
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 122 ( Membalas Novia )
Sepulang mengantar Nuri setelah makan malam di angkringan yang sama dengan Novia, Diki pulang membawa motornya dengan kecepatan rendah.
Dia melewati rumah milik Nenek Novia tempat istrinya tumbuh bahkan memberikan kenangan juga untuk Diki ketika dia mendekati Novia, bertunangan dan menikahi Novia.
Kalau di ingat semua itu harusnya dia merasa beruntung memiliki istri Novia selain cantik juga mandiri dan berhati lembut.
Diki menyadari perubahan sikap Novia yang awalnya lembut menjadi keras kepala karena tekanan yang diterimanya. Terutama dari ibu dan keluarganya.
Diki berdiri melihat rumah itu dari kejauhan ingin rasanya berkunjung dengan alasan menemui anak anaknya tapi sudah tak mungkin karena ini sudah larut malam.
Belum tentu juga ada Novia, karena sesuai perkataan Althaf ibunya terkadang tidur di ruko.
" Apa aku datang saja ke ruko ya? hahaaa bisa kena gampar Novia aku. Vi aku benar benar menyesal sudah meninggalkanmu " Diki bermonolog dalam hatinya dari awalnya tertawa menjadi melow.
Diki melajukan kembali motornya keluar dari gerbang komplek. Tak lama dia berhentikan motornya di depan ruko Novia.
Memadang ruko Novia dan sedikit berkhayal sedang berdiri merangkul pinggang Novia di ruko tersebut sambil melihat pengunjung yang silih berganti masuk ke toko.
" Alangkah nikmatnya hidup memiliki istri cantik, mandiri dan memiliki usaha semaju ini. Andai saja aku bisa sedikit bersabar dan mau melewati ini bersama Novia pasti aku akan menjadi suami yang paling beruntung "
Pletaak
" Hehhh Diki jangan banyak ngekhayal sebelum kau meminta rujuk pada adikku kamu harus melangkahi dulu mayatku dan paman Arif " suara Manda begitu terdengar jelas.
" Aawwhhh " pekik Diki sambil memegang kepalanya. Diki melihat ke kanan dan kirinya tapi dia tak melihat siapa pun.
" Ah si*l bahkan waktu mengkhayal pun kakak dan pamannya masih menghadangku "
Tanpa berpikir lagi Diki langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sebab jika dijalankan pelan adegan Adrian melamar Novia terus berputar di kepalanya.
Pukul 11 malam Diki sudah sampai di rumahnya. Dari luar sudah tampak sepi, untung saja Diki memiliki kunci cadangan rumahnya. Setelah menyimpan motor di garasi Diki membuka handle pintu.
Klek
__ADS_1
" Ki kamu baru pulang? " Bu Murni sedang duduk sendiri.
..." Mah lagi ngapain? bikin kaget aja. Dari tadi Amah disini gelap-gelapan sendirian? "...
" Kamu di tanya malah balik nanya Ki " sahut Bu Murni dengan wajah masam.
" Iya Mah aku baru pulang dari rumah Nuri "
" Kamu sudah sampai sejauh mana hubunganmu sama Nuri? sebaiknya kamu jangan lama lama menduda. Kalau ada yang cocok langsung aja kamu lamar " ujar Bu Murni.
" Nanti lah aku pikirin Mah, Amah tadi ngapain gelap gelapan? "
" Huftttt " bukannya menjawab Bu Murni malah menarik nafasnya dalam.
" Apa ada masalah dengan toko Mah? " pikiran Diki langsung tertaut ke sana. Karena tak biasanya ibunya sampai diam menyendiri seperti ini.
" Tadi siang si Umi telepon pas Amah, Cantika dan Ayu di rumah. Padahal kita baru dari toko, terpaksa kita balik lagi ke toko dan di sana kita diperlihatkan barang barang yang sudah di gigit tikus hiks hiks " Bu Murni terisak.
" Kok bisa, terus gimana Mah? " Diki jadi penasaran kalau sudah menyangkut toko ini berbahaya karena menyangkut sertifikat rumah yang digadaikan.
" Tadi Amah lihat temboknya bolong bolong di pake jalan tikus dari selokan belakang. Mana banyak bolongnya " di sekanya air mata yang turun di pipinya.
" Kenapa gitu Mah? " tanya Diki kedua alis matanya tertaut.
" Gak tahu, tapi Amah lihat Ayu seperti mengancam Umi. Biarlah itu jadi urusan Tika saja"
" Ya sudah Mah Cantika pasti tahu apa yang dilakukannya. Ikuti saja dulu rencana dia "
Walaupun Diki terkesan tak perduli tapi dia tetap memikirkan semua cerita Ibunya. Dia mencoba mencari benang merahnya. Padahal dia sedang ada masalah lain. Semoga saja benang merah itu tidak jadi benang kusut heheee.
" Ya sudah Mah aku mau ke kamar dulu istirahat sudah malam " tanpa menunggu jawaban Ibunya Diki langsung berdiri.
" Ki kamu pertimbangkan saran Amah, apalagi Amah dengar katanya Novia punya pacar pengusaha. Kamu jangan lama lama menduda malu nanti " Ucap Bu Murni setengah berteriak karena Diki mulai menjauh.
Diki yang sudah hampir masuk kamar menjadi penasaran dia malah kembali ke tempat ibunya.
" Gimana Mah maksudnya, pacar Novia pengusaha emang siapa yang bilang? " dengan perasaan diliputi penasaran Diki kembali duduk dan bertanya.
__ADS_1
" Iya itu kata si Siti, saudaranya kan kerja di toko Novia. Pacar Novia sering kesana anak anakmu pun sudah dekat dengan calon Bapaknya " ucap Bu Murni dengan wajah masam.
" Amah serius? " tanya Diki lagi.
" Iya itu sih yang Amah dengar, malah pas Amah lewat mereka lagi lihatin foto pacar si Novia mereka bilang wah ganteng ganteng. Bikin Amah senewen aja "
Diki jadi penasaran dengan sosok pacar Novia. Ibunya bilang pacar Novia pengusaha. Tapi tadi dia di lamar Adrian bukannya Adrian bekerja sebagai auditor, jadi yang bener yang mana?
" Ah pening pala awak, mending tidur lah " gumam Diki pelan sambil menggelengkan kepalanya tapi gumamannya masih terdengar ibunya.
" Kenapa kamu Ki? "
" Gak ada Mah, biar aja lah tetangga mau bilang apa aku gak peduli aku mau tidur aja Mah " balas Diki, kali ini dia benar benar masuk kamar dan gak keluar lagi.
" Itu anak kenapa ya? sepertinya masih belum rela melepas Novia. Andai saja waktu itu Novia gak nuntut uang arisan aku juga gak masalah mereka masih bersama.
Apalagi sekarang Novia punya toko dan juga bekerja. Pasti dia tambah loyal sama aku. Pusing kalau mikirin dia terus lebih baik tidur aja lah"
Bu Murni menyusul masuk ke kamar, Pak Imam terlihat sudah terlelap di ranjangnya. Walaupun mata sudah mengantuk tapi pikirannya masih mengingat sertifikat rumahnya.
Dia masih takut kejadian tadi siang akan benar benar berimbas pada sertifikat rumah yang digadaikannya.
Di dalam kamar Diki pun terjadi hal serupa. Diki tak dapat memejamkan matanya masih terbayang adegan romantis Novia dan Adrian.
" Masa iya sih mereka gak lihat ada aku disitu. Jangan jangan mereka niat manasin aku terus bilang gak tahu ada aku dan Nuri sedang makan juga. Ah drama banget pasangan ini. Sampai segitu niatnya manasin aku "
Diki bangun dari tidurnya dan duduk di pinggiran ranjang. Rasa rindunya pada Novia tak dapat di bendung lagi. Dia terbayang ketika malam malam bersama Novia. Sampai sampai Diki tersenyum senyum sendiri.
" Pengusaha? " tiba tiba kata itu keluar dari mulutnya.
Ternyata apa yang diceritakan ibunya masuk juga ke pikirannya walau awalnya dia bersikap tak perduli.
" Apa Adrian seorang pengusaha, tapi kenapa dia mau bekerja jadi auditor aneh banget. Andai benar orang yang diceritakan orang orang itu Adrian beruntung sekali kamu Vi.
Tapi sekarang aku tahu ternyata kamu matre. Aku gak nyangka banget pantas waktu aku ajak rujuk kamu nolak setengah hidup rupanya ini alasannya. Pengusaha "
" Baiklah kalau begitu lebih baik aku serius dengan Nuri. Dia terlihat sungguh sungguh untuk berhubungan lebih serius lagi. Lebih baik di cintai daripada mencintai.
__ADS_1
Aku akan buktikan pada Novia bukan dia saja yang bisa bahagia aku pun bisa bahagia. Aku gak peduli andai ada yang berpendapat kalau aku ingin membalas Novia. Baiklah sekarang aku yakin aku akan melamar Nuri secepatnya "
Dengan penuh keyakinan Diki berkata pada dirinya sendiri.