arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Mencari Pemilik Toko


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 120 ( Mencari Pemilik Toko )


Umi sudah turun ke lantai bawah dan bergabung bersama teman temannya. Cantika masih duduk di dalam bersama ibunya.


" Mah, aku akan menyelesaikan semuanya. Aku minta tolong sama Amah jangan dulu ikut campur karena akan mempersulit semuanya " pinta Cantika pada ibunya.


" Maksud kamu gimana Tik, Amah gak ngerti? " Bu Murni mengernyitkan keningnya.


" Amah mau masalah kita cepet bereskan? nah aku minta Amah biarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku harus selidiki semuanya. Dan aku minta Amah gak berbicara apapun pada Ayu dan Robi sekalipun "


" Kok gitu sih Tik? "


" Kalau Amah gak mau biar Amah selesaikan sendiri saja. Aku gak mau tahu "


" Jangan gitu dong, Amah mana bisa beresin ini. Cuma aneh aja kenapa Robi dan Ayu tak boleh tahu "


" Nanti juga Amah tahu, aku masih menebak saja. Aku cuma minta itu aja Mah. Amah jangan bicara apa pun kalau di tanya bilang aja gak tahu dan bilang Umi gak ngomong apa-apa. Amah ngerti kan maksud aku? "


Cantika memperjelas permintaannya. Karena dia tahu sikap ibunya itu berbeda pada Robi. Andaikan kecurigaannya benar dia ingin mencari bukti terlebih dahulu.


" Iya deh Amah ikutin mau kamu " akhirnya Bu Murni setuju dengan permintaan Cantika.


" Ya udah kita turun sekarang, awas Amah lupa janji tadi "


" Amah gak akan lupa " wa


Mereka berdua langsung turun kebawah bersama sama. Lagi Cantika melihat hal yang mencurigakan, Ayu sedang bersama Umi, dari pergerakannya Ayu melihat Umi sedang di intimidasi Ayu.


" Ekheemm, kenapa Yu? " Cantika mendekati Ayu yang sedang berbicara pada Umi.


Umi langsung menarik nafas berasa mendapat udara segar.


" Eh gak apa Teh, aku lagi nanya Umi tadi gimana kelanjutannya. Iya kan Mi? " pandangan Ayu langsung mengarah ke Umi dengan mata melotot.


" I-iya Teh " jawab Umi sambil menunduk.


Cantika tak berniat bertanya lagi dia memilih keluar dari toko.


Melihat Cantika yang sudah keluar dari toko Ayu bicara lagi pada Umi " Awas kalau kamu ngadu "


Umi tak menjawab hanya balik menatap pada Ayu dengan tatapan yang sulit di artikan.


Ada hal yang tak Ayu sadari, ketika Ayu mengancam Umi ada Bu Murni yang melihat dari atas. Tapi dia tak menegur atau bertanya karena sudah berjanji pada Cantika untuk tidak ikut campur.

__ADS_1


Hanya saja ada pikiran melintas di kepalanya. Apa maksud Ayu mengancam Umi agar tak berbicara atau mengadu pada orang lain. Dan masalah apa yang menantunya sembunyikan. Apa karena hal ini Cantika meminta supaya tak berbicara apapun dan pada siapapun.


Bu Murni memalingkan mukanya pura pura tak melihat ketika Ayu selesai berbicara dengan Umi.


" Amah " Ayu memanggil mertuanya.


" Ada apa? " Bu Murni melihat ke arah suara menatap datar Ayu.


" Tadi kata Umi apa Mah? " tanya Ayu sambil bergelendot di tangan ibu mertuanya.


" Gak ada dia gak ngomong apa apa " kali ini mertuanya menjawab sambil memalingkan wajahnya.


" Amah kenapa ya kok beda banget, dingin gitu jawabannya " gumam Ayu dalam hati.


" Umi gak jawab kenapa itu temboknya bolong bolong? atau Umi bicara apa gitu sama Amah dan Teh Cantika " Ayu masih penasaran apalagi melihat mertuanya sikapnya berubah.


" Kalau Amah bilang gak ada ya gak ada kamu ngeyel deh. Udah ah Amah pusing mau pulang dulu "


Bu Murni berjalan menuju meja kasir untuk mangambil tasnya meninggalkan Ayu yang terlihat keheranan.


Ayu langsung kembali menghampiri Umi dengan mata melotot.


" Hehhh tadi kamu bicara apa? kenapa mertuaku berubah sikap apa kamu jelek jelekin aku? " tanya Ayu pada Umi.


Umi yang sedang bekerja kaget dengan kedatangan Ayu dan membentaknya, lama lama dia kesal juga dengan sikap Ayu yang sok.


Saya orang asli sini dan kamu di sini karena jadi menantu Bu Murni. Kamu mau saya hasut Ibu-ibu supaya musuhin kamu biar kamu tahu rasa? "


Melihat perlawanan Umi nyali Ayu menjadi sedikit ciut, apalagi harus menghadapi Ibu-ibu tetangga yang rese. Tapi Ayu masih gengsi mengakui ketakutannya dia kembali mengancam Umi.


" Kamu pikir saya takut, saya pecat mau kamu? " ancam Ayu.


" Terus kamu pikir saya takut? toko ini pun bukan modal kamu. Kamu kira saya gak tahu gosip soal toko ini. Malah saya tahu semua kebusukan kamu sama suami kamu. Di pecat jadi mantu baru tahu rasa kamu " balas Umi tak kalah garangnya dengan Ayu.


Deghhh


Ayu terhenyak mendengar ucapan Umi, dia langsung melihat sekeliling takut mertuanya atau kakak iparnya mendengar ocehan Umi.


" Sial*n dia berani ngancam, pasti dia tahu soal tembok itu. Duh gawat ini apa aku harus baik baikin dia ya? " Ayu membatin kemudian dia langsung mengurut pangkal hidungnya.


" Pusing kan? makanya jangan ganggu saya. Apalagi bikin saya marah. Kemarin saya gak ladenin kamu karena ngehargain Bu Murni. Tapi sekarang Noooo " Bentak Umi lalu melanjutkan pekerjaannya.


" Eh si*l amat nih orang pusing aku. Mending aku telepon A'Robi aja deh " batin Ayu.


Dari kejauhan Bu Murni terus memperhatikan, obrolan mereka tidak terdengar tapi dari kejauhan dia melihat Ayu dan Umi bersitegang.

__ADS_1


Setelah berdiri agak lama Bu Murni langsung berjalan menuju keluar dan mencari ojeg pangkalan.


Untung saja dia langsung mendapatkan ojeg jadi tidak lama lama berpanas panasan. Ketika ojeg melaju dia melihat Cantika sedang mengobrol dengan salah satu pemilik toko jajaran toko mereka.


" Tika lagi apa ya? mau turun nanggung. Sudahlah biar nanti aku telepon aja malas turun lagi "


***


Turun dari lantai dua Cantika berpikir bagaimana caranya berbicara dengan pemilik gedung ini. Karena yang menjadi penghubung dengan pemilik gedung ini hanya Robi. Bahkan nomor ponselnya pun Cantika tidak memilikinya.


Semua di pegang Robi, awalnya Cantika tidak mempermasalahkannya. Tapi karena kejadian ini dia ingin berbicara dengan pemilik gedung tersebut. Belum lagi rasa penasaran tentang kalung Ayu yang belum terjawab.


Apa benar itu uang gaji honorer Robi atau jangan jangan yang dicurigainya itu benar adanya kalau Robi korupsi menilap uang sewa. Andaikan benar Robi korupsi rasanya keterlaluan sekali.


Cantika keluar dari toko meninggalkan Ibunya dan Ayu yang kepo pembicaraan di atas. Dia memasuki beberapa toko di sebelahnya dan mencari informasi mengenai pemilik bangunan yang disewanya.


Semoga saja dia mendapat hasil yang di harapkan mendapat nomor ponsel atau rumah pemilik bangunan tersebut.


Sudah dua toko dia masuki tapi belum ada yang tahu siapa pemilik toko ini karena rata rata mereka pun menyewa bangunan tersebut.


Di toko ke tiga Cantika masuk dia menemui salah satu pelayan " Teh ada pemilik tokonya gak? " tanyanya pada seorang pelayan wanita.


" Ada Teh, ada perlu apa? " wanita tersebut bertanya balik.


" Saya ada perlu sebentar "


" Baiklah saya panggilkan dulu " jawab si pelayan dengan ramah.


Tak lama pelayan tersebut datang bersama wanita paruh baya dan menghampiri Cantika.


" Iya ada apa Teh, ada yang bisa saya bantu? "


" Ibu perkenalkan saya Cantika pemilik toko baju yang baru tiga toko dari sini. Saya mau tanya kira kira Ibu tahu siapa pemilik gedung itu atau mungkin Ibu memiliki nomor kontaknya? "


" Mmhhh toko yang sebelah toko kain ya, itu pemiliknya Pak Dibyo rumahnya di jalan xxxx. Kalau no ponselnya saya tidak tahu Teh "


Mata Cantika langsung berbinar " Oh iya Bu terima kasih, saya langsung ke rumahnya saja "


" Apa ada masalah? " wanita itu kembali bertanya.


" Cuma mau silaturahmi Bu makasih buat informasinya "


" Sama-sama"


Setelah berpamitan Cantika segera keluar dia senang karena usahanya tidak sia sia. Sekarang tinggal berpikir bagaimana caranya untuk datang ke rumah Pak Dibyo.

__ADS_1


" Robi, sebentar lagi kita tau kebenarannya " senyum Cantika menyeringai.


__ADS_2