
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 55 ( Hot Gosip )
" Heh Diki ngapain kamu tidur di kursi, bangun sudah shubuh " Bu Murni membangunkan Diki. Rupanya dari kemarin dia tidak berpindah dari kursi.
" Bentar lah Mah masih ngantuk mana pegal lagi " Diki pun bangun berniat pindah ke kamarnya.
" Suruh siapa tidur di kursi, jangan lupa uang jatah Amah. Jangan pura pura lupa harusnya kan kemarin "
Tanpa menggubris omongan Ibunya Diki langsung masuk kamar melanjutkan tidurnya.
" Bukannya bangun malah lanjut tidur " Bu Murni menggerutu melihat kelakuan Diki. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.
Jam setengah 7 Diki sudah selesai bersiap pergi ke pabrik. Dia menuju meja makan bergabung dengan keluarganya.
" Jadi gimana Ki soal motor sudah ada solusi?" Pak Imam bertanya pada Diki.
" Ya paling aku ambil motor yang ada di Robi itu kan motorku Pak"
" Ya janganlah kasian si Robi, dia mau pake apa?" Ibunya langsung menolak.
" Amah gimana sih itu kan motor aku, sudah lama kan dia pinjam. Harusnya dia sudah punya tabungan untuk beli motornya selama dia pinjam motorku kemarin. Jangan keenakan gitu, aku aza pengen motor mesti nabung dulu "
" Boro boro punya tabungan gajinya kan kecil Amah saja sering ngasih dia " ucap Bu Murni.
" Oh jadi gitu, Amah minta aku tapi dikasih ke yang lain " Diki langsung menghentikan suapannya.
" Bukan gitu Ki, kamu kan dua duanya kerja kalau Robi istrinya gak kerja jadi ya Amah bantu "
" Gak bisa gitu dong Mah, kalau seperti itu namanya gak adil. Aku juga punya keluarga punya kebutuhan.
Aku bukan dinas sosial yang harus bantu semua orang "
" Ya maksudnya gak gitu. Kok kamu marah sih, gak sopan sama orang tua "
" Udah lah aku bosan denger itu itu saja senjata andalan Amah. Apa Amah juga ngga merasa berdosa sudah meras aku.
Kalau aku gak bisa ambil motor di Robi berarti Aku gak akan bisa ngasih jatah sama Amah karena uangku mau kubelikan motor "
Diki langsung berdiri dan bergegas keluar karena ojeg online pesanannya sudah menunggu.
" Gak bisa gitu dong Ki, kamu jadi tega gitu sih " Ibunya mengejar Diki sampai pintu, namun berhenti karena melihat banyak tetangga yang sedang nongkrong.
" Eh A' Diki naik ojeg lagi ya, motornya masih dibengkel? " Kali ini Yuyun yang bertanya.
" Iya ceu "
__ADS_1
" Kirain motornya diambil yang punya " Yati ikut menimpali.
Diki merasa emosi mendengar ocehan tetangganya. Rupanya berita Novia mengambil paksa motornya sudah tersebar.
Dia lupa banyak juga tetangga yang bekerja di pabriknya. Dalam waktu semalam saja semua orang bisa tahu apapun. Dasar netizen fikirnya.
" Maksudnya apa ya?" Diki berbalik melihat ke arah Ibu-ibu padahal sebelumnya dia mau naik ke motor driver pesanannya.
" Sudah sudah kamu berangkat kerja saja jangan dengerin ocehan mereka " Bu Murni berusaha menengahi. Dia gak mau kalau sampai Diki meladeni Ibu-ibu ghibah di daerahnya, bisa makin panjang urusannya.
" Sana kalian atau mau saya siram pakai air cucian hahhh "
" Huhuuuu, sabar dong jadi orang " jawab tetangganya sambil membubarkan diri.
" Sial*n rupanya sudah banyak yang tahu perihal motor itu. Aku harus nyari solusi jangan sampai kena malu gara gara anakku tak punya motor " Bu Murni masuk ke dalam sambil menggerutu.
** Di pabrik
" Nyampe juga di pabrik, gara gara motor diambil bisa tekor nih bolak balik pake ojeg. Untung saja baru gajian "
" Pagi Pak, jadinya naik Ojeg ya Pak? "
" Kurang ajar dasar Satpam gak ada kerjaan ngapain dia nanya. Itu pasti maksudnya menyindirku " Diki menggerutu dalam hati.
Diki tidak menjawab pertanyaan tersebut dia hanya tersenyum dan pergi berlalu.
" Sombong banget " Satpam itu berdecih karena pertanyaannya tidak dijawab Diki.
" Pagi pak " tiba tiba saja Bu Teti bagian Cleaning Service sudah ada disebelah Diki.
" Haduh Bu Teti ini bikin saya kaget, tiba tiba ada disini sudah kayak jalangkung saja " Diki menjawab sambil mengusap dadanya.
" Halah Bapak lebay udah kayak manula saja kagetan gitu "
" Ada apa Bu, mau bawa gosip lagi?"
" Kok Bapak tau sih?"
" Ya tau lah, muka Ibu muka muka tukang ghibah "
" Eh si Bapak malah ngeledek. Saya kan bawa gosip hot yang infonya paling akurat "
" Emang bawa berita apa?"
" Heheee itu, tapi Bapak jangan marah ya. Kemarin motor Bapak diambil kan sama Bu Novia kan?" Bu Teti menghentikan ucapannya karena melihat Diki menatapnya tajam.
" Ah sialan langsung tersebar, ini namanya aib. Masa seorang Diki rebutan motor.
__ADS_1
Sebagai seorang Supervisor harga diriku terasa direndahkan " Diki membatin membayangkan kejadian kemarin pastinya sudah menjadi buah bibir.
" Apalagi lanjutkan! "
Bu Teti tersenyum dia merasa berhasil mengajak orang berghibah " Nah pas Bapak pulang, Bu Novia naik mobil Pak Candra. Malah ada yang lihat mereka jalan tapi bukan menuju rumah Bu Novia "
Mendengar itu rahang Diki langsung mengeras, kedua tangannya dikepalkan.
" Menurut Bapak mereka kemana, dua orang dewasa berduaan wowww "
Seketika itu Diki langsung melotot dan menatap tajam Bu Teti.
" Maksud Ibu apa? jangan bikin rumor yang enggak enggak saya bisa nuntut Ibu ya "
" Lah emang saya bilang apa? saya kan cuma bilang mereka berduaan. Salahnya dimana? Harusnya Bapak berterima kasih karena saya sudah ngasih tahu Bapak"
" Ya salahnya itu, ucapan Ibu bisa menggiring opini orang berfikiran buruk. Gak perlu berterima kasih kalau berita nya cuma bawa penyakit. Penyakit Hati "
" Ah itu mah orangnya saja suudzonan, gampang terhasut setan " dengan tampang tanpa merasa berdosa Bu Teti mencoba berkelit.
" Iya setan nya kan Ibu, sudah Ibu kerja sana jangan ghibahin orang terus. Nanti saya laporkan Ibu ke bagian HRD karena sudah mengganggu konsentrasi orang bekerja "
" Ih jangan dong Pak, anak saya masih kecil kecil gak ada Bapaknya " Bu Teti memohon pada Diki supaya tidak dilaporkan.
" Makanya sudah sana kerja "
Bu Teti pun langsung lari tanpa melihat kebelakang. Rupanya ancaman Diki berhasil.
" Pantesan anaknya gak ada Bapaknya. Lah gimana mau tahan punya istri kerjanya buka aib orang.
Entar aib suaminya di buka buka juga lagi. Pagi pagi sudah bikin emosi saja. Si*l terus dari kemarin ".
Diki kembali duduk di kursinya dengan lesu. Gara gara Novia dia jadi bahan ghibahan para karyawan. Diraihnya HP yang tergeletak di meja. Dia mencari kontak Novia.
[ Sudah puas kamu bikin malu aku dengan cara mengambil motor depan banyak orang? ] Send
Tak berapa lama ada balasan masuk ke HP nya.
[ Untuk apa aku malu, itu barangku dibeli memakai uangku. Harusnya kamu yang malu keenakan pakai barang orang. Andai saja kamu memberikannnya secara sukarela pastinya keributan itu tidak akan terjadi ]
" Sudah pintar menjawab rupanya, ini pasti dapat pengaruh dari kakaknya " Diki terus saja berfikiran buruk pada keluarga Novia.
[ Sudah pintar ngomong kamu sekarang, setelah dengan si Adrian sekarang kamu ada main sama atasanmu. Cih dasar perempuan gak tahu malu ] send
[ Mereka lebih baik daripada kamu ]
Braakk
__ADS_1
" Sial*n " umpatnya.
Diki menggebrak meja membaca balasan dari Novia. Saking kerasnya suara gebrakan tersebut sampai sampai orang yang ada di sekeliling Diki merasa kaget. Mereka langsung melihat ke arah Diki dengan tatapan heran.