arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Ide Siapa?


__ADS_3

# Arisan bodong Keluarga Suami


Bab 117 ( Ide Siapa? )


Bu Murni, Robi dan Ayu pulang duluan bareng warga yang lain. Sesuai permintaan Bapaknya Robi tidak langsung pulang.


Di dalam rumah ternyata sudah ada Diki yang tadi siang pergi jalan bareng Nuri.


" Kalian darimana kok barengan? terus kenapa wajah kalian ketat gitu persis selempak baru hehee " tanya Diki.


Semua diam tak ada yang menjawab " Ada apa ya sama mereka kok mulanya kecut semua " Diki membatin.


" Oh ya tadi pas aku pulang banyak warga berbondong bondong jalan ada apa ya? " mereka bertiga hanya membuang muka tak menjawab pertanyaan Diki.


" Kenapa sih semua orang aneh banget hari ini " Diki kembali membatin.


" Assalammu Alaikum "


" Waalaikum salam " jawab Diki dan yang lainnya serempak.


" Pak dari mana? malam malam dari luar " tanya Diki.


" Barusan ada kumpulan di rumah Pak RT " jawab Pak Imam singkat.


" Tumben Bapak ikut biasanya juga suka nolak " balas Diki


" Ini kumpulan luar biasa Amah dan adikmu bikin ulah "


" Loh aku kan gak ikutan, Amah tuh yang bikin keributan " bantah Robi sambil menunjuk Ibunya.


" Enak saja ini kan bukan 100% salah Amah. Emang mereka saja tetangga rese " Bu Murni berkilah dari kesalahannya.


" Sudah kalian gak usah debat di sini, Diki telepon Cantika dan Keenan suruh kesini sekarang. Bilang jangan banyak alasan " titah Pak Imam sambil berteriak.


Diki yang tak tahu ada permasalahan apa menjadi kaget melihat perubahan sikap Bapaknya. Biasanya Pak Imam bersikap lembut dan sabar.


Tanpa banyak bertanya Diki langsung menghubungi Cantika agar datang bersama Keenan. Awalnya adiknya menolak karena merasa kelelahan. Tapi Pak Imam langsung berbicara sehingga mau tak mau Cantika harus datang.


" Ini sebenarnya ada masalah apa sih, kok semuanya kelihatan tegang? " Diki tetap penasaran karena semua terlihat enggan berbicara.


" Sambil menunggu Cantika, Bapak mau nanya pada kalian. Apa benar modal toko dari uang hasil menggadaikan sertifikat rumah? " tanya Pak Imam.


Semua diam dan menunduk, kecuali Diki dia sedang berusaha mencerna ucapan Bapaknya.


" Jawab " teriak Pak Imam, membuat empat orang di rumah itu tersentak kaget.


" Enggak Pak " jawab Bu Murni sambil takut takut menjawab.


" Baguslah kalau begitu " mendengar suara Pak Imam Bu Murni, Ayu dan Robi menarik nafasnya.

__ADS_1


" Sekarang Amah ambil sertifikat rumahnya. Bapak pengen lihat " pinta Pak Imam.


" A-anu Pak " Bu Murni gelagapan karena memang sertifikat itu tak ada.


" Mau bohong apalagi Mah, seharusnya Amah gak usah berbohong. Lihat hasil didikan Amah tidak ada yang mandiri selalu bergantung pada orang lain dan menyukai kemewahan "


Bu Murni langsung berwajah masam, Robi dan Diki pun merasa tak enak hati. Karena mereka pun hasil didikan Ibunya.


" Tapi aku kan gak pernah minta apa apa Pak. Jangan samain aku lah " bantah Diki.


" Memang kamu tak pernah minta apapun, tapi lihat kamu sebagai lelaki tidak punya pendirian selalu plin plan. Rumah tanggamu hancur apa perlu Bapak ingatkan apa permasalahanmu "


Wajah Diki benar benar kecut, kenapa jadi dia yang dibawa bawa. Dalam hati pun dia kesal pada Ibunya yang selalu merongrongnya.


" Ini masalahnya apa sih, bukannya tadi ini masalah mereka bertiga. Kok jadi melebar kemana mana " tanya Diki sambil menatap Ibu dan saudara saudaranya.


" Kamu ingat soal modal toko yang kita bicarakan tadi siang Ki? itulah masalah yang akan kita bahas. Tapi kita tunggu dulu Cantika supaya Bapak gak bolak balik bicara.


Yang pasti Bapak kecewa sama kelakuan kalian. Kalian sudah gak jujur sama Bapak, harusnya kalian mengerti ada orang lain yang mempunyai hak atas rumah ini "


" Bapak juga gak jujur sama Amah, buktinya Bapak bisa punya uang buat ganti rugi Ceu Juju, pasti Bapak suka umpetin uang dari Amah kan? " tanya Bu Murni yang tiba tiba mengingat uang Pak Imam yang cukup besar.


Seingatnya setiap kali Pak Imam memiliki uang pasti diserahkan semuanya padanya. Berarti selama ini Pak Imam gak jujur juga padanya.


Tok tok tok


Cantika dan Keenan tertegun melihat semua berkumpul, semua tampilan wajahnya terlihat tidak bersahabat.


" Ada apa ini kok mukanya pada kusut? " tanya Cantika memindai satu persatu wajah mereka.


" Inilah contoh didikanmu Mah, datang bukannya salam malah komentar "


Glek


pelan namun ucapan Pak Imam menusuk sampai ke ulu hati Cantika.


" Maaf Pak " ucap Cantika melihat wajah Bapaknya dalam mode marah adalah hal yang jarang.


" Ternyata marahnya orang sabar mengerikan " Cantika membatin.


" Bapak jawab dulu pertanyaan Amah tadi. Amah pengen tahu darimana Bapak punya uang?


Asal kalian tahu walaupun Novia sudah tidak tinggal disini tapi dia masih memperhatikan Bapak. Setiap bulan dia selalu memberi Bapak uang saku padahal Bapak sudah menolaknya "


Bu Murni dan Ayu mendelikan matanya sedang Robi dan Cantika mencebikan bibirnya ketika tahu Novia masih memperhatikan Pak Imam dengan mengirimi uang saku.


" Sok " ucap Bu Murni pelan tapi masih terdengar.


" Kalian memang tak tahu malu, bahkan anak istri sendiri tak pernah memperhatikan Bapak. Justru Novia yang statusnya mantan menantu yang selalu perhatian.

__ADS_1


Lihat Diki wajah mereka, wajah orang orang iri dan dengki yang tak mau mengakui kekalahannya "


" Maksud Bapak apa bicara seperti itu, semua kewajiban Amah sebagai istri sudah Amah lakukan. Apa masih kurang? " Bu Murni membela diri tak terima dengan ucapan suaminya.


" Diam kamu " pekik Pak Imam tangannya sudah terangkat ke atas. Namun tertahan karena dia langsung tersadar.


Bu Murni sudah memejamkan matanya seakan pasrah bila tangan suaminya mendarat di pipinya.


Semua membelalakan matanya tak percaya dengan kejadian yang mereka lihat.


" Pak udah Pak kasihan Amah " ujar Cantika sambil mengelus pundak ibunya.


" Kamu juga sama saja, banyak tingkahmu. Hanya untuk memenuhi ego kalian dengan teganya kalian menggadaikan rumah ini. Sekarang Bapak tanya ide siapa ini? Apa yang sudah kalian beri hingga berani menggadaikan sertifikat rumah ini? "


Mereka berempat saling berpandangan dan selanjutnya menunduk ketakutan.


" Tak usah dijawab, Bapak bisa lihat siapa yang jadi biang keroknya " tambah Pak Imam.


" Maafin kami Pak, niat kami baik ingin memiliki usaha. Kami janji akan mengembalikannya " jawab Cantika sambil menangis tersedu sedu.


Diki dan Keenan hanya terdiam menyimak karena mereka pun baru mengetahui perihal rumah yang digadaikan.


Kepala Diki berpikiran lain tak tertarik memikirkan sertifikat rumahnya. Justru dia tertarik dengan ucapan Bapaknya soal Novia yang memberikan uang bulanan pada Bapaknya.


Bukankah itu berarti Novia masih memperhatikan keluarganya? Atau jangan jangan Novia masih menaruh hati padanya tapi gengsi untuk mengakuinya.


Membayangkannya saja Diki sudah tersenyum " Novia apa benar yang kupikirkan? "


" Kamu yakin penghasilan toko kalian dapat membayar cicilannya. Bapak sangsi karena niat kalian bukan usaha tapi untuk pamer dan menyaingi Novia "


" Bapak kenapa sih selalu membela Novia apa karena dia selalu memberi Bapak uang? " ucap Bu Murni masih sambil menangis.


" Bapak gak seperti Amah baik kalau ada manfaatnya. Bapak baik karena Novia pun bersikap baik pada Bapak. Pokoknya Bapak tidak mau tahu sertifikat itu harus segera kembali titik "


" Tapi Pak itu kan baru di gadaikan, toko juga baru berjalan gak mungkin kami bisa menggantinya " Robi ikut memberi pembelaan.


" Terserah, karena awalnya juga Bapak tidak diberitahu maka sekarang bapak juga tak mau tahu bagaimana caranya sertifikat itu harus segera kembali " tegas Pak Imam.


" Baiklah Pak, kami akan mengembalikan sertifikatnya kami juga akan buktikan lebih baik dari mantan mantu kesayangan Bapak itu " ucap Robi sambil menekan kata kata terakhirnya.


" Bagus sebagai laki laki kamu harus bisa memegang ucapanmu. Jangan bersembunyi di ketiak Ibu dan istrimu " jawab Pak Imam sambil berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


Wajah Robi memerah dan mengepalkan kedua tangannya. Dia kesal keluarganya selalu kalah dari Novia.


Diki langsung berdiri menyusul Bapaknya dengan memasang wajah penuh senyum dia bertanya sambil berbisik " Pak beneran Novia suka ngasih duit sama Bapak? "


" Iya, tapi kamu jangan ke GR an dia baik bukan karena masih menaruh hati padamu. Dia baik karena menganggap Bapak seperti Bapaknya sendiri. Dia sudah mengatakan itu " sahut Pak Imam dengan wajah datar lalu melanjutkan langkahnya.


Senyum yang tadi terukir di wajah Diki langsung lenyap seketika berganti dengan wajah yang lesu.

__ADS_1


__ADS_2