
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 58 ( Demi Gengsi )
Sedari Shubuh Bu Murni sudah bangun melakukan aktifitas seperti biasanya, namun dia kaget mendengar tangisan Chila di kamar lantai dua nya.
" Loh kok ada suara Chila? "
Dia pun bergegas naik ke atas untuk memeriksa.
Tok tok tok
Ceklek
Pintu dibuka dan yang keluar Ayu sambil menggendong Chila.
" Loh kalian tidur disini? Amah kira kalian sudah pulang kemarin "
Ya setelah obrolan kemarin yang tidak menemukan solusi semua langsung masuk kamar masing masing. Meninggalkan Robi, Ayu dan Chila di ruang keluarga.
" Kita gak pulang Mah udah malam terus gak ada kendaraan " Balas Ayu sambil menguap.
" Kalian kan bisa pesan taksi online. Ya udah Amah mau beberes dulu sekalian siapin sarapan "
Bu Murni pun turun kembali ke bawah, sedangkan Ayu kembali masuk kamarnya karena dia terbiasa bangun siang.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 06.30 Diki keluar dari kamarnya dalam keadaan rapih siap bekerja, dia langsung menuju meja makan.
Disana sudah ada Ikbal, Pak Imam dan Bu Murni.
" Ki kamu belum ngasih jatah Amah jangan lupa nanti sore jangan alasan lagi belum ke Atm "
" Amah ini, kalau soal uang gak ingat waktu. Kalau gini jadi malas mau sarapan juga " Diki menggerutu karena kesal.
" Kamu sensi banget sih kayak lagi PMS aza "
" Mamaahh maamaahh "
Terdengar Chila menangis di lantai 2, semua langsung melihat ke arah tangga.
Robi dan Ayu yang menggendong Chila turun dari tangga dengan wajah bantalnya.
" Kalian menginap disini? kirain kemarin pulang " tanya Pak Imam.
" Mau pulang gimana kan gak ada motor mana udah malam kasihan Chila " Robi menjawab pertanyaan Pak Imam sambil menghenyakan bokongnya di kursi.
" Pake taksi online lah gak mau rugi banget " cibir Diki.
" Terserah akulah lagipula ini bukan rumahmu siapa saja boleh tidur disini. Emang aku ngerugiin kamu? "
" Sangat rugi, makanya ngaca kamu! "
__ADS_1
" Kalian kenapa sih tiap ketemu ribut. Diki kamu cepat berangkat kerja nanti telat. Kamu juga Robi baru makan langsung makan kelihatan pemalasnya. Sama seperti istri kamu "
" Ih Amah kok bawa bawa aku sih " Ayu protes mendengar ucapan Amah.
" Lah iya kamu kan sama saja bangun tidur langsung makan, kerjaanmu bangun siang terus "
Ayu hanya terdiam mendengar ocehan Amah.
Tanpa menyelesaikan makannya Diki langsung pergi, Robi hanya bisa memandang Diki berharap motornya tidak jadi di ambil.
" Bal mau bareng gak, cepetan nanti kesiangan. Jangan kebiasaan bangun siang belajar yang bener biar cepet kerja. Sudah kerja nabung kamu buat beli motor " Diki menyindir Robi dan ternyata kena sasaran muka Robi langsung merah menahan emosi kedua tangannya terkepal.
Ikbal hanya tersenyum melihat kedua kakaknya sedang berseteru. Namun dia tak mau ikut campur.
Walau dia belum lulus sekolah, tapi dia sudah bisa menilai karakter setiap orang yang ada di rumahnya.
Ikbal pun menyusul Diki dan segera naik ke motor karena jalan mereka searah.
" Mah gimana dong aku kerja? nih hari ini juga gak kerja. Habis gaji honorku dipotong "
Mendengar keluhan Robi Bu Murni langsung berhenti makan dan terlihat berfikir, beda dengan Pak Imam yang terlihat tak peduli.
" Gimana Pak ?"
Bu Murni malah balik bertanya pada Pak Imam.
" Kamu punya uang berapa?" tanya Pak Imam.
" Ya udah gak usah pengen punya motor, anak kecil juga ngerti jajan pake duit. Nah kamu sudah tua pengen motor maunya gratis. Ngesot sana "
" Bapak gitu banget sih ngomong, kalau gak mau ngasih ya udah gak usah ngatain aku "
*****
Aktifitas Diki masih berjalan seperti biasa, tak pernah ada pertemuan dengan Novia. Walau terkadang hatinya panas mendengar gosip gosip tentang Novia.
Setiap pulang dia akan melihat Robi yang merengek pada Ibunya meminta motor.
Ibunya pun akan merengek kembali pada Diki agar membantu adiknya. Seperti hari ini Ibunya kembali meminta Diki untuk mencari solusi. Bu Murni sudah jengah dengan Robi.
" Biarin aza Mah dia udah dewasa, suruh dia cari sendiri buat apa Amah yang pusing " Diki tetap menolak permintaan Ibunya
" Kamu gak ngerti, kalau si Robi gak dikasi motor dia bakalan terus kesini. Belum lagi dia minta ongkos untuk ojeg nya "
" Dia juga aneh udah gak ada duit ngapain kesini bolak balik buang buang duit buat bayar ojeg "
" Ayolah Ki bantu Amah ya. Gini aza kamu jual motormu nanti untuk DP 2 motor seperti usul Amah kemarin "
" Mah aku bukan gak mau motor baru tapi aku udah gak mau bayar cicilannya. Lagian motorku juga masih bagus.
Enak banget si Robi dibayarin DP nya nanti pun cicilan pasti merengek lagi. Suruhlah dia minta sama mertuanya "
__ADS_1
" Malu lah sama besan, nanti disangkanya kita gak mampu "
" Ya memang kita gak mampu kan, kalau misal aku ambil motor aku pastikan jatah Amah akan aku pakai untuk bayar cicilan motorku "
" Jangan dong, bisa tekor Amah. Udah mah uang sewa dari Ningsih sudah gak ada masa dari kamu juga harus berkurang. Atau kamu pakai saja jatah Novia buat cicilan motor jadi jatah untuk Amah utuh. Gimana? " Bu Murni menaik turunkan alisnya meminta persetujuan Diki.
" Mah aku masih punya kewajiban buat nafkahin anak istriku, kalau sampai tidak dinafkahi bisa muncul masalah baru "
" Jadi kamu masih ngarep buat balik lagi? ciiihh emang kamu tuh gak punya harga diri " Bu Murni berdecih jijik mendengar ucapan Diki.
" Ya sudah kamu kosongin aza rumah yang kamu tempati sekarang, mending Amah kontrakin buat yang lain kan lumayan buat biaya cicilan motor "
" Terus nanti kalau Novia pulang mau tinggal dimana? "
" Emang dia mau pulang? Amah udah gak mau lihat dia lagi. Bikin masalah saja "
" Ya sudah kalau aku harus kosongin rumah mending aku pindah saja sekalian ngekost lebih irit biayaku "
" Lah jangan gitu dong Ki kamu kok tega sama Amah hiks hiks. Punya anak banyak pun percuma semua cuma bikin susah " Bu Murni menangis tersedu sedu. Dia mengeluarkan jurusnya agar Diki luluh.
" Sudah lah Amah gak usah bersandiwara lagi, aku udah tahu trik Amah "
" Kamu suudzon aza sama Amah, ini nangis beneran hiks hikss " tanggung malu fikirnya mending diterusin sandiwaranya.
Dalam hati Diki bicara " Masa nangis bisa jawab nangis beneran, dasar drama "
" Ya sudah aku kosongin rumah, nanti aku tinggal disini Tapi bulan ini aku gak akan kasih jatah Amah. Aku mau Dp untuk motorku lebih besar supaya cicilannya kecil. Lagipula kemarin aku baru transfer Novia untuk biaya anak anak "
" Terus Amah gimana? " Bu Murni langsung menghentikan tangisnya.
" Mintalah sama si Robi "
" Halah anak itu, yang ada kerjanya minta "
" Berarti deal ya kamu jual motormu untuk DP dua motor heheee " Bu Murni tersenyum sumringah.
" Ya demi gengsi Amah, tapi aku bayar DP motor Robi yang paling rendah dan motor nya gak boleh yang mahal.
Satu lagi aku gak mau tahu soal cicilan motor Robi. Itu urusan si Robi dan Amah jangan minta aku lagi.
Kali ini aku serius, kalau ada apa apa Amah tanggung sendiri " tidak seperti biasanya Diki bicara sangat tegas, Ibunya pun sampai ternganga.
Selesai bicara Diki pun pergi ke kamar karena lelah sepulang bekerja.
" Syukurlah akhirnya tangisanku berhasil meluluhkan hati Diki, tidak sia sia aku menangis " gumam Bu Murni.
" Aku denger Mah " Diki menjawab gumamam Bu Murni, rupanya Diki sedang berdiri di belakang Bu Murni.
Tadi dia ke kamar hanya saja HP nya tertinggal di meja jadi dia kembali, tak sengaja dia mendengar gumaman Ibunya.
Bu Murni tersentak kaget wajahnya merah menahan malu seperti kepiting rebus, dia pun menutup mulutnya dengan sebelah tangan kemudian berdiri menuju kamarnya sambil terkikik.
__ADS_1
" Huhhh dasar ratu drama, demi gengsi apapun dilakukan " Diki hanya bisa menggelengkan kepalanya.