
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 115 ( Hukuman )
" Hidup Pak Imam, hidup Pak Imam " warga berteriak keras.
Pak RT langsung berdiri dari duduknya, warga tanpa dikomando langsung tak bersuara suasana menjadi sunyi dan hening. Dipandanginya warganya satu persatu, mereka malah tersenyum.
Setelah di rasa aman Pak RT kembali duduk.
" Bapak yakin atas keputusan Bapak? " tanya Pak RT pada Pak Imam.
" Saya yakin Pak RT " jawab Pak Imam.
" Baiklah kita sudah sepakat ya soal ganti rugi itu. Berapa totalnya Ceu Juju? " kali ini Pak RT bertanya pada Ceu Juju.
Mendengar pertanyaan Pak RT Ceu Juju langsung sumringah dia yang sudah putus asa karena warung miliknya porak poranda akibat para ibu ibu ngereog di lapangnya, sekarang bisa kembali tersenyum cerah.
Diambilnya catatan dari tangan anak laki lakinya " Semuanya 2 juta 530 ribu Pak RT "
" Yang bener kamu Ju, masa mahal banget kan yang habis barang yang di luar warung saja yang didalam mah aman " Bu Murni langsung protes mendengar nominal yang disebut Ceu Juju.
" Huhuuuu " warga kembali bergemuruh. Namun tak lama karena Pak RT langsung menatap tajam mereka.
" Iya Bu Murni tapi kan meja, baskom, ember buat sayuran dan ikan melayang semua. Saya kan harus bikin meja baru harus bayar tukangnya " kilah Ceu Juju.
" Betul tuh Bu Murni emang bikin meja nempel atau langsung jadi gitu " ucap seseibu yang menonton.
" Iya aneh banget Bu Murni ini "
" Sstt ssstt diam diam mau di usir sekarang kalian? dari tadi berisik " tegur Hansip yang berdiri di luar.
" Apa sih ganggu aza " balas seseibu tersebut.
" Kalau gitu potong juga sayuran yang di bawa sama si Yati kan lumayan tuh "
" Huhuuu dasar perhitungan " kini Yati yang membalas ucapan Bu Murni.
" Masalah buat lu, ini kan uang suami saya "jawab Bu Murni sambil mendelikan matanya.
" Sudah Mah bisa diam gak " bentak Pak Imam.
" Ceu Juju saya akan bayar uangnya full sesuai permintaan Ceu Juju " Pak Imam mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang sebanyak 2 juta 550 ribu pada Ceu Juju.
" Ini cash Pak, gak di cicil? makasih ya Pak Imam bapak baik banget beda sama istrinya " mulut Ceu Juju bicara tanpa di saring tak mengidahkan Bu Murni yang ada di depannya.
" Maksud kamu apa Ju? " bentak Bu Murni, sedang Ceu Juju fokus menghitung uang.
" Gak ada Bu Murni. Pak Imam ini saya kembalikan 50 ribunya gak apa apa anggap aza diskon heheee " sambil disodorkannya uang pada Pak Imam satu lembar lima puluh ribuan.
" Gak usah Ceu Juju saya ikhlas semuanya aza buat Ceu Juju saya gak mau punya hutang sama orang " tolak Pak Imam.
" Ya sudah buat Amah aza Pak dari pada dorong dorongan uang seperti itu, bikin lama waktu saja. Lagian kamu Ju diskon cuma 30 ribu dasar pelit " uang 50 ribu yang ada di meja tersebut di ambil Bu Murni.
__ADS_1
Tanpa terlihat gerakannya layaknya ninja tangan Ceu Juju langsung merebut uang 50 ribu tersebut dari tangan Bu Murni " Enak saja ngatain saya pelit, lebih baik uang ini saya ambil lagi tanggung di bilang pelit "
" Hahaaaa "
Semua warga tertawa baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam melihat kelakuan mereka berdua.
" Dasar kurang ajar " pekik Bu Murni.
" Sudah sudah jangan ribut, untuk masalah tadi sore sudah ada solusinya termasuk uang ganti ruginya ya. Saya harap kalian bisa berdamai, tapiiii "
Pak RT menjeda ucapannya membuat semua warga menjadi tegang.
" Buat semua yang telah membuat keributan saya akan memberi hukuman agar tidak terjadi lagi keributan serupa "
" Setuju pak RT setujuuu " teriak warga yang menonton.
" Loh kok masih dihukum Pak, suami saya kan udah bayar ganti rugi. Berarti cuma mereka aza kan yang dihukum saya nggak " Bu Murni melakukan protes dengan keputusan Pak RT.
" Hukum semua Pak RT biar adiill " teriak salah satu warga di luar.
" Iya biar kapok, Bu Murni biang rusuuh " balas warga lain.
" Heiii siapa yang ngomong, sini kalau berani " pekik Bu Murni karena disebut biang rusuh.
" Duduk Mah, malu " ucap Pak Imam menarik lengan Bu Murni, dia merasa malu melihat Pak RT dan yang lain terkikik.
Bu Murni langsung duduk walaupun terlihat misuh misuh.
" Nah Bu Murni mohon pengertiannya ya, saya harap Ibu tidak protes lagi " potong Pak RT.
" Mmhhh begini saja, lingkungan kita sedang kekurangan tenaga kebersihan. Jadi saya akan menghukum Ibu-ibu untuk membersihkan lingkungan RT kita selama seminggu. Setujuu? "
" Setujuuu " balas warga mereka langsung berteriak girang.
Sedang para ibu-ibu pelaku kerusuhan semua berteriak kompak " Appaaa? "
" Gak mau Pak saya punya anak kecil " jawab Mayang.
" Saya juga gak mau Pak RT warung saya gimana dong " timpal Ceu Juju.
" Kalau saya Pak RT nanti gak bisa cari berita dong " Yati ikut berkomentar.
" Itu derita looo " jawab Pak RT.
" Hahaaa " warga kembali tertawa.
" Ibu ibu atur saja jadwalnya, tidak boleh ada yang mangkir kalau mangkir hukumannya akan di ganti sesuai jumlah mangkirnya bahkan akan menjadi dua kali lipat. Faham kan maksud saya? "
Kini Pak RT dalam mode serius, wajahnya terlihat sedikit seram sehingga ibu ibu tak berani menolak.
" Faham Pak RT " jawab mereka kompak.
" Bagus, untuk semua warga tolong awasi kerja mereka. Kalau misal timbul masalah baru segera lapor saya. Saya pastikan akan menambah hukumannya "
__ADS_1
" Setujuuu " teriak warga di luar.
" Oke untuk pertemuan malam ini kita cukupkan saja. Sebagai tanda sepakat dan permintaan maaf ibu ibu tolong bersalaman di depan semua warga " titah Pak RT.
Bu Murni yang masih tak terima hukumannya tak mau bersalaman dia memilih diam duduk di kursinya.
" Bu Murni mau saya tambah hukumannya menjadi dua minggu? " tanya Pak RT.
Mendengar ancaman Pak RT Bu Murni langsung terkesiap " Ng- nggak Pak RT "
Dia langsung berdiri dan menyalami lawan tarungnya tadi sore.
" Yeayyy " teriak warga bergemuruh melihat mereka bersalaman.
" Nah beres kan, saya harap kejadian tadi sore tidak terulang. Karena merugikan banyak pihak baik materiil maupun immateriil " tegas Pak RT.
Warga hanya manggut manggut entah mengerti atau tidak apa maksud yang dikatakan Pak RT.
" Selanjutnya...karena semua telah berdamai maka saya tutup pertemuan ini dengan mengucap hamdalah bersama sama "
" Alhamdulillah "
Semua berucap serentak.
" Silahkan semua warga pulang ke rumah masing dan pulang dengan tertib "
Semua warga langsung berhambur pulang termasuk ibu ibu yang ada di dalam bahkan terdengar teriakan warga sambil berjalan pulang.
" Hidup Pak RT, Hidup Pak RT "
" Kalian pulang dulu, Bapak mau bicara sama Pak RT. Urusan kita belum selesai terutama soal sertifikat. Kamu jangan pulang dulu Robi. Bapak gak terima alasan " ujar Pak Imam dengan suara yang tegas.
" I-iya Pak " jawab Robi.
Kini yang tertinggal hanya Pak Rt, Pak Imam dan Bu Rt di dalam rumah tersebut. Kedua orang Hansip sedang mengamankan warga yang pulang karena berdesak desakan persis pulang nonton layar tancap.
Hanya bedanya tak ada penjual kacang keliling karena pertemuan ini sangat mendadak.
" Pak RT saya mohon maaf bila saya dan keluarga sering membuat masalah. Terus terang saya malu dan saya pun sering menegur mereka. Tapi ya begitulah namanya watak mungkin agak sulit di rubah " Pak Imam memulai percakapan setelah dirasa tak ada orang lain selain mereka.
" Saya faham maksud Pak Imam, saya juga sering mendapat laporan dari warga tentang Bu Murni. Tapi ya namanya kita hidup bertetangga dan di gang ribu ribut dikit jadi hal yang biasa.
Namun kejadian tadi siang benar benar sudah di luar batas. Makanya saya memberikan hukuman berharap mereka jera.
Soal Bu Murni semoga mendapat hidayah agar dapat berubah menjadi lebih baik " jawab Pak RT dengan bijak.
" Terima kasih atas pengertiannya Pak semoga hal seperti ini tidak terulang lagi. Karena sudah malam saya permisi pulang dulu "
" Baik Pak sama sama " jawab Pak RT.
Setelah bersalaman, Pak Imam langsung keluar rumah. Diluar Pak Imam cukup kaget melihat halaman rumah Pak RT sangat berantakan. Beberapa pot bunga terjatuh dan pecah belum lagi sampah makanan berserakan dimana mana.
Pak Imam buru buru pulang khawatir timbul masalah baru. Baru sampai belokan gang terdengar teriakan Bu Rt yang cukup keras memanggil suaminya.
__ADS_1
" Bapaakkk "