arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Siapa Yang Mulai


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 114 ( Siapa Yang Mulai? )


Semua saling berteriak dan tak berhenti saling melempar sampai tiba tiba ada air yang menyiram mereka.


" Aargghh bauuu " teriak Euis yang berbarengan dengan yang lainnya.


" Iya bau banget "


" Sial*n siapa yang nyiram pake air comberan? " Yuyun berteriak marah.


" Hahaaa "


Warga yang menonton aksi mereka langsung tertawa berbarengan.


" Bau ya Yun, lanjut lagi dong rame nih tontonan sore " ujar sesebapa yang berdiri paling depan.


" Ibu ibu tolong berhenti ini sudah mau maghrib. Kalian gak malu di tonton warga, disini banyak anak kecil bukannya memberi contoh baik ini malah ngasih contoh buruk " seru Pak RT.


" Jadi Pak RT yang nyiram kami? " tanya Bu Murni dengan lantang.


" Ya saya sama Pak Hansip yang sudah menyiram kalian. Kalau kalian tidak di siram belum tentu mau berhenti " sahut Pak RT tak mau kalah suaranya pun dibuat keras.


" Ya tapi jangan pake air comberan juga dong " timpal Yati yang badannya menjadi tambah hitam karena lumpur selokan.


" Kamu bau banget sih Yat, jangan deket deket aku. Sana sana " ucap Yuyun yang tak tahan bau badan Yati.


" Ah kamu Yun kamu juga sama bau pake bilang bau ke aku lagi "


" Si Yati gak di siram juga tetep bau Yun " Euis menimpali ucapan Yuyun.


" Ahahaaa " warga kembali tertawa.


Dari kejauhan mereka melihat ada Robi yang berlari tergesa gesa mendekati mereka.


" Ada apa ini Pak RT kok rame banget " tanyanya sambil melihat sekitar yang dipenuhi warga karena warung Ceu Juju berada di depan lapang.


" Huhuuu " warga serempak meneriakinya.


" Dasar kamu kayak Polisi Ind*a udah beres masalah baru datang " teriak Bu Murni.


" Iya bener bener, giliran gratisan paling depan " teriak seseibu.


" Hahaaaa " warga kembali tertawa.


" Si*l mereka tahu kebiasaanku jadi malu kan di tertawakan warga seperti ini. Nyesel aku datang kesini " gumam Robi dalam hati.

__ADS_1


" Robi ayo kita pulang "


Robi menautkan alisnya dan memandang wanita yang bicara di depannya, hidungnya langsung ditutup karena bau. Dia mengenali suara itu, suara yang sering meneriakinya.


" I-ini Amah? " tanyanya.


Bu Murni langsung menoyor kening Robi " Kurang ajar kamu, ibu sendiri gak kamu kenali "


" Benar ini emang Amah, aku hafal dengan kebiasaannya yang noyor kepala aku kalau lagi jengkel " Robi membatin.


" Kok Amah bau sih, mana Ayu? " tanyanya lagi, tangannya masih belum lepas dari hidungnya.


" Ini aku A' " ucap Ayu sambil mendekat


" Ih kamu kok sama kayak Amah, jorok banget sih " kini tangan Robi dikibas kibas depan wajahnya.


" Sudah sudah ngobrolnya nanti, sekarang sudah maghrib lebih baik kalian membersihkan diri. Setelah Isya saya tunggu kalian di rumah saya. Kalau kalian tak hadir Hansip akan menyeret kalian. Ingat itu " ucap Pak RT dengan tegas.


Benar yang diucapkan Pak RT suara adzan sudah menggema, memanggil semua umat muslim untuk beribadah.


" I- iya Pak RT "


" Iya Pak RT "


Mereka yang terlibat saling lempar menjawab dengan serempak.


" Sekarang semuanya bubaarr bubar " ujar Hansip yang menemani Pak RT.


Mereka meninggalkan tanah lapang yang sudah berantakan. Ceu Juju menangis melihat barang barang jualannya sudah berantakan terbang kesana kemari.


Sedang yang lain sibuk mencari sendal yang tadi mereka lempar. Hanya Bu Murni yang langsung pulang karena tadi dia lupa memakai sandal saking emosinya.


***


Rumah Pak RT


Pukul setengah 8 malam warga sudah mulai ramai mendatangi rumah Pak RT karena ingin tahu kelanjutan soal keributan tadi sore di warung Ceu Juju.


Bu Murni datang bersama Ayu, Robi dan Pak Imam. Ceu Juju bersama anak laki lakinya karena dia seorang janda.


Untuk Mayang dia datang bersama suaminya. Dan untuk tim YEY ( Yati, Euis, Yuyun ) mereka datang sendiri tanpa ditemani anak atau suami.


Kini semua berkumpul di rumah Pak RT, untung saja rumah Pak RT cukup luas jadi bisa menampung orang orang yang terlibat tawuran tadi sore. Sedangkan warga yang menonton berada di luar dengan keamanan ketat Hansip karena mereka saling dorong ingin menyaksikan langsung.


Mereka sengaja datang berbondong bondong ingin melihat hasil akhirnya, bahkan tak sedikit ada yang berharap mereka ribut kembali dan menjadi babak kedua untuk tawuran tadi sore.


Setelah semua berkumpul Pak RT mulai membuka obrolan.

__ADS_1


" Assalammu Alaikum, saya sebagai Ketua RT meminta waktu pada bapak ibu untuk membahas perihal keributan tadi sore.


Dari yang saya dengar Ceu Juju mengalami kerugian yang cukup besar. Jadi sebenarnya ada masalah apa bisa sampai terjadi aksi saling lempar seperti tadi.


Dan saya ingin tahu siapa yang memulainya? agar kita bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya tolong Ibu-ibu kooperatif " ucap Pak RT panjang lebar seperti kereta api.


Mendengar pertanyaan Pak RT semua menatap ke arah Bu Murni. Sadar dirinya jadi pusat perhatian Bu Murni langsung membuang wajahnya.


" Teh Yuyun jadi bagaimana cerita awalnya? " tanya Pak RT kembali.


" Saya sih tadi lagi di rumah Pak RT, tapi ada yang manggil diajak ke lapang, katanya depan warung Ceu Juju rame Bu Murni sedang ngereog. Lah saya sebagai cctv RT sini pantang melewatkan acara seperti itu. Bisa kecewa fans saya kalau saya gak menyaksikan langsung untuk di kabarkan ke warga lain " jawabnya santai.


" Huhuuu " tiba warga bersahutan menyoraki Yuyun.


" Dasar tukang ghibah "


" Hidup Teh Yuyun "


Rupanya warga terbagi dua kubu ada yang mendukung Yuyun dan ada yang mencela Yuyun.


Yuyun yang merasa di dukung tersenyum dan melambai lambaikan tangannya, mengacuhkan sebagian orang yang menyorakinya.


" Sudah diam diam, kalau Ibu, Bapak gak bisa tertib saya akan bubarkan semuanya " seru Pak RT pada warga yang menyaksikan di luar.


Mendengar ancaman Pak RT semua warga terdiam menuruti permintaan Pak RT.


" Jadi sebenarnya siapa yang memulai keributan ini? " suara Pak RT mulai terdengar tegas.


Semua memandang kembali ke arah Bu Murni, mereka seakan memberitahu bahwa biang masalahnya itu dia.


Sadar dirinya di pandang semua orang Bu Murni kembali membuang wajah sambil mendelikan matanya.


" Apa bener Amah yang memulai keributan ini? " tanya Pak Imam yang duduk disamping istrinya itu.


" Ini bukan salah Amah Pak, coba kalau si Mayang gak usil pasti gak akan ada keributan kayak tadi. Ini tuh semua gara gara Mayang " Bu Murni berkilah dan menunjuk Mayang yang menjadi pemicunya.


" Loh kok saya sih Bu, kan Ibu yang datang ke rumah saya teriak teriak manggil saya. Banyak kok saksinya, bener gak Ibu-ibu " Mayang yang tak mau disalahkan mencari dukungan dari ibu ibu yang berada di luar.


" Iya bener Pak RT "


" Bener Pak RT Bu Murni yang datang ke rumah Bu Mayang teriak teriak "


" Bu Murni ngaku Bu Murni jangan lempar batu kalau lempar uang boleh hahaaa "


" Huhuuuuu "


Warga saling bersahutan memojokan Bu Murni. Merasa dirinya dipojokan Bu Murni langsung berdiri " Hehhh kalian diam, Pak RT mending usir mereka, bukan beresin masalah malah tambah bikin saya panas "

__ADS_1


" Diam semua diam, benar kata Bu Murni kalian semua bikin gaduh. Sekali lagi saya peringati kalau kalian gak mau diam saya bubarkan semuanya " kali ini Pak RT mendukung Bu Murni.


Karena Pak RT juga pusing dengan kerumunan warga yang sudah seperti pasar malam. Mereka ingin melihat pertemuan tersebut sampai memenuhi teras rumahnya.


__ADS_2