arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Bersimpati


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 53 ( Bersimpati )


Pov Candra


Kasihan itulah kata yang terucap dalam hatiku. Melihat Novia terdiam seperti syok dengan kejadian yang baru dialaminya.


" Vi sudah jangan melamun, kamu gak apa apa kan? "


Dia hanya mengangguk, kulihat air matanya sudah berkumpul tinggal satu kerjapan saja pasti air mata itu akan memenuhi pipi mulusnya.


Untung saja orang orang sudah pada bubar yang tersisa hanya tinggal kami berdua.


" Saya gak papa Pak " suaranya terdengar bergetar.


Aku faham dengan perasaannya sekarang, Novia wanita yang lembut dia pasti kaget dengan perlakuan suaminya.


" Saya antar kamu pulang ya, kamu jangan menolak. Kamu sedang tidak baik baik saja " aku coba untuk membujuknya.


Akhirnya dia pun mengangguk, kubawa dia ke parkiran mobilku.


Sebenarnya tadi aku berniat ke parkiran mobil untuk pulang, namun dari kejauhan aku melihat orang orang berkumpul di parkiran motor. Bahkan aku mendengar ada teriakan.


Kudekati kerumunan tersebut, ternyata disitu ada Novia yang sedang berselisih dengan suaminya.


Suaminya melempar kunci ke arah Novia, untung saja dia bisa menghindar kalau tidak wajahnya pasti terluka.


Kuambil kunci tersebut dan melerai keributan mereka, untung saja suaminya mau pergi itu pun setelah kuancam akan kulaporkan pada pihak manajemen.


" Ayo masuk " kubukakan pintu mobil untuknya. Dia terlihat enggan.


" Sudah jangan banyak mikir makin lama kamu berdiri nanti gak masuk masuk, takutnya ada yang lihat dikira kita kencan " seketika dia langsung menatapku.


Membuatku salah tingkah, sepertinya apa yang kuucapkan itu salah.


" Saya gak bisa biarin kamu pulang sendiri, apalagi membawa motor. Gak usah mikirin apa kata orang. Naik ya "


Akhirnya dia masuk ke dalam mobil, duduk dengan mata menerawang.


Kami hanya terdiam tidak ada yang bersuara. Aku sengaja membawa mobil dengan perlahan.


" Pak, makasih ya " tiba tiba Novia bersuara.


" Makasih untuk yang mana Vi? " aku pura pura tak mengerti agar dia mau bersuara kembali.


" Makasih Bapak udah mau melerai pertengkaran kami, makasih juga sudah mau antar saya.


Saya malu pak, malu sama Bapak juga orang orang di pabrik. Besok pasti mereka membicarakan saya " Novia menundukan wajahnya kemudian dia menangis tergugu.


Aku memberhentikan mobil di pinggir jalan, membiarkannya menangis untuk melepas beban perasaannya.

__ADS_1


Kuraih tissue di dashboard dan memberikannya " Menangislah kalau itu membuat hati kamu plong "


Diambilnya tissue dan menghapus air mata di pipinya " Kami dalam keadaan tidak baik baik saja, saya fikir keadaan akan membaik. Tapi ternyata saya salah, suami saya makin terlihat tidak dewasa "


" Sabarlah, semua orang mengalami pasang surut. Sebaiknya kamu sebagai istri harus mengalah kalau suamimu sedang marah "


Huftt


Novia menarik nafas dalam dan membuangnya kasar " Saya kelihatan jelek banget ya kalau nangis hehee "


Tiba tiba saja dia tertawa walau masih ada sisa tangisan, ya inilah Novia selalu berusaha terlihat baik baik saja.


" Gak kok kamu tetap cantik mau dalam kondisi apa pun " dia langsung memutar wajahnya melihatku heran. Ya ampun aku kelepasan.


" Eh maksud saya kamu tetep cantik nangis juga, sudah jangan terlalu difikirin " aku langsung gugup.


" Saya gak mau kelihatan menangis sampai di rumah nanti. Kakak dan Paman saya pasti tidak terima "


" Ya sudah kita disini dulu atau kamu mau makan dulu? Ini sudah sore pasti kamu lapar.


Bentar lagi juga maghrib setidaknya kamu bisa sholat dulu jadi bekas tangisannya gak terlalu kentara " aku mencoba membujuknya.


" Baiklah, tapi saya gak mau dekat area pabrik nanti ada yang melihat lagi pasti mereka berfikiran buruk "


" Oke saya bawa kamu ke tempat yang tenang ya, kamu hubungi dulu orang di rumah supaya gak khawatir "


" Iya pak " Novia tersenyum sambil mengangguk.


Kubiarkan Novia bersandar dengan tenang sambil melihat pemandangan diluar. Aku ingin fikirannya tenang.


Ya Allah aku gak tau ini benar atau salah, aku hanya ingin menghiburnya.


Aku tahu dia sudah memiliki keluarga bahkan aku mengenal suaminya. Hanya saja aku memang kurang respect pada suaminya.


Tempat makanku dan Diki sama, satu ruangan khusus Supervisor dan pimpinan lainnya.


Dulu seringkali aku duduk bersebelahan dengannya. Lama lama aku kesal karena seringkali mendengar percakapannya di telepon.


Entah dengan adiknya, ibunya atau keluarga lainnya. Mereka seringkali meminta bantuan uang. Tapi dengan tidak malunya dia akan meminta pada Novia.


Waktu itu aku mendengar secara langsung ketika ada yang meminta bantuannya dia menolak karena uang gajiannya habis, sebagian besar uangnya diberikan pada Ibunya.


Dengan tidak malunya dia menelepon Novia tepat disebelahku dan meminta uang pada Novia dengan alasan yang dibuat buat.


Dan itu bukan pertama kalinya aku mendengar obrolannya. Bahkan aku melihat dia bukan tipe laki laki yang tegas apalagi menyangkut keluarganya.


Semenjak itu hilanglah respectku. Aku sering menghindar duduk disebelahnya. Lebih baik aku mencari tempat duduk yang lain.


Jadi tanpa Novia cerita aku sedikitnya sudah faham bagaimana permasalahannya dengan Diki. Pasti tidak jauh jauh dari uang.


Apalagi aku juga pernah berumah tangga jadi tahu persis dengan yang namanya badai rumah tangga.

__ADS_1


Maafkan aku Ya Allah bukan aku mencari kesempatan dalam kesempitan, tapi kesempatan tidak akan datang dua kali heheee.


" Pak kok senyum senyum sendiri ?" aku tersentak mendengar pertanyaan Novia.


" Eh nggak, saya lagi ingat cerita lucu saja " untung saja aku bisa ngeles.


" Nah Vi udah sampai kita parkir dulu ya " aku berusaha mengalihkan topik supaya Novia tidak curiga.


Tiba di dalam kami langsung mencari meja lesehan agar duduk dengan nyaman dan kami segera memesan makanan.


Sambil menunggu makanan siap kami bergantian sholat Maghrib karena sudah terdengar suara adzan.


" Ayo Vi kita makan dulu, sekarang udah santai. Kalau sudah sholat Maghrib rasanya tenang karena waktunya pendek "


" Iya pak, saya makan ya Pak "


Novia makan dengan lahap mungkin tenaganya sudah habis dipakai menangis. Aku senang melihatnya tidak bersedih lagi.


" Bapak kok mandangin saya terus, makan saya banyak ya Pak. Gapapa nanti saya yang bayar " ucap Novia sambil terkikik.


" Ah ngga saya cuma senang lihat kamu tidak bersedih lagi "


Setelah makan kami pun mengobrol sebentar, dia bercerita permasalahan yang dihadapinya. Dimulai dari uang arisan yang tidak terimanya sampai terakhir kenapa dia mau mengambil motor yang digunakan Diki.


Mungkin dia sudah tidak merasa sungkan karena aku pun tidak memberi jarak. Posisi kami disini teman, berbeda ketika di pabrik posisi kami atasan dan bawahan.


Setelah merasa perasaanya tenang, Novia pun meminta pulang. Aku segera mengantarnya pulang.


Pukul 8 malam aku tiba di rumahnya, disebuah komplek perumahan yamg cukup jauh dari pabrik kami.


Ketika kami tiba Paman, ibu dan kakaknya sudah menunggu di teras. Bahkan anak anaknya langsung berhambur memeluknya.


" Malam Pak, maaf saya mengantar Novia nya kemalaman " kusapa laki laki yang terlihat masih muda apabila disebut ayah Novia.


" Tidak apa apa, Bapak mau mengantar Novia pulang saja saya sudah berterima kasih. Saya paman Novia " kami pun saling bersalaman dan memperkenalkan diri.


Kami pun masuk dan berbincang bincang sebentar dan menceritakan kejadian tadi sore.


Aku lihat amarah di mata Paman Novia dan kakaknya terlihat geram. Lama berbincang aku pun pamit untuk pulang.


" Kalau begitu saya permisi karena ini sudah malam, kalau misal Novia besok mau izin tidak masuk juga gapapa agar Novia menenangkan fikirannya terlebih dahulu " aku memberi saran pada Paman Novia.


" Ngga apa apa Pak, saya baik baik saja. Hanya butuh istirahat saja besok pasti sudah fit kembali " Novia langsung menolak usulanku.


" Iya bagaimana baiknya saja, mari semua saya pulang dulu "


Keluarganya pun mengucapkan banyak terima kasih dan menitipkan Novia padaku.


" Mari saya antar Pak " dengan sigap Manda kakak Novia mengantarku sampai pintu pagar rumahnya.


Aku pun langsung pulang membelah jalanan yang sudah sepi karena sudah malam.

__ADS_1


__ADS_2