
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 81 ( Gosip Cerai )
Pulang dari Pengadilan Agama Bu Murni uring uringan. Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil dia terus menyalahkan Diki karena ngotot meminta rujuk.
" Kamu gimana sih Ki dari kemarin Amah bilang supaya kamu terima aza di gugat cerai nanti kamu tuntut gono gini. Ini malah ngotot pengen rujuk " ujarnya berapi api.
" Kan aku juga dari kemarin bilang mau rujuk, Amah aza yang kemarin maksa maksa aku supaya cerai " Diki tetap tak mau disalahkan.
" Buang buang waktu aza kita semua nganterin kamu, mana bensin Amah yang nanggung lagi iihhhh " Bu Murni mencubit tangan Diki saking kesalnya.
" Aduh Amah sakit kenapa sih. Tadi pagi aku udah bilang mau berangkat sendiri. Kalian yang maksa maksa mau nganter.
Udah pergi rame rame giliran ngadepin Manda gak ada yang bisa menang " ucap Diki sambil terkekeh.
" Ah perempuan kayak dia gak usah diladenin, ngapain gak penting " ucap Ayu.
" Kirain aku karena kamu gak berani Yu kan kamu udah dibikin babak belur sama dia " jawab Diki dengan santai.
Muka Ayu langsung merah antara malu dan marah. Namun dia tak bisa melawan ucapan Diki.
" Sudah sudah gak usah bahas si Manda. Amah kesel sama kamu susah banget dibilangin. Kalau jadi anak itu harus nurut, orang tua ngasih tahu itu pasti karena sayang "
" Kalau Amah bukan sayang tapi ada udang di balik bakwan. Amah baik pasti ada maunya " balas Diki.
" Udah ah kenapa sih kalian berisik amat, kamu juga A' kenapa sih gak mau dengerin Amah " kali ini Cantika ikut bicara.
" Kamu Tik, macam gak tahu Amah. lagian ya aku tuh bukan anak kecil lagi yang harus selalu nurutin mau Amah "
Karena sepanjang perjalanan mereka berdebat tak terasa mereka sudah sampai di gang menuju rumah.
Mereka turun berbarengan setelah Cantika memarkirkan mobil miliknya.
" Eh Bu Murni darimana kok rame rame gini " tanya salah satu tetangga yang berpapasan.
" Eh biasa ini baru dari Mall biasa lah mumpung kumpul "
" Oh kirain dari Pengadilan Agama " Yati yang datang dari arah belakang ikut berbicara.
" Eh ini si Yati kok bisa tahu ya padahal aku kan gak cerita sama siapa siapa " gumam Bu Murni dalam hati.
" Sembarangan kamu Yati kalau ngomong, main sambar aza tuh mulut. Jangan sok tahu kamu "
" Sok tahu gimana Bu Murni satu RT udah tahu si Diki calon duda kan suratnya nyampe di rumah Pak RT. Jangankan RT sini RT sebelah sana, sebelah situ, sebelah sono juga udah pada tahu Bu "
" Ya ampun rupanya sudah jadi rahasia umum aku bakal jadi duda. Nasib nasib " Diki hanya bisa membatin.
" Aku duluan " ucap diki yang tak mau mendengar keributan mereka. Dia langsung pergi sendiri.
" Ah kamu ngarang aza, tapi kita beneran kok dari mall yan kan Yu " Amah mencari dukungan pada menantunya.
" I-iya Mah " jawab Ayu terbata bata.
" Tuh kan apa saya bilang " ucap Amah sambil mencebikkan bibirnya.
" Ah si Ayu sama saja kalian kan satu tim. Tuh anak kamu si Chila nangis aza dari tadi sampai Bi Dina kewalahan.
Bi Dina bilang kalian lagi anteur si Diki mau ke pangadilan agama karena hari ini sidang pertamanya. Pake bilang ke Mall segala " cibir Yuyun sambil tersenyum penuh kemenangan.
Jleb
Muka Bu Murni dan anak anaknya langsung terlihat merah menahan malu.
__ADS_1
" Sial*n Si Dina pake dibilang bilang segala. Sia-sia aku berbohong kalau begini bikin malu saja " Bu Murni menggerutu dalam hati
" Ya sudah Teh Yuyun semuanya kami pamit dulu ya " Cantika langsung pamit pada semua.
" Udah Mah kita pulang, daripada kita tambah malu "
" Si Dina ini kenapa sih dibilang bilang sama orang, kan malu. Mana tadi bilang dari Mall "
Anak anak Bu Murni tak ada yang berani menimpali karena sudah tahu dengan watak Ibu mereka yang sombong, bahkan sering juga mereka dukung agar dihargai tetangga.
Masuk ke dalam rumah Bu Murni langsung uring-uringan dan mengomel tak jelas.
" Udah cape gak dapat hasil lagi, ini semua gara gara kamu Ki "
" Masih aza nyalahin aku, salah Amah sendiri yang maksa maksa nganter aku "
" Udah Mah gak usah bicara lagi percuma, emang Amah yang maksa nganter kan. Lagian proses cerai belum selesai ada dua kali lagi " bisik Cantika di telinga ibunya.
Setelah mendengar Cantika bicara baru Bu Murni berhenti uring-uringan namun wajahnya masih ketus bila berhadapan dengan Diki.
Tong tong tong
Diki bergegas keluar dia mendengar tukang baso keliling langganannya ada di depan rumah.
" Mau kemana kamu? " tanya Bu Murni.
" Kepo "
Bughh
Diki langsung mendapat bonus bantal yang melayang melewati badannya.
" Ditanya ngejawab seenaknya " Wajah Bu Murni terlihat geram.
" Aku nitiplah " ucap Robi pada Diki.
" Belilah sendiri, palingan kamu minta di bayarin "
" Dasar duta gratisan " gumam Diki sambil berjalan.
Sampai diluar ternyata tukang baso langganan Diki sudah dikerubungi Ibu-ibu tetangganya.
" Duh ada calon duren nih "
" Mas Diki beneran nih mau cereme?"
" Apaan cereme?" tanya Diki keheranan.
" Cerei maksudnya, gitu aza gak ngerti ih " ucap seseibu yang terlihat genit.
" Oh hehee, saya sih maunya rujuk Ibu-ibu kasihan anak anak "
" Iya bener sih, tapi mana ada yang tahan A'Diki sama mertua yang seperti Bu Murni "
" Husss kamu jangan ngomong sembarangan " temannya si ibu langsung menyenggol lengannya.
Walaupun suaranya pelan tapi Diki masih bisa mendengar dengan jelas.
" Iya memang benar apa yang dibilang Ibu-Ibu ini, masalah utama rumah tanggaku itu Amah " Batin Diki.
Wajah Diki langsung terlihat mendung tak bersemangat.
" Udah A'Diki jangan dengerin dia, anggap aza angin lalu " lanjut ibu itu lagi.
__ADS_1
" Heheee gapapa Bu ibu "
Diki langsung memesan basonya pada si mamang pedagang baso.
Sambil menunggu Diki membuka ponselnya melihat foto foto anak anaknya bersama Novia.
" Ki lagi antri baso? " tanya Yuyun.
" Iya teh " Diki langsung menutup ponselnya melihat Yuyun yang langsung kepo dengan kegiatan Diki.
" Beneran kamu mau cerai? " tanyanya lagi.
" Kalau saya sih pengennya rujuk Teh Yun " jawab Diki sambil memberi bumbu pada basonya.
" Ya baguslah kalau begitu kalian kan masih muda pasti kalian akan mencari pendamping lagi. Apa gak kasian kalau ke depannya anak anak memiliki bapak dan ibu sambung? "
" Tumben nih bener isi otaknya " gumam Diki dalam hati sambil tersenyum.
" Ngapain kamu senyum senyum Ki, pasti kamu gak nyangka kan saya bisa ngomong bener kayak barusan hahaa "
" Ih si teteh tahu aza isi hati saya hahaaa " mereka berdua tertawa.
Hingga menarik perhatian orang yang sedang berada di dekat mereka.
Bahkan Bu Murni langsung ngintip dari balik gorden mendengar Yuyun dan Diki tertawa.
" Menurut teteh, Novia bakal nerima saya lagi gak teh? " tanya Diki pada Yuyun.
" Ya kalau dari kalian masing masing belum punya pengganti sih bisa saja "
" Maksudnya? "
" Kamu pura pura lupa ya Ki, kamu kan suka jalan sama perempuan yang suka datang ke rumah. Apalagi Ibumu terlihat dekat sekali "
" Tapi kan kami gak pacaran " sanggah Diki.
" Isshhh kamu, sekarang ngomong gitu nanti kan gak tahu. Lagian ya semua orang bisa lihat kalau perempuan itu ada hati sama kamu "
Diki terdiam dan membenarkan ucapan Yuyun.
" Harusnya kalau kamu gak suka ya jangan dikasih harapan lah, gitu aza gak faham."
" Satu lagi Ki, saya beberapa kali ke toko Novia sengaja datang malam supaya dapat diskon kalau ada Novia nya.
Nah pas kesana suka ada laki laki bareng Novia ganteng Ki, putih, masih muda lagi. Maaf maaf kata ya kamu kalah deh Heheee "
Dengan santainya Yuyun bicara diakhiri senyum dan mengangkat dua jarinya membentuk peace.
Hati Diki langsung mencelos, dia tahu pasti laki laki itu siapa. Pastinya dia kalah jauh.
" Itu mungkin pamannya teh " dia berusaha menghibur dirinya dengan mencari jawaban yang lain.
" Kalau pamannya saya tahu yang mana, kan suka kesini. Udah ah saya mau makan baso, duluan ya "
Yuyun meninggalkan Diki yang patah hati dan merasa kalah. Andai gak malu dia ingin sekali menangis menjerit-jerit.
Diki pulang ke rumah dengan membawa semangkok baso. Dia sudah tak berselera, disimpan nya mangkok baso tersebut di depan Robi.
" Buat kamu " setelahnya dia berlalu kembali ke kamar membawa berjuta kesedihan.
" Kenapa dia? " tanya Cantika keheranan.
" Kesambet kali tadi dia ngobrol sama si Yuyun " ucap Bu Murni.
__ADS_1
Lain lagi dengan Robi dia merasa mendapat rezeki. Tanpa peduli pada Diki langsung saja melahap baso di depannya.