
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 136 ( Pesona Mantan )
Beberapa hari Diki bekerja dengan membawa pikiran kusut, pikirannya sedikit terganggu mengingat Novia yang sepertinya akan di lamar Adrian.
Seperti biasa Diki pergi bekerja dengan membonceng Ikbal adik bungsunya. Dia akan menurunkan Ikbal terlebih dahulu di sekolahnya, lalu melanjutkan perjalanannya.
Hari masih pagi Diki membawa motor sedikit santai, di perempatan dia terkena lampu merah dia pun ikut berhenti.
Kendaraan lain pun ikut berhenti, di depan Diki ada sebuah motor matic keluaran terbaru yang di naiki seorang wanita. Samar samar terdengar ungkapan kagum dari pengendara lain.
" Waahhh motornya bagus ya "
" Iya itu kan motor keluaran baru, harganya juga menguras kantong "
" Motor seperti itu cocok di naiki perempuan jadi menambah kesan anggun "
" Kalau banyak duit pengen rasanya memiliki motor seperti itu "
Dan masih banyak pujian lainnya, namun pemilik motor itu tampak diam pandangannya lurus ke depan.
Lampu kembali hijau semua kendaraan melaju kembali, Diki masih melajukan kendaraannya pelan. Dia mengikuti ritme wanita pengguna motor matic tersebut.
Tanpa di sadari Diki ternyata wanita itu searah dengan tempat yang di tuju Diki yaitu pabrik tempat dia bekerja. Mata Diki memicing memperhatikan motor tersebut.
" Wah hebat ternyata pemilik motor tersebut bekerja disini. Pasti jabatannya tinggi bisa membeli motor seperti itu. Siapa ya dia? " gumam Diki sambil terus mengikuti wanita tersebut.
" Loh kok tempat parkirnya sama barengan aku " Diki makin penasaran dia makin melajukan motornya dengan pelan memberi jarak pada wanita pengendara motor tersebut.
Pengendara tersebut memarkirkan motornya, seperti halnya tadi orang orang di lampu merah di parkiran pun terlihat banyak yang kagum.
" Loh loh itu kan tempat parkir Novia mantan terindahku. Kok dia parkir di situ. Jangan jangan.... " belum selesai Diki bicara wanita tersebut membuka helmnya.
Barulah jelas terlihat siapa wanita tersebut. Helm yang dibuka membuat rambut panjang hitam sedikit curly nya tergerai, bulu mata lentik dan wajah baby face putih mulus terlihat menawan walau tanpa riasan wajah yang berlebihan.
" Novia? " gumamnya.
" Wah Bu Novia kirain siapa, motor bar ya Bu? bagus banget motornya "
" Iya bagus, ini kan harganya mahal. Platnya juga keluaran bulan ini "
" Keren euy Bu Novia "
Novia hanya menunduk dan menjawab dengan senyum malu malu.
" Motor lamanya kemana, pasti di jual ya. Baguslah itu pertanda sudah move on hahaaaa " ucap seseibu yang ikut mengitari Novia.
" Maksudnya apa tuh perempuan, bikin perih hati ini saja " gumam Diki pura pura membereskan barang barang di motornya.
Padahal dia ingin berlama lama disana dan berharap ibu ibu yang mengelilingi Novia segera pergi agar dia bisa menyapa Novia tanpa mendengar kejulidan emak emak pabrik.
__ADS_1
" Pak Diki mantannya tambah bersinar ya " ujar teman merokok di parkiran yang berbisik di sebelah Diki.
Mendengar perkataan temannya Diki tersenyum kecut lalu melihat ke arah Novia yang masih di kelilingi ibu ibu.
" Tuh lihat Bu, Pak Diki saja sampai menganga hahaaa " ujar seseibu sebelah Novia sambil menunjuk ke arah Diki.
" Hahaaaa " semua ikut tertawa melihat Diki yang memang tanpa sadar menganga melihat motor dan penumpangnya yang cantik.
" Sial*n tuh emak emak bikin malu saja " umpat Diki dalam hati.
Novia hanya tersenyum simpul kemudian dia bersiap pergi menuju gedung tempatnya bekerja.
" Pak Diki janda makin terdepan ya, nyesel loh kalau lihat Bu Novia tambah cantik dan tambah makmur hahaaa." seorang ibu bicara setengah berteriak karena jarak mereka agak jauh.
Nafas Diki makin tak teratur, kesal juga dia mendengar ocehan mereka. Tapi dia tak bisa berbuat apa apa selain karena mereka kamu ibu ibu rese, perkataan mereka juga memang ada benarnya.
" Sabar ya Pak Diki " ujar temannya sambil menepuk bahunya.
" Santai sajalah Pak, namanya juga ibu ibu " balas Diki padahal kalau orang bisa melihat kepala Diki sudah mengeluarkan asap dan bertanduk.
" Apa Pak Diki gak berniat rujuk Pak? " tanya temannya.
" Sepertinya ngga Pak, kami sudah memiliki kehidupan masing masing. Lagipula walau kami berpisah anak anak masih dalam pengawasan kami berdua "
" Wah hebat juga ya kalian bisa akur seperti itu, salut banget saya Pak " jawab temannya.
" Ya harus itu Pak, jangan sampai anak anak menjadi korban dari perceraian kita " ujar Diki bersikap sok bijak.
" Padahal sayang juga Pak, Bu Novia kelihatan tambah cantik dan saya lihat makin mapan. Maaf bukannya saya gak sopan ini hanya pendapat saya saja " ujar temannya lagi.
" Hehee ya gitu lah Pak, saya permisi duluan ya Pak " Diki pamit pada temannya untuk pergi ke gedung tempat dia bekerja rasanya dia tak mau mendengar ocehan temannya walaupun itu memuji tapi hatinya terasa di tusuk sembilu.
Senyum Diki tadi sangat dipaksakan, andai temannya tahu kalau hati Diki benar benar retak terburai melihat Novia yang makin bersinar.
Belum lagi kalau mereka tahu kenyataan sesungguhnya kalau Novia sudah mendapatkan pengganti dirinya yang melebihi Diki segalanya. Pastinya mereka akan tertawa berjamaah.
Kini Diki duduk termenung di mejanya, sambil melamun mengingat ucapan ucapan ibu ibu rempong dan teman merokoknya tadi.
" Janda makin terdepan, benar sekali ucapan mereka. Apa bisa ya ada istilah Duda makin terdepan. Sediiih rasanya melihat Novia yang makin jauh dari jangkauan. Andai waktu bisa di ulang ingin rasanya aku kembali dan tak menyia nyiakan mereka "
Itu saja yang terus terpikir di kepala Diki penyesalan yang tiada akhir. Dia tahu mustahil sekali Novia akan kembali padanya.
Adrian yang begitu sempurna dengan wajah rupawan dan kemapanannya belum lagi Novia yang tentu saja tidak bodoh mau kembali padanya dengan modal motor cicilan dan watak mertua yang tidak berubah.
" Tapi life must go on masa iya aku harus sedih terus. Kalau aku masih berharap pada Novia ya harus bisa melebihi Adrian. Berhubung tak mampu minta jalur langit saja lah semoga masih berjodoh dengan Novia heheee " Diki terkekeh sendiri.
Dia tak sadar kalau sekarang anak buahnya sedang memperhatikannya, Diki yang terlihat melamun dan senyum senyum sendiri jadi bahan obrolan mereka.
" Ih kenapa Pak Diki setres kali ya senyum senyum sendiri gitu "
" Ganteng sih duda lagi tapi gak mau ah kalau setres hahaa "
__ADS_1
" Kamu suka sama dia? "
" Gak mau ah kalau setres gitu, bikin malu saja "
" Hahaaa "
Dua karyawan perempuan membicarakannya. Tapi yang dibicarakan hanya diam memandang ke arah depan dengan tatapan kosongnya.
" Pak " sapa Bu Teti.
" Ya " wajah Diki langsung masam, malas sekali dia harus berbicara dengan Bu Teti yang terkenal tukang ghibah.
Ya kalau di rumahnya bisa dikatakan satu spesies dengan Yuyun dan Yati. Makanya Diki gak mau dekat dekat dengannya.
" Pak Diki kok jutek gitu sih, kayak yang alergi di dekatin saya " ujarnya dengan tampang memelas.
" Ah nggak kok Bu saya cuma sedang sibuk saja " kilah Diki beralasan.
" Sibuk melamun ya Pak hehee, tuh anak anak pada ngelihatin Bapak melamun dari awal datang terus senyum senyum sendiri heheee " Bu Teti terkekeh.
" Apa? " Diki kaget ternyata tingkahnya banyak diperhatikan orang sekitar.
" Tadi Bu Teti bilang aku senyum senyum sendiri? ya ampun aku gak kontrol diri. Bikin malu saja " gumam Diki dalam hati.
Diki melengos malas menanggapi Bu Teti apalagi melihat senyumnya yang terlihat seperti meledek dirinya.
" Pak saya tadi ke bagian finisihing, terus ada yang lihatin foto foto sama saya. Bapak mau lihat gak? "
" Foto apa sih Bu saya lagi sibuk " Diki berusaha menghindar.
" Ih Bapak pasti menyesal kalau gak lihat, anak anak Bapak sangat terlihat bahagia. Saya bela belain minta dikirim ke WA saya supaya Bapak gak bilang kalau saya fitnah " Bu Teti terus membujuk Diki.
Mendengar ucapan anak anak jiwa kepo Diki langsung meronta. Tapi dia berusaha menahan gengsi.
" Foto apa sih Bu, foto anak anak banyak di rumah saya " Diki pura pura tak butuh dia pura pura membuka beberapa buku laporan target.
" Tapi ini beda Pak, biar saya kirim ke nomor Bapak. Gratis loh Pak orang mah bela belain sewa detektif "
Bu Teti mengeluarkan ponselnya sambil sembunyi karena memang ada peraturan tidak boleh membawa dan membuka ponsel di saat bekerja. Kecuali orang orang tertentu saja seperti Diki.
" Udah saya kirim ya Pak, mari Pak saya mau kembali bekerja " Bu Teti pergi sambil senyum senyum licik.
" Hhmmmm " jawab Diki.
" Apa apaan sih si tukang ghibah nih " walaupun Diki misah misuh tapi tangannya tetap merogoh ponsel karena penasaran.
Kiriman masih dalam proses sehingga masih berputar dan belum jelas.
Beberapa detik kemudian foto sudah di terima dan terpampang nyata. Wajah Diki langsung merah dan ingin menangis setelah melihat foto foto tersebut.
" Cobaan apa lagi ini Ya Allah hiks hiks
__ADS_1
Diki yang sedang bersedih, di ruangan lain Bu Teti sedang mengintip dan tertawa penuh kemenangan.