arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Drama Robi


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 123 ( Drama Robi )


Pagi hari Diki ke meja makan untuk sarapan, wajahnya terlihat cerah siulan dari mulutnya pun mengiringi sarapan paginya.


" Happy banget A' lagi banyak duit ya bagi dong " goda Ikbal pada kakak sulungnya.


" Biasa aja lah, tapi ini lah Aa bagi sedikit rezeki buat kamu " Diki memberi selembar uang 50 ribu pada Ikbal.


Seketika mata Ikbal langsung berbinar, uang tersebut langsung diambil dan di hirup baunya.


" Jorok ih " seru Bu Murni.


" Mah, Amah " Robi datang di iringi Ayu sambil menggendong Chila, wajah Robi terlihat panik. Namun yang dipanggil malah membuang muka.


Sontak semua mata melihat ke arahnya " Ada apa kamu pagi pagi bikin heboh " tanya Pak Imam.


" Nggak Pak aku mau ke Amah nanya soal toko " sahut Robi mulai berbicara biasa karena tak ada yang memperdulikannya.


" Mah kemarin kata Ayu di dinding belakang lemari banyak lubang ya Mah? aku gak tahu Mah, padahal aku udah bilang ke tukangnya supaya di cek. Biar nanti aku komplain sama mereka " ucap Robi berusaha meyakinkan ibunya.


" Ya " singkat jawaban Bu Murni bahkan dia tak menatap Robi sama sekali.


Melihat mimik muka Ibunya Robi merasa kesal karena diacuhkan padahal biasanya Ibunya sangat antusias bila Diki sedang bercerita.


Diki dan Ikbal melanjutkan sarapannya sambil mengulum senyum dalam hati mereka berbicara " Kasihaaaan, rasain lu hahaaa "


Melihat situasi yang tidak menguntungkan Robi langsung terdiam, dalam hatinya bertanya mengapa sikap ibunya sangat berbeda. Dia pun malu melihat Diki dan Ikbal tersenyum seperti mengejek.


Robi dan Ayu berpandangan berbicara lewat kode mata kemudian Robi berdiri mendekati ibunya " Mah mau ke toko gak biar aku anter yuk "


" Nggak " Bu Murni kembali memberi jawaban yang singkat kali ini dia sambil menyuapkan sendok makannya.


" Ya udah aku mau antar Ayu ke toko ya, titip Chila ya Mah " ujar Robi kembali.


" Bawa aja Amah mau arisan lagian Amah bukan baby sitter " tolak Bu Murni.


Ayu langsung melotot kaget, ini benar benar aneh kenapa mertuanya begitu dingin dan tak peduli bahkan pada Chila.


Kali ini Diki terkikik namun langsung berhenti karena dapat tendangan kaki di bawah meja oleh Pak Imam.


Robi memindai wajah orang orang yang berada di rumah satu persatu " Kenapa sih kalian, ada masalah sama aku? " tanyanya penuh emosi karena merasa di abaikan.


Ketiga lelaki itu memandang Diki berbarengan lalu mengendikan bahunya berbarengan dan melanjutkan makannya.


" Huhhh awas ya kalian " ucap Robi sambil berdiri dari duduknya.


" Mah " panggilnya pada Bu Murni dengan manja.


Bu Murni hanya meliriknya sebentar dan melanjutkan makannya.

__ADS_1


" Amah kenapa sih, Amah marah sama aku? aku salah apa Mah? " Robi kembali merajuk pada ibunya dia benar benar tak mau menyerah.


" Kamu gak usah sok manja, pagi pagi sudah merajuk bisanya juga kamu langsung ambil makan buat satu keluarga " balas Amah sambil berdiri.


" Udah lah Yu kita pergi aja sepertinya Amah sudah gak peduli pada kita " Robi menarik tangan istrinya menuju keluar rumah tapi matanya terus melirik ke arah Bu Murni.


Di pintu Robi kembali melirik ibunya tapi ibunya tetap terlihat acuh dan tak peduli.


Bruughhh


Robi membanting pintu rumah sangat kuat membuat tiga lelaki dimeja makan tersentak kemudian mereka tertawa terbahak bahak.


" Hahaaaa "


Suara tawa mereka begitu kencang membuat Robi emosi. Motor dinyalakan dan di gas kuat kuat.


Brrmm brrrmmm


Asap motor pun memenuhi gang rumah Diki sampai tetangga terganggu karena bau asap dan bisingnya knalpot.


" Heehhh Robi berisik pagi pagi udah bikin gaduh mana asap nya bikin kotor udara. Jangan bikin masalah kamu " terdengar suara laki laki menegur Robi dan berkacak pinggang di depannya


" Ya maaf Pak " jawab Robi, suara motor Robi pun mulai menjauh dan gang pun kembali senyap.


" Drama banget sih si Robi pagi pagi udah cari masalah " ucap Diki.


" Tumben Amah cuek sama anak kesayangan " Ikbal yang biasa diam kali ini berkomentar.


" Kesambet kali hehee " balas Pak Imam sambil terkekeh.


Sebenarnya Diki kasihan melihat kondisi ibunya, tapi dia berharap dengan masalah ini ibunya bisa berubah bahkan bukan hanya ibunya tapi adik adiknya juga.


Selesai sarapan Diki berangkat bersama Ikbal. Karena dirasa masih pagi Diki membawa motornya dengan santai.


Di parkiran motor masih sepi hanya ada beberapa orang yang baru datang dan duduk di motor masing masing atau bercengkrama dengan temannya.


Diki pun duduk di jok motor sambil mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakannya. Dari kejauhan dia melihat Novia datang menggunakan motornya.


Bibirnya terlihat senyum menyeringai, mata nya tak lepas memandang Novia.


Novia masuk ke area parkiran dia pun sama melihat Diki tapi diacuhkannya karena tak mau berdebat apalagi mereka sudah tak ada ikatan, kini hanya ada anak anak di antara mereka.


" Segar banget wajahnya, beda ya kalau lagi jatuh cinta "


Jangankan menjawab melirik wajah Diki pun Novia enggan. Bukan karena sombong tapi dia tak mau ada masalah lagi dengan Diki. Novia benar benar sudah menganggap semuanya berakhir kecuali tentang anak mereka.


Merasa di acuhkan Diki kesal, dia langsung menyusul Novia dan menarik tangannya.


" Apa apaan sih kamu? " Novia menatap tajam Diki dan menghempaskan tangannya.


" Sombong kamu " balasnya.

__ADS_1


" Terus masalah buat kamu? " Novia masih menatap Diki.


" Jangan bikin masalah dan jangan memprovokasi. Kita sudah mengakhiri semuanya "


Novia langsung pergi meninggalkan Diki di parkiran. Beberapa mata sempat melihat kejadian itu. Kemudian mereka kembali ke aktifitas masing masing setelah melihat Novia pergi.


" Huhhhh mentang mentang udah dapat ganti "


Ddrrttt ddrrtt


Ponsel Diki berbunyi pertanda ada panggilan masuk.


" Ngapain pagi pagi Cantika udah hubungi aku "


[ Hallo, ada apa Tik? ]


[ A' nanti sore antar aku dong mau ketemu yang punya bangunan toko ]


[ Kenapa kamu gak ajak si Robi bukannya kalian partner ya ]


[ Isshhh apaan sih, ada masalah toko dan sepertinya ada hubungannya dengan uang yang kita obrolin tempo hari ]


[ Emang penting banget? ]


[ Ya aku mau komplain sama yang punya gedung. Kemarin ada banyak barang yang digigit tikus pas aku cek ternyata banyak lubang di dinding belakang. Padahal disana selokan besar aku yakin itu jadi jalan keluar masuk tikus ]


[ Amah udah cerita tadi malam, tapi aneh aja masa sih gak ketahuan. Bukannya kalau kita mau sewa pasti cek dulu kondisi gedungnya? ]


[ Nah itu A' aku gak tahu, karena yang ngurusin semua kan Robi. Justru aku ingin datang kesana biar tahu perjanjiannya bagaimana. Kemarin biaya renov aku masih ikut nanggung. Ane saja setiap yang di urusin si Robi gak pernah ada yang beres ]


[ Nah itu kamu tahu, kenapa juga kamu mau mengajaknya ]


[ Aku pikir dia sudah berubah, tapi aku udah gak mau rugi banyak makanya pengen nemuin pemilik gedungnya langsung. Mau antar gak? ]


[ Iyalah nanti sore jam 5 an ya sepulang aku kerja ]


[ Ok ]


[ Oh iya Tik, tadi pagi si Robi ke rumah, drama banget pake merajuk ke Amah ]


[ Paling dia takut kebongkar rahasianya, terus gimana tanggapan Amah? ]


[ Nah itu dia, tumben Amah gak peduli. Bahkan muka si Robi sampai memelas pun Amah tetep gak peduli ]


[ Baguslah kalau begitu supaya tak ada lagi yang membelanya ]


[ Ya sudah nanti kita ngobrol lagi sudah bel nih ]


[ Ok jangan lupa nanti sore ]


Mereka mengakhir percakapannya, Diki pun menuju gedung tempatnya bekerja dengan perasaan sedikit kesal karena di acuhkan Novia.

__ADS_1


Padahal dia ingin berbicara baik baik dan ingin menanyakan kejadian semalam. Apakah benar Novia bersama Adrian, menurut Diki seharusnya Novia minta izin dulu padanya jika mendapat penggantinya.


Karena ada Keyla da Althaf kedua anak mereka. Diki tak mau setelah Novia menikah dia akan melupakan anak anaknya. Dan Diki khawatir suami Novia tidak menyayangi mereka tulus bahkan menyiksa mereka seperti di film film.


__ADS_2