
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 52 ( Pertengkaran di Pabrik )
" Vi mau aku anter gak? " Manda duduk bergabung untuk sarapan.
" Ngapain? A'Diki gak akan berani macam-macam di pabrik tenang saja "
" Bukan Diki, ngapain ngurusin dia. Teteh pengen ketemu Pak Candra " ucap Manda sambil menaik turunkan alisnya
" Uhuk uhuuk " Novia sampai tersedak mendengar ucapan Manda.
" Jadi ada yang lagi kasmaran nih " Arif ikut menimpali obrolan mereka. Bu Atikah hanya tersenyum.
" Ya aku juga gak mau jomblo lama lama lah, Paman juga udah ada tante Fayza. Bentar lagi kita bakal hajatan nih " Arif hanya tersenyum mendengar perkataan Manda.
" Iri bilang boss " ujar Bi Nania.
" Hahaaa " semua orang tertawa.
" Mending teteh anterin anak anak sekolah, biar Ibu di rumah. Teh emang gak masalah kerjaan teteh di tinggal lama-lama? "
" Gak lah Teteh udah koordinasi sama Bos malah mau minta dimutasi kesini supaya deket calon ipar kamu "
" Ih niat banget hahaa. Ya sudah aku do'akan supaya berjodoh " Novia hanya bisa tersenyum melihat kesungguhan kakaknya.
" Neng bareng paman saja, kebetulan paman ada perlu dan searah dengan pabrik kamu " Arif mengajak Novia untuk berangkat.
" Iya, Bu nitip anak anak ya. Mereka masih di kamar Neng harus pergi nyubuh biar gak kesiangan " diciumnya tangan Bu Atikah.
" Teh hari ini aku mau ambil motorku yang dipakai A'Diki aku pinjam gembok ya, do'akan supaya lancar " Novia berbicara seraya mengambil gembok yang ada di garasi.
" Wooww sudah bernyali si neng geulis ini, kenapa gak dari kemarin kemarin. Butuh pengawalan gak? " Manda berbicara sambil cengengesan.
" Aku tahu niat teteh bukan untuk bantu aku paling pengen nyari Pak Candra "
" Hahaaa sudah ketahuan rupanya, ya sudah hati hati kalau ada apa apa langsung kabarin ya. Salam buat Pak Candra " dengan wajah tanpa dosanya Manda terus saja menggoda Novia.
" Keukeuh banget, ya sudah aku berangkat sekarang. Paman sudah nunggu " Novia melambaikan tangannya pada Manda.
Novia duduk di sebelah Arif, mereka berangkat memakai mobil membelah jalanan yang masih sepi.
" Neng gimana warung mertuamu sudah ada yang minat? " Arif membuka percakapan mereka.
" Sudah paman, Bu Ningsih bersedia membeli tapi dia meminta waktu satu minggu untuk menyiapkan uang.
Aku juga udah sewa ruko di dekat gerbang komplek DP nya sudah kuserahkan kemarin "
" Baguslah kalau begitu, emang ada rencana usaha apa?"
" Aku mau buka toko pakaian online ofline sesuai hobiku dulu. Nanti aku bakal tinggal disana. Kalau untuk Ibu bebas mau di Emah atau ikut aku kan jarak rumah dan ruko juga dekat " Arif hanya mengangguk angguk.
" Kalau kamu mau usaha pakaian, Tante Fayza punya kenalan konveksi yang menyediakan pakaian. Harganya murah murah karena tangan pertama. Dia produksi sendiri "
" Bagus itu paman nanti aku minta kontak tante Fayza mau nanya nanya ya "
__ADS_1
" Gampang itu, tuh neng kamu sudah sampai. Cepatan turun nanti telat " tak terasa karena mengobrol Novia sudah tiba di tempat kerja.
" Ya, aku duluan ya paman. Hati hati di jalan jangan lupa kirim kontak tante Fayza " Novia mencium tangan Arif lalu turun dari mobil.
Turun dari mobil dia segera masuk gerbang, dilihatnya motor Diki belum datang.
" Belum datang rupanya, nanti lah balik lagi kesini buat ngegembok motornya " Novia bergumam sembari berjalan menuju ruangannya.
" Teh udah denger gosip belum? " baru juga duduk Novia sudah diberondong pertanyaan dari Lori.
" Gosip apa Ri pagi pagi gini, yang ada sarapan bukan gosip "
" Issshh si Teteh, di gedung lain udah santer beredar ada yang lihat Teteh jalan sama Bapak Auditor. Awas Teh Pak Diki denger nanti bisa ribut. Mana lagi ada masalah "
" Udah telat Ri dia udah tahu, malah tadi malam ngamuk di rumah. Mana ada Pak Adrian "
Mendengar itu Lori langsung membulatkan matanya " Waahh yang bener teh? tapi bentar kok bisa ada Pak Adrian di rumah. Jangan bilang Teteh beneran jalan sama Pak Adrian "
" Hehee gak lah, kemarin tuh kan Teteh dijemput kakak nah dia ketemu Pak Adrian jadi diundang datang ke rumah. Kebetulan orang di rumah bikin pesta kejutan buat Teteh "
" Oh ya ampun lupa kemarin kan Ultah Teteh. Aduh maafkan ya Teh kok bisa lupa. Selamat Ultah Teh " Lori berdiri dari duduknya dan menyalami Novia tidak lupa cipika cipiki khas anak Abg.
" Mana dong cake nya hehee "
" Kaleum, udah siap nih Teteh bawain " Novia mengeluarkan tupperware yang berisi kue dari tasnya.
" Makasih Teteh " Lori langsung memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya.
" Bentar kok kakak Teteh bisa kenal Pak Adrian? " Lori kembali bertanya karena masih merasa penasaran akan hubungan mereka.
" Ya Sallam kok aku bisa ketinggalan berita. Pantesan pas pertama ketemu kalian kelihatan canggung. Terus terus gimana? "
" Terus terus, ya terus kerja lah. Pengen kena omel Pak Candra kalau kita ngobrol terus "
" Ahahahaa iya ya. Ayolah kita kerja nanti kita ngobrolin mantan Teteh yang cakep itu. Jauh banget Teh sama Pak Diki kok bisa Teteh kecantol " Lori bergumam namun terdengar Novia.
Novia hanya tersenyum, dalam fikirannya mungkin sudah takdirnya bertemu Diki dan berumah tangga dengan Diki.
** Pukul 16.30
Bel pulang sudah berbunyi semua bersiap pulang, tidak terkecuali Diki. Dia pun bergegas pulang, berjalan menuju parkiran.
Kemudian dipanaskannya motor dan bersiap melaju.
Duk duk
" Kenapa ini motor kok gak bisa maju?" Diki bergumam.
" Pak itu gemboknya belum dibuka " ujar salah seorang teman Diki.
" Gembok, saya gak pernah ngegembok motor kok " Kemudian dia berjongkok, ternyata benar ada gembok di velg motornya.
" Ah sial siapa sih yang iseng gak ada kerjaan, ya sudah saya mau nanya security dulu ya " Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju ke Pos Satpam.
" Pak, kok motor saya ada yang ngegembok ya. Masa sih ada yang iseng "
__ADS_1
" Di gembok gimana Pak? mana mungkin ada orang iseng " jawab Satpam yang sedang bertugas di posnya.
" Ya sudah Bapak lihat sendiri " mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran.
" Tuh Pak lihat kan motor saya digembok, padahal saya gak pernah menggembok motor saya " Diki menunjukan gembok yang ada di motornya.
" Wah iya siapa ya Pak, saya gak lihat ada orang asing yang datang kesini kok "
" Lah terus siapa yang menggemboknya " Diki berkacak pinggang melihat motornya.
" Saya, saya yang menggemboknya " tiba tiba Novia datang mendekati mereka berdua.
" Loh Bu Novia, nah ini Bu Novia katanya Pak yang menguncinya " ucap Satpam tersebut merasa lega karena sudah tahu pelakunya.
Diki langsung emosi dan mengepalkan tangannya melihat Novia datang. Dia masih ingat kejadian semalam ditambah motornya digembok tanpa izin.
" Maksud kamu apa menggembok motorku? "
" Motor kamu? gak salah kamu ngomong. Itu motorku, uang yang dipakai untuk membelinya itu uangku.
Bahkan BPKB dan STNK nya pun atas namaku. Kamu hanya pinjam ya PINJAM " Novia menekan kata kata terakhir supaya Diki tahu diri.
Orang orang disekeliling pun langsung melihat ke arah mereka.
" Gak bisa ini motorku " Diki berkeras mengakui itu motornya.
" Apa bukti kalau itu motormu? kamu hanya memakainya karena kita serumah. Tapi sekarang kita tidak serumah jadi aku mau ambil hakku " suara Novia begitu lantang.
" Oh itu motor istrinya kirain motor dia "
" Motor aza gak kebeli padahal dia kan Supervisor ya. Ih bikin malu aza "
" Padahal tadi dia marah marah motornya digembok. Ya iyalah yang punya nya mau ambil "
Masih banyak suara suara yang terdengar ke telinga Diki. Dia merasa malu bahkan wajahnya sudah merah. Entah karena malu atau marah. Mungkin juga kedua duanya.
" Baru juga punya motor jelek sudah sombong " dilemparnya kunci motor dan STNK ke arah Novia.
Untung saja Novia bisa menghindar sehingga tidak mengenai wajahnya, kunci motor pun terjatuh ke belakang Novia.
" Cukup Pak Diki tolong jangan ribut disini, malu banyak yang lihat. Kalau ada masalah keluarga tolong diselesaikan di rumah saja "
Candra atasan Novia datang dari arah belakang Novia. Dia mengambil kunci yang tadi dilempar Diki.
" Bapak gak usah ikut campur ini urusan saya dan istri saya " jawab Diki.
" Anda benar, tapi Bapak perlu ingat di rumah Novia istri Bapak tapi di sini dia bawahan saya.
Kalau Bapak masih bersikeras saya akan melaporkan Bapak pada pihak manajemen " Candra bicara dengan tenang namun terdengar sangat tegas.
Mendengar ucapan Candra Diki merasa ciut. Dia tak mau kalau sampai pekerjaannya terancam.
" Baiklah disini saya mengalah, urusan kita belum selesai. Kamu akan menyesal dasar perempuan murahan " Diki bicara seraya menunjuk Novia. Kemudian dia berjalan pulang ke arah pintu gerbang.
" Sudah sudah bubar, ini bukan tontonan " Candra membubarkan karyawan yang masih melihat mereka.
__ADS_1
Novia hanya terpaku dan diam, air matanya menggenang. Namun dia berusaha menahan agar tak jatuh di pipinya.