
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 109 ( Opening Cantik Fashionable )
Pukul 8 malam Toko Novia sedang bersiap tutup, karyawannya sedang bersiap pulang. Novia sedang duduk di meja kasir.
Ting
Ada pesan masuk dari Bu Siti tetangga dulu di rumah mantan mertuanya.
[ Assalammu alaikum ]
[ Waalaikum salam, iya Bu. ada yang bisa Novia bantu? ]
[ Enggak Vi Ibu cuma mau nanya kabar kamu. Ibu mau kasih info kalau mertua kamu buka toko, sepertinya mereka mau nyaingin kamu ]
[ Wah iyakah Bu? apa tokonya yang di dekat pasar? Alhamdulillah aku baik baik aza Bu ]
[ Iya kok kamu tahu? Syukur alhamdulillah kalau kamu baik baik saja ]
[ Tadi siang aku lewat, lihat Robi lagi nurunin barang ]
[ Iya Vi, mertua kamu tuh bikin huru hara terus ]
[ Ah iya Bu udah biasa hehee, oh ya Bu tadi siang aku udah ketuk palu sudah resmi bercerai dengan A'Diki jadi Amah bukan mertuaku lagi. Mungkin bentar lagi jadi mertua Nuri hehee ]
[ Oh gitu ya Vi, mungkin kalian memang gak berjodoh sabar ya Vi ]
[ Iya Bu, jadi toko itu punya siapa Bu? ]
[ Kurang tahu Vi mungkin mereka patungan, banyak sih gosip yang aneh aneh. Tapi itu urusan mereka lah ]
[ Iya bener Bu, semoga usaha mereka lancar. Rezeki gak pernah salah alamat ]
[ Iya Vi, aamiin. Kamu baik banget udah di sakitin tapi masih mendo'akan hal baik untuk mereka ]
[ Do'a akan berbalik Bu. Kalau kita do'akan hal yang baik inshaa allah akan baik juga buat kita begitupun sebaliknya ]
[ Iya kamu benar Vi, ya sudah Ibu pamit dulu Vi semoga usahamu lancar, kamu dan anak anak sehat ]
[ Aamiin Bu ]
[ Assalammu Alaikum ]
[ Waalaikum salam ]
" Ternyata mereka buka toko juga " Novia bergumam sambil terduduk di meja kasir.
" Kenapa Vi? " tanya Manda yang sudah berada di sebelah Novia.
" Eh Teh kapan datang? "
__ADS_1
" Barusan Vi, kamu serius amat ngelamun. Ngelamunin siapa kamu, mantan ya? Hahaaa "
" Husshhh Teteh ngapain ngingat dia "
" Ya kali, gimana sidang kamu tadi siang? "
" Alhamdulillah lancar Teh, sekarang aku janda hiks hiks heheee " Novia pura menangis lalu kemudian terkekeh.
" Senang kali kamu jadi janda ya " ledek Manda pada adiknya.
" Bukan gitu kan Teteh tahu rumah tanggaku gimana. Oh ya Teh barusan Bu Siti Telepon katanya mereka buka toko di dekat pasar. Toko baju kayak punyaku " Novia bercerita sesuai yang didengarnya dari Bu Siti.
" Wah mereka panas juga lihat kamu ya, gak usah diladenin lah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Mending kamu fokus sama diri kamu sendiri. Urus usaha kamu dan anak anak "
" Iya Teh, mungkin ini yang dimaksud mereka ya soal kejutan kejutan pas bilang di pengadilan hari itu "
" Iya sepertinya, kita lihat saja perkembangan ke depannya " ujar Manda.
***
Sesuai planning hari ini Bu Murni dan anak anaknya akan membuka toko mereka. Semua keluarga anak dan cucu berkumpul di toko yang akan dibuka. Para tetangga ada yang diundang agar toko terlihat ramai.
Khusus hari ini akan di adakan big sale untuk pengunjung hari ini. Bu Murni sangat antusias dia berdandan sangat cantik ala ala ibu sosialita. Begitupun Cantika dan Ayu tak mau ketinggalan. Semua sangat bergembira kecuali Pak Imam dia terlihat tidak bersemangat.
Toko sangat ramai banyak tetangga yang datang untuk belanja. Cantika dan Ayu sibuk membuat siaran langsung pamer pada teman temannya.
" Bapak kenapa? " tanya Diki yang sengaja menghampiri, dia merasa heran Bapaknya terlihat murung.
" Ya mau gimana lagi Pak, aku juga gak mau bercerai tapi sepertinya Novia sudah bulat ingin berpisah dariku " kilah Diki.
" Ckck kamu Ki, mana ada usahamu meminta rujuk yang ada malah bikin panas suasana. Harusnya kamu intropeksi diri " balas Pak Imam.
" Sudahlah Pak, jangan merusak suasana lebih baik sekarang kita dukung acara ini " ucapnya karena tak mau membahas soal rumah tangganya yang sudah karam.
" Tapi Ki mereka dapat modal darimana. Kok ya Bapak curiga mereka bisa buka toko modal darimana coba " Pak Imam terlihat berpikir.
" Katanya sih dari Keenan Pak " jawab Diki.
Pak Imam hanya manggut manggut dan dia seperti berpikir sesuatu, dia kemudian berdiri.
" Mau kemana Pak? "
" Cari angin " jawabnya singkat.
" Awas kembung hehee " goda Diki pada Bapaknya.
" Tapi bener juga ya, apa iya Keenan kasih modal sebanyak ini. Nanti aku mau coba tanyain " gumam Diki.
Diki berdiri menuju lantai atas toko tersebut mencari Keenan. Tiba di atas Diki heran melihat Bapaknya sedang bersama Keenan.
" Lah Bapak katanya cari angin tahunya ada di sini. Lagi ngobrol apaan? " tanya Diki.
__ADS_1
" Gak ada cuma ngobrol biasa saja, sini kamu gabung " ajak Pak Imam.
" Kee Cantika habis modal berapa buka toko ini " pancing Pak Imam pada menantunya.
" Saya gak tahu Pak, saya juga baru tahu Cantika buka toko. Katanya modalnya dari Amah semua. Pas saya tanya sudah habis 100juta lebih.
" Hahhhh "
Diki dan Pak Imam menganga mendengar penuturan Keenan.
" Bapak kira ini modal dari kamu Kee " ucap Pak Imam, hatinya mulai merasa tak nyaman dan sedikit berpikir buruk.
" Uang dari mana saya Pak, cicilan rumah sama mobil saja sudah besar belum biaya sehari hari dan biaya pendidikan anak anak. Cantika kan gak mau menyekolahkan anak anak di tempat murah " wajahnya terlihat sedikit kesal.
" Iya maafin anak Bapak ya Kee, nanti Bapak nasehatin " ujar Pak Imam dia jadi merasa tak enak pada menantunya.
" Gak apa apa Pak, kalau ada uang aku gak masalah. Aku juga ingin yang terbaik buat anak anakku. Cuma kadang aku sedikit kesulitan memenuhi keinginan Cantika " papar Keenan
Diki tak memberi komentar karena dia tahu adiknya seperti apa, tidak jauh seperti ibunya yang selalu ingin mendapat pujian dari orang lain. Namun sekarang Diki jadi berpikir soal modal. Kalau benar Keenan tak memberi modal lalu uang untuk modal toko dari mana?
Dia jadi takut Ibu dan adiknya melakukan hal yang tidak dia ketahui, bahkan bapaknya juga tak tahu karena baru saja mereka tahu bukan Keenan yang memodali mereka. Sepertinya dia harus mencari tahu.
" Kalian sedang apa di bawah rame loh banyak yang beli Aku gak nyangka tokonya rame banget. Semoga saja setiap hari seperti ini " Robi baru saja datang dan langsung duduk bergabung dengan mereka.
" Kami cuma lagi ngobrol ngobrol saja, kamu kesini ngapain? bukannya tadi bantuin mereka " tanya Pak Imam.
" Aku juga capek Pak, pengen istirahat sebentar sambil ngerokok " jawab Robi sambil mengambil roko di meja milik Keenan.
" Kamu Bi gak modal banget ngambil rokok kakakmu. Gak pernah Bapak lihat kamu beli sendiri " ucap Pak Imam.
Dia malu dengan tingkah Robi yang selalu ingin gratisan. Apalagi dia ingat Keenan sedikit kesal dengan anak perempuannya. Jadi Pak Imam tak mau membuat repot Keenan lagi.
" Biasalah Pak, Robi kan ngirit biar bisa beli kalung lagi buat istrinya. Toko baru buka saja istrinya sudah bisa beli kalung seberat itu apalagi nanti " sindir Diki pada adiknya.
" Maksud kamu apa? " rupanya Robi terpancing dengan ucapan Diki bahkan ucapannya terdengar nyolot, matanya menatap tajam Diki.
" Emang kenapa? bener kan ucapanku kenapa kamu marah, semua juga lihat si Ayu pake kalung. Berarti kalau kalian mengelola toko nantinya akan nambah penghasilan kan jadi bisa nambah kalung " balas Diki tapi tak terlihat gentar dengan tatapan adiknya.
" Duh kenapa aku nyolot ya malah bikin mereka jadi curiga nanti harusnya aku santai aza jawabnya " gumamnya dalam hati.
" Sudah gak apa apa ini cuma rokok kok " sela Keenan dia merasa ada bibit bibit keributan.
" Kalian gak malu sama Keenan. Kamu juga Bi kenapa mesti marah sih " ucap Pak Imam
Robi hanya terdiam tak menjawab, dia jadi salah tingkah sendiri. Sekian menit suasana jadi hening.
" Bi kalian habis berapa buka toko ini, Bapa tadi nanya Keenan dia gak kasih modal. Lalu kalian dapat modal darimana? " tanya Pak Imam
Degh
Robi tersentak dengan pertanyaan Pak Imam, dia bingung menjawab pertanyaan bapaknya. Karena ketika menggadaikan sertifikat mereka tak meminta izin pada Bapaknya.
__ADS_1
" I- itu Pak dari..."