arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Kencan Terpaksa


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 74 ( Kencan Terpaksa )


Pov Diki


Aku sedang duduk berdua bersama Nuri di sebuah meja warung jagung bakar di pinggir jalan.


Daerah sini sangat terkenal dengan jajanan jagung bakar, kopi, susu murni, ketan bakar dan bandrek nya.


Cuaca dingin di sekitarannya membuat daya tarik pengungjung untuk menikmati jajanan tersebut.


Bukan hanya aku dan Nuri saja yang menikmati jajanan tersebut banyak pasangan muda mudi, orang tua, anak anak yang juga sedang berada di kawasan itu.


Mereka datang bersama keluarga, teman dan kekasih mereka. Menambah keramaian warung warung yang berjejer di sepanjang jalan.


" A' makanannya kok dianggurin sih. Gak enak ya? " ucap Ayu sambil mengkerucutkan bibirnya.


" Eh enak kok, kan masih panas " jawabku sambil senyum terpaksa.


Entah mengapa fikiranku terus melayang ingat pada Novia dan anak anak. Aku merasa sedikit bersalah karena jalan dengan Nuri.


" A' ayo dong dimakan jangan dianggurin aza "


Apaan sih nih cewek sok manja banget, kalau bukan karena suntuk sebenarnya malas nemenin dia.


Mending buru buru aku makan biar cepat pulang. Aku jadi menggerutu terus dalam hati melihat sikap Nuri.


" Kirain gak enak, aku suapin ya ketannya " Nuri membujukku seraya mengambil sendok untuk menyuapi ketan bakar yang ada dihadapanku.


" Eh jangan Nur, gak enak dilihatin orang " kutolak niatan Nuri karena merasa tak nyaman.


" Gapapa lah A' mereka gak akan tahu hubungan kita apa. Lagian kita gak ngapa ngapain cuma nyuapin saja kan "


Tanpa aba aba Nuri sudah menyuapkan satu sendok ke mulutku. Aku terpaksa membuka mulutku karena tak mau membuat dia malu di depan umum karena penolakanku.


Walaupun banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Aku berusaha tak peduli, pasrah saja semoga tak ada orang yang mengenalku melihat adegan seperti ini.


Mungkin orang yang tak kenal berfikir kami romantis, so sweet, pasangan idaman. Tapi bagi yang mengetahui statusku punya anak istri bisa bisa aku di maki para ibu ibu netizen yang budiman.


" Ekheemm, Pak Diki? " di suapan ke 5 sebuah sapaan mengagetkanku.


Aku langsung menoleh ke arah suara " Eh kamu Man? "


Ternyata ada Maman salah satu bawahanku di pabrik sedang berada disana dan entah dengan siapa.

__ADS_1


Aku langsung salah tingkah, khawatir ini akan menjadi gosip di tempat kerjaku. Apalagi Maman langsung memindai Nuri dari atas ke bawah dan tatapannya penuh selidik.


" Kamu kok disini, lagi makan juga? "


" Nggak Pak, ini warung mertua saya kalau libur saya suka bantu bantu. Besok shubuh pulang langsung kerja "


" Oh iya Man, sama siapa kamu disini ? " aku kembali bertanya untuk memastikan siapa saja yang melihatku disini bersama Nuri.


" Sama anak istri Pak, biasanya cuma istri saya saja yang ikut tapi anak anak sekarang di bawa juga. Kita kan lagi ngumpul ngumpul Pak tuh disana ".


Mataku langsung mengikuti arah telunjuk tangan Maman. Dan wooowww banyak sekali anak buahku di pabrik berada disini bahkan ada 3 sampai 4 meja mereka sedang bergerombol.


Mereka semua tersenyum dan melambai lambaikan tangannya " Halloo pak "


Aku langsung lemas, ternyata bukan hanya Maman yang melihatku tapi banyak sekali. Aku benar benar kehabisan kata kata kemudian membalas sapaan dan lambaian tangan mereka dengan tersenyum getir.


" Gabung saja Pak sama kita, kalau mau suap suapan gapapa kok gak bakalan kita ganggu hehee " ujar salah satu anak buahku yang berada di meja seberang.


Wajahku langsung merah menahan malu, wajah Nuri pun sama langsung memerah namun bukan malu tapi merasa senang.


" A' kita gabung aya yuk biar seru. Kan disana juga ada perempuannya " Ajak Nuri.


" Ngga ah gak enak, saya gak mau ganggu mereka " kilahnya.


" Gak lah A' mereka kan udah nawarin bukan kita yang minta loh " Nuri langsung cemberut.


" Tapi kan A' kita baru duduk bentar, masa udah main pulang saja " Nuri masih saja merajuk berharap aku berubah fikiran.


" Ya emang belum terlalu lama, kita kan lamanya di jalan. Bukannya kita tadi juga sempat foto foto diperjalanan.


Terus sekarang perjalanan pulang lumayan jauh juga pasti pulangnya malam. Lain kali saja ya kita gabung sama mereka. Sekarang kita pulang saja " Aku masih berusaha bersabar dengan Nuri.


Sebenarnya aku risih melihat Nuri merajuk layaknya anak kecil sampai sampai anak buahku melihat dan berbisik bisik.


" Ya sudah tapi Aa janji buat ajak jalan aku lagi, terus kenalin aku sama teman teman Aa ya " akhirnya Nuri setuju dengan ajakan Diki pulang.


" Iya nanti kita main lagi dan saya kenalin sama teman teman " akhirnya mau juga dibujuk.


Aku langsung berdiri dan menuju meja kasir untuk membayar makanan yang kami pesan.


Awalnya Nuri ingin membayarnya namun aku tolak. Malu lah banyak anak buahku mana ini warung si Maman bisa malu aku nanti.


Sengaja aku tak membungkus buat orang rumah, supaya makanan yang aku bayar gak terlalu mahal. Mending buat bayar cicilan motorku.


Lagipula buat apa bungkusin, pasti si Robi masih di rumah. Rugi ngasih ngasih dia, pengennya gratisan mulu.

__ADS_1


" Ayo Nur " aku ajak Nuri pulang setelah membayar jajanan kami.


" Iya A'. Loh gak bungkusin buat Amah dan yang lainnya. Kalau mau biar aku aza yang bayarin "


" Gak usah mereka pasti sudah tidur, kalau dibesokin biasanya suka gak enak "


Langsung kutarik tangan Nuri supaya berdiri, daripada banyak drama lagi.


Nuri malah terlihat senang, bahkan setelah berdiri dia langsung mengaitkan tangannya padaku. Jadilah kami jalan bergandengan.


Duh apa apaan ini si Nuri bikin malu saja, anak buahku semua langsung membulatkan matanya.


Ada yang terus menatap ada juga yang pura pura tak melihat.


Mau tak mau aku harus pamit pada mereka, rasanya tak sopan jika aku langsung pulang.


" Semuanya saya pamit pulang duluan ya, ini sudah malam " aku berbasa basi pada mereka sambil tersenyum ramah.


" Oh iya Pak silahkan " Maman menjawab mewakili semua temannya, namun matanya terus melirik ke tangan ku yang digelayuti Nuri.


Yang lain hanya tersenyum dan mengangguk. Duh pasti aku pulang mereka bakal langsung ngomongin. Tapi mau gimana lagi gak mungkin aku sumpal mulut mereka satu persatu.


Andai mereka tahu kalau kencan ini sebuah keterpaksaan. Hahhh tapi mereka tak akan faham, lebih baik aku terima nasib sajalah.


Setelah pamit kami pun langsung berjalan menuju mobil yang kebetulan parkir tepat depan warung Maman.


Kebetulan kunci mobil ada di tanganku karena tadi aku yang menyetir. Beruntung aku bisa menyetir karena memang sudah niat ingin memiliki mobil.


Kalau tidak bisa pasti gengsi dong, masa aku di setirin perempuan. Walaupun ini mobil Nuri tapi orang tidak akan ada yang tahu kan.


Sepertinya ini kesempatan juga buat manasin Novia, biar saja ada yang menyampaikan padanya aku jalan sama perempuan lain.


Nuri kan punya mobil gak malu maluin, emang dia saja yang bisa naik mobil si auditor sok ganteng itu.


Tiitt titt


Kubuka kunci mobil dari kejauhan memakai remot, biar anak buahku lihat. Malah aku sengaja membukakan pintu mobil untuk Nuri.


Untung saja Nuri malah terlihat senang dia pasti merasa tersanjung dengan apa yang aku lakukan.


Dia langsung tersenyum manis menatapku. Sementara ini bersabar saja lah manfaatkan yang ada.


Aku pun masuk dan duduk di kursi sopir, sebelum pergi aku klakson sebagai tanda pamit pada anak buahku yang masih di dalam.


Ngook ngookk

__ADS_1


Kulambaikan tangan pada mereka, semua tersenyum bahkan terlihat ada yang langsung bisik bisik.


Lalu kulaju mobil dengan kecepatan sedang. Ah ternyata ada manfaatnya juga kencan hari ini. Yaa walaupun sedikit terpaksa.


__ADS_2