arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Pamer Motor Baru


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 66 ( Pamer Motor Baru )


Pov Diki


Sepanjang perjalanan menuju rumahku tangannya terus melingkar diperutku. Kalau orang pacaran sih enak nah ini kalau anak buahku yang lihat bisa jadi gosip santapan Ibu-ibu ghibah.


" Nur aku turun depan gang ya " ucapku ketika mulai memasuki daerah rumahku.


" Sampai rumah saja A' gak papa kok. Kasian A'Diki bawa barang banyak " jawabnya.


Bisa saja, bilang aza kamu gak mau pisah dari aku hehee.


Motor sudah mulai memasuki gang rumahku beberapa meter lagi akan sampai di depan rumah.


Sudah kuduga pasti bakal banyak orang yang berkumpul karena ini hari libur. Jangankan hari libur hari biasa pun pasti ada saja yang nongkrong terutama geng Yati CS.


Aku pun turun dari motor dan mengambil belanjaanku yang tadi di simpan di bawah kakiku.


" Eh ada Nuri, habis belanja ya. Ayo sini masuk " ajak Amah.


Aku tak tahu kalau Amah juga sedang ngobrol dengan tetangga di depan rumah.


Mendengar ajakan Amah, Nuri langsung tersenyum lebar. Tak segan dia langsung menggandeng tangan Amah. Sok akrab banget kan.


Para tetangga langsung berbisik bisik, melihat moment seperti itu. Karena kejadian ini sangat langka. Novia saja yang menantu tak pernah mendapat sambutan ramah dari Amah.


" Kalian darimana kok gak bilang bilang kalau mau jalan jalan. Ki duduk sini dong temani Nuri " Amah memanggilku sambil menepuk nepuk kursi kosong yang ada disebelahnya.


Aku yang hendak menuju kamar mengurungkan niatku. Lalu duduk manis di sebelah Amah.


" Belanja apa kalian? "


" Kami tadi belanja accesoris motor Mah " jawabku.


" Assalammu alaikum "


Huhhh ini lagi keluarga cemara sudah datang bisa bisa ngerecokin.


" Eh ada Chila sini duduk bareng Nenek. Kenalin Nur, ini Robi adik Diki dan istrinya Ayu " Amah memperkenalkan anak dan menantunya.


Ayu langsung menatap penuh selidik pada Nuri dilihatnya dari atas sampai bawah. Berbeda dengan Robi dia gak terlalu peduli, mungkin karena lelaki jadi gak sekepo perempuan.


" Wah kalian sudah belanja ya? " mata Robi langsung tertuju pada 2 plastik besar belanjaan kami.


" Iya kami tadi belanja accesoris motor, A'Diki bantuin aku pilih accesoris buat motorku " Nuri langsung menjawab pertanyaan Robi, sepertinya dia perempuan yang mudah masuk ke lingkungan baru.


" Waaahh enak dong belanja, pasti kalau belanja sama dia ngebosenin kan " Robi menunjukku, aku tak menjawab kubiarkan saja bicara sesukanya.

__ADS_1


" Nggak justru A'Diki baik dia gak cerewet. Aku bayarin dia malah nolak, sampai kita dorong dorongan di kasir. Sesudah ku paksa baru mau dia kubayarkan "


Semua langsung memandang ke arahku. Ayu saja yang tadinya kelihatan tidak tertarik langsung riak mukanya berubah seakan mendapat mangsa baru.


" Wah enak dong, kapan kapan aku ikut ya belanja " Robi dengan penuh semangat menawarkan diri.


" Kamu suka belanja dimana, barang barang kamu kelihatan bagus. Kalau kamu mau coba di butik langgananku kamu pasti suka. Biar aku antar nanti " Ayu langsung mengeluarkan jurusnya mendekati Nuri.


Tuh kan dasar duo kadal suami istri sama saja, emang kalian tuh berjodoh.


" Iya nanti kapan kapan kalau aku ada waktu, aku jarang di izinkan jalan keluar sama Mamaku.


Baru kali ini aku boleh keluar bareng A'Diki karena Mama sama Papa percaya A'Diki orang baik. Dan itu memang benar, A' Diki memang baik.


Buktinya aku mau bayarin dia nolak sesudah dipaksa baru mau deh. Jarang loh ada orang gitu, apalagi laki laki. Kebanyakan suka pengen gratisan "


Jleb


Hahaaa kena kalian, sepertinya Nuri tidak bisa kalian perdaya.


Muka Ayu dan Robi berubah 180 derajat. Langsung berubah muram setelah mendengar jawaban Nuri. Aku gak tau itu sengaja atau tidak yang pasti skakmat.


" Assalammu Alaikum "


Setelah hening mendengar jawaban Nuri, semua teralihkan dengan suara salam dari luar.


Amah langsung berdiri hendak menemui orang yang bertamu tersebut. Tak lama kemudian kembali masuk dengan wajah sumringah.


Kami langsung berdiri menuju teras, para tetangga sudah mulai melirik ke arah kami apalagi melihat Amah kegirangan. Moment ini pas untuk Amah jadikan berpamer ria pada tetangga.


Dari ujung gang terlihat 2 motor sedang dibawa oleh pegawai dealer tersebut.


Motor Xymax 250 cc keluaran terbaru yang harganya 60juta lebih bila cash dan motor Scoody milik Robi. Dua duanya motor baru.


Awalnya Robi tak mau dia ingin motor yang sama denganku, dasar gak tahu diri sudah DP gratis masih ingin yang bagus.


Hampir saja kami ribut di dealer gara gara dia ngotot ingin motor sama. Dia baru mengalah setelah kuancam motornya bakal kucancel kalau dia keukeuh ingin motor yang sama denganku.


Motor baru langsung diparkir di teras, aku dan Robi menandatangani bukti serah terima. Setelah kami memberi tip pegawai dealer pun pamit pulang.


" Wah hebat ya Bu Murni punya motor baru " ucap seorang tetangga.


" Halah palingan juga kredit " Yuyun ikut menimpali. Aku dan Robi langsung saling berpandangan.


" Sembarangan kamu, ini beli cash. Casshhh ya. Gak level kami beli kredit " suara Amah sampai mendesis ketika bilang cash.


Pastilah Amah gak akan mengaku kalau itu kredit, gengsi Amah terlalu tinggi. Semoga saja pembayaran ke depan gak ada masalah supaya tak ada debt collector datang ke rumah kami.


Kalau sampai kejadian, pastilah tetangga tahu kalau kami beli motor kredit.

__ADS_1


" Ya mana kelihatan itu cash atau kredit kan motornya gak bunyi cashhh casshhh " Yuyun menjawab Amah dengan desisan yang sama, dia memang tak pernah mau kalah. Sebelas Dua belas.


" Kalau misal kredit pastinya bakal ada surveyor yang datang ke rumah kami, apa kamu lihat ada surveyor yang datang. Atau Ibu-ibu ada yang lihat? " ucap Amah sambil memandang tetangga satu persatu.


" Ngga Bu Murni " beberapa tetangga menjawab. Yuyun pun terdiam walau mulutnya terlihat misah misuh.


" Makanya kamu jangan bicara sembarangan, aku mampu beda sama kamu makan saja susah "


Mmhhhh mulai lagi deh Amah hina hina orang. Lagian mana mungkin ada surveyor datang, sesuai permintaan Amah kita udah sogok mereka dengan uang yang jumlahnya lumayan supaya gak datang.


Amah merasa tak keberatan mengeluarkan uang untuk menyogok mereka demi memenuhi gengsi Amah. Zaman sekarang apapun bisa dibeli uang.


Banyak tetangga yang datang ke teras rumahku hanya sekedar untuk melihat motor baru kami.


Sebenarnya aku malu apalagi sekarang ada Nuri, karena keluarga kami jadi tampak kampungan. Beli motor saja sampai dipamerin. Apa kabar dia yang sudah punya mobil.


Tapi apa mau dikata Amah ya tetap Amah yang memang selalu pamer dan ingin dipuji orang lain.


Bahkan kulihat sekilas pas dia bayar di kasir isi dompetnya tebal dan dipenuhi kartu ATM atau mungkin kartu kredit.


" Mah udah jangan ladeni tetangga, ada Nuri malu nanti dia ilfeel sama keluarga kita " kubisiki telinga Amah.


Dia langsung terperanjat, mungkin dia baru menyadari ada Nuri di rumah ini.


Mukanya berubah manis dan ramah lag, tidak seperti ketika melayani nyinyiran Yuyun.


" Enak ya jadi A' Diki pacar baru, motor baru. Mana kelihatan motor mahal lagi. Ini kan keluaran baru ya A'Diki? setahuku ini harganya 50juta ke atas loh "


Entah kapan datangnya makhluk yang satu ini tiba tiba saja sudah nongol. Mendengar ucapan Yati Amah langsung terlihat bahagia, kulihat hidungnya kembang kempis.


" 60 juta ke atas Yatiii buakn 50 juta..Udah udah ayo kita masuk lagi ya " dengan sombongnya Amah menjawab Yati.


Lalu Amah menggiring kami untuk masuk, kami pun mengikuti instruksinya. Kalau difikir kami seperti anak ayam saja karena Amah menyuruh kami sambil mengibas ngibas tangannya dibawah.


Sebelum masuk ke dalam Amah membalikan badannya dia berkata pada tetangga yang masih melihat motor baru kami " Kalian kalau mau lihat ya lihat saja jangan dipegang nanti lecet. Kalau mau selfi jangan terlalu dekat ya "


Para tetangga langsung menyoraki Amah, namun dia terlihat santai malah kita sendiri yang ngerasa malu melihatnya.


Selepas bicara Amah langsung masuk dan menutup pintu. Ya salaamm Amah ada ada saja emang antik Ibuku yang satu ini.


" Maaf ya Nur tetangga disini emang gini, kampungan " dengan entengnya Amah bicara.


Padahal kan sendirinya yang kampungan, orang juga bisa menilai kok.


" Amah udah masak banyak loh sengaja sekalian ngerayain motor baru. Kita makan dulu yuk "


Kami pun menuju meja makan, Bapak dan Ikbal di panggil dari kamarnya. Kami makan dengan ditemani orang baru yaitu Nuri.


Amah terlihat welcome, Nuri benar benar dijamu. Sampai sampai Bapak terlihat sebal " Lihat Ibumu kalah Novia dibuat perempuan itu. Sok perhatian jadi menantu baru tau rasa "

__ADS_1


Bapak berbisik padaku, ternyata bukan aku saja yang merasa seperti itu. Namun kata kata terakhirnya sedikit menggangguku. Maksudnya apa ya 'Jadi menantu baru '.


Apa Amah berniat menjodohkan kami. Owwhh mataku langsung membulat.


__ADS_2