
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Pov Diki
Keluar dari rumah novia, aku segera masuk ke dalam mobil. Pandanganku tetap tak teralih dari Novia. " Kenapa kamu gak mau pulang Vi, rumahmu bukan disini tapi bersamaku" batinku.
Setelah mendapatkan pengganti uang arisannya harusnya dia mau pulang bersamaku. Bukankah permasalahannya sudah selesai.
Kurang apa lagi aku, rumah untuk berteduh ada, nafkah sudah kuberi ya walaupun harus berbagi dengan Amah. Toh selama bertahun tahun dia gak pernah protes. Tapi karena masalah arisan saja dia sampai marah dan gak mau pulang.
Ada apa gerangan, kenapa kamu berubah Vi?
" Sudah ngapain kamu melamun liatin perempuan itu terus Amah gak suka. Gara gara dia Amah jadi kehilangan penghasilan bulanan hiks hiks.
Ini semua salah bapa, kenapa harus ngasih warung itu. Uang sewa tiap bulannya kan lumayan hiks hiks " teguran Amah membuyarkan lamunanku di tambah isakan tangis Amah yang bikin risih.
" Sudah mah ikhlasin aza. Lagipula tidak ada yang bisa memberi solusi. Punya anak 3 gak ada mau bantu " sepertinya kata kata itu ditujukan pada kami.
" Bapak kok ngomongnya gitu sih, ya mana mau aku bayar aku kan gak pake duitnya. Tuh si Robi yang pake banyak. Kenapa harus aku yang dibebani. Aku juga kan punya cicilan mobil, rumah belum lagi kebutuhan sehari hari " Cantika membela diri dan memberikan alasan kenapa dia gak mau membantu.
" Kamu juga mas dari tadi diam terus bukannya bantu kami, kamu takut sama Novia? " lanjut Cantika mencecar suaminya yang sedang menyetir.
Keenan langsung terlihat gugup dan salah tingkah " Takut kenapa, aku gak ngerasa salah. Lagipula aku gak tau menau soal uang arisan itu jadi ngapain harus ikut ribut. Malu kayak emak emak komplek "
" Jadi kamu mau bilang aku kayak emak emak komplek tukang ghibah karena ikut bicara tadi ckkk . Padahal siang kemarin kamu juga ikut nimbrung di grup WA waktu kita mojokin Novia jadi apa bedanya kita " Robi merasa tersindir dengan ucapan Keenan sehingga mereka bersitegang.
Keenan hanya garuk garuk kepala yang gak gatal mendengar ocehan Robi.
Tapi benar juga, aku sedikit heran melihat sikap Keenan. Kemarin dia ikut ikutan menyindir di WA, tapi hari ini Keenan banyak diam bahkan dia tak pernah berani menatap mata Novia.
" Ngapain sih kalian jadi ribut gara gara perempuan itu. Menantu kurang ajar pokoknya Amah benci sama dia. Amah gak terima. Malu pak sama tetangga kalau sampai semua tau warung itu bukan punya Amah lagi " Amah kembali merajuk dan menangis.
__ADS_1
" Sudahlah mah, ridhokan saja lagipula gak baik kita ambil hak Novia. Bahkan kita bisa lebih malu andaikan tetangga tau kalau Robi menikah pakai uang arisan Novia tanpa menggantinya " ucapan Bapak terdengar bijak. Benar yang Bapak bilang memang sebaiknya diganti jangan sampai rumah tanggaku hancur gara gara masalah ini.
" Kok aku lagi sih, jangan nyalahin aku terus dong itu juga bukan ideku. Kalian juga ikut merasakan uangnya. Dikasih seragam, makan makan, bawa teman ke pestaku. Giliran gini aza semua nyalahin aku " Robi berkelit tak mau disalahkan.
" Yeehh tapi gak sebanding dengan kami harus bantu bayar mengganti uang arisannya. Lagian tetep salah kamu mau kawin nyusahin orang " Cantika tak mau kalah dengan Robi mereka saling merasa benar.
" Sudah kalian seperti anak kecil, percuma kalian ribut semuanya sudah terjadi " semua terdiam mendengar suara Bapak yang mulai emosi. " Punya anak gak ada yang bisa diharapkan "
Cantika terlihat mencebikkan bibirnya. Di mobil pun menjadi hening tidak ada yang bersuara semua sibuk dengan lamunan dan pemikiran masing masing.
Setengah jam kemudian kami tiba di rumah Amah, kami semua turun kecuali Cantika dan Keenan mereka langsung pulang.
Sesampai di rumah aku langsung merebahkan diri di atas sofa. Tapi ada pemandangan menarik Ayu menggiring Amah ke dapur entah apa yang mereka bicarakan.
Aku tak begitu mempedulikan mereka, karena sudah merasa lelah, apalagi dengan penolakan Novia yang gak mau ikut pulang otomatis anak anak pun ikut bersama Novia sehingga menambah lelah batinku. Hidupku benar benar terasa hampa.
Tak selang berapa lama Robi datang menggendong Chila yang baru dijemputnya di rumah bibi. Chila yang di titipkan ke rumah bibi sebelum kami pergi ke rumah Novia. Setelah berkemas mereka pun pamit pulang karena besok Robi mengajar pagi.
Aku duduk di ruang tamu sendiri, enggan pulang ke rumah karena disana makin merasakan kesepian. Aku terus berfikir bagaimana caranya membujuk Novia supaya mau pulang.
Coba wa saja lah, moga moga dia belum tidur.
[ Vi, kenapa kamu gak mau ikut pulang bersamaku ]
[ Vi kamu masih marah ya? ]
[ Vi aku kangen kamu dan anak anak ]
[ P ]
__ADS_1
[ P ]
[ P ]
kok gak balas balas ya, gak mungkin sudah tidur.
Mau telepon takut Manda yang angkat lagi, bisa berabe.
" Ngapain lagi kamu melamun? masih mikirin perempuan itu?" masih kesal rupanya Amah. Kalau urusan duit mana bisa Amah lupa.
" Apa sih Mah, ganggu aza. Novia kan istri aku. Wajarlah kalau aku mikirin dia. Amah jangan marah terus nanti darah tingginya kumat " kucoba merayu amah supaya tidak marah terus.
" Ini juga salah kamu gak bisa ngatur istri. Kalau perempuan dibiarkan semaunya nanti ngelunjak. Coba kalau kamu bisa bujuk istrimu pulang pasti gak akan begini jadinya " Terus aza Amah nyalahin, padahal aku sudah berusaha membujuknya. Aku juga berharap novia mau pulang.
" Amah kenapa sih nyalahin aku terus, aku udah ngikutin semua mau amah. Aku kan sudah membujuknya tapi tetep di tolak. Ini semua kan gara gara Amah. Andai tak memakai uang arisan itu, Novia pasti masih bersamaku.
Aku takut novia minta cerai mah. Gak biasanya Novia seperti ini " kusampaikan rasa khawatirku pada Amah supaya tak selalu menekanku. Jangan sampai juga rasa benci Amah membuat Novia enggan pulang.
" Kok kamu nyalahin Amah, salahnya dimana. Lagian niat awalnya kan minjem.
Jadi laki laki lemah banget, kalau dia mau cerai, ya tinggal cerai apa susahnya. Kamu masih muda, ganteng, pekerjaan bagus pasti banyak yang mau sama kamu.
Jangan karena perempuan hidupmu berantakan " Amah tetap tak mau disalahkan padahal jelas jelas ide memakai uang arisan itu darinya.
" Sudah lah aku pusing lebih baik aku tidur, pokoknya kalau sampai Novia sampai minta cerai itu salah Amah. Aku gak akan maafin Amah " aku berdiri menuju kamarku.
Bruuugghh
Pintu kamar kubanting dengan kuat. Tapi masih kudengar Amah mengoceh. Bahkan dia bicara dibalik pintu kamarku.
" Heh dasar kualat orangtua bicara malah ditinggalkan main banting pintu lagi. Sempat rusak mau kamu ganti?
Lagian gak usah sedih di tinggal istrimu itu, Nanti Amah kenalin sama anak teman Amah. Kamu pasti gak nyesel "
Ah terserah Amah lah gak akan ada beresnya kalau di ladenin terus. Bukan ngasih solusi malah ngasih ide yang lebih buruk untuk menjodohkanku dengan anak temannya.
__ADS_1
Kututup wajahku dengan bantal agar tak mendengar ocehannya lagi.