
# Arisan bodong Keluarga Suami
Bab 76 ( Surat Dari Pengadilan )
Pagi pagi Bu Murni sudah bangun, sarapan sudah disiapkannya. Sekarang dia mau ke warung Juju untuk berburu sayuran bareng Ibu-ibu tetangganya.
" Bu Murni tumben pagi pagi udah datang kesini? " tanya Ceu Juju pemilik warung sayuran.
" Iya mumpung masih pagi biar sayurannya belum dipilah pilah sama yang lain "
Padahal sebenarnya Bu Murni menghindari Yuyun dan Yati CS dia takut di bully karena postingan FB nya yang kompakan memakai baju pemberian Nuri yang ternyata dari toko Novia.
Setelah beberapa hari barulah Bu Murni berani keluarga, dia berharap tetangganya sudah lupa postingan FB nya beberapa hari yang lalu itu.
" Eh Bu Murni belanja Bu? "
Baru mendengar suaranya saja Bu Murni langsung merotasi matanya, dia tahu itu suara musuh besarnya.
" Teh Yuyun belanja juga, tumben ih kalian pada datang pagi. Tapi gak papalah biar dagangan saya cepat habis hehee " ucap Juju.
" Loh Bu Murni baju barunya gak dipake ya? baju bagus harus sering dipake ngapain cuma diposting saja "
Ujar Yuyun dengan suara lantang sepertinya dia ingin memancing yang lain agar ikut mengomentari.
" Suka suka saya dong, mau dipake, mau diposting, mau disimpan juga. Kok kamu yang repot " dengan suara yang tak kalah lantang Bu Murni membalas ucapan Yuyun.
" Oh iya saya kemarin lihat postingan Ayu, duh Bu Murni kompak banget ya. Eh tapi itu ada satu perempuan yang saya gak kenal siapa sih " Juju yang memang belum tahu siapa Nuri sengaja bertanya karena ia merasa penasaran.
" Ih kamu ketinggalan, itu kan pacar baru Diki. Iya kan Bu Murni? "
" Ah yang bener, bukannya Diki masih sama Novia ya? "
Mendengar obrolan Juju dan Yuyun telinga Bu Murni terasa panas. Dia merasa dipojokan tetangganya.
" Sudah sudah ngapain kalian ngurusin keluarga saya, apa saya minta makan pada kalian?
Asal kalian tahu ya Diki sudah mentalak Novia. Jadi ya sah sah saja kalau Diki mau jalan sama perempuan lain "
" Waahh yang bener Bu Murni? "
Yati yang baru saja datang langsung membulatkan mulutnya. Dia berdiri tepat di belakang Bu Murni.
" Senang kalian dapat bahan gosipan kan? "
" Hehee Bu Murni jangan marah marah lah, harusnya kan seneng kalau keluarga Ibu jadi seleb di daerah kita "
" Juju saya gak jadi belanja ya udah malas " dengan langkah kaki yang dihentak hentakan Bu Murni pergi dari warung sayur.
Semua melihat ke arah Bu Murni, mereka tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
__ADS_1
Tiba di rumah Bu Murni masih saja menggerutu " Tetangga gak punya adab, usil banget sih. Emangnya keluarga ku minta makan sama mereka "
Bughh
Pintu dibanting kuat dengan sengaja, sepertinya sang pemilik rumah kesal luar biasa sehingga pintu yang menjadi korban.
" Amah apa apaan sih bikin kaget saja " Diki protes karena dia sampe tersedak gara gara pintu yang dibanting Ibunya.
" Biarkan saja Ki, mending nanti kita pakai gorden aza biar aman pintunya " sindir Pak Imam.
" Kalian jangan bikin Amah tambah kesal ya. Udah sengaja datang paling pagi biar gak ketemu Yuyun CS, eh dasar sial malah ketemu lagi habis deh Amah disindir sindir "
" Emang kenapa kalau ketemu itu kan warung umum kok Amah marah marah sih " si bungsu Ikbal yang biasa tak ikut campur mendadak ikut berbicara karena heran dengan kelakuan Ibunya.
" Sudah diam kamu masih kecil gak akan ngerti urusan orang tua "
Mendengar bentakan Ibunya Ikbal langsung diam tak mengeluarkan suara lagi.
Diki faham dengan perasaan Ikbal, dia pasti syok dibentak Bu Murni.
" Kamu sudah sarapannya Bal? ayo kita berangkat sekarang "
Ikbal langsung berdiri dari duduknya dan mengambil tas ranselnya.
" Assalammu Alaikum. Pak Imam " di luar ada yang memanggil Pak Imam, dia pun berdiri hendak menemui tamu tersebut.
" Gak usah Pak saya cuma mau menyerahkan ini saja buat Diki. Kemarin petugas kesini tapi rumahnya kosong jadi dikirim ke rumah saya "
Sebuah amplop yang berlogo Pengadilan Agama kini sudah beralih tangan dari Pak RT ke Pak Imam.
Dilihat dari luarnya saja Pak Imam sudah faham surat itu isinya apa, mengingat permasalahan Diki dan Novia, apalagi Diki sudah mentalak Novia.
" Iya Pak RT terima kasih banyak ya "
" Sama-sama Pak saya pamit dulu, Assalammu Alaikum "
" Waalaikum Salam "
Pak Imam langsung masuk ke dalam rumah, tanpa sepatah kata pun dia memberikan amplop itu pada Diki. Mata Pak Imam berkaca kaca.
Diki menerima amplop tersebut, matanya pun sama berkaca kaca. Dibukanya surat tersebut, seketika dia langsung mengepalkan kedua tangannya.
" Ayo Bal " Diki langsung mengambil helm dan mengeluarkan motornya.
Ikbal dan Diki sudah berada dibatas motor. Mereka sudah bersiap berangkat.
" Ki kamu jangan emosi, ini sudah takdir kamu harus faham ini bukan salah Novia " Pak Imam mencoba meredam emosi anaknya.
Diki tak menjawab, wajahnya yang tertutup kaca helm sebenarnya untuk menutupi tangisnya.
__ADS_1
" Kalau keadaan kamu masih kacau sebaiknya kamu tak usah berangkat kerja, Bapak khawatir Ki "
Bu Murni ikut keluar karena melihat Diki dan Pak Imam dari dalam rumah seperti sedang berdebat.
" Ini ada apa sih? kok kalian malah ribut diluar. Bal ada apa Bal? "
Karena tak dijawab Pak Imam dan Diki, Bu Murni beralih bertanya pada Ikbal.
" Gak tau aku Mah " Ikbal kurang merespon Bu Murni sepertinya dia masih kesal karena bentakan tadi.
" Aku gak papa Pak, aku cuma kaget saja. Diki berangkat dulu ya "
" Ya sudah kamu hati hati ya, Ikbal ingetin kakak kamu supaya hati hati "
" Iya Pak "
Motor pun melaju, walau dengan perasaan gundah Diki berusaha tetap waras.
" Ada apa sih Pak? kalian ditanya gak ada yang mau jawab " Bu Murni menggerutu.
" Tadi ada Pak RT kesini, dia memberikan surat dari Pengadilan untuk Diki "
" Maksud Bapak surat panggilan Sidang? "
" Iya, ini kan yang Amah mau dari dulu. Puas Amah sekarang " Pak imam langsung masuk rumah meninggalkan Bu Murni yang terpaku di teras rumah.
Mendengar perkataan suaminya Bu Murni langsung terdiam. Di sisi lain hatinya terasa ada yang hilang dan kosong.
" Kenapa aku merasa sedih mengingat Novia dan Diki, apalagi langsung terlintas wajah cucu cucuku Keyla dan Althaf " gumamnya.
Namun memang hati Bu Murni sudah membatu dia mengabaikan perasaan itu, malah dia mendatangi Pak Imam merasa tak terima disalahkan karena perceraian Diki dan Novia.
" Maksud Bapak itu nyalahin Amah gitu? gak usah nyalahin Amah dong Amah gak pernah maksa mereka buat bercerai kan " belanya.
" Iya tapi Amah biang masalahnya, siapa yang tahan dengan sikap Amah yang tak mau berubah. Selalu menyudutkan Novia, Bapak merasa gagal jadi mertua juga jadi seorang suami hiks hiks " tangis Pak Imam pun pecah.
" Halaahh Bapak lebay banget sih, lagian kenapa nangis kalau Diki cerai nanti kan bisa nikah lagi. Tuh si Nuri udah ngebeut banget sama Diki "
" Astagfirullah, Amah kapan sadarnya. Sepertinya Amah tak peduli anak kita menyandang status duda. Namun bukan itu yang Bapak fikirkan. Tapi nasib cucu cucu kita "
Pak Imam terlihat sangat emosi, nafasnya sampai tak beraturan. Dia langsung sesak.
Bu Murni langsung terdiam tak berani lagi meladeni Pak Imam, sekarang dia jadi panik.
" Pak, Pak sudah jangan marah lagi. Bapak kan jadi sesak begini. Semua gara gara Bapak mikirin Novia hiks hiks "
Pak Imam langsung memelototkan matanya " Amah memanglah Amah susah sekali mengerti "
Pak Imam hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengurut sendiri dadanya yang sakit.
__ADS_1