arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Novia Menolak Pulang


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Pov Novia


Setelah beres semuanya kami berjabat tangan tanda deal.



Rasanya lega hakku sudah kudapatkan kembali. Maafkan aku ibu mertua, bukan maksudku menyakitimu heheee


------------------------------------------------


" Alhamdulillah semua sudah beres, saya harap dikemudian hari tidak ada permasalahan muncul pak imam.


Terima kasih bapak sudah bijak dalam menyelesaikan masalah " Paman mengucapkan hamdalah dan berterima kasih pada Bapak.


Hanya Amah, Robi, Cantika dan Ayu yang terlihat tidak menerima hasilnya. Biar saja lah itu urusan mereka.



Toh aku sudah resmi dan sah sebagai pemilik bangunan itu. Aku pun tidak mendapatkannya dengan gratis.



" Paman, masalah uang kan sudah beres apakah saya boleh membawa Novia pulang " Paman tak menjawab pertanyaan A'Diki tapi dia langsung melihat kearahku meminta jawaban.



" Maaf A' aku belum mau pulang. Aku butuh waktu untuk berfikir bagaimana ke depannya hubungan kita " aku langsung menjawab pertanyaannya.



" Tapi Vi kenapa kamu gak mau pulang, kita sudah punya rumah sendiri kamu juga sudah mendapatkan uangmu.


Apa kamu masih marah karena kejadian kemarin? A' Diki masi keukeuh dengan keinginannya.


" Sudah kubilang A' aku butuh waktu. kita lihat ke depannya seperti apa aku gak bisa janjiin apa apa, maaf " A'Diki terlihat lesu.



" Sudah sudah kamu jangan memohon lagi, bikin malu saja merendahkan harga diri.


Mending kamu pulang gak usah mohon mohon lagi " Amah berusaha menarik tangan A'Diki untuk pulang tapi di hempaskannya.



Amah terlihat malu dia langsung berjalan terburu buru keluar tanpa permisi disusul Cantika, Ayu dan Robi.



" Maafkan kelakuan anak istri saya Pak Arif, saya merasa malu " Bapak terlihat sungkan pada Paman karena kelakuan Amah.



" Gak apa apa Pak, saya faham mungkin Bu Murni belum menerima keputusan Bapak " Paman berusaha menghibur Bapak.



" Ya sudah kalau begitu saya permisi, soal Novia dan Diki biar mereka menyelesaikan nya sendiri. Mungkin Novia juga butuh waktu berfikir.


Bapak pulang dulu ya Vi. Assalammu alaikum" Bapa, A'Diki, dan Keenan berpamitan pulang, aku pun mencium tangan Bapak dan A'Diki. Dan bersalaman dengan Keenan.


__ADS_1


Kami melepas mereka sampai di pintu rumah, Setelah mobil mereka melaju kami pun menutup pintu. dengan bersorak sorak



Ibu dan Bibi langsung berhambur datang, sepertinya mereka menguping dari tadi.



" Gimana udah beres masalahnya, kita nunggu harap harap cemas di belakang " ujar Ibu.


Alhamdulillah


Alhamdulillah


Alahmdulillah


" Beres Bu, aman " kupeluk ibu dan Bibi bergantian.


Aku mengucap syukur seraya berpelukan dengan Teh Manda "Paman makasih ya, Teteh juga. Kalau aku menghadapi mereka sendirian entah apa jadinya "



" Itulah gunanya keluarga, lain kali jangan hadapi semua sendirian kamu masih punya keluarga neng " Paman memberikan nasehatnya padaku.



" Yeay yeay akhirnya beres juga, tapi seru juga tadi ya. Jadi penasaran sama si Ayu. Lain kali kalau dia cari masalah sama kamu, sebaiknya kamu cari Teteh.


Mau Teteh bikin mati kutu dia " dengan semangatnya teh Manda berucap, emanglah dia itu biangnya ribut.



" Lah kamu tuh emang seneng mencari keributan dari dulu gak pernah berubah hahaa" Paman menanggapi nya dengan tawa.




Kami pun asik ngobrol membahas kejadian tadi dan sesekali menertawakan tingkah Ayu dan Amah.



Tak lama Paman pamit ke kamar untuk beristirahat. Dia bilang gak mau ikut ikutan ghibah cuma nambah nambah dosa hahaaa.



Menjelang tengah malam kami pun bubar, aku dan Teh Manda menuju ke kamar. Tapi kami tak langsung tidur, sambil membersihkan wajah kami tak hentinya bercerita.



Bahkan Teh Manda bertanya banyak hal tentang rumah tanggaku dan bagaiman awalnya aku bisa ikut arisan.



" Vi kamu yakin mau ambil warung itu, Teteh agak khawatir loh apalagi berada dilingkungan keluarga Diki " dia mengungkapkan kekhawatirannya.



Walaupun pernah tersirat juga pemikiran yang sama tapi aku belum mau berfikir ke arah situ. Yang terpenting sekarang uangku sudah terganti walaupun berupa bangunan namun sudah sah dan ada bukti hitam di atas putih.



" Aku gak yakin juga sih Teh, cuma ya itu yang penting beres aza dulu lah setidaknya gak zonk seperti kemarin hahaaa " aku berusaha menghapus rasa khawatir agar tidak jadi beban fikiran.

__ADS_1



" Nanti kamu kirim tuh bukti transferku sama foto kuitansi, dan surat perjanjian yang mereka tanda tangani. Kalau perlu di grup keluarga supaya semua bisa melihatnya hahaaa " sepertinya Teh Manda masih belum puas bikin mereka kesal.



" Ah si Yeteh seneng banget bikin mereka marah, tapi idenya bagus juga sih besok lah aku kirim ya " aku pun terkekeh mengiyakan usulnya lumayan juga lah buat hiburan.



" Oh ya teh aku mau minta tolong bisa gak besok Teteh ke sekolah anak anak minta izin sama sekolah buat mindahin mereka. Kalau bisa surat pindahnya segera didapat kasian kalau anak anak terlalu lama diliburkan " lanjutku.



" Gampang, nanti kamu kasih alamat sekolahnya ya. Emang kamu mau pisah sama Diki sampe mindahin sekolah anak anak segala. Terus udah izin sama Diki? " Teh Manda memastikan permintaanku.



" Aku belum tau ke depannya gimana tapi kalau soal rumah aku yakin 100% bakalan pindah, mau A' Diki setuju atau tidak terserah " dengan yakinnya kujawab permintaan Teh Manda.



" Baguslah kalau begitu, rasanya itu lebih baik. Kamu memang harus menjaga jarak dengan keluarga Diki. Kalau ingat tadi lucu juga wajah si Ayu. Udah sama sama menantu songong lagi. Apa kelebihannya sih? "



Masih penasaran rupanya dengan sosok Ayu, kasian kamu Yu bersiap siaplah siaplah ketemu lawanmu.



" Mungkin banyak ngasih sogokan ke Amah hahaaa. Kudengar dulu dia sekretaris di sebuah perkantoran terus bapanya punya grosir sembako gitu. Amah kan paling silau kalau soal harta.



Tapi orangnya nyebelin juga masa, dia bikin status di wa nya nyindir nyindir segala kalau aku pelit gak mau berbagi.



Enak di dia, masa kawin gak modal malah pake duitku. Gaya aza selangit isi dompet sulit " paparku, kuceritakan soal status kemarin.



" Lah bukannya dia anak orang kaya ya Bapaknya kan punya grosir, kok aneh ya " Teh Manda mengerutkan keningnya.



" Entah, gak mau rugi kali pengen gratisan hahaaa " aku tertawa menanggapi pertanyaan kakakku.



" Mending tidur lah daripada mikirin orang " ku ambil bantal di sampingku dan aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku.


************


Suara adzan hubuh membangunkanku, aku bergegas ke kamar mandi dan berwudhu. Lantas bergantian sholat dengan Teh Manda.


Sekilas kulihat hp ku ada banyak pesan dari A'Diki. Kubuka beberapa pesan


[ Vi, kenapa kamu gak mau ikut pulang bersamaku ]


[ Vi kamu masih marah ya? ]


[ Vi aku kangen kamu dan anak anak ]

__ADS_1


Tak semua aku baca. Dasar gelaaayy, udah kayak abg putus cinta aza.


Lebih baik aku cepat mandi tak berniat untuk membalas pesan pesan nya.


__ADS_2