
#Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 65 ( Kepergok Manda )
Setelah pamit pada Bu Siska aku langsung menaiki motorku. Nuri mengekoriku dari belakang.
" A' bantuin aku masang helm dong kayaknya macet deh jetrekannya "
Dia mendekatkan wajahnya padaku, kami langsung berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Uugghh apa sih ini maksudnya, aku kan laki laki normal kenapa sih dia seperti sedang menggodaku.
Saking dekatnya jarak kami nafasnya terasa menerpa wajahku, buru buru ku jetrekan besi pengait helmya " Nih udah ya "
Wajahnya yang mendongak padaku membuatku jadi tambah salting. Untung saja Ibunya sudah masuk ke dalam. Jangan sampai melihat adegan ini, aku takut Ibunya berfikir yang tidak tidak padaku.
" Makasih A' maaf aku ngerepotin ya "
Aku hanya tersenyum tak menanggapi, Nuri masih berdiri tak menaiki motor.
" Kenapa? " tanyaku.
" A' boleh gak kalau makan baso dulu di ruko depan aku lapar. Belum sempat sarapan " wajahnya seperti memohon.
Ya sallam ini perempuan apa sih maunya. Gak tau apa aku lagi ngehindar lama lama di daerah sini. Tapi emang dia gak tahu sih hahaaa.
" Ya sudah tapi jangan lama lama ya "
Terpaksa kuikuti maunya, sudah bingung cara menolaknya. Tinggal berdo'a saja semoga nggak ketemu Novia atau keluarganya. Apalagi ketemu anak anakku.
Setelah kuiyakan dia baru mau menaiki motor. Langsung saja ku gas motorku supaya tak berlama lama disini.
Sesampai di ruko penjual baso ternyata parkir penuh. Lama aku tak kesini jadi tak tahu perkembangannya. Ternyata sekarang disini ramai dan ada kedai baso kekinian.
Karena penuh aku parkir saja motor di ruko sebelah kedai baso tersebut. Ruko itu sepi karena masih belum beroperasi. Tapi sudah kulihat ada neon box di toko tersebut sepertinya akan segera berjualan.
" Ayo A' kita masuk " ucap Nuri sambil menggandeng tanganku.
Aku tersentak kaget Nuri berani menggandeng tanganku " I-iya ayo masuk "
Meja yang tersedia tinggal yang berada di pojok, semua terisi penuh.
Pelayan langsung datang menanyakan pesanan kami. Kami hanya memesan dua porsi baso dan dua jus saja.
Sambil menunggu kami pun mengobrol, yang benarnya Nuri yang paling banyak bertanya. Aku lebih banyak diam tak fokus, masih takut kalau kalau ketahuan Novia.
Dua porsi baso dan dua gelas jus sudah sampai di meja. Akhirnya pesanan datang, aku bosan mendengar Nuri tak berhenti bicara.
Tanpa segan Nuri memberi bumbu pada mangkuk basoku " Selamat makaann " ucapnya.
__ADS_1
Ih ini perempuan mau bikin baper apa ya, namun aku terpaksa tersenyum " Makasih ya "
Langsung aku suapkan baso ke mulutku. Tiba tiba datang seorang wanita dan minta izin duduk di meja kami.
" Maaf ikut duduk ya, soalnya meja lain sudah penuh. Kalian gak usah ngerasa keganggu aku gak akan dengerin obrolan kalian kok "
Belum kami jawab dia sudah langsung duduk di sebelah Nuri, aku masi menunduk menikmati baso di mangkukku. Namun suara itu rasanya tak asing.
Perlahan ku angkat wajahku " Glek "
Baso yang kumasukkan ke mulutku langsung saja melewati kerongkonganku tanpa kukunyah.
Mataku langsung melotor lebar "Manda? " gumamku.
Ya dia kakak iparku, keluarga istriku yang tak ingin kutemui saat ini " Mati aku " ucapku dalam hati.
Dengan santainya dia tersenyum " Haaiii " sapanya.
Huhhhh kenapa sih mesti dia, mending aku ketemu Yati daripada ketemu Manda.
Si Yati masih bisa kusogok baso langsung diam, nah ini kutegur pun dia malah lebih nyolot.
Kami jadi duduk bertiga, Nuri terlihat cemberut. Mungkin dia merasa terganggu.
Dia pun sudah melihat sekeliling memang kedai baso ini penuh. Jadi tak ada alasan untuk menolak.
" Maaf Teh saya ganggu ya, kalau mau ngobrol mangga aza. Anggap saja saya obat nyamuk hehee "
" Gak papa kok Teh santai aza. Saya sama pacar saya gak keganggu " jawab Nuri.
" Uhukkk uhuuukk " aku yang sedang minum jus langsung tersedak. Untung bukan kuah baso, bisa perih nih hidung.
" Oh pacarnya ya, aduh jadi ganggu yang lagi kencan dong "
" Heheee " Nuri hanya terkekeh.
" Teh aku pernah lihat Teteh di belokan blok xx. Teteh orang sini? akubtinggal di blok xx "Manda mulai menginterogasi Nuri.
Nuri yang tidak mengetahui siapa Manda langsung menjawab panjang lebar.
" Iya saya tinggal di blok xx, kami baru pindah sekitar 2 bulan lalu. Sebelumya rumah saya di Perum xxx "
" Oh gitu ya pantesan saya baru lihat, nama Ibunya siapa? Kami suka mengadakan pengajian siapa tahu Ibunya mau bergabung biar silaturahmi antar warga terjaga "
Walaupun Manda bertanya pada Nuri tapi matanya lebih sering melirikku. Bahkan pandangannya tampak mengejek.
" Bu Siska, saya kasih no HP Ibu saya saja supaya nanti bisa hubungi Ibu saya langsung " Nuri langsung mengeluarkan HP nya.
Haduh bisa panjang ini urusan, Manda terlihat senyum menyeringai. Mau apalagi ini ipar barbar. Apa mau kepoin hidup aku?
__ADS_1
Niat sekali dia ganggu aku, buktinya basonya tidak dimakan hanya di aduk aduk tak jelas.
Ketika mata kami bersitatap basonya langsung ditusuk tusuk garpu seperti penuh dendam. Hiihhh ngeri liat matanya, berasa menusuk kulitku.
" Kalian udah lama pacaran? " ditanya seperi itu Nuri langsung tersipu mukanya merah.
Ingin kujawab pertanyaan Manda, tapi entah kenapa lidahku kelu.
" Kok gak ada yang jawab, roman romannya kalian seperti baru jadian ya. Kalian manis sekali sampai masuk kedai baso aza kalian gandengan tangan. Saya lihat kalian cocok seperti ada chemistrinya "
Mataku melebar untuk kesekian kalinya. Berarti dari tadi dia melihatku. Duh gawat gawat kalau begini.
Nuri terus saja tersenyum malu malu menjawab pertanyaan Manda. Kalau sudah begini aku menyerah saja. Sudah tak bisa mengadakan perlawan. Bendera putih sajaah.
" Aku udah dulu, sudah kenyang. Makasih udah mau aku ganggu acara kencannya " Manda sepertinya mau mengakhiri sesi tanya jawabnya.
" Loh itu basonya masih banyak Teh "
" Heheee iya tiba tiba gak selera "
Setelah mereka bertukar nomor HP, akhirnya Manda pamit pulang. Dia pamit padaku dengan tatapan penuh dendam.
Kalau di gambarkan mungkin mukanya sudah merah dan bertanduk. Ngapain dia marah, aku juga kan pernah mergokin adiknya dengan si auditor itu. 1 - 1 lah kita.
Ah akhirnya dia pergi, rasanya seperti lepas dari kandang singa.
Setelah makan baso, kami pun pergi ke tujuan kami Istana Motor.
Yang bikin aku gak nyaman Nuri terus bergelayut di lenganku ketika di toko accesoris tersebut. Aku selalu menolaknya dengan halus karena risih dipandangi pengunjung lain tapi dia terus mengulanginya lagi.
Lama lama aku bosan, akhirnya aku biarkan sajalah, terserah maunya. Disana Nuri belanja banyak. Bahkan belanjaanku pun dibayarkan.
Berkali kali aku menolak tapi dia terus memaksa, sampai kami jadi pusat perhatian di toko tersebut karena masing masing ingin membayar.
" Sudah ya belanjanya, ada lagi yang mau kamu beli? " tanyaku pada Nuri.
" Kayaknya ngga sudah cukup A' kalau ada yang kurang nanti kita bisa balik lagi "
Apa ' Kitaaa ' huhhhh apa maksudnya kita. ngarep banget sih jalan lagi sama aku.
" Ya sudah kita pulang, kamu gak papa kalau pulang sendiri kan? biar aku naik ojeg online "
Mendengar ucapanku wajahnya langsung murung.
" Mmhhh aku antar A' Diki dulu ya daripada naik ojeg kan sayang uangnya "
Haaahh ini perempuan benar benar menguji kesabaranku. Mana pasang wajah sedih gitu.
" Ya sudah kamu antar aku pulang ya, tapi nanti kamu langsung pulang. Ayo "
__ADS_1
Wajahnya langsung terlihat berbinar mendengar ajakanku. Ya Tuhan semoga saja gak muncul masalah baru.