
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 43 ( Tidak Ada Titik Temu )
" Maksud kamu apa bicara di jajah?" Cantika seketika berdiri dengan wajah memerah.
Suasana didalam terasa menjadi panas padahal pintu dalam keadaan terbuka lebar. Cuaca sore juga cukup segar sebelum kedatangan keluarga Diki.
Walau tidak menggunakan AC tapi sirkulasi udara rumah ini sangat baik.
" Duduk kamu Cantika " titah Pak Imam.
Cantika langsung duduk kembali walaupun hatinya masih terasa emosi " Saya gak terima pak dia berkata seperti itu. Wajar dong kalau adiknya bantu pekerjaan rumah amah. Apalagi dia numpang ".
" Lah emang itu kenyataannya kok, kamu fikir keluarga kita gak tau kalau Novia sudah seperti pembantu.
Kalaupun kami diam itu hanya karena tak ingin ikut campur dalam urusan Rumah Tangga Novia dan berusaha menjaga perasaanya.
Tapi tidak dengan keadaan sekarang kami merasa sudah cukup dengan perlakuan yang Novia terima selama ini " Manda pun tak kalah emosinya menjawab ucapan Cantika.
" Lebih anehnya lagi mana ada ceritanya anak menantu tinggal di rumah orang tua tapi disebut menumpang.
Giliran beda rumah harus bayar biaya sewa mana jatah bulanan tetap diminta "
" Sudah teh tahan dulu emosinya " Novia mengusap tangan Manda. Dadanya terlihat naik turun karena emosi.
" Gapapa Vi bapak memahami kemarahan kakakmu. Bahkan bapak malu kalau ingat perlakuan kami padamu " Pak Imam berucap dan matanya berkaca kaca.
" Maafkan teh Manda ya pak, teh Manda gak ada maksud berbicara seperti itu. Dia hanya emosi "
" Maaf pak Imam suasana jadi tidak enak begini. Biar saya tegur nanti keponakan keponakan saya ini " Arif berusaha menenangkan keadaan.
" Coba itu ajari keponakannya bersikap sopan, kita kesini datang baik baik untuk meminta maaf tapi sambutannya seperti ini " Bu Murni mengeluarkan suaranya walaupun dengan gayanya yang tetap judes.
" Apa ibu sudah mengajari anak anak ibu dengan baik?
Ibu gak usah mengajari paman saya, sebaiknya ibu bercermin.
Benar kata pepatah gajah di pelupuk mata tak terlihat tapi semut diseberang lautan terlihat dengan jelas. " Manda kembali berbicara namun intonasi suaranya tak setinggi sebelumnya.
__ADS_1
" Berhenti kamu mengatai ibuku, kamu kira kamu sudah lebih baik.
Pantas saja diusiamu kamu belum menikah, selain kelakuanmu barbar mulut mu pun tak bisa dijaga " Teriak Cantika dengan suara menggelegar.
" Berhenti berteriak di rumahku kamu pun tak lebih baik dariku. Kamu mengira dengan memiliki suami jadi terlihat lebih baik. Belum tentu rumah tangga mu pun bahagia.
" Kamu menyumpahi kakakku? " Robi ikut berbicara seakan tak malu ikut dalam keributan wanita.
" Aku tidak menyumpahi kakakmu, karena aku tau do'a yang jelek akan berbalik pada orangnya.
Mulut kakakmu pun tak dapat dijaganya.
Lagi pula aku tak perlu mendo'akan hal buruk karena karma akan datang dengan sendirinya "
" Berhenti bicara berputar putar apa yang kau tahu soal rumah tanggaku? "
" Gak ada, kamu cari tau aza sendiri " dengan santainya Manda mengendikan bahunya.
" Kalau kamu tak tahu jangan asal bicara, kamu mau tak laku seumur hidupmu "
" Hahaaa kamu pun lucu tau apa kamu tentang hidupku. Perlu kalian tahu laki laki yang mendekatiku banyak. Hanya saja aku belum bertemu yang cocok.
Aku tak mau memaksakan menikah kalau hatiku belum menemukan orang yang tepat.
Lebih parahnya lagi punya suami yang punya selingkuhan diluaran. Di rumah saja seperti kucing manis diluaran udah kayak kucing garong"
Wajah bu Murni keliatan masam mendengar ucapan Manda. Entah mengapa hatinya tersentil.
" Sudah Manda, hormati kedatangan tamu kita. Masalah Novia yang lalu kita kesampingkan dulu.
Kita harus terima niat baik mereka untuk datang meminta maaf "
" Baiklah aku diam karena menghargai permintaan paman dan pak Imam, tapi kutegaskan sekali lagi masalah ini muncul karena kesalahan yang menumpuk dan aku harap permintaan maaf mereka benar benar ikhlas bukan karena menghindari penjara "
" Soal ikhlas dan gak ikhlas itu urusan mereka yang terpenting hati kita saja " tukas Arif berusaha menenangkan Manda.
Novia pun melihat Manda sudah tak dapat menahan emosi layaknya gunung berapi yang siap meletus.
" Bahaya ini kalau diteruskan paling hanya menghasilkan keributan " Novia hanya membatin.
__ADS_1
" Pada intinya kami datang hanya meminta maaf dan saya ingin meminta video itu di hapus " Kali ini Robi yang berbicara, karena dia merasa makin lama disini suasana akan semakin panas.
" Mohon maaf, gimana gimana? " sela Manda dia merasa sebal mendengar ucapan Robi.
" Kalian itu terlalu banyak permintaan, pertama meminta maaf tapi wajah tidak bersahabat seakan tak ikhlas. Tapi tak apalah kami maafkan kasian sudah datang jauh jauh.
Kedua kalian meminta video rekaman cctv dihapus. Kalau yang itu maaf maaf saja kami tak bisa. Anggap saja itu jaminan supaya kalian tidak terus membuat ulah "
" Sombong kalian, percuma kami datang merendahkan diri untuk meminta maaf.
Sebenarnya aku pun tak sudi minta maaf pada kalian kalau bukan desakan suamiku.
Ayo lebih baik kita pulang, tak sudi aku berbesan dengan keluarga ini "
Bu Murni berdiri dari duduknya dan berbicara sambil menunjuk nunjuk pada Manda dan Novia.
" Ya mending kita pulang percuma kita lama lama disini " timpal Robi dia pun berdiri dan menarik tangan Ayu.
" Silahkan kalian pulang sudah tau kan pintunya. Aku pun tak mau punya keluarga seperti kalian dasar benalu " Manda membalas ucapan Bu Murni dan Robi dengan lantang tangannya diangkat satu menunjuk ke arah pintu.
" Teteh udah ih, malu tau nanti tetangga pada datang " Novia berkata seraya menurunkan tangan Manda.
Semua keluarga Diki berdiri bersiap pulang, mereka menuju pintu. Hanya Pak Imam yang masih duduk sambil tertunduk.
" Sudah pak yang sabar, saya mengerti perasaan Bapak tapi saya juga menghargai perasaan keponakan saya makanya saya tidak bisa berbicara banyak.
Saya hanya berharap kedepannya tidak ada masalah lagi" Arif berusaha menenangkan Pak Imam yang terlihat kecewa.
" Iya pak makasih, saya mohon maaf sebesar besarnya untuk kejadian hari ini. Sebenarnya bukan kejadian seperti ini yang saya inginkan "
" Saya faham pak " Arif mengusap bahu Pak Imam.
" Novia, Manda maafkan bapak ya datang kesini hanya menambah masalah "
tiinn tiiinn
suara klakson mobil terdengar kencang, sepertinya mereka memberi tanda pada Pak Imam untuk segera pulang.
" Pak sepertinya sudah pada menunggu, Novia mengerti kok posisi Bapak.
__ADS_1
Novia harap bapak bersabar ya " lalu Novia mencium tangan Pak Imam.
" Baiklah Vi bapak pulang dulu ya, mari Pak Arif, manda. Sekali lagi terima kasih. Assalammu Alaikum "