arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Membalas Komentar


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 112 ( Membalas Komentar )


" Kurang ajaarrr " teriaknya sampai terdengar keluar rumah.


Teriakan Bu Murni menggema tetangganya sampai keluar dan berkumpul bertanya tanya ada masalah apa sampai teriakannya terdengar satu RT.


" Biasalah keluarga riweuh " salah satu tetangganya berucap.


" Udah biarin aza bikin ulah terus mereka lama lama mending kita lapor Pak RT biar di usir "


" Kasihan Pak Imam ya anak istrinya gak ada yang jelas "


Suara tetangga samar samar terdengar Pak Imam. Posisinya serba salah karena memang istrinya sering membuat gaduh sehingga dia tak berdaya ketika para tetangga mulai membicarakannya.


" Mah udah dong malu, lihat tetangga pada ngumpul di luar gara gara Amah teriak " ditegurnya secara halus Bu Murni karena percuma memarahi orang yang sedang marah.


" Amah gak peduli, tetangga kita pada jahat mereka iri sama Amah " Bu Murni berteriak keras tak mempedulikan teguran suaminya.


" Iri gimana Mah, emang kita punya apa buat dibanggakan? buat apa mereka iri Bapak lihat keadaan mereka lebih baik daripada kita "


" Bapak gak ngerti sih, nih Bapak lihat komentar di facebook Amah " diserahkannya ponsel dan memperlihat komentar komentar di postingan Bu Murni.


Pak Imam membaca dengan seksama, sebenarnya dia merasa sedih keluarganya dipojokan tapi dia juga faham itu semua akibat dari kelakuan keluarganya sendiri.


" Huftt " Pak Imam menarik nafasnya dalam.


" Lihatkan apa maksudnya mereka banding bandingin toko punya Amah sama toko Novia. Emang ya tuh anak udah gak ada pun masih bikin ulah " sekarang suara Bu Murni tak terlalu keras dia mulai melunak bahkan air matanya sudah membasahi pipi.


" Kan Bapak sudah bilang tadi gak usah pamer. Itu resiko kalau Amah pamer, tidak semua orang suka sama kita. Maka pandai pandailah berbagi cerita dengan orang lain, harus di filter dulu Mah "


Pak Imam duduk di samping Bu Murni dan mengelus pundaknya perlahan.


" Kita sudah tua Mah, alangkah baiknya kita memperbaiki diri jangan mempersulit diri " tambah Pak Imam.


" Assalammu Alaikum "


Robi dan Ayu datang sambil menenteng satu plastik makanan. Mereka langsung masuk dan duduk bergabung bersama orang tuanya.


" Loh Amah kenapa? kok nangis perasaan tadi siang happy banget " tanya Ayu.


" Biasa Amah bikin ulah lagi. Temani Amah yuk Bapak mau ke luar sebentar " pinta Pak Imam pada Ayu.


" Ulah ulah apaan masa posting status dibilang bikin ulah " Bu Murni kini misuh misuh.


" Iya Pak " sahut Ayu sambil beralih duduk kini di sebelah Bu Murni menggantikan tempat Pak Imam.


" Mah kenapa nangis? " tanya Robi sambil mengeluarkan makanan dari kantong plastik yang mereka bawa.


" Kalian bawa apaan " walau dalam keadaan menangis Bu Murni tetap penasaran dengan bawaan anaknya.


" Ini baso Mah sama juice " jawab Robi sambil memperlihatkan dua plastik baso dan dua gelas plastik juice.


" Kamu cuma beli dua, Amah gak di beliin? " Bu Murni ngambek membuang wajahnya

__ADS_1


" Amah gitu aza ngambeuk. Kan tadi Amah sudah di beliin Nuri masa mau lagi sih " balas Robi.


" Amah lapar lagi karena tadi udah nangis, lagian kamu gak peka banget emang dasarnya kamu pelit. Hobi di traktir orang, tapi gak pernah mau neraktir orang "


Tanpa aba aba Bu Murni langsung merebut sebungkus baso dan juice lalu pergi ke dapur membawa mangkok.


Ayu dan Robi kaget mereka melihat ke arah ibunya tapi tak berani menegurnya.


" Apa, mau marah kalian? " sentak Bu Murni.


" Eng-enggak Mah " pasangan suami istri itu kompak menjawab.


Walau kesal Robi terpaksa mengalah dia makan satu mangkok berdua dengan Ayu. Begitupun dengan juice nya mereka minum satu gelas berdua.


" Enak ya Mah? " ucap Robi sambil nyengir.


" Apa, kamu gak ikhlas? balikin duit setoran motor. Baru juga baso gak ingat kamu tiap bulan setoran motor Amah yang bayar? "


" Hehee ngga Mah. Segitu aza sewot, habisin aza Mah gak apa apa " timpal Robi.


Selesai makan mereka masih duduk ruang tamu. Ayu penasaran apa yang membuat mertuanya menangis.


" Mah tadi nangis kenapa? " tanyanya pelan.


" Itu para tetangga iri, coba kamu lihat postingan Amah " jawabnya sambil menyedot juice di gelasnya.


Ayu mengambil ponselnya dan membuka aplikasi facebooknya. Dia mencari postingan ibu mertuanya.


Robi dan Ayu membaca komentar komentar dari atas sampai bawah. Ayu langsung mengepalkan tangannya.


" A' gimana kalau kita balas komentar komentar nyinyir tetangga? " tambah Ayu meminta dukungan suaminya.


" Terserah kamu lah aku gak mau ikut pusing. Aku mau ke atas tidur bentar ya, ayo Chila ikut papa " jawab Robi sambil berdiri membawa Chila.


" Amah juga kesal pengen balas mereka, kamu aza Yu yang balasin " titahnya pada Ayu.


Dengan cekatan tangan Ayu mulai bergerak membalas komentar komentar tersebut menggunakan akunnya.


" Amah bantuin juga dong biar seru " pintanya pada Bu Murni.


" Iya tenang aza Amah bantuin, mau ngabisin juice dulu tanggung nih "


{ Kompak sih, tapi kok ngelupain cucu dari anak pertama ya }


Balas : Gak usah ikut campur.


{ Iya mentang mentang ada calon mantu baru, paling nanti juga di jadiin babu }


Balas : Calon mantu sekarang kan lebih berkelas jauh banget sama mantu yang dulu wajar dong kalau sudah diperkenalkan biar kalian tambah iri.


{ Eiittss gak akan kalau sogokannya banyak hahaaa }


Balas : Itu bukan sogokan tapi bukti kasih sayang sama mertua.


{ Buktinya mantu yang dulu baik, tapi malah di tipu }

__ADS_1


Balas : Fitnah kalau gak tahu apa apa gak usah komentar.


{ Ah tokonya biasa kok, dari segi bangunan sama barang aza kalah sama toko Novia }


Balas : Situ punya toko gak? gak usah banding bandingin orang lain. Iri bilang Bosss.


{ Niatnya mau nyaingin tapi zonk hahaaa }


Balas : Akan kami buktikan kami lebih baik waktu akan menjawab semuanya.


{ Tunggu aza bentar lagi paling ada debtcoll yang bakal nagih ke rumah }


Balas : Sok tahu kamu kali yang banyak hutangnya.


{ Kasihan }


Balas : Kamu lebih kasihan gak punya toko jadi iri sama kami.


Mereka berdua tertawa tawa sambil membalas semua komentar di facebook.


" Gak ada yang balas Mah, kayaknya mereka malu atau mungkin takut hahaaa " ucap Ayu sambil merebahkan dirinya di sofa. Disimpannya ponsel miliknya di meja.


" Mah kok mereka bisa tahu kalau kita pinjam uang ke Bank ya? " tanya Ayu.


" Gak tahu Amah juga, apa mereka nyimpan kamera ya di sekitaran rumah kita " mata Bu Murni memindai sekeliling dinding rumahnya.


" Masa iya lagian kapan masangnya coba? "


" Ah dasar mereka aza yang usil namanya tetangga senang banget kalau kita susah, tapi mereka sedih kalau kita bahagia " ucapnya sambil membuka kembali aplikasi biru tersebut.


Ting


" Nah sepertinya ada balasan Yu, coba kita lihat mereka ngomong apa? "


Mereka berdua kompak membuka ponsel masing masing. Mata mereka langsung terbelalak melihat beberapa balasan di postingan facebook tersebut.


{ Maaf Bu Murni kami bukan ikut campur atau iri, tapi kami mengingatkan cucu yang lain. Lagipula kenapa kami harus iri kalau modal kalian dari hasil pinjam }


{ Iya Bu Murni bener itu, asal kalian tahu ya Bu Murni sama Ayu. Petugas Bank yang ngurusin pinjaman kalian itu ipar saya. Makanya saya tahu soal gade sertifikatnya }


{ Hahaaa jadi beneran nih dapat minjam. Uppsss }


{ Siap siap bentar lagi ada debtcoll. Btw mantu yang dulu lebih cantik dan mandiri deh. Rugi loh kalau di lepas }


{ Ngomong ngomong kita juga tahu soal arisan bodong keluarganya, yang akhirnya Bu Murni harus rela melepas warungnya }


{ Sstttt nanti ada yang teriak sambil nangis nangis }


" Aarggghhh " Bu Murni berteriak kembali malah kali ini lebih kencang. Ayu sampai melompat dari sofa.


" Mah tenang dong " ucap Ayu.


Ting


Ada balasan yang masuk lagi ke facebook Bu Murni.

__ADS_1


{ Tolong gak usah berteriak ini bukan hutan, atau kami akan melaporkan kalian ke Pak RT supaya kalian di usir }


__ADS_2