
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 125 ( Bukti Kebohongan Robi )
" Saya memberikan sewa per tahun 15 juta dan katanya di sewa untuk 2 tahun. Tapi saya sedikit kecewa karena penyewa meminta biaya perbaikan padahal saya sudah memberikan harga murah supaya tak mengeluarkan biaya renovasi " terang istri pemilik bangunan toko yang di sewa Cantika.
" Apa 15 juta per tahun? " mata Cantika membulat dengan mulut menganga.
Rasanya Cantika seperti dihantam palu besar tepat di dada dan kepalanya. 15 juta?
Langsung terbayang di kepala Cantika uang merah yang beterbangan dan memenuhi tubuh Ayu dan Robi. Dada Cantika langsung terasa sesak ingin berteriak.
Diki yang ikut mendengarkan langsung membenarkan posisi duduknya menjadi mode lebih serius karena awalnya hanya serius saja. Beruntung dari awal obrolan bersama wanita pemilik rumah ini yang bernama Isma, Diki merekamnya karena dia berniat mencari bukti.
Dalam hati dia kesal, rasanya tak percaya memiliki adik seperti Robi sudah hobinya ingin gratisan dan sekarang malah nilep uang kontrakan yang cukup besar.
" Ibu serius menyewakan bangunan toko itu 15 juta per tahun? " tanya Cantika seperti tak percaya pada ucapan wanita di depannya.
" Maksudnya apa ya? apa ada masalah? " wajah wanita di depannya menjadi ketus.
" Maaf Bu, adik saya mungkin bingung karena adik saya menyewa toko tersebut seharga 30 juta per tahun. Dua kali lipat dari harga yang ibu sebutkan tadi? " Diki ikut menimpali ucapan Cantika.
Bu Isma langsung menautkan kedua alisnya " Masa sih, seingat saya orang yang menyewa hari itu seorang laki laki. Memang sih saya gak mengurus langsung karena saya mempercayakannya pada Pak Warso "
" Jadi Ibu pakai pihak ketiga? " tanya Diki.
" Kurang lebihnya seperti itu, masalahnya saya gak bisa mengurus semua kontrakan saya sendirian jadi saya percayakan pada Pak Warso tapi setiap ada penyewa mereka akan langsung bertransaksi dengan saya " sahut Bu Isma.
" Berarti ada kemungkinan Robi bekerja sama dengan Si Pak Warso ini " gumam Diki dalam hati.
Diki dan Cantika saling berpandangan sepertinya isi kepala mereka sama.
" Bu bisakah Ibu memanggil Pak Warso agar kami mendapat kejelasan? " pinta Cantika penuh harap.
Sebagai pemilik bangunan yang disewakannya tentu saja Bu Isma faham permintaan Cantika. Karena hal ini sangat merugikannya, dan tentu merugikan Bu Isma juga.
" Baiklah saya hubungi Pak Warso sekarang ya " Bu Isma mengambil ponselnya yang berada di kamar dan mencari kontak Pak Warso kemudian melakukan panggilan dan sengaja di loudspeaker.
__ADS_1
Tuuttt Tuuttt
Dipanggilan ketiga panggilan tersebut mendapat respon dari pemiliknya.
[ Hallo Bu ]
[ Warso, kamu bisa ke rumah saya sebentar? saya ada perlu ]
[ Baik Bu, kebetulan saya menuju rumah Ibu ada salah satu penyewa yang ingin bertemu dengan Ibu ]
[ Baiklah saya tunggu di rumah ya ]
" Mbak dan Mas nya sudah dengar kan, Pak Warso sedang dalam perjalanan menuju kemari "
" Iya Bu kami mendengarnya, terima kasih Ibu bersedia membantu kami " jawab Cantika.
" Dengan senang hati, saya juga ingin mengetahui permasalahan sebenarnya. Karena saya juga ikut dirugikan, kalau boleh tahu bagaimana mbak nya ini bisa menyewa bangunan toko itu seharga 30juta. Dua kali lipat dari harga yang saya berikan. Padahal bangunan tersebut terdapat banyak kerusakan yang butuh perbaikan. Apa saat itu kalian tidak mengeceknya terlebih dahulu "
Diki dan Cantika saling berpandangan dan terlihat serba salah. Andaikata mereka bercerita di tipu adik sendiri rasanya itu sangat memalukan. Namun mereka juga butuh bukti agar semua bisa selesai.
" Saya membuka toko beberapa bulan yang lalu, untuk mencari tempat saya serahkan pada adik laki laki saya yang bernama Robi "
" Nah itu saya baru ingat, laki laki yang datang tempo hari itu namanya Robi. Saya masih memiliki salinan kuitansi pembayarannya. Tapi saya harus mencarinya dulu karena mungkin sudah tertumpuk.
Dan satu lagi waktu itu dia datang bersama perempuan yang menggendong balita karena saat itu anaknya terus menangis disini "
Bu Isma memotong perkataan Cantika karena dia tiba tiba teringat pada sosok Robi dan Ayu.
Diki menarik nafas dalam dan bergumam dalam hatinya " Sudah memang tak salah lagi biang keroknya si Robi "
" Boleh saya lanjut Bu? " tanya Cantika.
" Ah iya boleh, maaf tadi saya memotong karena tiba tiba saya ingat namanya " sahut Isma sambil tersenyum.
Cantika hanya tersenyum dan melanjutkan ceritanya " Adik saya Robi mereferensikan bangunan toko di jalan xxx karena kebetulan dekat dengan rumah kami. Awalnya saya keberatan dengan harga 30juta tapi adik saya meyakinkan kalau tempatnya bagus untuk membuka usaha. Tanpa melihat saya langsung memberikan uang sebesar 60juta untuk sewa dua tahun "
Cantika mengambil gelas di depannya dia meminum sedikit karena merasa kehausan setelah bicara panjang lebar itu pun belum selesai bercerita.
__ADS_1
" Setelah membayar saya baru datang dan kaget ternyata terlalu banyak renovasi, saya pun komplain meminta perbaikan tapi dari pihak pemilik hanya memberi setengahnya. Saya terpaksa mengeluarkan uang lagi.
Tapi kemarin saya mendapat musibah barang barang saya banyak yang cacat karena di gigit tikus. Setelah saya cek ternyata ada lubang di dinding yang digunakan akses keluar masuk tikus got di belakang "
Mata Cantika mulai terlihat kabur, air matanya mulai menggenang. Ada perasaan takut yang hinggap mengingat pembicaraannya tadi bersama Diki di mobil.
Bu Isma pun turut perihatin dia melihat Cantika menahan tangisnya. Diberikannya satu box tissue ke hadapan Cantika.
" Sabar ya Mbak, namanya mau usaha kadang ada saja cobaannya " Isma mencoba menguatkan Cantika.
Bahu Cantika luruh seperti tak ada tenaga. Bayangan para debtcol tiba tiba saja terlintas. Dia sendiri mulai ragu apa bisa mempertahankan usaha ini.
Dia yang lelah sendirian, ibunya yang tak mengerti apapun sedangkan adik dan adik iparnya yang hanya bisa membuat usaha yang mereka buat menjadi merugi.
Wajar dia berpikiran seperti itu karena menurut pemikirannya tidak mungkin Robi tidak mengetahui kerusakan gedung tersebut.
Kenapa dia dulu tak sadar ketika meminta Robi memindahkan lemari yang dianggapnya mengganggu pemandangan.
Robi selalu menolak dengan dalih agar memudahkan pengambilan barang untuk disimpan di etalase. Bodohnya dia saat itu percaya saja apa yang dikatakan Robi.
Pantas saja Ayu sangat rajin mengisi rak tersebut supaya penuh, ternyata suami istri itu sudah sekongkol.
" Kurang aj*r " makinya dalam hati kedua tangannya mengepal sempurna.
Belum lagi ucapan Diki yang terus terngiang di telinganya. Bagaimana kalau dia benar benar merugi dan tak bisa mengembalikan sertifikat tersebut.
Dia takut bapaknya mengalami hal buruk, walaupun mereka sering tak sejalan tapi sebagai ayah dan anak tetap saja mereka memiliki ikatan batin yang kuat.
Sedikit teringat ucapan Pak Imam tentang kebaikan Novia yang masih memperhatikan bapaknya itu membuatnya sedikit malu karena belum bisa membahagiakan orang tuanya.
" Assalammu Alaikum " sebuah panggilan salam membuyarkan lamunan Cantika.
Di pintu masuk sudah nampak dua orang laki laki yang baru saja datang dan kelihatan tergesa gesa.
" Robi " ucap Cantika dengan matanya yang nyalang.
" Tika, Diki? " Robi terlihat kaget tak menyangka bertemu kedua saudaranya di rumah ini.
__ADS_1