
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Pov Author
" Bapak kecewa pada kalian, apa kalian gak punya malu berbuat seperti itu.
Amah juga harusnya sebagai orang tua, seharusnya kewajiban Amah nasehatin mereka. Ini malah mendukung kelakuan buruk mereka.
Amah sering bilang malu sama tetangga, justru bapak lihat Amah lah yang sering mempermalukan diri sendiri.
Kurang apa Novia sama Amah? Dia selalu menurut dan lebih banyak mengalah.
Dan kamu Yu, posisimu sama dengan Novia sebagai menantu di keluarga ini. Seharusnya kalian bisa lebih dekat.
Apalagi kamu dan Robi yang sudah menggunakan uang Novia harusnya kalian meminta maaf, ini malah mau ambil haknya Novia lagi " Pak Imam berbicara panjang lebar meluapkan rasa kecewanya.
" Bapak jangan menyudutkan kami terus dong, itu semua ide Amah kan untuk pakai uang Novia. Kenapa kami terus yang dipojokan " Robi merasa kesal dan tak terima mendengar nasehat dari Bapaknya.
" Gak tau ini Bapak terus saja bela Novia, apa bagusnya sih menantu susah diatur udah gitu pelit lagi " Amah menggerutu dan mendelikan matanya.
Ayu hanya terdiam, dia merasa takut karena ide untuk mengambil uang sewa keluar dari mulutnya.
" Duh gimana ini jangan sampe Amah bilang kalau aku yang punya ide ambil uang sewa, bisa tambah runyam ini " Ayu berbicara dalam hati.
" Bapak bukan menyudutkan tapi mengingatkan pada kalian, apa yang kalian lakukan itu sudah salah.
Apa kalian gak mikir andai Novia melaporkan kalian ke polisi?
Kalian bisa dilaporkan karena kasus penipuan baik itu oleh Ningsih atau Novia " Bapak menggeleng gelengkan kepalanya.
" Tapi kan Pak kami belum menerima uangnya mana bisa kami dilaporkan " timpal Bu Murni.
" Ya untung udah ketahuan duluan, kalau misal gak ketahuan terus kalian terima uangnya ya pasti kalian dilaporkan " Pak Imam mulai merasa kesal karena Bu Murni terus saja mengelak dan terlihat tidak menyesal.
" Kalian bisa menceritakan kejadian sesungguhnya? Bapak tidak mau mendengar cerita dari orang lain. Kamu Yu coba kamu ceritakan dari awal !" Pak Imam memandang Ayu yang sedari tadi diam tak bersuara.
Ayu tersentak mendengar ucapan Pak Imam, dia takut dan bingung untuk menjelaskan semuanya. Kemudian dia memandang Bu Murni tapi Bu Murni malah membuang mukanya ke sembarang arah.
Melihat kondisi seperti itu Ayu makin bingung dan menyadari kalau mertuanya tak mau membantu.
__ADS_1
Dia berada diposisi sulit sekarang, dan menyadari walau bagaimana pun kebohongannya pasti terbongkar. Tapi dia tak mau mengakui apa yang sudah dilakukannya.
Akhirnya dia memilih jujur daripada akan menambah kesalahannya nanti.
" Ah sudah lah mending ngaku saja sekarang, nanti juga pasti ketauan " gumamnya dalam hati.
" Maaf pak, tadi pagi Ayu sama Amah ke tempat Bu Ningsih mau ambil uang sewa. Tapi pas disana tiba tiba Novia dan kakaknya datang kami jadi ribut disana. Tanganku dipelintir dan rambutku dijambak kakak Novia " Ayu bercerita sambil menundukkan wajahnya untuk menutupi rasa gugupnya.
" Tuh kan pak istriku dianiaya kakaknya si Novia, wajar dong kalau aku marah " Robi menimpali ucapan Ayu.
" Iya itu karena salahnya sendiri mau ambil hak orang, masih baik Novia tidak menganiaya kalian karena mengambil uang arisannya " jawab Pak Imam.
" Apalagi yang belum kamu ceritakan Yu, kenapa kakak Novia tiba tiba menamparmu?
Jangan bohong kamu, disana bapak ingat betul Ningsih memasang 2 CCTV di luar dan didalam. Percuma ,kamu gak akan bisa berbohong " tambah Pak Imam.
Glekk
Bu murni dan Ayu menelan ludahnya kasar mereka langsung saling berpandangan.
Mereka tak menyadari keberadaan cctv bahkan mereka tak pernah menyangkanya.
Dengan terbata Ayu menjawab " Iya pak Ayu yang nampar duluan karena Ayu kesal "
" Kamu gak bisa seperti itu Robi, ayu itu tanggung jawab kamu. Apalagi kamu ikut menyalahkan Novia bahkan mengancamnya.
Sebaiknya kalian bertiga segera meminta maaf pada Novia dan kakaknya " Pak Imam berkata sembari memandangi mereka satu persatu.
" Aku gak mau nanti si Novia jadi tambah besar kepala, udah merasa di atas angin " Robi menolak saran dari Pak Imam.
" Iya Amah juga gak mau, enak saja sebagai orang tua masa Amah yang harus minta maaf.
Lagian pelit banget sih uang sewa segitu saja diributin " Bu Murni pun menolak seperti arobi.
" Ayu juga sama pak, Ayu kan udah dianiaya masa Ayu juga harus minta maaf rugi dua kali dong "
Pak Imam membuang nafasnya kasar kemudian berkata sambil membentak " Kalian itu aneh udah cari masalah, Gak mau mengakui kesalahan lagi. Tipe tipe orang gak tau diri "
" Yeehh bapak juga aneh masa belain orang lain kita ini yang keluarga bapak. Si Novia cuma mantu itu pun kalau gak dicerai in si Diki " Bu Murni protes karena dibentak Pak Imam.
__ADS_1
" Iya nih aneh bapa nih bukannya belain dan bantuin ini malah ngatain kita" Robi mendukung ucapan bu Murni.
" Astagfirullah, eling Mah. Itu sama saja Amah mendo'akan Diki bercerai kasian cucu cucu kita.
Lagipula Diki masih berharap pada Novia harusnya kita mendukung dia.
Kamu juga Robi sebagai kepala keluarga tapi tak bisa menasehati istrimu " Pak Imam merasa heran dengan ucapan istrinya.
" Udah ah gimana Amah saja, bapak gak usah ikut campur. Pokoknya kami tidak akan meminta maaf. Titik " dengan yakinnya Bu Murni berucap.
Di ikuti anggukkan Robi dan Ayu, mereka tetap tak mau meminta maaf.
" Ya sudah itu terserah kalian Bapak gak mau ikutan. Kalau ada apa apa tanggung sendiri.
Susah kalau hati sudah dipenuhi iri dengki " ujar Pak Imam karena sudah merasa tidak mampu menasehati istri, anak dan menantunya.
" Maksud bapa apa bilang kami iri dengki? enak saja ngatain kita " Bu Murni meradang mendengar ucapan suaminya.
" Fikirin saja sendiri, kalau kalian tidak mau berubah Bapak pastikan kalian akan menyesal nantinya " Pak Imam berkata sambil beranjak pergi keluar.
Dia merasa percuma menasehati mereka bertiga.
Diluar pak Imam duduk di teras, dia merasa malu pada Novia dan keluarganya karena kelakuan anak istrinya.
Pak Imam berencana akan meminta maaf pada Novia dan berkunjung kerumah Novia sekalian mengunjungi cucu nya.
Lain lagi keadaan di dalam rumah, Bu murni, robi dan ayu terlihat sedang berdiskusi. Mereka semakin panik mengingat ada CCTV yang merekam kejadian tadi pagi.
" Sialan ternyata ada CCTV, Amah gak nyangka. Gimana ya baiknya, kamu kasih masukan dong Bi. Jangan sampai dipakai senjata sama si Novia. Kamu mau kita harus minta maaf sama dia " Bu Murni menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Ih gak mau lah, jangan sampe kejadian. Nanti si Novia merasa menang lagi " Robi bicara kemudian mengerutkan keningnya terlihat sedang berfikir.
" Iya Mah, semoga saja mereka tak tau ada CCTV jadi mereka gak punya bukti apa yang sudah kita lakukan " Ayu tampak khawatir, karena kalau sampai masalah ini berlanjut dia lah yang pasti akan banyak menanggung akibatnya.
" Gimana kalau Amah datang ke Bu Ningsih minta rekamannya dihapus, kalau Amah yang minta pasti gak akan di tolak. Kan dulu Amah dekat sama Bu Ningsih " Robi memberi usul pada ibunya.
Seketika wajah Bu Murni langsung berbinar " Iya bener mending Amah kesana besok pagi pagi. Kamu emang pintar Bi kok amah gak kefikiran ya "
Ayu pun ikut tersenyum dia merasa memiliki jalan keluar dari ketakutannya untuk meminta maaf pada Novia.
__ADS_1
Untuk sementara mereka merasa tenang dan merasa sudah bisa menyelesaikan masalah.
Namun mereka tidak tau kalau usaha mereka akan sia sia. Karena Novia sudah memegang bukti rekaman kejadian keributan tersebut.