
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 69 ( Acara Lamaran Kah? )
Pov Diki
Semenjak kejadian ribut dengan Novia aku banyak berdiam diri tak mau bercerita pada siapapun kalau aku sudah mentalaknya.
Sebenarnya aku menyesal mengapa bisa terbawa emosi. Padahal dalam hatiku terdalam aku masih mencintainya. Apalagi ada anak anak di antara kami.
Entah setan apa yang merasukiku sehingga dengan mudahnya mengucap talak pada Novia. Bahkan sebelumnya aku sempat hendak menampar Novia, untung saja dihalangi Candra.
Ya Allah aku sangat menyesal, apakah sebaiknya aku datang ke rumah Novia dan meminta maaf? Aku berjanji akan merubah diri menjadi lebih baik. Tapi aku takut Novia tidak memaafkanku. Ini benar benae membuatku dilema.
Aku tak mau bercerita pada Amah, dia pasti akan senang sekali mendengar aku sudah mentalak Novia. Dia sangat menginginkan perpisahan kami. Sebenci itukah Amah pada istriku.
Apalagi Amah makin gencar menyuruhku menerima Nuri. Hampir setiap hari Nuri ke rumah dengan banyak alasan.
Semua sangat senang apabila Nuri datang karena dia seringkali membawa makanan enak. Bahkan pernah membawa gamis mahal untuk Amah.
Hanya Bapak yang seperti kurang suka, setiap kali Nuri datang ke rumah Bapak selalu menghindar dia pergi keluar menuju rumah Bi Dina atau sekedar ngobrol sama Bapak-bapak di warung kopi.
" Kamu kenapa Ki, Bapak lihat dari tadi gelisah "
" Pak, aku lagi bingung soal Novia " dengan perasaan was was aku menyampaikan pada Bapak, aku takut Bapak marah karena dia sangat menyayangi Novia
" Kamu buat masalah apalagi, penasaran sepertinya kalau kamu tak buat masalah? "
Tuhkan baru bicara segitu saja intonasi suara Bapak sudah naik, apalagi kalau kubilang aku sudah mentalaknya.
" Kok kamu diam? "
" Pak aku mau minta maaf, beberapa hari yang lalu aku ribut di pabrik dengan Novia, aku tak sengaja mentalaknya " air mataku langsung menggenang langsung kutundukan kepalaku.
Bapak langsung meremas kepalanya, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
" Kenapa kamu ceroboh dan gak bisa kontrol diri Ki? Bapak kan sudah peringatkan kamu. Terus kenapa kamu baru cerita sekarang andaikata dari kemarin mungkin masih bisa diperbaiki dengan datang meminta maaf "
" Maaf Pak aku begitu kalut, bagaimana kalau aku hari ini datang kesana Pak? "
" Ya cobalah datang kesana untuk meminta maaf, apa perlu Bapak temani? "
" Gak perlu Pak, aku akan bertanggung jawab dengan kesalahanku. Do' akan saja Novia mau memberikan maafnya "
" Bapak pasti do'akan kamu Ki, Bapak gak mau jauh dari cucu cucu Bapak " Bapak menepuk nepuk bahuku merasa prihatin dengan keadaanku.
" Kalian kenapa kok melow banget sih " Amah ikut duduk bersama kami.
" Ki malam ini kamu mau kemana? tadi Nuri telepon katanya minta antar dia pengen makan jagung bakar di antar kamu "
__ADS_1
" Gak bisa Mah, sore ini aku ada perlu " aku menjawab dengan ketus. Terkadang aku kesal dengan Amah dia seakan lupa kalau aku sudah beristri bahkan memiliki anak.
" Ya sudah kamu kan bisa sekalian jalan sama Nuri, gitu aza repot. Nati kamu bungkusin buat di bawa ke rumah ya jagungnya " Amah terus saja memaksaku untuk mengikuti kemauannya.
" Mah, Diki sudah besar jangan terus memaksakan kehendak Amah " Bapak menegur Amah dengan suara yang cukup keras.
" Bapak apaan sih marah marah segala, lagian ya si Novia sudah lama pergi dari rumah. Kalau dia niat rujuk pasti dia sudah kembali kesini " bela Amah.
" Ya gimana mau rujuk dari pihak sini bikin masalah terus "
" Assalammu alaikum " di tengah tengah keributan Bapak dan Amah Robi datang bersama anak istrinya.
" Huuhh ini lagi Pak keluarga gratisan datang kesini " aku menggerutu seraya berdiri dari dudukku.
Kulihat Bapak hanya tersenyum mendengar aku menggerutu.
" Ki kamu gak boleh gitu lah sama adik sendiri, mau kemana kamu? " tanya Amah.
" Malas " aku segera masuk kamar sebentar lagi akan bersiap ke rumah Novia
" Kenapa Mah sama A'Diki?" tanya Ayu.
" Gak ada apa apa kami cuma lagi ngobrol, kalian ada apa kesini? "
" Cuma main aza Nek, sapa tau ada tante Nuri datang kesini, kan suka bawa makanan " ucap Ayu suara nya di buat seperti anak kecil.
Usai aku berkata, tak ada kudengar suara mereka lagi. Aku tak peduli kalau mereka akan marah memang seperti itu kenyataannya.
Sudah bosan bahkan jenuh melihat kedatangan mereka yang memiliki mental pengemis.
***
Akhirnya aku bisa keluar dari rumah walaupun dengan banyak pertanyaan dari Amah.
Kulajukan motorku perlahan menuju rumah Novia karena belum terlalu sore. Semoga saja anak anak mau ku ajak untuk berkeliling dengan motor baru ini.
Mendekati gerbang komplek hatiku berdebar tak karuan, kupelankan laju motorku agar dapat mengatur nafas.
" Hufftt "
Tapi kok itu kayak rame rame gitu ya di rumah Novia, ada beberapa mobil kulihat terus ada orang orang yang sedang makan.
Loh itu kan ada si auditor lagi ngapain dia? Nah itu sama Novia juga kok mereka bajunya warnanya sama sih.
Degh..
Perasaanku tak enak, apakah disana ada acara lamaran? Masa sih kan kita belum resmi bercerai secara hukum.
Lebih baik aku tanya pedagang baso itu, kan selisih dua rumah dari rumah Novia pasti dia tahu ada acara apa.
__ADS_1
Mesin motor kembali kuhidupkan menuju tukang baso yang lagi mangkal.
" Pak, maaf mau tanya itu ada acara apa ya di rumah sana? "
Si tukang baso terlihat sibuk, dia tidak menatapku ketika aku tanya. Hanya melirikku sebentar kemudian meracik pesanan kembali.
" Kurang tau Pak, acara tunangan kayaknya. Tadi saya lihat yang punya rumah bajunya samaan " jawabnya sambil fokus membuat pesanan baso karena banyak pembeli.
Deghh
Duniaku seakan berhenti. Kamu tega Vi sama aku padahal Aku berniat minta maaf dan memperbaiki semuanya.
Apakah aku harus menyerah atau aku bubarkan acara lamaranmu?
Aku duduk terkulai di bangku pedagang baso, para pembeli lain memperhatikan aku seperti kasihan, apa aku semenyedihkan itu ya?
Dikepalaku seakan ada dua orang yang berbicara.
Hitam :
"Hehh Diki mending kamu pulang, ngapain kamu disini? "
Putih :
" Jangan menyerah Diki kamu harus memperjuangkan anak dan istrimu "
Hitam :
" Tidak perlu Diki, dia sudah dapat penggantimu lebih baik kamu pergi. Jangan buat malu dirimu sendiri "
Putih :
" Apakah kau masih mencintai dan menyayangi anak istrimu. Berjuanglah mereka menunggumu "
Seketika aku langsung berdiri dan merasa memiliki tenaga baru. Ya aku akan berubah. Novia pasti akan menerimaku kembali, aku yakin itu.
Hitam :
" Hehh Diki kamu lupa sudah mentalak Novia, kamu mau dihajar Pamannya? sekali pukul kau bakal langsung ke rumah sakit "
Duhhh ingat Pamannya aku jadi ngeri, nyaliku kembali ciut. Bener nih kata si Hitam. Pasti aku di hajar rame rame, sudahlah lebih baik aku mengalah saja.
Aku langsung naik motorku dan pergi meninggalkan komplek perumahan Novia. Biarkan saja lakukan saja semaunya, aku pun mampu mencari penggantinya.
Mulai hari ini aku sudah bertekad akan melupakan Novia dan akan menerima Nuri, dia pasti lebih baik dari Novia. Apalagi Amah sudah memberi restu.
Selamat tinggal Novia...
Maafkan Papah Key, Al...
__ADS_1