arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Rombongan Keluarga Diki


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Pov Novia


Aku dan Teh Manda berjalan menuju ruang tamu, kuhirup nafas dalam dalam untuk menetralisir rasa tegang.



" Tenang Vi, ada teteh nemenin kamu " kakakku ini emang selalu bisa diandalkan. Tau aza kalau aku lagi tegang.



" Assalammu alaikum " sapaku pada orang orang yang sudah menungguku di ruang tamu.



Hanya beberapa orang yang menjawab salamku. Amah, Ayu dan Cantika memasang wajah masam dan ketus.



Keluarga A'Diki hampir semua hadir kecuali Ikbal, mungkin karena dia masih kecil dan belum dianggap pantas untuk dibawa dalam masalah ini.



Dari pihak keluargaku hanya ada aku, Teh Manda dan Paman. Ibu dan Emah berada dibelakang bersama anak anak.



A' Diki terlihat menunduk ketika bertatap muka dengan Teh Manda. Terlihat jelas Teh Manda tidak mengintimidasi A'Diki.



Sedangkan Bi Nania pasti dia berada di ruangan sebelah yang terhalang tembok, biasanya dia menguping dan pasti jadi garda terakhir pertahanan. Bersiap apabila kita terpojok maka dia akan datang bak pahlawan hahaaa.



Itu sudah biasa dia lakukan dari semasa kita kecil dulu, saking seringnya dia seperti itu kita jadi tidak kesulitan mencari informasi apapun tentang rumah ini.



Dia bilang bukan bermaksud untuk menguping, lagipula dia tau mana yang layak disampaikan pada orang lain mana yang tidak.



" Bagaimana Pak Imam, apa Bapak sudah punya keputusan mengenai masalah kemarin? " Paman memecah kesunyian dengan memulai pembicaraan.



" Iya Pak Arif dari kemarin malam kami sudah berdiskusi dan kami memutuskan.."



" Saya ingin uang itu dicicil saja, kita kan keluarga harus saling faham, pasti Novia tau uang segitu bukan uang sedikit kita gak mungkin menyiapkannya sekarang " Amah main sambar aza padahal Bapak belum selesai bicara.



Bapak terlihat memelototkan matanya mendengar ucapan Amah, A'Diki yang berada disamping Amah pun sampai menyikutnya.



Sepertinya ucapan Amah tidak sesuai dengan keinginan Bapak dan A'Diki.



" Gapapa dong kita coba aza dulu siapa tau novia berubah fikiran mau dicicil " terdengar suara Amah pelan, namun kami masih mendengarnya.



Paman mengerutkan keningnya dan beralih menatapku.



" Tadi pagi A'Diki sudah bertemu denganku dia sudah menyampaikan keinginan tersebut tapi mohon maaf aku menolaknya " tanpa basa basi langsung kujawab ucapan Amah.



" Kamu kenapa sih gak menerima niat baik kami, kan kami sudah ada niatan untuk membayarnya. Daripada tidak dibayar sama sekali " Cantika ikut bersuara membela Ibunya.


__ADS_1


" Iya kayak gak butuh duit aza, masih untung kita mau bayar lebih rugi kalau uang itu tidak balik " Ayu ikut menimpali dengan tangan bersidekap di dadanya.



" Suka suka yang punya duit lah, kalau memang ga mau dicicil kalian mau apa? Dengan memakai uang arisan tanpa izin aza kita bisa ngelaporin kalian dengan pasal penipuan " Kakakku mulai terlihat panas, kesal juga melihat Ayu yang terlihat sok.



" Tapi kita kan sudah punya niat bayar, kalau kita tidak niat bayar baru bisa dilaporkan. Tolong hargai usaha kita sampai jauh datang kemari " Robi ikut berbicara dengan emosi.



" Ini bukan masalah soal mau bayarnya, tapi soal etika. Apa kalian tidak diajarkan supaya minta izin bila mau menggunakan barang atau hak orang lain jangan seenaknya seperti itu.


Kalaupun kalian mau bayar dengan cara di cicil harus dengan persetujuan pemiliknya jangan ambil keputusan sebelah pihak " Teh Manda membalas ucapan Robi tak kalah emosinya.



" Biasa aza dong gak usah nyolot mentang mentang di rumah sendiri " Ayu menambah keruh suasana dengan ucapannya.



" Mau dimanapun aku gak pernah takut selagi posisiku benar. Aku gak seperti kalian cuma berani main keroyokan " Teh Manda terlihat makin berani melawan Ayu.



Ini yang kukhawatirkan kalau Teh Manda marah dia tidak akan bisa berhenti berucap.



" Maksudnya apa ya, aku gak pernah melakukan hal seperti itu ? " Ayu berusaha berkelit.



" Jangan pura pura lupa ya dengan kejadian kemarin, aku harap itu terakhir kali kalian mengintimidasi Novia. Lain kali kalian pasti berhadapan denganku " sambil menunjuk dadanya Teh Manda berkata dengan lantang.



" Dasar perawan tua, sudah merasa paling hebat kamu. Kamu fikir aku tak berani? " Haduh haduh kamu salah pilih lawan Ayu, lantam sekali mulutmu.




" Apa kamu bilang aku perawan tua? asal kamu tau ya walau aku belum menikah tapi aku merasa lebih terhormat daripada kamu.


Kamu kira aku gak tau kalau kamu menikah karena hamil duluan. Lagipula umur kita sama jadi aku belum tua tua amat.


Emang kamu aza yang gatal gak bisa menjaga harga diri " seketika Ayu langsung menatapku tajam.



Sepertinya dia menuduhku memberitahu Teh Manda tentang pernikahannya yang buru buru sebab kebobolan.



Aku mengendikkan bahuku seakan menjawab ' tidak tau, bukan aku kok'



Hahaaa kena mental kan kamu Ayu. Teh Manda pun menyadari tatapan Ayu dan dia melanjutkan ucapannya " Tak perlu kamu menuduh adikku, semua perempuan juga tau cara menghitung kelahiran bayi. Baru nikah 5 bulan kok sudah brojol "



Kulirik wajah Robi merah padam dan mengepalkan tangannya. Wajah bapak dan A'Diki makin tertunduk. Dan Amah terlihat mengeratkan giginya karena merasa di kuliti.



Hanya Cantika yang mulai terlihat memasang wajah datar, lain lagi dengan suaminya dia terlihat gelisah dan tak enak duduk seperti ingin pulang.



Tenang Keenan rahasiamu masih aman, asal jangan berani nyenggol aku aza. Pokoknya senggol bacok.



" Sudah cukup kita datang kesini bukan mau ribut, maaf Pak Arif anak anak saya telah membuat keributan.


Sebenarnya saya sudah ambil keputusan kalau uang Novia akan saya ganti dengan bangunan yang dulu istri saya gunakan untuk warung nasi.

__ADS_1


Novia juga sudah tau tempatnya " mendengar itu spontan aku membelalakan mata. Itu kan bisa dijadikan toko dan bisa dibuat usaha.



Dulu aku pernah mendengar sudah ada yang menawar sampai seharga 90juta. Bahkan kalau dijual santai bisa sampai 100juta karena posisi strategis di pasar tradisional yang lumayan besar. Tinggal di renov dikit bisa dijadikan toko bahkan ruko.



Tiba tiba aku mendengar amah menangis histeris tidak menerima keputusan yang bapak sampaikan.



" Huaa huaaa Amah gak terima, itu warung Amah. Bapak jangan seenaknya main kasih huaaaa huaaaa " A'Diki dan Cantika berusaha menenangkan Amah.



Terlihat lucu sih Amah yang cerewet dan mau menang sendiri ternyata bisa nangis bak anak kecil di ambil permennya.



Tanahnya di ambil dia nangis kejer, gimana aku? sudah cape cape bayar arisan uangnya ngilang.



Setelah Amah tenang Bapa melanjutkan bicaranya " Begitu Pak Arif, bangunan dan tanah itu kalau dijual gak terburu buru bisa dijual sampai 100juta.


Tadi saya sudah berkeliling tapi belum ada yang berminat adapun yang berminat paling tinggi minta seharga 80 juta "


" Baik pak saya mengerti, lebih baik kita tanya Novia apa Novia bersedia karena dia yang berhak menentukan. Bagaimana menurut kamu neng? " Paman Arif yang sedari tadi diam menyimak beralih menatapku.



" Itu lebih baik paman, tapi aku ingin ada bukti hitam di atas putih dan surat surat bangunan tersebut agar jangan ada masalah di kemudian hari.


Dan aku minta tanda tangan anak anak Amah supaya ke depannya tidak ada tuntutan yang diluar dugaan " kujawab dengan tenang karena merasa diatas angin.


Aku tak peduli dengan tatapan tatapan tajam dari keluarga A'Diki yang menuju ke arahku.



" Ya bagus itu, saya setuju dengan Novia. Kalau Pak Imam setuju kita bikin surat perjanjian tulis tangan dulu. kita semua jadi saksi dan semua ikut tanda tangan saja kalau perlu "



Bukan aku berlebihan tapi aku tau betul watak mereka apalagi posisi bangunan tersebut dekat dengan wilayah tempat tinggal mereka.



" Satu hal lagi pak , bukankah Pak Imam bilang harga bangunan itu 80juta sedangkan uang arisan novia 72 juta. Untuk sisanya biar kami bayar langsung saja. Supaya gak ada tuntutan lagi, gimana Pak? " betul juga apa yang Paman bilang, jangan sampai nanti Amah bilang ke tetangga kalau aku berhutang padanya gara gara uangnya kelebihan.



N" Iya Pak gak masalah " Bapak setuju dengan apa yang dikatakan Paman.



Aku segera menyiapkan kertas dan alat tulis untuk membuat surat perjanjian. Tak lupa kububuhi materai, untung saja aku selalu menyediakannya jadi di saat butuh urgent seperti ini aku tidak usah pusing mencari.



Teh Manda pun mentransfer sisa kekurangan uang ke rekening A' Diki melalui rekening miliknya memakai m-banking. Sebenarnya aku juga masih punya simpanan uang tapi aku gak mau sampai keluarga A'Diki tau.



Kalau tau punya simpanan uang pasti mereka bolak balik minta dengan alasan pinjam. Mereka seperti senang kalau aku tak punya uang.



Itulah definisi orang ' susah lihat orang senang, senang lihat orang susah '



Selesai suratnya dibuat, kami semua menandatangani surat tersebut. Surat surat bangunan pun kuterima. Teh Manda pun mengirim screen shoot bukti pengiriman transfer ke nomorku.



Setelah beres semuanya kami berjabat tangan tanda deal.


__ADS_1


Rasanya lega hakku sudah kudapatkan kembali. Maafkan aku Ibu mertua, bukan maksudku menyakitimu heheee


__ADS_2