
#Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 131 ( Tangisan Bu Murni )
" Pergilah! " kali ini Amah membentak Robi, membuat semua orang yang ada disana melongo.
Robi pun tak kalah kaget, baru sekarang ibunya bersikap seperti itu. Akhirnya Robi menuntun Ayu untuk keluar.
Ketika keluar Robi kaget ternyata banyak orang yang sedang berdiri dan memandang ke arah Robi. Dia menjadi salah tingkah.
" Duh gawat pasti mereka mendengarkan semua pembicaraan di dalam. Bisa malu aku " Robi tertunduk dan melangkah kembali.
" Ada apa ini, ada apa? " suara Pak RT setengah berteriak.
" Huhuuuu " teriak warga.
" Bapak gimana sih, ributnya udah selesai baru datang kayak Polisi Ind*a saja " ucap seseibu yang berdiri sebelah Pak RT.
" Ya maaf tadi saya lagi di toilet lagi nanggung. Eeeeh Ceu Yati malah gedor gedor pintu. Malah jadi keluar gak bisa masuk lagi pun tak bisa " jawab Pak RT sambil memelototi Yati.
" Heheee ya maaf " yang dipelototin malah nyengir kuda.
" Apa sih Pak RT jorok ih " ujar salah satu warga.
" Eh Bi kamu gak apa apa? " tanya Pak RT sama Robi karena melihat Robi memegangi adik kecilnya yang dibawah perut dan Ayu terlihat berantakan.
Robi tersenyum kecut, benar kata warga Pak RT datang ketika semua sudah beres. Percuma.
" Gak apa Pak RT saya mau pulang "
Menyadari wajah Diki yang terlihat kecewa Pak RT jadi tak enak " Maaf saya telat soalnya ada panggilan alam "
" Ya sudah Pak RT saya pulang dulu " Robi berjalan perlahan sesekali dia melihat ke belakang berharap Ibu, Bapak atau saudaranya memanggilnya kembali dan meminta maaf.
Tapi harapannya sia sia Robi pulang hanya di antar tatapan warga dengan tatapan datar.
Akhirnya Robi pergi karena merasa malu sendiri harapannya musnah sudah.
Pak RT pun membubarkan warga yang berkerumun " Bubar bubar bukannya bantuin malah nonton orang ribut husss husss sana sana "
" Huhuuu " sorak warga bersahutan.
" Di kiranya kita ayam gitu "
__ADS_1
" Bukan gak mau bantuin Pak RT udah bosan kitanya dengar mereka ribut "
Jawab warga bergantian, namun tetap saja warga mengikuti perintah Pak RT dan membubarkan diri dari kerumunan.
Selepas Robi pergi dan membubarkan warga Pak RT masuk ke dalam di ikuti Yati. Dia melihat keadaan rumah cukup berantakan. Pak Imam sedang dipijat Ikbal di bagian pundaknya. Bu Murni menangis sesenggukan.
" Ini ada apa? " tanya Pak RT.
" Biasa Pak RT masalah keluarga " sahut Yuyun sambil melihat ke arah Pak RT.
" Ya iyalah masalah keluarga kalau masalah kamu mana mungkin di bahas disini apalagi sampai Bu Murni menangis.
Yuyun melengos kesal mendengar jawaban Pak RT namun yang lain malah terkekeh. Bu Murni saja yang sedang menangis ikut tersenyum.
" Maaf Pak RT keluarga saya membuat warga tak nyaman, ini ada sedikit masalah keluarga.Tapi sekarang sudah beres karena biangnya udah pergi " ucap Diki.
Mendengar perkataan Diki, Bu Murni langsung mendelikan matanya. Kasih sayang untuk Robi masih terlihat jelas.
" Oh begitu ya, maaf Diki saya datang terlambat datang. Tadi pas Yati datang saya baru saja masuk toilet. Kan tanggung ya kan Dik? Tapi warga malah bilang saya Polisi Ind*a katanya masalah sudah beres batu saya datang.
Mereka gak ngerti keinginan perut saya. Kalau sampai kepacirit siapa yang mau bantuin. Iya gak Dik? " Pak RT mencari dukungan karena dia merasa kesal di soraki warganya.
" Iihh Pak RT jorok ngomong yang gitu depan banyak orang. Lagian ya Pak RT bapak emang gitu setiap ada keributan pasti datangnya sesudah kejadian beres kan jadi percuma " sahut Euis tanpa basa basi.
" Ih ogaahh, bauuuu " bantah Euis sambil mengibas ngibas tangannya di depan wajahnya.
" Nah itu makanya gak usah banyak protes kamu. Dik berarti ini sudah aman ya? kalau sudah aman saya ingin melanjutkan yang tertunda ya heheee "
" Iya Pak RT silahkan, maaf kami sudah mengganggu Pak RT " balas Diki.
" Gak apa Dik, ini sudah kewajiban saya sebagai RT disini. Bu Murni, Pak Imam saya pamit ya semoga keluarganya cepat akur kembali heheee. Mari semua " ujar Pak RT sambil menangkupkan kedua tangannya.
" Mari Pak RT " jawab semua kompak.
" Kalian bertiga cepat pulang juga ini sudah malam jangan cari bahan gosip terus. Bukannya bantu kalian nanti malah menambah pusing yang punya rumah " ujar Pak RT pada Yuyun, Euis dan Yati.
Pak RT pun keluar dari rumah Bu Murni tanpa menunggu jawaban dari mereka bertiga.
" Huhhhh dasar usil, gak boleh lihat orang senang " sahut Yati.
Mereka bertiga terdiam tapi dari keluarga Bu Murni tidak ada yang berbicara. Mereka diam dan memandang tiga orang tersebut dengan wajah datar. Membuat ketiganya salah tingkah.
" Ya sudah Yat, Is kita pulang saja yuk. Benar kata Pak RT ini sudah malam " ajak Yuyun pada kedua temannya.
__ADS_1
" Mmhhh ya sudah ayo pulang, semuanya kami permisi ya " Euis menimpali ucapan Yuyun.
Hanya Yati tak berbicara sepertinya ia enggan untuk pulang sampai sampai kedua temannya menarik tangan Yati dan memegangi tangan kanan kirinya.
" Iya Teh, Ceu makasih atas bantuannya ya " balas Diki karena dia pun canggung membicarakan masalah keluarga bila ada mereka bertiga. Karena dia hafal betul bagaimana sifat ketiga orang itu.
Setelah ketiga orang tersebut pergi, di rumah itu hanya tinggal berlima, perlahan mulai terdengar tangisan Bu Murni.
Pak Imam dan anak anaknya saling berpandangan, ingin rasanya mereka tertawa mengingat tadi tangisan Bu Murni sudah berhenti tetapi sekarang kembali terdengar.
" Amah udah deh gak usah drama masa nangisnya kayak sinetron bisa bersambung seperti itu " ujar Diki.
" Iya Mah ngapain nangisin Robi yang jelas jelas sudah bikin kita rugi. Sesayang itu ya Amah sama Robi sampai di tangisi berjam jam jam seperti itu " timpal Cantika ikut merasa jengkel dengan tingkah Bu Murni.
" Harusnya Amah gak usah khawatirin Robi dia sudah dewasa buktinya dia sudah bisa bikin anak. Lebih baik memperhatikan Ikbal si bungsu karena masih butuh perhatian lebih dari Amah " tambah Diki.
" Buat Amah kalian sama saja anak anak Amah. Amah cuma khawatir kalau Robi nggak mau kesini lagi huaaa huaaa " kini tangisnya makin kencang saja.
Membuat Diki dan Cantika bertambah kesal. Ikbal yang sedari tadi duduk di sebelah Pak Imam hanya mendengarkan saja tak mau berkomentar.
" Amah mau ikut Robi biar aku antar sekarang? kenapa sih Amah nangisin dia terus? " omel Cantika.
" Huaaa huaaa " bukannya mereda tangisan Bu Murni malah tambah kencang.
Semua saling berpandangan dan terlihat kesal. Mereka tahu itu cara Bu Murni agar mereka luluh.
" Tika sebaiknya kamu pulang, nanti anak dan suami kamu nyari. Kasihan mereka " Pak Imam mengingatkan Cantika.
" Iya Pak aku mau pulang sekarang, pusing juga lama lama disini lihat yang drama nangis " mendengar sindirian Cantika Bu Murni mendelikan matanya.
Setelah membereskan barang barangnya Cantika langsung mencium tangan Pak Imam dan Bu Murni. Namun Bu Murni terlihat malas dan acuh.
" Kamu mau aku antar Tik? " tanya Diki.
" Tak usah A' kasihan nanti kamu harus bolak balik. Aku pulang A, Bal teteh pulang ya "
Setelah pamit Cantika langsung keluar rumah. Kini mereka tinggal berempat duduk di ruang tamu yang berantakan.
" Bal kita tidur yu udah malam, kunci pintu kamar kamu nanti dengar hantu nangis hahaaa " Ikbal dan Pak Imam tertawa.
" Bapak juga mau tidur ah, seraammm hehee " mereka bertiga berlari menuju kamar masing masing karena melihat Bu Murni sudah siap melempar bantal.
" Dasar anak dan suami gak ada akhlak hiks hiks "
__ADS_1