arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Keputusan Rapat Keluarga


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami ( Keputusan Rapat Keluarga )


Pov Diki


" Aku juga gak bisa bantu bayar mah, duit darimana coba gaji honorer A' Robi gak akan cukup, untuk sehari hari aza aku masih dibantu mamaku belum untuk susu dan pamper Chila " Ayu menolak mentah mentah usulan Amah.



" Iya Mah aku gak sanggup, kami saja masih kekurangan ini malah di suruh bayar " Robi turut menimpali ucapan istrinya.



Kulihat Bapak hanya geleng geleng kepala, baru di kasih satu usulan saja sudah ribut seperti dipasar.



Kalau pada gak mau patungan terus siapa yang mau bayar. Jangan sampe harus aku yang bayar duit darimana gajiku saja sebagian besar di ambil amah.



" Kalian gimana sih, kalau misal pada gak mau patungan lantas siapa yang mau bayar? " Amah bicara dengan nada tinggi. Semua langsung terdiam.



" Bukan gitu mah, uang arisan yang dipakai kan cukup besar gak mungkin ada dalam waktu dekat kecuali kita menjual salah satu aset kita atau menggadainya " Cantika membela diri.



" Ya sudah kalau gitu gimana kalau kita agunkan bpkb mobil kamu kan harganya lumayan mahal tuh pasti uang gadai nya besar " Amah memberi usul kembali pada Cantika.



Robi terlihat mengangguk ngangguk " Tapi kamu yang bayar cicilan nya Robi kan kamu yang pake duitnya " lanjut Amah mendengar itu wajah Robi langsung terlihat masam.



" Ah nggak nggak, enak saja lagian mobilnya kan belum lunas baru juga kredit mana bisa diagunkan " Cantika kembali menolak usulan Amah.



" Loh teh bukannya teteh waktu itu bilang mobil itu cash ya, kirain bener cash taunya kredit " Ayu tiba tiba bicara dengan senyum tersungging seperti meledek.



Wajah Cantika langsung merah menahan malu, Keenan ikut tertunduk menutupi wajahnya yang bersemu merah.



" Ah eh itu gimana ya heheee.. Lagian apa urusanmu mau cash atau kredit toh kamu juga gak ikut membayarnya. Daripada kamu motor pun punya A'Diki " Cantika berkelit malah balik marah pada Ayu.



" Sudah sudah kenapa jadi ribut begini, kita berkumpul mencari solusi masa kalian gak faham " akhirnya Bapak mengeluarkan suaranya.



" Iya aku tau Pak, tapi bisa gak kasih solusi yang merugikan, terutama merugikanku. Masa duitnya gak ngerasain tiba tiba harus ikut bayar " Cantika terdengar vokal saking gak maunya ikut mengganti.



Lebih baik aku menyimak saja dulu lah lumayan tontonan gratis ini.



" Ah masa sih teh, seingatku kamu kan yang pegang uang untuk bahan seragam keluarga kalau kuhitung hitung uang yang diberikan Amah lebih besar dari bahan seragam yang dibeli itu artinya teteh..."

__ADS_1



" Apa korupsi maksudmu? itu bukan korupsi. Kamu fikir nyari bahan kesana sini gak pake bensin hahhh. Sembarangan kalau bicara " belum beres Robi bicara sudah langsung dipotong Cantika.



" Halah ngeles aza, walaupun gak sebesar aku tetep aza teteh ikut nikmatin " Robi pun tak mau kalah.



" Cantika dari tadi kamu banyak bicara apa kamu punya usulan? " Amah menegur Cantika yang dari tadi banyak bicara tapi tak memberi solusi.



" Mmmhhh gimana kalau A'Diki bujuk Novia rayu rayu dia untuk pulang, nanti kalau udah disini kita kan bisa tuh maksa dia supaya jangan nagih dulu uangnya " Ccckk usulan yang konyol menurutku.



" Cantika kalau usulmu seperti itu anak abg juga bisa, kamu fikir Novia sebucin itu. Lagian kalian itu ngapain mojokin dia di grup, kalian juga laki laki sama saja " aku tak tahan juga akhirnya ikut bicara.



" Dia nya aza yang baper, gitu aza ngambek " balas Cantika seraya mencebikan bibirnya.



" Wajar saja dia marah, udah duitnya yang dipakai eh kalian malah mojokin dia. Coba kalau duit kalian yang dipakai pasti sudah seperti gunung meletus.


Baru dipinjemin duit aza kalian banyak alasan merepet kemana mana " lanjutku lagi dan mereka hanya terdiam.


Dari yang aku perhatikan hanya Keenan yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya. Apakah karena lelah sepulang kerja atau mungkin gak peduli pada masalah ini. Padahal kemarin siang dia juga ikut memojokkan Novia di grup.




Kecewa Bapak sama kalian, apa kalian tidak berfikir dengan kalian tidak mau membantu sama saja kalian melimpahkan tanggung jawab ini pada kami sebagai orang tua " Bapak berucap dengan suara terdengar kesal.



" Biar bapak ambil keputusan, kita ganti uang Novia dengan warung nasi yang pernah digunakan Amah. Sepertinya harganya sebanding tadi bapak udah nanya nanya perkiraan harganya sekitar 70 - 80 juta " lanjut Bapak tanpa meminta persetujuan Amah.



" Apa pak, enak saja gak bisa pak. Itu warung Amah lagipula warung itu sekarang disewakan dan jadi toko kelontong. Pokoknya Amah gak rela " Amah menangis dan menolak keputusan Bapak.



Aku hanya bisa tertunduk melihat Amah menangis. Bapak menarik nafasnya dalam dalam " Amah harus ridho, kita harus menyadari kalau kita sudah memakai hak orang lain "



Tiba tiba amah beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar sambil menangis.


Jdeeerr


Terdengar pintu dibanting amah saking kencangnya kami sampai terlonjak



"Astagfirullah " Bapak sampai mengusap dadanya.



" Diki kamu hubungi Novia sekarang, bilang kita mau ke rumahnya mumpung belum terlalu malam "

__ADS_1



" Sekarang pak, kita semua ikut ? " ujar Ayu seperti nya keberatan.



" Tentu saja harus malam ini biar masalahnya cepat selesai, dan tentu saja semua harus ikut.


Kamu mau melemparkan masalah ini pada bapak? " Ayu langsung tertunduk.


Baru kali ini Ayu di bentak bapak dan bahkan sebenarnya baru kali ini aku mendengar Bapak membentak orang. Kami saja anak anaknya tidak pernah dibentak paling kena omel Amah.



" Diki telepon sekarang ya Pak " aku segera merogoh ponsel di saku celanaku.


Tuuuttt Tuuuttt


Dipanggilan kedua telepon ku diangkat


[ Assalammu alaikum ]


Loh siapa ini ya kok seperti bukan suara Novia, bukan juga suara ibu apalagi suara Keyla karena terdengar seperti suara orang dewasa. Masa suara Emah sih.


[ Hallo ini novia ?]


Aku bertanya karena heran saja suaranya berbeda.


[ Heh diki bukannya menjawab salamku dasar tidak sopan. kamu lupa sama aku? ]


Loh kok malah galak gini, tapi dari galaknya aku sepertinya tak asing. Coba kutebak.


[ Ini teh Manda? ]


[ Baguslah kalau kamu ingat, ada apa kamu telepon? ]


Duh gawat nambah lagi urusan kalau ada orang ini.


[ Maaf teh kukira siapa, Novia nya kemana teh?]


[ Gak ada Novia lagi ke kamar mandi, ada apa? ]


[ Iya teh, kami sekeluarga mau datang ke rumah ada yang mau diselesaikan. Apa boleh? ]


Aku berusaha sabar saja lah.


[ Bolehlah kenapa gak boleh, ternyata punya nyali juga kamu. Kami akan tunggu kedatangan kalian ]


Dasar songong, kalau bukan kakak ipar udah aku eeeuuhhh



" Udah pak, kita bisa kesana sekarang " aku berkata pada Bapak usai menelpon.



" Ya sudah kita siap siap sekarang, Cantika kamu ajak Amah bawa juga surat surat warung Amah. Kita pergi pakai mobilmu supaya tidak terpisah pisah " perintah bapak pada Cantika.



" Iya Pak " Cantika langsung berdiri tanpa penolakan. Sepertinya dia juga syok melihat Ayu dibentak Bapak.



Kami pun bersiap siap berangkat ke rumah Novia, semoga saja semua berjalan lancar.

__ADS_1


__ADS_2