arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Jalan Tikus


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 119 ( Jalan Tikus )


Pov Cantika


" Aarrgghhh "


Aku berteriak sangat kencang melihat baju baju jualanku terkoyak seperti itu. Bukan hanya satu atau dua baju tapi lusinan. Ini yang terlihat saja belum yang masih di rak dan belum aku cek.


" Umi apa apaan ini, kenapa bisa seperti ini? " tanya Amah ikut kesal.


" Umi kok bisa begini sih, emang gak pernah kamu cek? bisa bangkrut saya kalau begini caranya. Kamu mau saya suruh ganti semua kerugiannya? "


Aku mencecar Umi dengan banyak pertanyaan. Kesal, marah?


Ya tentu saja siapa yang gak kesal dan marah dengan situasi dan keadaan seperti ini. Aarggghh ingin rasanya aku maki semua orang yang ada di depanku.


" Maaf Bu saya baru tahu barusan pas mau ambil barang " jawabnya sambil menunduk.


" Kamu kok menaruh barang gak lihat lihat sih? " lama aku terdiam karena shock.


Selintas aku melihat titik titik cahaya dibelakang rak baju tempat ditemukannya baju baju rusak.


Karena penasaran aku ambil sisa baju yang ada di rak karena terlihat seperti ada sinar yang masuk dari belakangnya.


" Ya ampun Umi ini kan temboknya berlubang mana belakang bangunan ini selokan ya iya lah jadi jalan masuk tikus. Kamu gimana sih "


Setelah ku geser semua barang barulah terlihat tembok di belakang rak baju ini berlubang besar bahkan kucing pun bisa masuk apalagi tikus.


Lubang tembok ini hanya di tutup terpal jadi masih tetap bisa di tembus tikus. Aku curiga disini ada banyak lubang serupa.


" Yu kamu jangan melongo aza bantu aku geser dong "


Kulihat Ayu hanya diam, padahal biasanya dia paling senang urusan memaki orang. Tumben mulutnya seperti di lakban malah kulihat dia menatap terus ke Umi.


" Eh i-iya Teh, tapi menurut aku udah lah teh gak usah di geser lagian ini kan berat "


" Iya makanya kita dorong rame rame biar gak berat. Kamu ini kenapa sih "


Kesal juga sama dia malah melongo gak jelas gitu, giliran makan pengen yang paling banyak.


Aku dan Ayu menggeser rak kayu dibantu karyawan toko, beruntung raknya tidak terlalu berat jadi bisa kami geser dengan mudah.


Ternyata ada satu terpal membentang menutupi tembok tersebut yang sepertinya sengaja untuk menutupi tembok. Karena tak ada rak yang menempel pada dinding jadi terpal itu bergerak gerak tertiup angin.


Aku makin curiga, terpal bisa bergerak berarti anginnya kencang kemungkinannya cuma satu yaitu ada lubang disini.

__ADS_1


Dengan rasa penasaran yang tinggi langsung kutarik terpal tersebut dan...


" Umiii kenapa ini banyak sekali lubangnya, kenapa kamu gak bilang saya " aku berteriak saking kesalnya pada karyawanku.


" Maaf Bu " jawab Umi menunduk tapi sekali kali memandang ke arah Ayu. Dan tanpa sengaja Ayu menatap tajam karyawan toko bergantian.


Kok aku jadi curiga dan perasaanku jadi gak enak gini, kenapa Ayu seperti mengintimidasi mereka.


Daripada aku pusing lebih baik aku foto kondisi tembok ini biar aku complain sama pemilik bangunan ini.


" Umi sini kamu ikut saya ke lantai dua, dan kalian rapihkan semuanya. Sekalian cek barang lainnya apa masih bisa dijual atau tidak " Aku memberikan perintah pada pegawaiku.


Sampai di lantai dua kami duduk berempat karena Amah dan Ayu mengikuti kami. Umi duduk di kursi kecil dan kami duduk bertiga berjajar. Sekilas terlihat seperti sedang menyidang Umi.


" Umi kamu ceritakan bagaimana barang barang itu bisa rombeng seperti itu? ' tanyaku tanpa basa basi karena dalam pikiranku saat ini adalah kerugian yang akan aku derita.


" Kamu gimana sih Mi gak becus kerja kalau gini caranya saya rugi dong " Amah ikut menegur Umi.


Pegawaiku terlihat bingung karena di cecar kami berdua.


" Udah Mah biar aku yang nanya Umi. Supaya Umi gak bingung dengan banyak pertanyaan " ku potong ucapan Amah yang yang aku yakin akan panjang seperti kereta api.


" Tapi Tik Amah juga punya kepentingan disini. Kalau sampai toko rugi kamu pasti tahu akibatnya kan? "


" Iya Mah aku ngerti, tapi kalau terlalu banyak mulut juga pasti gak akan cepet beres. Amah percaya deh sama Tika "


" Jadi gimana kronologinya Mi? masa iya kamu gak tahu ada banyak lubang menganga di tembok padahal kamu setiap hari disini. Tolong ceritakan jangan berbelit-belit " titahku pada Umi.


Bukannya menjawab pertanyaanku Umi malah menunduk dan sesekali mencuri pandang ke arah Ayu.


" Yu tolong kamu bantu yang dibawah biar aku yang nanya Umi, disini terlalu banyak orang. Sebaiknya kamu awasin mereka supaya cepat beres. Aku mau claim hari ini juga "


Aku menyuruh Ayu turun karena sepertinya Umi gak nyaman dengan kehadiran Ayu.


" Hahhhh aku Teh? " jari telunjuk Ayu menunjuk wajahnya sendiri.


" Iya kamu, masa Amah "


" Tapi Teh aku pengen tahu kenapa banyak tikus disini. Kalau di bawah mereka kan udah ngerti pekerjaannya "


Si Ayu kenapa sih aneh banget hari ini, tadi ngehalangin waktu mau geser rak, sekarang dia seperti mengintimidasi anak anak gitu. Apa ada yang di sembunyiin ya sama dia?


" Sudah sana nanti aku kasih tahu hasilnya " ucapku ketus.


Ayu pergi dengan wajah masam, sebelum pergi pun dia masih sempat menatap tajam Umi yang masih tertunduk.


" Ayo Mi sekarang kamu cerita apa yang kamu tahu " aku kembali memaksa Umi karena aku yakin dia tahu sesuatu.

__ADS_1


" Mmmhhh itu Bu, gimana ya saya kan cuma ngambilin barang buat dipajang di depan jadi saya gak tahu kapan di gigit tikusnya " jawab Umi yang terlihat gugup.


" Mi saya gak tanya kapan di gigit tikusnya, tapi saya tanya kenapa ada lubang sebanyak itu di dinding kamu gak tahu " tanyaku lagi bahkan suaraku mulai meninggi karena kesal.


" Iya kamu itu Mi tinggal jawab aza apa susahnya sih " Amah mulai membentak Umi sepertinya dia juga sudah kesal karena Umi tidak mau membuka mulut.


" Gini aja deh Mi kalau kamu gak mau bicara saya bakal minta rugi sama kamu. Karena kamu yang setiap hari di gudang dan saya sudah nunjuk kamu sebagai penanggung jawab kalau saya gak ada "


Umi masih diam tapi terlihat gelisah, duduknya sering berganti posisi.


" Selain kamu harus ganti rugi saya juga bakal laporin kamu dengan pasal kelalaian menyebabkan barang saya rusak. Kamu mau dipenjara? "


" Ih jangan dong Bu, ini kan bukan salah Umi masa Ibu tega sih "


Ternyata ancamanku berhasil, Umi terlihat ketakutan.


" Makanya kamu sekarang cerita, cepetan saya gak punya banyak waktu "


Umi memandangku kemudian dia melihat ke arah pintu, membuatku yakin ada sesuatu yamg membuatnya takut.


" Gak usah takut cerita saja " titahku.


" Soal lubang itu udah lama Bu, Pak Robi juga tahu. Seingat saya Pak Robi berbicara sama tukang yang renov.


Tukangnya gak mau renov karena biaya kurang. Akhirnya Mas Robi nutup lubangnya itu pakai terpal dan ditahan rak supaya gak bergerak kalau ada angin.


Terus raknya selalu penuh barang biar gak kelihatan pakai terpal "


Degh


Aku langsung saling pandang dengan Amah. Tapi wajah Amah langsung merah dan menatap tajam Umi.


" Hehhh kamu jangan fitnah anak saya ya sembarangan kamu kalau ngomong " bentakan Amah pada Umi membuat kami berdua kaget.


" Buat apa saya bohong, tuh yang lain juga bisa jadi saksi kok. Terus Ibu bisa panggil tukangnya lagi kesini. Apa untungnya saya bohong " bantah Umi tak terima karena di bentak Amah.


" Ya buat nutupin kesalahan kamu lah "


" Ya kalau Ibu gak percaya saya gak maksa kok, makanya saya malas ngomong karena udah tahu percuma " balas Umi seraya membuang wajah.


" Kamu ya.."


" Udah Mah gak usah ribut dulu. Umi sebaiknya kamu kembali ke depan nanti kalau ada perlu saya panggil lagi ya "


Lebih baik aku cari solusi dulu, hati kecilku berkata kalau Umi jujur aku hanya perlu mencari bukti saja untuk membuktikan ucapan Umi.


Tunggu ya Robi aku akan bongkar semua kecurangan kamu..

__ADS_1


__ADS_2