arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Kegigihan Bu Murni


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Pagi pagi sekali Diki sudah berangkat menuju tempatnya bekerja, dia berharap dapat bertemu Novia.


Walaupun mereka satu pabrik tapi pada saat bekerja mereka tak dapat bertemu sembarangan karena berbeda gedung.


Sedangkan di jam istirahat semua orang menggunakan waktu untuk makan dan beristirahat ataupun beribadah. Sehingga akan sulit meluangkan waktu untuk mengobrol.


Apalagi Novia akhir akhir ini menghindari pertemuan dengan Diki.


Dari kejauhan Diki melihat Novia sedang berjalan masuki gerbang, dia segera berlari mendekati Novia.


" Vi, vi izinkan aku bicara sebentar, sebentar saja " Diki mendekati Novia dan memohon.


Novia terlihat berfikir, dan melihat wajah Diki yang begitu memohon " Mau bicara apa sih A' mau nyalahin aku lagi, atauu mau nalak aku? "


" Astagfirullah Vi, kamu jangan begitu aku gak mungkin nalak kamu. Aku masih sayang kamu dan anak anak kita " ujar Diki dengan tatapan sendu.


Novia menatap tajam Diki " Anak kita? sayang? sejak kapan kamu menyayangi mereka. Bukannya kamu lebih sayang keluargamu ya "


" Aku sayang keluargaku, aku juga sayang keluarga kecil kita Vi "


Novia hanya terdiam tak menanggapi, karena ucapan yang keluar dari mulut Diki itu bukan yang pertama kalinya. Setiap mereka bertengkar karena Diki yang terlalu berat pada keluarganya maka Diki akan berucap seperti itu untuk meluluhkan hati Novia.


Tapi kali ini ucapan itu tak membuat Novia luluh, dia sudah merasa bosan dan jengah dengan ketidak tegasan Diki serta sikap yang berat sebelah lebih mementingkan keluarganya.


" Vi aku ingin meminta maaf untuk kejadian kemarin, aku tidak tau apa yang Amah dan Ayu lakukan " Diki melanjutkan ucapannya dengan suara dibuat semelow mungkin agar Novia tergugah hatinya.


Novia menarik nafasnya dalam kemudian mendelikan matanya.


" Aku yakin kamu wanita yang pemaaf Vi, pasti mau memaafkan mereka kan? Mereka keluargaku jadi otomatis itu keluargamu juga. Kembalilah ke rumah kita mulai lagi dari awal " Diki terus membujuk Novia sambil tersenyum.


Novia memberikan senyum termanisnya pada Diki, kemudian dengan kasar dia mendorong Diki " Mimpi sana !! "

__ADS_1


Kemudian Novia pergi berlalu meninggalkan Diki yang melongo sendirian.


Setiba di ruangannya Novia menggerutu merasa kesal dengan apa yang dilakukan Diki, karena menurut Novia, Diki tidak pernah berubah selalu meminta Novia mengalah untuk keluarganya.


Tidak pernah melihat apa permasalahannya. Karena menurut Diki keluarganya selalu benar. Inilah yang membuat Novia jengah.


***


Pagi itu Bu murni pergi terburu buru kepasar, dia menunggu Ayu tapi masih belum datang. Kemudian ia memutuskan untuk pergi sendiri.


Setiba di pasar ia segera menemui Bu Ningsih " Ningsih, maaf saya ganggu sebentar. Ada yang mau saya bicarakan "


Melihat kedatangan Bu Murni sepagi ini Bu Ningsih langsung cemas dia bergumam dalam hati " Ini Ibu ibu rese mau ngapain pagi pagi sudah datang kesini mana suamiku belum datang, malas ngadepin ni ibu ibu cerewet sendirian ".


Bu Ningsih hanya terdiam, tiba tiba dia tersadar karena menerima tepukan di bahunya yang sangat keras dan itu ulah Bu Murni " Hehhh ngapain ngelamun kayak orang soak aza "


" Eh iya maaf bu ada apa, ibu mau belanja? alhamdulilah masih pagi belum ada penglaris " Bu Ningsih berusaha ramah meskipun dia tahu Bu Murni pasti punya maksud.


" Ngga Ningsih saya cuma mau minta tolong sama kamu, soal kejadian kemarin. Maaf udah bikin keributan. Mantuku yang satu itu emang kurang ajar bikin malu saja " ujar Bu Murni terlihat menggebu gebu.


" Ya jelas si Novia lah, dia tuh emang nyebelin. Dia tuh merampas warung saya ini.


Dia ambil dengan paksa makanya saya kemarin berani ambil sewa 6 bulan ke depan. Karena saya gak ikhlas ngasihnya.


Kalau Ayu tuh baik, nurut sama saya, Bapaknya punya grosir di Pasar Cijambe. Kalah jauh lah toko milikmu ini " Bu Murni menyombongkan menantunya si Ayu.


Mendengar itu Bu Ningsih mencebikan bibirnya, dia merasa tersinggung Bu Murni menghina tokonya padahal dia sering ngutang ditokonya. Kalau bukan karena pemilik bangunan yang dia sewa dia pasti menolak untuk ngasih hutangan " Ya gapapa lah bu toko saya kecil tapi ibu kan seneng ngutang di toko saya "


Bu Murni merasa tersindir dia memanyunkan bibirnya dan menggerutu dalam hati " Kurang ajar si Ningsih udah berani sekarang ya mentang mentang sekarang ini milik Novia pake bahas bahas segala soal hutangku "


" Lagian ya bu menurut saya menantu yang kurang ajar tuh si Ayu lihat saja sifatnya gak mau ngalah, kasar juga. Bukannya dia yang menampar kakaknya Novia duluan.


Kalau saya jadi kakak Novia saya juga akan membalas perlakuannya. Enak saja main tampar.

__ADS_1


Seingat saya Novia itu rajin loh, dulu pas ibu buka warung nasi Novia sering bantu Bu Murni kan, saya liat dia gak pernah ngeluh " lanjut Bu Ningsih yang terlihat antusias ketika membela Novia dan Manda, membuat Bu Murni kesal.


" Sudah saya gak butuh pendapat kamu, saya kesini karena ada perlu sama kamu. Bukan mau dengerin kamu muji muji si Novia " Bu Murni berkata ketus merasa di pojokan Bu Ningsih.


" Ibu gak usah galak galak sama saya, bukannya ibu butuh saya, lagian ya sekarang kan yang punya bangunan ini Novia jadi saya gak akan takut lagi sama Bu Murni " Bu Ningsih menjawab dengan tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya.


Melihat itu Bu Murni merasa tambah dongkol dan merasa diremehkan. Bu Murni bicara dalam hati mengumpat orang yang ada di depannya ini" Aarrgghh kurang ajar si Ningsih udah berani sekarang ya mentang mentang tempat ini bukan punyaku lagi. Kalau bukan karena butuh udah pengen nguwel nguwel mulutnya ".


" Gimana bu? " Bu Ningsih menyeringai, niat sekali membuat Bu Murni merasa jengkel.


" Aahhh ya sudah sudah gak usah di bahas, saya kesini mau minta tolong sama kamu, di sini ada cctv kan?


Saya mau lihat rekaman kemarin ada gak kalau perlu dihapus sajalah gak baik loh nyimpan nyimpan video keributan gitu? " Bu Murni kembali berbicara lembut agar Bu Ningsih tidak marah dan mau membantunya.


" Oohhh rekaman CCTV yang kemarin ya, ada siihhh "


Mendengar jawaban Bu Ningsih, Bu Murni merasa senang, dia berfikir gak mungkin Bu Ningsih menolak permintaanya mengingat dulu dia pemilik bangunan ini sebelumnya.


" Bisa saya lihat gak? " dengan semangat Bu Murni meminta pada Bu Ningsih.


" Gimana ya bu, saya gak punya " ujar Bu Ningsih.


" Ningsih kamu jangan main main sama saya, tadi bilang ada sekarang gak ada. Kamu mau mempermainkan saya?" Bu Murni seketika itu langsung emosi dan berkata dengan keras.


" Iihhh jangan marah bu, saya emang ada rekamannya. Tapi gak disimpan saya. Rekamannya di pegang suami saya.


Itu terhubung sama HP suami saya langsung. Ingat tadi saya bilang kalau butuh jangan marah marah" Bu Ningsih terus menggoda BU Murni.


" Halaahh bilang dong dari tadi jangan muter muter gak jelas, sekarang mana suami kamu? "


" Heheee gak ada bu hari ini dia lagi belanja mungkin datang nanti siang " Bu Ningsih menjawab sambil cengengesan.


" Huhhh kamu ngerjain saya dari tadi, tau gitu saya gak perlu dengerin kamu ngomong ngalor ngidul. Sudah saya mau pulang bikin kesal saja " Bu Murni keluar dari toko kelontong sambil menggerutu.

__ADS_1


" Bu jangan marah marah nanti darah tinggi, jangan galak galak lagi nanti gak dikasih hutangan loh hahaa " Bu Ningsih terus menggoda Bu Murni yang berjalan ke keluar tanpa permisi.


Bu Ningsih segera mencari HP nya dan menghubungi Novia, memberitahukan bahwa Bu Murni datang meminta rekaman CCTV keributan kemarin.


__ADS_2