
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 104 ( Curiga )
" Kamu bener juga kenapa aku baru sadar ya " Kaki Cantika sepertinya akan melangkah namun Di tahan Diki dengan menarik sebelah tangannya.
" Kamu mau kemanaa? " tanya Diki dengan suara pelan namum ditekan.
" Aku mau mastiin sama Robi aza biar jelas " jawab Cantika dengan dada yang masih terlihat naik turun.
" Jangan bercanda kamu, ini kan baru dugaan kamu belum punya bukti lagian ya kalau nanya sekarang percuma dia pasti ngeles. Terus tuh kamu lihat " tunjuk Diki pada Ibunya yang sedang ikut membantu Robi dan Ayu mereka terlihat tertawa bersama.
" Amah pasti belain dia, lagian ya sekarang bukan waktunya buat ribut, besok kan pembukaan toko mending kamu urusin itu dulu. Aku takut kamu gak keburu biat beresin semua. Nanti malah jadi repot, mau kamu delay buat openingnya? "
" Enggak " jawab Cantika sambil menggeleng kepalanya pelan.
" Ya udah sekarang kamu bersikap seperti biasa saja dulu supaya sepasang suami istri itu gak curiga. Lebih baik kamu cari bukti saja dulu kan enak nanti nembaknya "
Setelah diam beberapa saat Cantika menganggukan kepalanya dan setuju dengan saran Diki.
" Hey kalian bantuin dong, malah ngobrol dari tadi udah kayak bos aza kerja kalian " Robi berteriak ke arah Cantika dan Diki yang masih terlihat berdiri di dekat pintu masuk.
" Ayo " ucap Diki sambil menarik tangan Cantika.
" Mau aku bantu apa? " bisiknya pada adiknya.
Lalu Cantikan membawa Diki ke lantai dua. Mah aku sama A'Diki di atas ya cek stock. Tanpa menunggu jawaban dari ibunya mereka langsung naik ke atas.
Diatas Diki kembali bertanya pada Cantika " Emang kamu gak curiga sama mereka? "
" Sempat sih karena memang dia pakai kalung setelah aku bayar sewa ruko ini, aku juga sempet tanya cuma Ayu bilang itu uang sertifikasi Robi. Ya aku percaya saja dan mungkin aku terlalu fokus mikirin toko ini jadi ya aku anggap wajar saja "
" Lah kamu juga mercayain sama buaya rawa. Habislah kamu mana kalau dilihat dari kalung sama cincinnya sepertinya uangnya lumayan gede deh "
Cantika membuang nafasnya kasar " Ya mau gimana lagi udah tanggung. Paling nanti aku cari tahu nomor pemilik ruko ini deh "
Sepertinya cuma itu rencana yang cukup bagus saat ini, karena tak mungkin Cantika langsung bertanya pada Robi. Benar kata Diki saat ini waktunya tidak tepat takutnya akan terjadi keributan dan akan berpengaruh pada rencana pembukaan tokonya.
" Kalian gak punya pekerja, nanti yang jaga siapa? "
__ADS_1
" Kemarin pas di rumah Amah itu kan kita lagi cari pegawai paling juga bentaran lagi mereka bakal datang "
" Berapa orang? " tanya Diki lagi.
" Tiga dulu lah, karena kan gak tahu seramai apa tokonya nanti, andai nanti kurang paling cari karyawan lagi. Nanti Ayu yang bakal nungguin toko setiap harinya. Mungkin aku datang sekali kali saja "
" Kamu mau rugi lagi, apa kamu gak takut nanti uangmu habis gak jelas? bisa bisanya percayain sama dia "
" Iya gimana lagi, kalau aku yang nungguin kan gak mungkin. Apalagi karyawan baru mereka lebih gak faham. Lagian kalau soal pengeluaran dan pemasukan kan nanti ada catatannya di komputer "
Cantika memberi alasan pada kakaknya mengapa dia memilih Ayu, walaupun dalam hati kecilnya mulai terbit rasa curiga.
" Ya terserah lah yang penting aku udah ngingetin kamu ya. Kamu pasti lebih faham "
" Tapi Tik ngomong ngomong kamu dapat modal darimana ini kalau kulihat bisa habis puluhan juta "
Mendengar pertanyaan Diki wajah Cantika berubah pucat dan tak bisa menjawab pertanyaannya.
" Eh itu mmhhhh " Cantika masih mencari alasan untuk menjawab pertanyaan kakaknya.
" Keenan " entah kenapa wajah suaminya yang terlintas begitu saja.
" Oh dari suamimu, kenapa kamu sampai pucat gitu? ini kan uang suamimu kamu harus jaga baik baik dia udah kasih modal ke kamu. Jangan sampe habis sama si Robi hehee " Diki terkekeh .
" Gak tahulah, manding kamu cari bukti saja dulu " jawab Diki sambil mengendikan bahunya.
" Ya sudah kita kebawah takut mereka curiga terus ngomel kalau ketahuan kita cuma ngobrol doang "
Diki dan Cantika pun turun, Kedua adik kakak itu turun berbarengan kemudian membantu yang lain.
Ternyata di bawa sudah agak ramai karena ada karyawan yang kemarin terpilih untuk bekerja dan sedang membantu Robi serta Ayu.
" Tik, kamu jadi ngadain acara selamatan buat pembukaan tokonya " tanya Bu Murni.
Mendengar pertanyaan Ibunya Cantika diam dan terlihat berpikir.
" Heehh kamu ditanya malah melongo gitu " Bu Murni memukul bahu Cantika pelan.
" Eh iya, uang kita gak cukup Mah kalau ngadain pengajian jadi aku hanya pesan nasi kotak buat dibagiin ke tetangga "
__ADS_1
" Loh kok kamu gak bilang sih untung saja Amah belum ngundang Pak Ustadz buat mimpin pengajian. Kalau keburu ngundang bisa malu Amah. Kamu tuh emang gak jelas " suara ibunya terdengar ketus.
" Ih Amah aku kan lupa lagian ya duitnya kan aku pake buat kebutuhan toko, bukan buat memperkaya diri sendiri. Kalau aku nilep uangnya Amah boleh marah sama aku "
Bruukk
Tiba tiba tanpa sengaja Robi menjatuhkan gelas yang sedang di pegangnya setelah barusan mengisi tenggorokannya yang kering, semua langsung menoleh ke arah Robi dan dapat dilihat dengan jelas wajahnya begitu pucat.
" Kenapa kamu Bi, santailah gak usah panik gitu " tanya Diki bahkan dari kata katanya terdengar seperti melesek.
" Lah emang kenapa aku tenang kok, gelasnya saja yang licin " sanggahnya.
" Kalau anak Amah ada yang berani nilep nanti Amah usir dan gak akan Amah anggap anak, apalagi kalau menantu bakal Amah tendang sekalian "
Bruughh
Kali ini Ayu menyenggol manequin yang berada di sampingnya.
" Kalian suami istri kenapa sih kompak sekali membuat kerusakan di muka bumi ini. Tuh lihat Yu tangan patungnya sampai lepas, cepet benerin. Kalau gak bisa bener biar Amah potong gaji kamu " ancam Bu Murni pada menantunya.
" Ih ja-jangan dong Mah kan aku gak sengaja " bela Ayu.
" Gak sengaja gak sengaja pala lu peang " Bu Murni bersungut sungut karena suasana hatinya seketika muram mendengar acara pengajian batal.
Padahal dia sudah berkoar koar akan mengadakan selamatan untuk pembukaan toko mereka.
Cantika dan Diki hanya menahan tawa mereka, melihat kelakuan pasangan suami istri tersebut.
" Ya sudahlah udah tanggung juga, jam berapa nasi kotaknya datang biar Amah suruh Yati sama si Yuyun buat bagiin. Biarlah tanggung malu " selesai berucap Bu Murni kemudian pergi naik ke lantai 2 tapi masih terdengar dia bersungut sungut.
Diki langsung menghampiri Cantika kemudian mereka berdua saling tersenyum dan saling pandang penuh arti.
" Fix dia ambil duitnya tapi gak tahu berapa " ucap Cantika pelan.
" Terus kamu mau gimana? "
" Biarkan saja dulu aku mau nyari bukti. Kalau misal beneran dia ambil uangnya biar kita ambil kalungnya " jawab Cantika wajahnya terlihat sangat geram.
" Kalau dia gak mau? " tanya Diki lagi.
__ADS_1
" Kita paksa, kalau perlu kita rampas kalungnya "
" Baguslah " sahut Diki cukup puas mendengar jawaban dari Cantika.