arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Motor Baru


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 61 ( Motor Baru )


Yati dan Yuyun keluar sambil menggerutu " Huhh Bu Murni itu nyebelin bukannya makasih malah ngusir kita "


" Dia emang gitu, biarin sajalah. Eh Yat emang beneran Novia mau beli mobil? " tanya Yuyun.


" Ngga tau lah aku kan cuma ngarang aza buat manas manasin mertuanya. Kamu lihat kan tadi dia kesal banget malah kelihatan kayak mau nangis hahaaa "


" Lah kamu bisa saja Yat, emang kamu tuh partner yang pintar "


" Iya dong Yatiiii gitu loh " dengan bangganya Yati berucap bahkan sambil menepuk dadanya.


" Kamu lihat gak tadi si Diki dicubit Ibunya? "


" Iya itu kan pas kamu muji muji Novia, terus si Diki kelihatan senang. Emaknya malah gak suka. Emang benci banget dia sama menantunya itu "


" Iya gak ngerti aku, padahal Novia baik ya. Aku aza kalau pinjam duit sering dikasih. Bahkan anakku sering dikasihnya jajan pas ketemu di warung "


" Lah kamu jangan jangan punya hutang sama dia terus belum dibayar "


" Emang hahaaaa "


" Huuhhh kamu selain tukang gosip ternyata tukang ngutang juga, belum hutang di warung Ceu Juju. Lama lama julukan kamu berubah dari ratu gosip jadi ratu ngutang "


" Dan kamu adik ratu tukang ngutang, kan kamu juga sama tukang ngutang. Malah kita ngutangnya bareng bareng "


" Hahaaaa " Mereka tertawa berbarengan.


Hidupnya seakan tanpa beban. Sampai sampai mengundang orang disekelilingnya untuk melihat mereka berdua yang sedang tertawa.


****


Beres merapikan peralatannya Diki langsung masuk kedalam berniat membersihkan diri.


" Jadi gimana Ki kamu jadikan ambil motor barunya "


" Amah ini gimana sih, aku kan baru beres rapihin motor. Belum juga ada 10 menit Amah udah nanya lagi. Gak sabaran amat sih. Kasih istirahat dulu kek "


" Bukan gitu, Ki. Amah butuh kepastian kamu aza. Coba kamu bayangin andaikan kamu pakai motor baru bagus lagi.


Orang orang di pabrik pasti gak akan menyepelekan kamu lagi. Apalagi gara gara kejadian kemarin yang pas Novia ambil motor kamu, apa kamu gak malu?


Kalau Amah jadi kamu ah udah lah gak tau deh mau gimana "


Diki terdiam mencerna ucapan Amah. Bu Murni pun tampak senang ternyata pancingannya berhasil.


" Bener juga yang Amah bilang gara gara kejadian kemarin Satpam aza sampai merendahkan aku. Belum lagi orang orang pada bilang aku pake barang istri kelihatan kerenya " dalam hatinya dia berbicara.


" Iya udah aku ambil motor baru, tapi apa gak sebaiknya Amah bayarin motor aku terus nanti dicicil sama Robi bayar ke Amah. Biar uang dari Amah aku bikin buat DP motor baru "


" Yeahh kalau ada mah udah Amah bayarin. Tapi nggak ah nanti si Robi gak mau nyicil dia kan mau nya gratisan terus "


" Tuh Amah tau sendiri wataknya, terus nanti kalau misal nyicil emang Amah mau bayar cicilan motor si Robi? "


" Soal itu mah gampang suruh aza kreditnya atas nama dia biar nanti di bayarin sendiri ma dia "


Walaupun berkata demikian tapi masih terlihat kalau Bu murni tak yakin dengan apa yang diucapkannya.


" Amah yakin? kok mukanya gak yakin gitu. Nanti kalau Robi merajuk Amah bayarin juga "


Diki meledek Ibunya yang sering kalah kalau Robi sudah memohon dan merajuk.


" Gak lah, suruh saja dia minta mertuanya beres kan "

__ADS_1


" Baguslah, tapi aku ingetin yah kalau aku jadi ambil motor jatah Amah bakal berkurang banyak jadi jangan ngomel.


Terus aku gak mau tahu soal cicilan motor Robi. Kita punya kebutuhan masing masing "


" Iya iya serahlah, Amah mau nyuruh si Robi kesini sekarang. Kamu juga jangan lupa kosongin rumah kamu sebagai ganti jatah dari kamu yang bakal dikurangi "


Bu Murni mengiyakan syarat dari Diki, fikirnya kalau ada masalah gimana nanti sajalah.


Lagipula dia tak terlalu khawatir karena akan mendapat uang sewa dari rumah yang akan dikosongkan Diki. Yang penting sekarang jadi dulu punya motor baru.


Untuk membuktikan pada orang orang bahwa keluarganya mampu dan tidak bisa di anggap remeh.


" Ngapain Amah panggil dia sekarang motornya saja belum dijual jadi uang DP nya belum ada "


" Kalau itu gampang, motormu sudah ada yang minat. Nanti orangnya kesini "


" Emang udah di tawar-tawarin Mah, kapan? "


" Oh sudaah dong. Temen Amah yang mau beli buat anak perempuannya. Gak usah tahu kapannya yang penting cepat laku "


" Gercep amat sih kalau ada maunya " Diki memanyunkan bibirnya sambil menggerutu.


Dia tetap merasa heran dengan kebiasaan Ibunya, kalau ada maunya pasti tak bisa dibantah.


Diki tak sadar dengan kelemahannya yang selalu menuruti kemauan Ibunya, menyebabkan rumah tangganya terancam bubar.


" Kapan temen Amah datang kesini buat lihat motornya ? "


" Satu jam an lagi lah dia datang "


" Hahhh Amah serius? ya ampun pantesan maksa maksa dari tadi " kali ini Diki menggelengkan kepalanya.


Ibunya hanya terkikik melihat anaknya yang menggelengkan kepalanya karena keheranan melihat tingkahnya.


***


Tamunya bahkan datang bertiga seorang Bapak dan Ibu yang seumuran orang tuanya dan wanita berusia sekitar 23 tahunan.


Mereka terlihat jalan kaki, kebetulan Diki melihatnya ketika baru kembali dari rumahnya yang ditempati bersama Novia.


Sesuai dengan permintaan Amah Diki harus mengosongkan rumah itu agar bisa disewakan pada orang lain.


Jadi walau Diki mengurangi jatahnya, Amah masih dapat penghasilan dari uang sewa rumah tersebut.


" Assalammu alaikum "


Tamu tersebut mengucap salam depan pagar Ibunya. Diki yang hendak masuk rumah menjawab salamnya dan langsung bertanya.


" Waalaikum salam, Bapak sama Ibu cari siapa? "


" Saya mencari Bu Murni " jawab wanita yang seumuran Ibunya itu.


" Oh iya ada Bu, mari masuk "


" Makasih dek " mereka pun masuk ke dalam.


" Silahkan duduk dulu Pak, Bu saya cari Amah dulu. Perkenalkan nama saya Diki anak Bu Murni yang paling besar " Diki mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Mereka pun membalasnya dan bersalaman. Ada satu yang menarik perhatian Diki, anak perempuan yang sepertinya anak dari tamunya itu terus saja memandang Diki dengan pandangan penuh selidik. Sampai sampai Diki merasa risih.


" Oh ini ya yang namanya Diki, Bu Murni sering cerita tentang nak Diki. Saya kesini mau lihat motor "


" Oh iya boleh Bu, itu motornya ada di teras. Saya panggil Amah dulu ya "


Diki pun mencari Ibunya yang sedang berada di lantai 2.

__ADS_1


" Mah ada yang nyari katanya pengen lihat motor "


" Oh itu Bu Siska, udah Amah tungguin dari tadi. Ayo kita temuin "


Mereka pun turun untuk menemui tamu. Diki dan suami Bu Siska melihat lihat motor Diki sambil mengecek kondisinya.


Setelah selesai mereka masuk kembali ke dalam rumah.


" Gimana motornya cocok Pak?" tanya Bu Siska.


" Motornya masih bagus Bu, tapi kita tanya Nuri dia mau gak motornya? "


" Gimana Nur? " tanya Bu Siska.


Nuri anak dari Bu Siska tidak menjawab pertanyaan Ibunya dia malah tak melepaskan pandangannya dari Diki.


" Nur Nuri " Bu Siska kembali memanggilnya.


Semua mata tertuju pada Nuri, Diki saja sampai heran mengapa perempuan bernama Nuri itu memandanginya terus.


Setelah beberapa kali dipanggil akhirnya Nuri menjawab namun hanya dengan sebuah anggukan dan senyuman yang samar.


" Ternyata anak saya suka Bu Murni, saya jadi membelinya ya dengan harga yang Ibu minta. Saya tak akan menawarnya "


Bu Murni pun tampak senang apalagi ketika melihat uang yang dikeluarkan Bu Siska dari tasnya.


" Oh alhamdulillah kalau cocok, duh kalau orang kaya yang beli beda ya. Gak pernah nawar " Pujinya sambil tersenyum.


" Ok deal ya Bu, motornya mau saya bawa sekarang "


" Boleh boleh Bu, nanti bawanya gimana Bu? " tanya Bu Murni.


" Saya bawa mobil di parkir di depan gang. Nanti saya sama Nuri pake mobil biar suami saya yang bawa motornya " ucap Bu Siska.


" Aku mau bawa motornya tapi dianter Mas Diki " tiba tiba Nuri mengeluarkan suaranya.


Semua langsung melihat ke arah Nuri. Diki pun heran dengan permintaan Nuri.


" Gak bisa Nur, Mas Diki sibuk. Jangan ngerepotin orang ah " ujar Bu Siska terlihat malu.


" Ngga apa apa kok Diki gak lagi sibuk, iya kan Ki? " Bu Murni yang langsung menjawabnya.


Bahkan dia sambil mencubit pinggang Diki sampai Diki meringis.


" I- iya Bu " jawab Diki sambil senyum terpaksa.


" Tuh kan Bu gak papa "


" Ya sudah kalau gitu, maaf ya merepotkan "


Nuri langsung tersenyum lebar, berbeda dengan Diki dia nampak kesal namun disembunyikan di depan tamunya.


Setelah Bu Murni menerima uangnya, Bu Siska pun pamit pulang. Dia pergi terlebih dahulu bersama suaminya. Sedangkan Diki akan berboncengan dengan Nuri.


Nuri sudah menunggu di teras, Diki protes pada Ibunya " Amah apa apaan sih, aku malas tahu "


" Gak papalah sebentar yang penting motor baruuu " sambil dikibas kibas kan uang yang tadi diterimanya.


Diki langsung mendengkus lalu merebut uang yang ada di tangan Bu Murni


" Biar aku yang pegang, ini uang hasil penjualan motorku. Kalau Amah yang ngatur bisa kacau "


" Iihh kamu gak sopan " Bu Murni mau mengejar tapi Diki keburu keluar akhirnya urung mengejar karena banyak tetangga yang nongkrong takut jadi perhatian.


Diki pun keluar menaiki motor disusul Nuri yang duduk dibelakang Diki. Sontak pemandangan itu menjadi perhatian para tetangga yang sedang berkumpul.

__ADS_1


" Pittuwwiiiww "


Yati langsung bersiul kencang melihat adegan bak Romi dan Yuli karena Nuri melingkarkan tangannya ke perut Diki.


__ADS_2