arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Bertemu Pemilik Bangunan Toko


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 123 ( Bertemu Pemilik Bangunan Toko )


Sore sudah tiba Diki sudah janjian dengan Cantika untuk mencari alamat pemilik bangunan toko yang Cantika sewa.


Dia menunggu di luar gerbang agar memudahkannya ketika Cantika lewat dia langsung bisa pergi. Motornya sengaja di tinggal di parkiran pabrik.


Tiinn Tiiiinn


Akhirnya Cantika tiba Diki langsung berlari ke arah mobil Cantika dan masuk ke dalam mobil. Mereka bertukar posisi kini Diki yang menyetir mobil tersebut.


" Kemana kita? " tanya Diki setelah mobil melaju dan meninggalkan kemacetan yang biasa terjadi di kala jam bubaran kerja di pabrik tempat Diki bekerja.


" Ke jalan Kenangan A' katanya pemiliknya tinggal disana. Aku juga sudah diberi nomor ponselnya tapi belum tersambung. Aku gak berani A' ke rumahnya sendirian makanya minta antar "


Memang benar yang dikatakan Cantika sebaiknya Cantika tidak pergi sendiri ke tempat yang belum pernah di datanginya, Diki pun setuju maka tanpa rasa keberatan ketika Cantika memintanya untuk mengantar ke rumah pemilik bangunan tersebut.


" Menurut kamu apa benar si Robi nilep uangnya? "


" 80% aku yakin A' sekarang tinggal mastiin aja. Daripada kita nerka nerka. Sekalian aku mau komplain soal kerusakan toko udah mah sewanya mahal bangunannya jelek lagi " jawab Cantika.


Dari suaranya saja Diki bisa menebak Cantika sangat kesal, ya wajar saja karena uang tersebut jumlahnya besar bukan sekedar 100 atau 200 ribu.


" Andaikan benar si Robi nilep uangnya kamu mau ngapain? "


" Aku minta ganti lah, kalau perlu aku ambil kalung si Ayu dengan paksa " dengan suara berapi api Cantika menjawab pertanyaan kakaknya.


" Sebaiknya kamu hati hati juga tentang operasional toko, perasaan aku tak enak pas tahu si Ayu pegang kasir dan si Robi bagian pembelian " sambil menyetir sekali kali melihat wajah adiknya yamg terlihat kesal.


" Awalnya aku gak mau A' tapi Amah maksa. Walau gimanapun uang modal kan berasal dari sertifikat Amah yang digadaikan jadi aku harus tetap mempertimbangkan permintaan Amah "


Alasan Cantika cukup masuk akal, Diki tak bisa mendebatnya. Sekarang hanya tinggal mencari bukti akan kecurigaan mereka.


" Saran aku ya sebaiknya kamu cek semua bon pembelian dan penjualan dan di audit langsung sama kamu. Kasihan Amah kalau toko ini sampai bermasalah. Ya kecuali kamu mau tanggung jawab sampai lunas " Diki tersenyum miring.


" Aiihhh duit darimana cicilanku saja banyak masa mau di tambah cicilan Amah sih " tolak Cantika.

__ADS_1


" Eh kamu gak bisa bilang gitu, andai kalian gak maksa aku yakin Amah tak akan mau menggadaikan sertifikatnya. Aku tahu persis Amah orangnya seperti apa "


Cantika langsung terdiam dia akui apa yang Diki ucapkan memang benar.


" Ok aku akui aku ikut andil tapi yang punya ide kan si Ayu dan si Robi " bantahnya tetap tak terima.


" Ah kalian sama saja, udah kamu gak usah mendebat. Aku mau kamu selesaikan semuanya. Jangan sampai sertifikat itu melayang. Atau aku akan minta bagianku dan Ikbal pada kalian " ancam Diki pada adik perempuannya.


" Maksudnya apa? " Cantika memicingkan matanya.


" Kamu tuh jangan pura pura tak mengerti, rumah itu pasti bagian kita berempat. Bukan aku mendo'akan hal buruk pada orang tua kita. Tanpa bicara panjang lebar kamu pun pasti mengerti "


Cantika faham maksud Diki rumah itu warisan untuk mereka berempat.


" Tapi kamu sudah kenyang dengan tinggal disana, harusnya bagianmu berkurang " jawab Cantika ketus.


" Aku juga memberi uang pada Amah lebih besar darimu bahkan jika dihitung melebihi pemberianmu walaupun aku tinggal disana.


Kamu lupa waktu aku masih bersama Novia bahkan gajiku lebih besar diberikan pada Amah. Dan tanpa sadar kalian ikut menikmatinya "


Diki mulai merasa jengkel sampai dia mengeluarkan semua unek unek di hatinya. Dan sekarang dia merasa diperlakukan tak adil oleh ibunya.


" Salah siapa juga kalian berani menggadaikan sertifikat tanpa meminta izin Bapak. Harusnya Bapak dimintai pendapat kalian yang tidak sopan melangkahi Bapak " bentak Diki.


Suasana di mobil mulai terasa panas. Dalam hati Cantika dia mengakui kesalahannya tapi dia tak mau disalahkan sepenuhnya hingga tak menerima semua ucapan kakaknya.


" Kamu niat gak sih nganter aku, gak usah ngajak ribut deh pake nyalah-nyalahin aku segala " karena kalah debat Cantika menjadi marah.


" Kalau aku gak niat aku sudah berada di rumah sekarang tiduran di ranjang sambil nonton TV, aku hanya mengingatkan kewajibanmu. Ingat ada hak orang lain "


Ckiitttt


Mobil di rem mendadak dan sudah berada di tepi jalan. Cantika sampai terlonjak kaget karena tingkah kakaknya.


" Kita sudah sampai " ucap Diki datar tanpa ekspresi membuat Cantika menelan ludahnya kasar. Setelah dibuat kesal sekarang jantungnya dibuat olah raga dengan decitan rem mobilnya.


" Huuffttt " Cantika mencoba menetralkan hati dan pikirannya dengan menarik nafas dalam dalam.

__ADS_1


Mereka turun dari mobil dan menuju rumah berlantai dua dengan gaya minimalis sesuai alamat yang dibawa Cantika.


" Ini benar ya nomornya, aku bel dulu "


Beberapa kali memijit bel akhirnya seorang wanita paruh baya datang mendekati Cantika.


" Cari siapa ya Mbak? " sepertinya ART rumah tersebut yang bertanya.


" Maaf Bu saya mau ketemu Pak Dibyo, bisa gak Bu? " tanya Cantika.


" Mbak ada keperluan apa? Bapak lagi sakit "


" Saya mau bicarakan soal sewa ruko yang di jalan xxxx Bu "


" Oh baiklah paling Mbak bicara sama istrinya saja ya. Nanti saya bicara dulu sama Ibu " Cantika mengangguk.


ART tersebut langsung masuk ke dalam dan tak lama kemudian datang lagi mempersilahkan Diki dan Cantika untuk masuk.


Rumah tersebut terlihat lebih besar karena ternyata lebih luas dari kelihatannya. Foto keluarga terpampang rapih ada beberapa foto yamg menampilkan ketika mereka di wisuda.


Dari sini bisa dilihat bahwa keluarga ini sangat memperhatikan pendidikan. Membuat Cantika berpikir ulang untuk memaki pemilik bangunan toko yang disewanya. Karena berpikir orang seperti mereka tidak mungkin menipu.


Kedua adik kakak itu tak terdengar suaranya sepertinya mereka masih marah dan masing masing tak mau mengalah.


Beberapa menit menunggu akhirnya datang seorang wanita paruh baya seumuran ibu mereka. Namun masih terlihat cantik karena terlihat modis dan sangat memperhatikan penampilannya. Dan wajahnya ada di beberapa bingkai foto.


" Selamat sore, ada yang bisa saya bantu " ujarnya sambil mengulurkan tangan mengajak Diki dan Cantika bersalaman.


" Sore Ibu, maaf mengganggu waktunya. Saya ada sedikit keperluan untuk membahas soal bangunan toko yang saya sewa di jalan xxxxx " balas Cantika dengan lembut.


Dalam hati Diki ingin tertawa melihat Cantika yang tiba tiba menjadi ramah padahal awalnya dia ingin memaki pemilik bangunan karena telah menipunya.


" Oh iya Mbak apa ada masalah? seingat saya bangunan itu di sewa beberapa bulan yang lalu. Katanya untuk dijadikan toko, bahkan saya memberikan uang untuk renovasi karena seingat saya bangunan itu lama kosong " papar wanita tersebut.


Mendengar penjelasannya Cantika langsung membeku, perasaannya mulai tak enak.


" Saya memberikan sewa per tahun 15 juta dan katanya di sewa untuk 2 tahun. Tapi saya sedikit kecewa karena penyewa meminta biaya perbaikan padahal saya sudah memberikan harga murah supaya tak mengeluarkan biaya renovasi " terang wanita tersebut panjang lebar.

__ADS_1


" Apa 15 juta per tahun? " mata Cantika membulat dengan mulut menganga.


__ADS_2