
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 77 ( Final )
Di parkiran Diki melihat motor Novia sudah ada di tempatnya. Itu berarti Novia sudah datang dan kemungkinan sudah ada di ruangannya.
Dia berniat menemui Novia dan menanyakan soal surat panggilan dari pengadilan agama tersebut.
Dengan terburu buru Diki menuju ke gedung tempat Novia bekerja. Melewati meja security tanpa permisi Diki langsung masuk ke ruangan Novia.
Untung saja security yang bertugas mengetahui kalau Diki suami Novia. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
" Huhhhh kalau bukan karena suami Bu Novia udah aku ikat tuh kakinya main masuk masuk saja tanpa permisi. Emangnya ini milik kakek moyangnya apa " gerutu si security.
Diki nampak terburu-buru selain ingin kejelasan dari Novia, dia juga harus segera ke ruangannya apalagi bel jam kerja sebentar lagi berbunyi pertanda semua aktifitas harus dimulai.
Diki langsung masuk ke ruangan Novia dan menggenggam tangannya " Vi kamu serius menggugat cerai, apa kamu serius melakukannya. Kamu gak kasihan sama anak anak? "
" Lepas A' kamu lupa sudah menalakku? jangan seperti ini. Kita sedang ditempat kerja " Novia menepis tangan Diki dengan kasar.
Diki cukup kaget dengan perlakuan Novia, karena selama berumah tangga dia tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya, uuppsss calon mantan istri ya readers heheee.
" Vi tolong fikirkan lagi, waktu itu aku khilaf tanpa sengaja berucap talak. Itu hanya emosi saja " wajah Diki begitu memelas.
Novia pun merasa terenyuh namun dia sudah bertekad untuk mengakhiri semuanya. Baginya keputusan cerai sudah final.
" Vi aku tahu aku bukan suami dan ayah yang baik, berilah kesempatan aku untuk berubah. Kumohon " Diki menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
" Maaf A' aku gak bisa, kalau Aa mau berubah itu hak Aa. Buktikan niat Aa ingin berubah dengan tetap bertanggung jawab pada anak anak.
Aku tak akan pernah membatasi pertemuan Aa dengan anak anak karena bagaimana pun Aa ayah kandungnya "
Diki terduduk lemas di kursi rasanya dia tak ada tenaga untuk berdiri tegap.
" Maaf Pak Diki ini jam kerja, apabila ada masalah tolong selesaikan di rumah " security datang ke ruang Novia dan melerai mereka.
" Pak Diki akan keluar Bu, terima kasih sudah mengingatkan " jawab Novia sambil memandang ke arah Diki.
Dia berharap dengan ucapannya Diki mengerti kalau dia telah diusir secara halus.
" Apa benar ada orang lain Vi? " Diki bertanya sambil menunduk.
" Tidak ada orang lain, orang ketiga itu keluargamu A'. Aku sudah tidak bisa memberi toleransi. Terlebih dengan ketidak tegasanmu "
__ADS_1
" Aku akan mempertahankan rumah tangga kita di pengadilan nanti "
" Itu tidak mungkin karena kamu sudah mengucap talak untukku " jawab Novia.
" Aku, kamu? kamu benar benar berubah. Sudah tak ada lagi Novia yang dulu. Baiklah aku akan ikuti kemauanmu. Terima kasih untuk semuanya "
Novia sudah tak memanggil dengan panggilan Aa atau Papah yang biasa terucap apabila di depan anak anak. Ini berarti dia sudah menganggap Diki bukan orang yang penting lagi di hidupnya.
Diki langsung keluar ruangan Novia, dan menuju ke gedung tempatnya bekerja.
Setelah Diki pergi Novia langsung terduduk dan memijat pelipisnya. Dia tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya.
***
Sekitar pukul 5 sore Diki sudah pulang ke rumah, wajahnya tampak kusut.
" Assalammu Alaikum "
Diki langsung duduk di ruang TV Bu murni mengernyitkan keningnya.
" Kamu kenapa pulang kerja kusut banget mukanya? " tanya Bu Murni.
" Hufftt "
" Apa sih Mah sakit tahu "
" Makanya kalau di tanya jawab " ujar Bu Murni.
" Udah tahu aku lagi pusing, sebentar lagi aku jadi duda. Padahal aku berharap rujuk tapi sepertinya Novia menolak keras. Dia bilang keputusannya udah final gak bisa di rubah untuk bercerai " Diki berbicara dengan wajah lesu.
" Halaahh kamu tuh, perempuan gak cuma satu. Lagian ya kamu udah nalak dia jadi memang udah duda janda. Tinggal suratnya aza.
Justru itu bagus berarti kamu bisa ngeresmiin hubungan kamu sama Nuri. Iya gak? " Bu Murni berucap sambil tersenyum penuh arti.
" Entahlah Mah aku kurang suka sama dia sepertinya ada yang gak beres deh "
" Gak beres gimana, kamu nya aza yang belum tertarik. Coba kamu fikirin lagi apa kurangnya Nuri dia juga cantik kok, loyal sama Amah gak kayak si Novia pelit gak mau bantu saudara "
Diki hanya terdiam tak merespon ucapan Ibunya. Melihat itu Bu Murni makin gencar memberikan pengaruhnya.
" Kamu tuh Ki kesempatan gak akan datang dua kali loh. Si Nuri itu anak tunggal, warisannya banyak apa kamu gak akan merasa rugi kalau nolak dia?
Kalau Amah sih gak bakalan Amah lepas keburu di ambil orang nanti kamu bisa gigit jari "
__ADS_1
Mendengar Ibunya yang mengoceh kepala Diki bertambah puyeng, dia berharap ketika pulang bebannya akan berkurang tapi ini kebalikannya dia malah bertambah pusing.
" Udah ah Mah aku pusing, bukannya nenangin aku malah menambah beban di kepala aku "
Diki langsung beranjak dari duduknya menuju kamar.
" Ih dasar anak durhaka dikasih tahu bukannya terima kasih. Ngapain juga dia ngarepin terus si Novia dia juga udah di talak. Mending aku bujukin si Nuri supaya pepet terus si Diki hehee "
Bu Murni tersenyum senang, dia yakin Nuri akan menjadi menantunya hanya tinggal membujuk Diki agar mau menerima Nuri.
Saat ini Nuri sangat royal pada dia dan keluarganya, apalagi Nuri anak tunggal dan memiliki banyak warisan.
Pasti Diki tak akan rugi menikahi Nuri. Membayangkannya saja dia sudah tersenyum senyum sendiri.
" Mah ngapain senyum senyum gitu? " Pak Imam yang baru saja datang langsung menepuk bahu istrinya.
" Eh Pak, aku lagi bayangin aza Diki nikah sama Nuri, aku yakin Nuri itu mantu idaman. Daripada si Novia jauh gak ada apa apanya " ucap Bu Murni sambil mencebikkan bibirnya.
" Lah Amah, orang baru kenal terus berlaku baik itu hal biasa. Namanya juga pencitraan. Jangan sampai Amah menyesal nantinya. Lagian kan Diki belum cerai sama Novia "
" Bapak gimana sih, si Diki tuh lagi uring uringan karena mau cerai, tadi dia datangin si Novia katanya udah final gak mau rujuk "
Pak Imam langsung diam termenung tak memberi respon ucapan istrinya.
" Pak, Pak..." karena tak di respon Bu Murni mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah suaminya.
" Weeyyy " di tepuknya paha suaminya cukup keras, sampai tersentak.
" Astagfirullah, Amah apaan sih " karena kaget Pak Imam terlihat membentak istrinya.
" Bapak juga di panggil gak nyahut nyahut, anak sama Bapak sama aza gara gara si Novia udah kayak orang linglung Huuhhhh "
" Bukan gitu Mah, Bapak cuma kasian sama cucu cucu kita, Ibu Bapaknya terpisah karena masalah keluarga "
" Masalah keluarga apa, gak usah ngadi ngadi lah Pak. Perceraian itu terjadi karena keegoisan Ibunya yang pelit dan gak mau ngalah. Coba kalau dia nurut sama suami gak bakalan dia di ceraikan si Diki "
" Amah ini yang ada juga Diki yang di ceraikan Novia, buktinya Diki yang pengen rujuk "
" Ngarang aza Bapak, harusnya si Novia sadar siapa juga yang mau sama janda seperti dia.
Punya anak dua, laki laki juga mikir kali buat nikahin dia. Pokoknya Amah bakal pepet terus Diki dan Nuri supaya mereka nikah hehee "
" Terserah Amah aza lah, Bapak gak akan ikut campur " Ucap Pak Imam sambil berlalu ke kamar "
__ADS_1