
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 88 ( Sidang Perceraian Kedua )
Hari ini adalah jadwal sidang kedua untuk perceraian Novia dan Diki. Seperti sidang sebelumnya Diki mengambil cuti untuk mengikuti sidang tersebut.
Dia masih berusaha mempertahankan rumah tangganya, walau dia sudah menjatuhkan talak tempo hari pada Novia.
Diki sengaja bangun terlambat karena dia berangkat ke pengadilan agama sekitar jam 9 pagi.
" Ki kamu gak kerja hari ini, kok belum siap siap? " tanya Bu Murni.
" Gak Mah hari ini kan sidang keduaku. Aku mau datang lagi kesana, aku tetap tidak mau berpisah dengan Novia "
" Halaaahh Ki kamu tuh udah tahu si Novia gak mau, gak punya harga diri banget sih kamu. Kamu juga kenapa gak bilang dari kemarin kalau mau sidang hari ini? "
" Mah gak boleh gitu, harusnya Amah dukung Diki, bukannya nyuruh nyuruh cerai " Pak Imam baru datang dari kamar ikut menimpali obrolan mereka.
" Ngobrol sama Bapak percuma, Novia kan mantu kesayangan Bapak. Gak ada cacatnya bagus aza semuanya "
" Masih bagusan Novia lah daripada Ayu mantu kesayangan Amah kerjanya bikin huru hara, belum kapok dia babak belur sama si Manda hehee " balas Pak Imam.
" Iya Pak tiap kesini kerjanya makan, tidur, ngerumpi anaknya gak pernah di asuh sudah kayak ratu hahaa "
Diki ikut berkomentar, bahkan dia terlihat sinis setiap menyebut nama adik iparnya itu. Sebab dia tahu Ayu sering memprovokasi Ibunya.
" Kalian anak bapak sama saja, tunggu aza nanti bakal ada kejutan. Si Novia bakal kalah sama kita dan kalian harus mengakui kalau kita lebih baik "
" Emang ada apaan sih Mah? " tanya Diki heran.
" Awas ya kalian jangan berlaku macam macam, harus punya malu. Tiap ganggu Novia ujung ujungnya kalian yang rugi. Harusnya itu jadi bahan renungan untuk kalian "
Sebagai suami dan bapak Pak Imam mengingatkan anak istrinya yang sering bikin ulah. Kemarin kemarin mungkin mereka masih beruntung tidak di tuntut keluarga Novia.
Ke depannya tidak akan ada yang berani menjamin kalau mereka di ganggu akan diam saja.
" Iya bener Mah apa kata Bapak " tambak Diki.
" Kamu Ki udah kayak yang bener aza " jawab Bu Murni dengan ketus.
" Aku gini juga gara gara ngikutin Amah, apa Amah lupa? gara gara Amah masalah aku gak ada yang beres "
" Hehhh kamu malah nyalahin Amah dasar durhaka. Udah kalian gak usah comment "
Bu Murni langsung mengambil ponselnya dia langsung menghubungi Cantika.
[ Tika hari ini sidang kedua Diki, dia gak bilang hari ini sidang. Cepetan jamu jemput Amah ]
[ ........................... ]
[ Ya cepetan ya ]
Kemudian Bu Murni terlihat mengetik seperti nya akan mengirim pesan pada seseorang .
" Loh emang kalian mau pada ngapain? " tanya Diki pada ibunya.
" Ya Amah mau nganterin kamu lah kayak kemarin bareng Cantika, Ayu dan Robi. Oh iya satu lagi bareng Nuri hehee "
Dengan santainya Bu Murni menjawab pertanyaan Diki tak perduli pada Diki yang tengah keberatan.
" Gak usah gak usah, kalau kalian hadir yang ada malah tambah bikin pusing, kemarin juga malah ribut sama Manda. Aku bosan dibikin malu sama kalian.
Nanti usahaku buat rujuk malah gagal total. Yang paling parah kalian malah minta uang bensin padaku. Padahal aku tak pernah minta kalian untuk datang " Diki menolak niat Ibunya, karena dia merasakan firasat buruk.
Karena setiap kali Ibunya dan Ayu hadir yang ada hanya masalah, apalagi Nuri yang mau ikut juga. Sudah dipastikan akan merusak niatnya untuk rujuk.
" Kamu jangan khawatir kalau soal uang bensin karena kita bakal pakai mobil Nuri, gak mungkin kan dia minta uang bensin pada kita "
" Hufftt " Diki menarik nafasnya dan langsung memandang Bapaknya.
" Amah seharusnya tidak boleh berbuat seperti itu, ha... "
" Stop, stop, stop Amah udah bilang tadi jangan ada yang bicara. Keputusan Amah sudah mutlak kalian harus bercerai. Amah akan buat Novia menyesal setelah bercerai dari kamu "
" Emang Amah mau ngapain sih dari tadi cuma bilang mau ngalahin mau ngalahin, heran banget "
" Rahasia, nanti bakal jadi kejutan. Oh ya Bapak mau ikut juga? Tapi kayaknya gak deh soalnya Bapak kan pendukung Novia. Jadi udah mending kerja saja cari duit buat Amah " ucap Bu Murni.
" Gak minat " jawab Pak Imam sambil melenggang kembali ke kamarnya.
Jawaban Pak Imam langsung mendapat delikan mata istrinya sambil mencebikan bibirnya.
" Mah gak usah ikutlah, nanti malah nambah masalah " Diki tetap keberatan dengan permintaan Ibunya.
" Masalah apa maksud kamu? " tanya Bu Murni sambil menatap tajam Diki.
" Sudah jadi rahasia umum kalau ada Amah pasti bakal ada masalah " ujar Diki.
" Heeehhh dasar anak durhaka, bukannya senang di antar. Ini bukti kita perhatian sama kamu. Faham gak sih? " Bu Murni terlihat geram dia melempar Diki memakai bantal di sofa.
Satu jam kemudian Ayu datang di antar Robi. Berbarengan dengan datangnya Cantika.
" Amah kok bilangnya ngedadak sih? sampe keburu buru begini " ujar Ayu.
" Iya Mah untung saja aku masih sempat antar anak anak ke sekolah "
" Iya Amah juga gak tahu sidangnya hari ini, si Diki bilangnya ngedadak. Robi kemana Yu? "
" Tadi langsung pergi lagi, katanya udah terlalu sering izin jadi ditegur Kepala Sekolah " sahut Ayu.
" Kamu tuh Yu harusnya kamu ingetin suami udah mah gajinya kecil, eh sering gak masuk untung saja gak langsung dipecat. Cuma baru di peringatin "
" Iya aku gak pernah maksa A'Robi kok. Dia yang mau izin sendiri. Kita berangkat jam berapa? "
Ayu mengalihkan pembicaraan dia merasa jengah karena terus di pojokan.
" Kita tinggal nunggu Nuri saja, nanti dia mau ikut nganter "
__ADS_1
" Wah jadi kita sama Nuri, asik dong pulangnya bisa langsung jalan jalan " mata Ayu langsung berbinar karena dia yakin Nuri yang loyal pasti akan meneraktirnya.
Berbeda dengan Cantika, dia terdiam karena belum pernah melihat sosok Nuri. Setiap Nuri ke rumah Cantika pasti sedang tidak ada.
Drrrttt drrttt
" Sstttt Nuri telepon " ucap Amah.
[ Iya Nur? ]
[ ................... ]
[ Oh sudah di depan, ya sudah Amah ke sana sekarang ]
[ ................... ]
" Diki ayo berangkat sekarang, Nuri sudah ada didepan " ajak Amah pada Diki yang sedang berada di kamar Ikbal.
" Aku gak mau ah, kalian ngapain sih ngikut ngikut kayak gak ada kerjaan saja "
" Udah gak usah banyak omong ribeut amat sih "
Diki langsung digandeng Ibunya menuju pintu, mau tak mau Diki pun mengikuti kemauan Ibunya.
Cantika dan Ayu hanya tertawa dibelakang, sepanjang jalan menuju mulut gang mereka berdua menertawakan Diki.
" Mah itu mobil Nuri " tunjuk Ayu karena ia sudah beberapa kali jalan bareng Nuri sehingga sudah hafal mobilnya.
" Oh iya ayo kita kesana keburu telat " ajak Bu Murni.
Dalam hati Diki merasa heran kenapa Ibu dan adiknya begitu bersemangat ikut ke pengadilan bersamanya.
Yang paling tak di mengertinya apa maksud Amah mengajak Nuri. Seakan sengaja menambah masalah antara Diki dan Novia.
" Nur cepet juga nyampe nya ya? " Bu Murni menyapa Nuri sedangkan yang disapa hanya terdiam.
" Nur Nuri? " sapa Amah lagi.
" Eh iya Mah maaf, ayo masuk " Nuri tersenyum walau terlihat dipaksakan.
" Nuri kenalkan ini adiknya Diki, namnya Cantika. Maaf ya tadi Amah ajak mereka biar rame hehee " ucap Bu Murni.
" Oh iya Mah " Nuri dan Cantika bersalaman saling mengenalkan diri.
"A'Diki yang nyetir ya " pinta Nuri dan tanpa mendengar jawaban Diki, Nuri langsung berpindah duduk di bangku sebelah sopir.
Jadilah Diki yang mengemudi, Nuri berada disampingnya. Sedangkan Ibu, adik dan adik iparnya duduk di belakang.
Muka Diki terlihat masam, dia sering melihat Ibu dan adik adiknya dibelakang melalui spion tengah.
" Huhhh apa apaan ini, jadi seperti ngasuh Ibu-ibu, mending kalau pada nurut mana cerewet semua " Diki membantin.
Begitu pun Nuri walaupun dia tak berbicara namun dia merasa geram, dia mengira hanya Diki dan Murni yang pergi.
" Kebiasaan banget tiap jalan pasti bawa rombongan. Kirain aku cuma Amah saja tahunya sama si tukang gratisan. Walaupun baru kenal tapi aku udah hafal karakter orang kayak gini "
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Hari ini adalah jadwal sidang kedua untuk perceraian Novia dan Diki. Seperti sidang sebelumnya Diki mengambil cuti untuk mengikuti sidang tersebut.
Dia masih berusaha mempertahankan rumah tangganya, walau dia sudah menjatuhkan talak tempo hari pada Novia.
Diki sengaja bangun terlambat karena dia berangkat ke pengadilan agama sekitar jam 9 pagi.
" Ki kamu gak kerja hari ini, kok belum siap siap? " tanya Bu Murni.
" Gak Mah hari ini kan sidang keduaku. Aku mau datang lagi kesana, aku tetap tidak mau berpisah dengan Novia "
" Halaaahh Ki kamu tuh udah tahu si Novia gak mau, gak punya harga diri banget sih kamu. Kamu juga kenapa gak bilang dari kemarin kalau mau sidang hari ini? "
" Mah gak boleh gitu, harusnya Amah dukung Diki, bukannya nyuruh nyuruh cerai " Pak Imam baru datang dari kamar ikut menimpali obrolan mereka.
" Ngobrol sama Bapak percuma, Novia kan mantu kesayangan Bapak. Gak ada cacatnya bagus aza semuanya "
" Masih bagusan Novia lah daripada Ayu mantu kesayangan Amah kerjanya bikin huru hara, belum kapok dia babak belur sama si Manda hehee " balas Pak Imam.
" Iya Pak tiap kesini kerjanya makan, tidur, ngerumpi anaknya gak pernah di asuh sudah kayak ratu hahaa "
Diki ikut berkomentar, bahkan dia terlihat sinis setiap menyebut nama adik iparnya itu. Sebab dia tahu Ayu sering memprovokasi Ibunya.
" Kalian anak bapak sama saja, tunggu aza nanti bakal ada kejutan. Si Novia bakal kalah sama kita dan kalian harus mengakui kalau kita lebih baik "
" Emang ada apaan sih Mah? " tanya Diki heran.
" Awas ya kalian jangan berlaku macam macam, harus punya malu. Tiap ganggu Novia ujung ujungnya kalian yang rugi. Harusnya itu jadi bahan renungan untuk kalian "
Sebagai suami dan bapak Pak Imam mengingatkan anak istrinya yang sering bikin ulah. Kemarin kemarin mungkin mereka masih beruntung tidak di tuntut keluarga Novia.
Ke depannya tidak akan ada yang berani menjamin kalau mereka di ganggu akan diam saja.
" Iya bener Mah apa kata Bapak " tambak Diki.
" Kamu Ki udah kayak yang bener aza " jawab Bu Murni dengan ketus.
" Aku gini juga gara gara ngikutin Amah, apa Amah lupa? gara gara Amah masalah aku gak ada yang beres "
" Hehhh kamu malah nyalahin Amah dasar durhaka. Udah kalian gak usah comment "
Bu Murni langsung mengambil ponselnya dia langsung menghubungi Cantika.
[ Tika hari ini sidang kedua Diki, dia gak bilang hari ini sidang. Cepetan jamu jemput Amah ]
[ ........................... ]
[ Ya cepetan ya ]
Kemudian Bu Murni terlihat mengetik seperti nya akan mengirim pesan pada seseorang .
__ADS_1
" Loh emang kalian mau pada ngapain? " tanya Diki pada ibunya.
" Ya Amah mau nganterin kamu lah kayak kemarin bareng Cantika, Ayu dan Robi. Oh iya satu lagi bareng Nuri hehee "
Dengan santainya Bu Murni menjawab pertanyaan Diki tak perduli pada Diki yang tengah keberatan.
" Gak usah gak usah, kalau kalian hadir yang ada malah tambah bikin pusing, kemarin juga malah ribut sama Manda. Aku bosan dibikin malu sama kalian.
Nanti usahaku buat rujuk malah gagal total. Yang paling parah kalian malah minta uang bensin padaku. Padahal aku tak pernah minta kalian untuk datang " Diki menolak niat Ibunya, karena dia merasakan firasat buruk.
Karena setiap kali Ibunya dan Ayu hadir yang ada hanya masalah, apalagi Nuri yang mau ikut juga. Sudah dipastikan akan merusak niatnya untuk rujuk.
" Kamu jangan khawatir kalau soal uang bensin karena kita bakal pakai mobil Nuri, gak mungkin kan dia minta uang bensin pada kita "
" Hufftt " Diki menarik nafasnya dan langsung memandang Bapaknya.
" Amah seharusnya tidak boleh berbuat seperti itu, ha... "
" Stop, stop, stop Amah udah bilang tadi jangan ada yang bicara. Keputusan Amah sudah mutlak kalian harus bercerai. Amah akan buat Novia menyesal setelah bercerai dari kamu "
" Emang Amah mau ngapain sih dari tadi cuma bilang mau ngalahin mau ngalahin, heran banget "
" Rahasia, nanti bakal jadi kejutan. Oh ya Bapak mau ikut juga? Tapi kayaknya gak deh soalnya Bapak kan pendukung Novia. Jadi udah mending kerja saja cari duit buat Amah " ucap Bu Murni.
" Gak minat " jawab Pak Imam sambil melenggang kembali ke kamarnya.
Jawaban Pak Imam langsung mendapat delikan mata istrinya sambil mencebikan bibirnya.
" Mah gak usah ikutlah, nanti malah nambah masalah " Diki tetap keberatan dengan permintaan Ibunya.
" Masalah apa maksud kamu? " tanya Bu Murni sambil menatap tajam Diki.
" Sudah jadi rahasia umum kalau ada Amah pasti bakal ada masalah " ujar Diki.
" Heeehhh dasar anak durhaka, bukannya senang di antar. Ini bukti kita perhatian sama kamu. Faham gak sih? " Bu Murni terlihat geram dia melempar Diki memakai bantal di sofa.
Satu jam kemudian Ayu datang di antar Robi. Berbarengan dengan datangnya Cantika.
" Amah kok bilangnya ngedadak sih? sampe keburu buru begini " ujar Ayu.
" Iya Mah untung saja aku masih sempat antar anak anak ke sekolah "
" Iya Amah juga gak tahu sidangnya hari ini, si Diki bilangnya ngedadak. Robi kemana Yu? "
" Tadi langsung pergi lagi, katanya udah terlalu sering izin jadi ditegur Kepala Sekolah " sahut Ayu.
" Kamu tuh Yu harusnya kamu ingetin suami udah mah gajinya kecil, eh sering gak masuk untung saja gak langsung dipecat. Cuma baru di peringatin "
" Iya aku gak pernah maksa A'Robi kok. Dia yang mau izin sendiri. Kita berangkat jam berapa? "
Ayu mengalihkan pembicaraan dia merasa jengah karena terus di pojokan.
" Kita tinggal nunggu Nuri saja, nanti dia mau ikut nganter "
" Wah jadi kita sama Nuri, asik dong pulangnya bisa langsung jalan jalan " mata Ayu langsung berbinar karena dia yakin Nuri yang loyal pasti akan meneraktirnya.
Berbeda dengan Cantika, dia terdiam karena belum pernah melihat sosok Nuri. Setiap Nuri ke rumah Cantika pasti sedang tidak ada.
Drrrttt drrttt
" Sstttt Nuri telepon " ucap Amah.
[ Iya Nur? ]
[ ................... ]
[ Oh sudah di depan, ya sudah Amah ke sana sekarang ]
[ ................... ]
" Diki ayo berangkat sekarang, Nuri sudah ada didepan " ajak Amah pada Diki yang sedang berada di kamar Ikbal.
" Aku gak mau ah, kalian ngapain sih ngikut ngikut kayak gak ada kerjaan saja "
" Udah gak usah banyak omong ribeut amat sih "
Diki langsung digandeng Ibunya menuju pintu, mau tak mau Diki pun mengikuti kemauan Ibunya.
Cantika dan Ayu hanya tertawa dibelakang, sepanjang jalan menuju mulut gang mereka berdua menertawakan Diki.
" Mah itu mobil Nuri " tunjuk Ayu karena ia sudah beberapa kali jalan bareng Nuri sehingga sudah hafal mobilnya.
" Oh iya ayo kita kesana keburu telat " ajak Bu Murni.
Dalam hati Diki merasa heran kenapa Ibu dan adiknya begitu bersemangat ikut ke pengadilan bersamanya.
Yang paling tak di mengertinya apa maksud Amah mengajak Nuri. Seakan sengaja menambah masalah antara Diki dan Novia.
" Nur cepet juga nyampe nya ya? " Bu Murni menyapa Nuri sedangkan yang disapa hanya terdiam.
" Nur Nuri? " sapa Amah lagi.
" Eh iya Mah maaf, ayo masuk " Nuri tersenyum walau terlihat dipaksakan.
" Nuri kenalkan ini adiknya Diki, namnya Cantika. Maaf ya tadi Amah ajak mereka biar rame hehee " ucap Bu Murni.
" Oh iya Mah " Nuri dan Cantika bersalaman saling mengenalkan diri.
"A'Diki yang nyetir ya " pinta Nuri dan tanpa mendengar jawaban Diki, Nuri langsung berpindah duduk di bangku sebelah sopir.
Jadilah Diki yang mengemudi, Nuri berada disampingnya. Sedangkan Ibu, adik dan adik iparnya duduk di belakang.
Muka Diki terlihat masam, dia sering melihat Ibu dan adik adiknya dibelakang melalui spion tengah.
" Huhhh apa apaan ini, jadi seperti ngasuh Ibu-ibu, mending kalau pada nurut mana cerewet semua " Diki membantin.
Begitu pun Nuri walaupun dia tak berbicara namun dia merasa geram, dia mengira hanya Diki dan Murni yang pergi.
__ADS_1
" Kebiasaan banget tiap jalan pasti bawa rombongan. Kirain aku cuma Amah saja tahunya sama si tukang gratisan. Walaupun baru kenal tapi aku udah hafal karakter orang kayak gini "