dilalui Diki, dia melanjutkan perjalanannya.


Matanya menyipit melihat motor didepannya dengan plat nomor yang dia kenali.


" Motor Novia, iya bener itu Novia. Aku susul dia lah " dia bermonolog dalam hatinya.


Wiiww wiiww


Diki memang memasang klakson yang berbeda, karena niatnya dia ingin mencolok dan berbeda dari yang lain.


Awalnya Novia tak peduli, tapi dia merasa diikuti suara klakson tersebut. Bahkan lebih mirip seperti klakson motor Polisi.


" Apaan sih ni motor, gak ad kerjaan banget " Novia menggerutu dan terpaksa berjalan ke pinggir ingin melihat motor siapa.


Mata Novia melebar ketika dia melihat ternyata itu suaminya, oh bukan tapi calon mantan suami. Karena dia sudah bertekad untuk bercerai.


Diki melihat Novia dengan angkuh dagunya diangkat, dia memakai kacamata hitam. Arah matanya terus menatap Novia sampai berjalan agak jauh dan susah melihat istrinya itu lagi karena sudah berjarak beberapa meter.


" Dasar riya, gak ibu gak anak sama saja, satu titisan. Ngapain mepet mepet aku mau pamer?? gak minat. Palingan kredit hahaaa " Novia menggerutu sambil terduduk di atas motornya.


Tak lama Novia pun sampai di tempat parkir, dia melihat ada orang yang sedang dikerubungi.


" Wah bagus banget Pak Diki motornya, baru Pak Diki saja loh yang pake motor ini "


" Pak boleh selfi gak di motornya "


" Pak kapan kita touring pake motor barunya "


Terdengar riuh orang orang yang memuji Diki, Novia pun baru faham rupanya Diki sedang pamer motor barunya.


" Cih lebay dasar kampungan " dia mendecih pelan.


" Eh Bu Novia, pantesan Pak Diki pake motor baru rupanya sekarang bawa masing masing ya. Awww " ucap seorang Bapak.


Ucapannya terhenti karena istrinya yang berada disebelahnya langsung menyikunya.


Entah apa yang dibisikan istrinya Bapak itu langsung terdiam dan pamit pergi duluan.


Semua bubar tinggal mereka berdua yang tersisa, sepasang suami istri yang bersiap perang. Diki tersenyum sinis pada Novia, dipandanginya Novia calon mantan istrinya itu.


" Kamu lihat aku bisa beli motor lebih bagus dari punyamu. Jangan anggap aku tak mampu, gak rugi kok motormu kamu ambil " ucap Diki, kini mereka saling berhadapan.

__ADS_1


Kalau di andaikan mereka seperti dua koboy yang siap saling tembak tinggal tarik pelatuk Doorrr.


Novia pun tak mau terlihat lemah dia mengangkat wajahnya dan balik memandang Diki.


" Baguslah, daripada kamu merangkak " jawabnya sinis.


Mendengar jawaban Novia dia langsung meradang " Apa maksudmu, masih berani kamu menghinaku? "


" Kamu fikirkan saja sendiri, setelah ini apa kamu masih mampu menafkahi anak anakmu? "


Ucapan Novia benar benar menamparnya, dia teringat yang difikirkannya tadi pagi. Diki berfikir apakah Novia tahu kalau dia kredit motor ini? "


Kalau sampai dia tahu bisa malu fikirnya, sia sia pamer tapi ketahuan kartunya.


" Aku pasti mampu, bahkan aku juga mampu mencari penggantimu yang lebih muda dan cantik "


" Ahahaaa silahkan saja, aku gak akan pernah iri. Kalau perlu kita buru buru urus perceraian kita. Biar kita sama sama bebas " Novia tertawa dan dengan santai menjawab Diki.


" Jadi kamu ingin segera bebas bersama laki laki lain, dasar gak tahu malu sekarang kamu mulai menunjukan siapa sebenarnya kamu dasar ******. Cihh "


Novia merasakan sakit di ulu hatinya apalagi melihat Diki membuang ludah di depan wajahnya, dia merasa terhina. Tapi sekali lagi dia tak mau terlihat lemah.


" Apa kamu merasa lebih baik dariku, apa kamu lupa kamu pun berjalan dengan perempuan lain bahkan tak malu bergandengan tangan hahhh. Anakmu sendiri melihat kau berboncengan dengan perempuan itu. Cihh " Novia membalas Diki membuang ludah di depan wajahnya.


Diki langsung naik pitam dia mengangkat tangannya, Novia sudah pasrah dia memejamkan matanya.


Beberapa detik terpejam Novia heran kenapa tangan itu belum menyentuh wajahnya, namun dia mendengar suara yang tak asing.


" Sudah Pak Diki jangan ribut disini, malu. Kalau punya masalah rumah tangga tolong diselesaikan di rumah "


Novia membuka matanya, ternyata tangan Diki tak sampai diwajahnya karena ditahan Pak Candra.


Diki langsung diam wajahnya masih merah menahan amarah. Dia berusaha menetralkanya emosinya. Nafasnya masih naik turun.


" Hari ini aku Diki Permana talak kamu Novia Nabila, diantara kita sudah tak ada hubungan suami istri lagi dan aku bebaskan kamu "


Kemudian dia mundur dan pergi meninggalkan Novia dan atasannya tanpa berkata kata lagi.


Novia langsung lunglai, dia berjalan tanpa mengucapkan terima kasih atau permisi pada atasannya itu. Fikirannya kosong, matanya sudah berembun, menunggu dia mengejapkan matanya maka air asin itu akan tumpah di pipinya yang mulus.


Sampai di mejanya dia langsung menghenyakan bokongnya tanpa memperdulikan sekitar.


Lori merasa heran, namun melihat Novia yang terlihat kacau dia belum berani bertanya. Dia hanya memberikan segelas air minum hangat dan menyimpannya tepat di depan Novia.


Lori berdiri melihat atasannya memberi kode untuk menjauh, kemudian atasannya itu duduk di kursinya


" Menangis saja kalau kamu mau menangis, semoga dengan menangis semua sakitmu akan terbawa oleh air mata yang terbuang "


Tumpahlah air mata yang ditahannya, walau dengan suara tangis yang tertahan setidaknya rasa sesak itu berkurang.

__ADS_1


Pak Candra hanya diam menunggu sampai Novia merasa tenang. Beruntung hari masih pagi karyawan di departement itu pun sedikit.


Ruangan Novia pun hanya di isi berdua dengan Lori. Aksi tangis Novia pun tidak ada yang tahu hanya dia, Lori dan Pak Candra saja yang tahu.


__ADS_2