arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Ngeri Ngeri Sedap


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 144 ( Ngeri Ngeri Sedap )


" Hati hati " samar terdengar suara di telinga Adrian membuat bulu kuduk Adrian langsung meremang.


Adrian sangat yakin mendengar suara itu, tapi sekuat hati tak ingin melihat ke belakang baik memalingkan wajahnya atau sekedar melihat lewat spion motor.


Dengan kecepatan cukup tinggi dia membelah jalanan yang terasa sepi karena memang hari mulai sore. Dia ingin segera meninggalkan desa tersebut untuk saat ini.


Setelah sampai di alun alun sekitar setengah 5 sore Adrian menghentikan motornya dan turun dari motor.


" Kamu kenapa sih Yang kok bawa motornya ngebut gak sayang nyawa ya " ujar Novia sedikit ketus.


" Eh ngga dong masa iya gak sayang nyawa. Aku mau hidup sampai tua bareng kamu. Melihat anak cucu kita nanti " ucap Adrian membuat hati Novia luluh.


" Gombal " jawabnya pura pura ketus padahal hidungnya sudah kembang kempis.


Adrian membuka botol air mineral kemudian dia meminumnya. Lalu dia menyerahkan botol itu pada Novia " Kamu minum ya " titahnya.


" Tapi aku gak haus " tolak Novia.


" Gak apa, biar nanti di jalan gak haus " paksa Adrian.


" Ya nanti saja aku minumnya pas di jalan kalau haus. Kan aku di bonceng jadi gak bakalan susah " tolak Novia lagi.


" Ah benar yang Pak Ustadz bilang, Novia pasti susah di suruh minum air do'a ini " Adrian membatin.


" Kalau aku habisin nanti aku kencing terus di jalan nanti lama nyampe rumah. Makanya aku ajak kamu minum. Atau kamu mau aku yang minum nanti kamu minum lewat mulut aku " goda Adrian.


" Hihiii " Novia terkikik, tapi Adrian malah merinding.


Adrian menggenggam tangan Novia dan mengusap kepala dan tengkuk Novia sambil membaca do'a do'a yang sudah di ajarkan Pak Ustadz.


" Minum ya " pinta Adrian lagi.


Kali ini Novia mengangguk dan tanpa penolakan. Setelah minum air tersebut Novia terlihat lesu.


" Kamu gak apa apa Yang? " tanya Adrian.


Novia terlihat kebingungan dan melihat sekeliling " Wah udah sampe Alun alun saja ya, Ryan apa aku ketiduran? tapi masa sih di motor ketiduran "


" Gak kok kamu gak ketiduran, nih habisin ya biar kamu gak kaget " ucap Adrian memberikan sisa air mineral yang tadi mereka minum.


" Nanti saja lah "


" Sekarang saja, biar botolnya di buang ya " pinta Adrian.


Kali ini tanpa ada drama tolak menolak Novia langsung menurutinya. Setelah diminum dan habis botol tersebut langsung dibuang ke tong sampah yang ada di trotoar. Lalu motor melaju kembali menuju kediaman Novia.


" Yang, tadi kalian kemana sih? bilangnya nganter Paman Danu tapi lama banget. Kalau tahu tempatnya pasti sudah aku susulin deh.


Kalian ke tempat pemancingan kan? Bi Nania bilang Paman Danu senang ke pemancingan. Aku bilang saja sama Bibi supaya hati hati takutnya Paman kecantol penunggu warung "


Mendengar Novia yang tak berhenti bicara Adrian hanya tersenyum dan tak menjawab. Dia lebih senang mendengar Novia yang cerewet daripada Novia yang anggun dan terus memeluk pinggangnya tanpa suara.


" Hadeuuhh hari ini benar benar ngeri ngeri sedap. Bisa bisanya di ikutin yang gituan " gumamnya dalam hati sambil meraih tangan Novia dan dieratkan di pinggangnya.

__ADS_1


Kali ini Adrian yang menarik tangan Novia karena yakin yang dibelakangnya itu kekasihnya.


Untung saja Pak Ustadz sudah membekali dan memperingatinya jadi sudah tahu langkah apa yang harus diperbuatnya.


Jam 5 sore Adrian sudah tiba di daerah rumah Novia. Dia berhenti lagi dan melihat ke jok belakang.


" Yang udah dekat rumah, kamu mau baso gak? kita beli terus makan di rumah " tanya Adrian.


Novia mendelikan matanya tak menjawab pertanyaan Adrian.


" Kamu kenapa Yang? kok ngambeuk sih "


" Yang, Yang loyang. Dari tadi di tanya kok gak jawab sih. Benaran kan kamu ke pemancingan makanya gak mau jawab "


Adrian melongo mendengar tuduhan Novia " Ya ampun kamu masih curiga saja sih. Gak ada aku ke pemancingan. Nanti kalau sudah di rumah aku ceritain. Kalau disini gak bisa soalnya panjang ceritanya "


" Beneran ya kamu mau cerita awas loh kalau bohong " Novia terlihat merajuk.


" Iya aku janji, eeugghhh kalau di rumah udah aku gendong kamu " geram Adrian yang gemas dan mencubit pinggang Novia .


" Heheee geli tahu, malu ih dilihatin orang "


" Jadi mau gak basonya? " tanya Adrian lagi.


" Mau lah beli 4 bungkus sekalian buat Teh Manda dan Paman Arif " pintanya.


" Baiklah tuan putri, tunggu ya hamba pesankan sekarang " goda Adrian membuat Novia terkekeh.


Setelah membawa 4 bungkus pesanan Novia, Adrian kembali tancap gas menuju rumah Novia yang hanya butuh waktu 5 menit saja.


Dari kejauhan mereka melihat sebuah mobil yang mereka kenali sedang terparkir di luar pagar.


" Tapi Yang basonya kurang dong? "


" Gampang lah, nanti kita makan satu bungkus berdua ya " ucap Novia sambil mengedipkan matanya.


" Ah baiklah " Adrian tersenyum. Padahal dia bingung karena lapar tak mungkin kenyang kalau makan satu bungkus berdua. Ah tapi tak apalah kapan lagi ada moment romantis makan semangkok berdua pikir Adrian.


" Tapi Yang kalau Candra bawa anaknya gimana, tambah kurang dong. Bagusan kita balik lagi beli baso tambahan gimana? Lagian biarin saja mereka berdua mending kita berduaan juga yuk " Adrian kembali menghentikan langkah Novia.


" Aduh Yang, gak apalah kalau mereka mojok. Justru kita jagain takut mereka khilaf " balas Novia.


" Baiklah kalau begitu, kita mojok di dapur saja yuk berdua " ucap Adrian sambil mengedipkan matanya.


" Aiihhh Aa tampan genit " goda Novia sambil mencubit perut Adrian.


Mereka terkekeh berdua, sampai terdengar ke dalam.


" Ih ini ABG labil lagi pada ngapain cekikin berdua " Manda dan Candra sudah ada di depan mereka sepertinya mereka langsung keluar mendengar suara Novia dan Adrian.


" Eh Teh gak ada, kalian lagi ngapain? tadi kami beli baso yuk makan bareng " ajak Novia.


" Emang kalian beli berapa bungkus " tanya Manda lagi.


" 4 bungkus, kirain gak ada tamu " jawab Novia.


" Ya cukuplah lagian d rumah cuma ada kami berdua "

__ADS_1


Adrian dan Novia saling berpandangan dan terkikik.


" Kalian pulang dari sana kelakuannya aneh, jangan jangan ada yang nempelin lagi "


Novia malah tertawa, beda dengan Adrian dia langsung mengusap pundaknya.


" Ya sudah aku ambil mangkok dulu mumpung belum adzan maghrib nanti kita berjama'ah ya " Novia langsung pergi ke dapur dan mengambil mangkok untuk makan mereka.


Adrian makan dengan lahap duduk di samping Novia " Lahap banget sih Yang. Aku tahu kamu lapar, makanya tadi ngajak beli baso lagi. Kalaupun ada tamu gak mungkin aku biarin kamu makan satu mangkok berdua. Aku pasti mastiin kamu harus kenyang karena kamu sangat penting buat aku " bisik Novia di telinga Adrian.


Adrian langsung tersipu mendengar perkataan Novia. Lalu mencolek hidung Novia tanpa melihat sekeliling kalau mereka berdua sedang diperhatikan Manda dan Candra.


" Hadeuuh kalian ini sudah berasa dunia milik berdua yang lain ngekost gitu? " sindir Manda karena geli melihat tingkah sepasang kekasih di depannya.


Beres makan Novia menyimpan semua mangkok ke dapur lalu duduk kembali berempat di ruang tamu.


" Kamu janji loh mau cerita sama aku tadi, kalian dari mana tadi? " Novia menagih janji Adrian.


" Kamu serius mau dengar? nanti kamu nyesal loh " mendengar jawaban Adrian Novia memalingkan mukanya.


" Roman romannya ada yang cemburu nih " Candra ikut memanasi.


" Hehee, iya nih Neng Via cemburuan banget sekarang. Ya udah aku cerita sini kalau kamu jauh jauh pas dengar ceritanya nanti kamu nyesel loh "


" Emang cerita apa sih? " Manda dan Candra terlihat penasaran.


Lalu Adrian mulai bercerita semua yang dialaminya tanpa memberitahu kalau dia berniat membeli rumah, dia hanya beralasan mengantar Danu menemui kawannya.


Tak luput diceritakannya ketika melihat penampakan di gapura desa dan bisikan di telinga Adrian. Serta Novia yang sulit di suruh minum ketika di Alun alun.


" Wah ngeri juga pengalaman kamu hari ini ya, ngeri ngeri sedap gitu " ujar Candra.


" Iya gitulah, untung saja tadi sudah dibekali Pak Ustadz " jawab Adrian sambil merangkul Novia.


" Iya ngeri Vi saingan kamu berat hihii " ucap Manda.


" Teh serem banget tawanya " Novia merasa merinding.


" Kalian jangan pulang dulu ya sebelum Paman pulang " pinta Manda.


Adrian dan Candra langsung berpandangan berniat menggoda kedua adik kakak tersebut.


" Pak Candra gak di cari anaknya? " tanya Adrian.


" Tadi udah nanyain kapan pulang, kamu gak ke Resto? " Candra balik bertanya.


" Mau sih bentar lagi " balas Adrian.


Kedua adik kakak itu makin mengeratkan pegangan mereka pada kekasih masing masing.


Candra dan Adrian tersenyum melihat kedua wanita tersebut ketakutan. Tak lama senyum mereka pudar mendengar deru mobil Arif.


Arif sudah ada di pintu masuk Novia dan Manda langsung berlari ke arah pamannya dan bergelayut di lengan kanan kirinya mencari perlindungan.


" Kenapa kalian? " tanya Arif kebingungan melihat dua keponakannya menjadi manja.


" Hehee gak ada Paman " ucap Manda.

__ADS_1


" Kalian berdua kalau mau pulang sana " usir Novia kesal karena tadi mereka serempak menakuti dia dan kakaknya.


" Heheee gak kok, kami masih betah masih cape lah Yang perjalanan jauh dari sana " ujar Adrian sambil memelas.


__ADS_2