arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Mencoba Motor Baru


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 141 ( Mencoba Motor Baru )


Pov Novia


Setelah Paman Arif masuk kamar, Teh Manda menyerahkan martabak itu pada satpam komplek. Sebelumnya dia menghubungi Satpam tersebut dan menyuruhnya untuk mengambil martabak di rumah.


Sebenarnya bisa saja martabak tersebut diserahkan Adrian nanti sekalian pulang tapi sepertinya dia masih betah, apalagi ada Teh Manda jadi obrolan pun makin seru.


Kalau martabaknya di biarkan lama nanti jadi dingin dan gak enak.Jadilah kami menikmati satu kotak martabak bertiga setelah satu potong di cicipi Paman Arif. Satu kotak lagi aku simpan di kulkas biar besok pagi di panaskan supaya bisa untuk sarapan. Tadi aku pesan martabak jumbo jadi satu kotaknya bisa di makan untuk 5 orang.


" Kamu kok kelihatan biasa saja pas ketemu Nuri. Teteh pikir kalian gak saling kenal " Teh Manda membuka percakapan kami sambil tetap menggigit martabak di tangannya.


" Aku juga sempat kaget cuma aku gak mau buka aib orang Teh. Lagian aku mikirnya mungkin dia sudah sembuh makanya orang tuanya membebaskan dia keluar " balas Adrian sambil menyuapkan martabak ke mulutku.


" Emang dia beneran gila? " tanya Teh Manda lagi.


" Gak tahu juga Teh, semenjak dia di jemput orang tuanya di sel aku tak tahu lagi kelanjutannya. Begitu pun Nayra, mereka gak pernah kontakan lagi "


" Sepertinya mereka pindah rumah, dan mereka pindah keluar kota makanya gak ada kabar sama sekali kan?1 "


" Sepertinya begitu dan akhirnya kami bertemu disini heheee " jawab Adrian sambil menyuapiku lagi, kadang bergantian aku yang menyuapinya.


" Iihhh kalian apaan sih romantisan di depan jomblo, bikin ngiri tahu "


" Iya Yang jangan godain Teh Manda nanti kamu di laporin ke Abang Candra "


" Hahaaa." kami berdua tertawa.


" Ngeledek lagi, lagian sok romantis manggil Yang Yang loyang kali? " ketus Teh Manda sambil melempar bantal sofa pada kami.


" Hahaaa " bukannya takut aku dan Adrian malah tertawa melihat tingkahnya.


" Teteh pasti lebih iri kalau tahu aku dikasih hadiah sama Adrian " aku berucap sambil tersenyum menggodanya.


Dia langsung mendekat melihat leher, jari dan pergelangan tanganku. Aku dan Adrian saling berpandangan kebingungan.


" Cari apa Teh? " tanyaku.


" Hadiah, palingan cincin, kalung atau gelang kan? " tebaknya sambil terus memegang tanganku.


" Ih bukan dong " balasku sambil menarik tangan kananku yang terus di pegangnya.


" Ya terus apa dong? " wajahnya mulai merengut.

__ADS_1


" Nih aku di kasih ini, mungkin besok akan di antar dan seninnya aku pakai "


Aku perlihatkan foto motor yang sempat tadi aku ambil. Teh Manda langsung membelalakan matanya.


" Waahhh bagus banget, ini kan motor keluaran baru mana mahal lagi. Pantesan kamu mau di sosor dia " balas Teh manda sambil mencebikan bibirnya.


Ih pake di bahas lagi, bikin malu saja. Cuma Adrian yang tertawa aku malah mencubit gemas Teh Manda.


" Sembarangan " ucapku, dan dia malah tertawa bareng Adrian.


Kami pun ngobrol seputar motor yang dibelikan Adrian tadi bahkan aku cerita soal SPG yang mencoba menggoda Adrian. Teh Manda pun ikut kesal, dia bilang kalau dia ikut udah habis perempuan itu di jambaknya.


Jam 11 malam Adrian pulang karena sudah malam, dia berjanji besok akan kembali karena motor yang tadi dibeli akan di kirim besok pagi. Kebetulan saja stocknya ada, atau mungkin karena Adrian akrab dengan pemiliknya jadi dia di prioritaskan.


Teh Manda pergi ke kamar, aku pun beranjak hendak mengantarkan Adrian pulang hingga pintu.


Ketika berjalan Adrian terus menggenggam tanganku. Lucu juga sih dia seperti gak mau jauh dan gak mau kehilangan aku. Duh sebucin itu kah Adrian heheee.


Sampai di ruang tamu tanganku sudah menggenggam handle pintu tiba tiba


Greepp


Adrian memelukku erat dan mencium tengkukku sambil berbisik.


" Seandainya boleh, aku tak mau pulang dan ingin bersamamu. Aku sayang dan cinta banget sama kamu Vi "


Makin lama pelukannya makin erat, membuat aku pengap, aku mendorongnya perlahan.


" Sudah, sudah malam " ucapku sambil menepuk dadanya.


Pandangan matanya begitu nanar seakan tak rela ketika aku melepaskan pelukannya.


" Besok kan kamu kesini lagi, aku ada di rumah. Sampai nanti kamu jemput aku dan bawa aku ke istana kamu " ucapku menghibur Adrian lalu kukecup kedua pipinya.


Barulah dia kembali tersenyum kemudian dia mencium tanganku dan menangkupkannya di wajahnya.


" Besok aku datang kita sarapan bareng ya, kan besok hari minggu. Biar kita jogging sekalian ya ya ya? "


" Iya sayaang " balasku membuat dia makin tersenyum dan terlihat bahagia.


Aku antar dia sampai pintu karena Adrian tak mengizinkan aku keluar rumah. Lucu juga melihatnya seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.


Dia bolak balik melihat ke belakang, langkahnya seperti terpaksa. Bahkan ketika dia masuk mobil dia meminta aku masuk dan menutup pintu terlebih dahulu. Setelah aku masuk barulah terdengar suara mobilnya menyala dan mulai menjauh.


***

__ADS_1


Pagi jam 7 Adrian sudah menunggu di depan pagar rumah, padahal aku baru saja hendak membuka pintu.


Karena selepas sholat shubuh dan mengaji aku langsung merebahkan badan kembali kan mumpung libur.


" Ya ampun kamu jam segini udah di sini, kenapa gak manggil aku sih? kirain aku gak ada kamu. Ayo kita sarapan bareng " ajakku pada Adrian.


Dia hanya terkekeh dan masuk ke dalam. Teh Manda yang baru keluar langsung menyapa " Ya ampun kalian tuh udah lupa umur ya. Udah kayak ABG saja, makanya cepatan sahkan biar aku cepat nyusul. Emang kalau orang tua jatuh cinta lebih parah dari pada ABG "


Tapi kami tak peduli karena terbiasa dengan ucapannya " Iri bilang Bosss " jawabku.


" Huhuuuu" di balas sorakannya sambil menyeduh susu.


" Eh ada Adrian? " paman pun terlihat heran melihat Adrian ada di rumah.


" Gak nginap kok paman, aku baru datang karena hari ini ada kiriman motor dan aku harus tanda tangan " kilah Adrian, dia sepertinya tahu apa yang dipikirkan Paman Arif.


" Motor?" paman memicingkan matanya.


" Ah alasan bilang saja pengen buru buru pindah kesini hahaaa " Teh Manda terus saja menggoda Adrian.


" Mmhhhh itu Paman kemarin Adrian beliin aku motor "


" Motor xxx paman, casshh. Bagus mana mahal lagi " sahut Teh Manda dengan lantang.


" Kamu pasti iri " goda paman pada Teh Manda.


" Dikit " jawabnya membuat kami semua tertawa.


" Apa gak berlebihan Ryan? paman gak enak sama orang tua mu "


" Gak apa Paman, ini uang hasil kerjaku lagian Novia calon istriku " jawab Adrian membuat aku tersipu malu.


" Cieeee " sorak Teh Manda.


Pukul 10 motor sudah tiba di depan rumah, kami langsung melihatnya bareng bareng. Sedikit lebay aku dan Teh Manda foto bersama sambil menaiki motor tersebut. Dia berkeliling komplek mencoba motor.


Beruntung sekali karena kenal dengan pemiliknya motornya sudah terpasang plat walaupun bukan aslinya. Mungkin Adrian yang minta agar aku bisa langsung menggunakannya.


Adrian mengajakku ke rumah Bi Nania untuk melihat anak anak, sekalian mengajak mereka jalan jalan pakai motor baru.


Aku pun segera mandi dan bersiap. Sebelum pergi ke rumah Bi Nania kusempatkan mengecek toko dan memberi sedikit brifing agar berhati hati terutama bila ada customer mencurigakan.


Aku memperlihatkan foto Nuri yang kudapat dari FB. mungkin ini terlalu lebay tapi tak ada salahnya kami berhati hati.


Setelah dirasa cukup aku langsung mengajak Adrian pergi menuju rumah Bi Nania. Perjalanan yang cukup jauh memakan waktu satu jam karena rumah Bi Nania berada di kabupaten dan kami nikmati berdua.

__ADS_1


Aku merasa kembali seperti dulu zaman kami berpacaran. Entah kenapa debaran hati pada Adrian berbeda sekali dengan debaran yang kurasa pada A'Diki dulu.


Walaupun aku tak pernah mengingat Adrian ketika bersama A'Diki. Lebih tepatnya aku berusaha melupakannya. Mungkin inilah yang disebut cinta sejati.


__ADS_2