
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Pov Ayu
Setahun jadi menantu di keluarga ini aku merasa tidak nyaman. Dulu sebelum menikah dengan Robi amah begitu baik.
Dia selalu memuji dan menyanjungku. Aku selalu di utamakan dan dinomor satukan. Sampai sekarang pun masih seperti itu.
Sebelum menikah aku bekerja menjadi resepsionis di sebuah hotel kecil, Robi pun sudah mengetahuinya. Tapi aku bilang pada Amah aku bekerja sebagai sekretaris di hotel besar. Aku yakin Amah pun tak akan faham.
Aku terpaksa membohonginya karena menurut Robi Amah menginginkan menantu yang bekerja di kantoran.
Amah orang yang gila hormat, sifat pamer dan ingin dipuji sudah jadi hal yang melekat di dirinya.
Bahkan untuk memenuhi keinginannya kami sering kali harus berhutang. Contohnya seperti Cantika kakak Robi dia sampai rela menyicil mobil dengan harga yang tak sesuai dengan penghasilannya.
Mungkin gajinya cukup untuk mencicil mobil saja, tapi dia juga kan butuh makan. Kadang aku juga berfikir bagaimana suaminya bisa memenuhi gaya hidup mereka sementara selain cicilan mobil, masih ada cicilan rumah dan biaya hidup sehari hari.
Belum lagi Cantika yang senang belanja dan berkumpul bersama teman temannya hanya sekedar untuk nongkrong di cafe cafe mahal. Ah kalau difikirin malah jadi aku yang pusing.
Itulah alasan yang membuatku tak nyaman menjadi menantu di rumah ini. Kalau aku tak mengikuti keinginan Amah bergaya hidup mewah maka Amah akan memojokanku dan tak akan peduli lagi padaku.
Tapi ada yang berbeda di keluarga ini, Novia istri dari Diki. Dari segi penampilan dia terlihat biasa saja tidak ada menonjol bahkan dia tidak pernah berdandan berlebihan.
Amah sering kali menceritakan hal yang jelek tentang Novia. Amah bilang Novia boros suka menghabiskan uang suami, pelit dan susah diatur.
Namun sebaliknya aku sering mendengar pujian dari saudara Amah dan para tetangga kalau Novia orangnya sederhana, penyabar dan bersahaja.
Pujian itu sering terlontar dari mulut saudara saudara aAmah di kala ada acara keluarga dan dari mulut tetangga ketika di warung atau ketika ada pengajian.
__ADS_1
Tanpa sadar rasa iri di hati mulai muncul pada Novia. Aku selalu berusaha tampil baik dan sempurna tapi pujian itu selalu di tujukan pada Novia.
Rasa iri itu makin terpupuk ketika Amah ternyata satu pemikiran denganku. Begitupula Cantika dia tidak menyukai Novia, tanpa aku tau alasannya kenapa.
Jadilah kami trio yang tergabung karena tidak menyukai Novia, saking gak sukanya kami sering kali mengacuhkan Novia dan anaknya kala ada acara keluarga.
Kami sering menyisihkan dia, bahkan pernah ketika ada acara selamatan di rumah saudara amah kami tak mengabari Novia untuk hadir di acara tersebut. Tujuan kami agar Novia terlihat sombong dan tidak mau bergabung di keluarga.
Masalah muncul ketika uang arisan Novia sebesar 72 juta aku pakai untuk pesta perkawinanku dan robi.
Sebenarnya dari pihak keluargaku sudah menyiapkan pesta yang cukup meriah, namun Amah ingin pesta yang terlihat lebih mewah bahkan sampai rela memberi tambahan uang yang cukup besar untuk pesta pernikahanku.
Belum lagi barang seserahan yang harganya mahal, serta uang mahar yang besar. Aku sendiri sampai kagum dan bahagia karena saking mewahnya pestaku teman temanku banyak yang memujiku.
Setelah beres acara pernikahan barulah aku tau kalau uang yang kugunakan untuk menikah milik Novia. Tapi amah mewanti wanti aku agar tidak menyampaikannya pada siapapun terutama pada Novia.
Sore itu Amah menghubungi untuk datang ke rumahnya, dia bilang Novia sudah menagih uangnya. Mungkin ini sudah saatnya dia tau.
Amah meminta aku dan suamiku untuk bermulut manis pada Novia agar dia tak menagih uangnya berpura pura menyesal dan meminta waktu untuk menggantinya.
Karena menurut penilaian amah Novia orang yang perasa dan mudah terenyuh. Aku pun menyanggupinya daripada harus membayar mau uang darimana gaji honorer suamiku jauh dari kata cukup.
Setelah maghrib terlewati novia datang sendirian ke rumah amah, tapi sepertinya rencana Amah untuk bermulut manis tak terjadi karena Amah berubah.
Wajahnya terlihat kesal dari awal kedatangan Novia. Aku pun terbawa situasi dengan ikut bersikap ketus. Lagipula aku tak sudi harus bermulut manis padanya.
Puncak dari pertemuan ini ketika Diki menampar Novia tepat pada saat itu datang pula paman Novia.
Pamannya sangat marah melihat Novia diperlakukan seperti itu dan akhir dari pertemuan Novia dibawa pulang ke rumah keluarganya membawa serta anak anak serta ibunya yang tinggal bersamanya.
__ADS_1
Diki terlihat kalut, bahkan dia sampai menangis setelah kepergian Novia dan anak anaknya.
Akhirnya aku dan suamiku pulang ke rumah tanpa membawa hasil. Sebenarnya aku juga khawatir kalau sampai masalah membesar dan orang lain tau kalau biaya pernikahanku menggunakan uang Novia mau di taruh dimana mukaku.
Bisa hilang harga diriku. Percuma image Ayu berduit, loyal dan mewah yang selalu kubangun selama ini. Bahkan akan terganti dengan cemoohan orang orang padaku.
Entah kenapa rasa iri ku pada Novia berubah menjadi benci, siang itu iseng kubuat status untuk memancingnya.
Dan dia pun menjawab statusku, tapi dengan hinaan dengan mengatakan gayaku selangit isi dompet sulit. Membuat rasa dengkiku melangit.
Kami pun ramai ramai menyindir dan memojokannya di grup keluarga. Tapi dia tak membalasnya. Mungkin dia gak punya nyali melawan kami.
Di hari berikutnya aku dan suamiku kembali diundang ke rumah Amah. Pertemuan ini seperti rapat darurat saja dibuat mendadak dan mengambil keputusan dengan cepat.
Dengan membawa hasil keputusan rapat kami datang ke rumah keluarga Novia malam itu juga berharap masalah selesai, namun lagi lagi Amah mengacaukannya.
Sehingga kami ikut terseret dalam keributan yang Amah buat. Walau pada akhirnya Hak Novia kembali dengan cara diganti warung Amah tetap saja aku menanggung malu.
Kakak Novia yang perawan tua itu mengataiku gatal dan menikah karena kebobolan di depan banyak orang. Walaupun itu kenyataan tapi aku tak bisa menerima penghinaannya. Suatu saat akan kubalaskan sakit hatiku padanya.
Dia pasti tau dari Novia, tidak mungkin kakaknya tau kalau saja Novia tak bicara. Padahal hal ini sudah aku tutupi sebisa mungkin dengan mengatakan melahirkan prematur pada banyak orang.
Awas ya kalian berdua aku tak terima dengan penghinaan ini, tunggu saja pembalasanku.
Sepulang dari rumah Novia aku mendapat sedikit celah untuk membalas dendam, kuutarakan ideku pada amah agar mengambil uang sewa warung yang kini menjadi milik Novia.
Kusuruh Amah meminta uang sewa selama beberapa bulan ke depan pada penyewa biar si Novia merasakan rugi. Tak bisa mengambil uang sewanya. Ideku ini cukup cerdik kan.
Rasakan pembalasanku, ini baru awal. Akan kucari terus cara membuat kalian berdua merasakan sakit hatiku seperti penghinaan kalian padaku.
__ADS_1