arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Perjanjian Robi Dan Warso


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 126 ( Cantika Mengamuk )


" Robi " ucap Cantika dengan matanya yang nyalang.


" Tika, Diki? " Robi terlihat kaget tak menyangka bertemu kedua saudaranya di rumah ini.


" Ka-kalian sedang apa di-disini? " tanyanya terbata bata.


" Kamu..." tunjuk Cantika ke arah Robi, dadanya terlihat naik turun menahan amarah.


Diki yang faham situasi sudah tidak kondusif menarik Cantika untuk berdiri di belakangnya.


" Duduklah dulu Bi " titah Diki dengan suara tegas.


Ingin rasanya Robi berlari keluar melihat ada kedua kakaknya berada disini, dia yakin mereka sudah mengetahui kecurangannya selama ini.


Dia pun malu harus terbongkar di hadapan orang lain, sebab saat ini ada Pak Warso sebagai penghubung dan Bu Isma sebagai pemilik bangunan yang melihat kejadian ini.


" Silahkan duduk Mas Robi, kita duduk bersama untuk membicarakan masalah ini "


Isma yang langsung faham setelah melihat tamunya saling mengenal mempersilahkan Robi duduk. Dia juga melihat Robi begitu shock melihat keberadaan kedua tamunya lebih tepatnya kakaknya.


" Mari kita duduk bersama untuk menyelesaikan masalah. Sebenarnya saya merasa tak enak ikut campur dalam masalah ini karena saya rasa ini masalah intern.


Tapi sedikitnya saya ada sangkut pautnya karena yang jadi permasalahan adalah bangunan yang saya sewakan bukan? " ujar Bu Isma dengan ramah.


Dengan terpaksa Robi pun duduk dan memilih sedikit berjauhan dengan kedua saudaranya. Dia terlihat lesu seperti sudah kalah perang.


" Pak Warso perkenalkan ini adalah Mbak Cantika dan Mas Diki, mereka kakaknya Mas Robi. Dari cerita yang saya dengar tadi Mbak Cantika inilah yang menyewa toko di jalan xxxx. Benar kan Mbak? " Bu Isma melihat ke arah Cantika.


Cantika menganggukan kepalanya, gapi tatapannya tidak beralih dari Robi.


Wajah Pak Warso berubah pucat, dia langsung menatap ke arah Robi yang duduk di sampingnya. Awalnya dia bingung siapa dua orang yang sedang bersama Bu Isma.


Sekarang sudah terjawab mereka penyewa sesungguhnya. Jantungnya berdegup kencang dia pun menjadi salah tingkah. Dia jadi menyesal telah membuat kesepakatan bersama Robi.


Flash Back On


Siang itu Pak Warso sedang berada di rumahnya, dia merupakan orang kepercayaan Pak Dibyo untuk mencari atau sebagai penghubung peminat kontrakan dan kost an milik keluarga Pak Dibyo.


Karena Pak Dibyo sedang sakit untuk sementara di ambil alih oleh Bu Isma. Sebenarnya Pak Warso enggan berhubungan dengan Bu Isma karena dia kurang loyal berbeda dengan suaminya sering memberi uang tip yang besar.


Drtt ddrrtt


Ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk.


[ Hallo dengan siapa ini? ]

__ADS_1


[ Hallo, perkenalkan nama saya Robi. Saya melihat tulisan ruko disewakan di jalan xxx apakah masih disewakan? ]


Seketika Pak Warso langsung sumringah mendengar ada rezeki yang akan datang.


[ Oh iya benar Pak rukonya mau disewakan ]


[ Berapa Pak harga sewanya? ]


[ Sebaiknya kita lihat dulu kondisinya, saya gak mau Bapak kecewa. Kalau misal udah sama sama lihat kan enak ]


[ Baiklah kita bertemu di depan rukonya ya Pak. Sejam an lagi bisa Pak? ]


[ Tentu saja bisa, saya tunggu ya Pak ]


** 1 jam kemudian


Beberapa menit Pak Warso menunggu di depan ruko akhirnya Robi datang bersama Ayu dan Chila.


" Siang Pak saya Robi yang tadi menelepon Bapak, ini istri dan anak saya " ucap Robi memperkenalkan diri dan keluarga kecilnya.


" Saya Warso, bagaimana kalau kita lihat sekarang ke dalam Pak Robi " ajaknya.


Mereka pun masuk ke dalam melihat kondisi toko tersebut.


" Wah Pak ternyata dalamnya banyak yang rusak dan cukup parah "


" Berapa Pak ini harga sewanya? " tanya Robi.


" Saya kasih 17 juta lah pertahun dengan kondisi seperti ini "


" Wah mahal sekali Pak, ini kan kondisinya sudah banyak kerusakan "


" Ya itu kalau Mas Robi mau, bisa aja ini di bagusin tapi harganya beda bisa 30 sampai 40 juta pertahun "


" Wah mahal juga ya, sebentar saya ngobrol dulu sama istri saya "


Robi mengajak Ayu berbicara sedikit berjauhan dari Pak Warso.


" Yu harganya 17 juta pertahun dengan kondisi seperti ini, bisa di renov dulu tapi katanya harganya bisa 30 sampai 40 juta "


" Mahal banget ya A'. Mmmhhh gimana kalau di tawar lagi aja 15 juta. Kan Teh Tika nyuruh ngontrak sampai dua tahun bilanglah diskon gitu "


Pasangan suami istri itu terlihat sedang berbisik bisik. Tak lama Robi pun menghampiri Pak Warso.


" Pak gini ajalah saya minta 15 juta pertahun, rencananya saya akan mengontrak untuk dua tahun " Robi membujuk Pak Warso.


" Mmhhhh gimana ya Mas, sebenarnya ini bukan milik saya jadi saya juga harus nanya sama yang punya. Bisa aja nanti saya bantu tapi ya pasti ngerti lah si Mas nya "


Robi faham dengan kode yang diberikan Pak Warso pasti ini semua berbau uang. Tiba tiba ada sebuah ide terlintas di kepala Robi.

__ADS_1


" Gini aja lah Pak saya juga bukan orang yang akan nyewa. Saya mencarikan untuk kakak saya. Bagaimana kalau kita bekerja sama saja "


" Maksudnya gimana Mas? " Pak Warso terlihat kebingungan.


" Gini Pak saya mau bilang sama kakak saya kalau sewa tokonya per tahun 30 juta. Nah nanti Bapak tawar semurah mungkin ke pemiliknya. Ini cepatnya aja ya Pak. Buat Bapak 5 juta buat saya 10 juta dari per tahunnya. Gimana? " bujuk Robi.


" Kok gedean Mas Robi sih? " rupanya Pak Warso keberatan dengan usul Robi.


" Ya wajarlah Pak, kan saya yang dapat customernya Bapak cuma bantu ngomong ke pemiliknya. Gimana mau gak? kalau gak mau saya gak masalah saya mau cari ruko yang lain saja " pancing Robi.


Pak Warso terlihat berpikir, dia berjalan mondar mandir sesekali dia melihat ke plafon kemudian beralih ke Robi.


" Ambil jangan ya kalau di ambil aku takut ketahuan bisa malu nanti sama Bu Isma apalagi sama Pak Dibyo. Dia udah percaya banget sama aku.


Tapi kalau gak diambil rugi juga, rezeki gak akan datang dua kali. Apalagi sekarang semua urusan di pegang Bu Isma pelit banget ngasih tip "


Akhirnya setelah beberapa lama berpikir dia menghampiri Robi untuk memberikan keputusan.


" Oke lah Mas saya setuju deh " ucap Pak Warso.


" Ok deal ya Pak " mereka pun bersalaman pertanda sudah terjalin kerjasama antara mereka berdua.


Flash Back Off


" Mati aku kakaknya Mas Robi datang kesini. Bisa malu aku sama Bu Isma, ini semua gara gara si Robi ngajak gak bener. Bisa hancur reputasiku, pastinya mereka gak akan percaya lagi sama aku " Pak Warso bermonolog dalam hatinya.


" Pak Warso, Pak? kok malah melamun sih " teguran Bu Isma membuat lamunan Pak Warso buyar.


" Eh iya Bu maafkan saya Bu " tiba tiba Pak warso tersedu sedu.


" Maaf untuk apa Pak, apa Bapak bikin salah? " Bu Isma bertanya pada orang kepercayaan suaminya itu.


Robi yang mulai melihat gelagat tak enak, dia mulai memindai sekeliling. Tanpa sengaja pandangan matanya ke arah Cantika dan Diki.


Bulu kuduknya meremang melihat kedua kakaknya melotot, sepertinya mereka tahu niat Robi untuk lari. Dengan susah payah dia menelan air ludahnya kasar.


Glek


Tatapan mereka menyiratkan ancaman " Kamu lari, mati! "


Mau tak mau Robi duduk pasrah menerima nasibnya. Mau lari pun percuma karena mereka akan bertemu di rumah.


" Iya Bu saya di ajak Mas Robi kerjasama menaikan harga sewa. Waktu itu Mas Robi sewa 15 juta per tahun tapi Mas Robi bilang sama penyewanya uang sewa 30 juta per tahun.


Saya dapat 5 juta dari per tahunnya dan Mas Robi dapat 10 juta dari per tahunnya. Maafkan saya Bu saya khilaf " Pak Warso menceritakan isi perjanjian mereka pada majikannya.


Bahu Robi pun luruh " Tamat sudah riwayatku, mati aku "


" Apa kamu naikan harganya dua kali lipat, kurang aj*r kamu Robiiii " pekik Cantika sambil berdiri.

__ADS_1


__ADS_2