
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 46 ( Cerai )
" Pada kemana sih nih orang pulang kerja sepi banget, biasanya pada ngumpul di ruang TV " Diki duduk di sofa ruang TV kemudian membaringkan tubuhnya karena merasa lelah. Apalagi perutnya sudah berbunyi sedari tadi.
Semenjak tak ada Novia Diki memang tidur di rumah ibunya, dia merasa kesepian apabila tidur di rumahnya sendirian.
Kemudian dia menuju ke meja makan karena sudah merasa lapar, dia pulang agak terlambat sebab ada pekerjaan yang harus segera dibereskan karena sudah closing time sehingga mengharuskan dia pulang terlambat.
" A' tadi ada paket buat aa aku simpan di lemari deket TV ya " Ikbal keluar dari kamarnya dan menunjuk ke lemari sebelah TV.
" Oh ya udah nanti aa ambil, emang amah sama bapak kemana kok pada gak keliatan? "
" Tadi sih bilangnya mau ke rumah Teh Novia. Perginya rame rame bareng a'robi, teh ayu, teh cantika. Pake mobil teh Cantika juga "
" Uhuk uhuk, emang mau pada ngapain? terus si Chila dibawa? " Diki sampe tersedak mendengar jawaban Ikbal.
" Gak tahu ada urusan apa aku gak nanya. Chila gak dibawa biasa lah di titip di rumah bi Dina untung anaknya gak rewel walau sering di tinggal tinggal "
" Iya gak rewel tapi Bi Dina sering ngeluh si Ayu juga pergi pergi gak mau bawa anaknya, aneh.
Jam berapa mereka pergi, kamu gak ikut Bal ? " diki bertanya sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya
" Sekitar satu jam yang lalu lah, ngapain aku ikut a' itu mah urusan orang dewasa " jawab Ikbal sambil berlalu masuk ke kamarnya.
" Mau pada ngapain ya, kok mereka gak ngajak ngajak aku. Terus ada masalah apa ya?
Jangan jangan amah bikin ulah lagi, jangan sampe lah. Malu sama keluarga Novia " Diki membatin dalam hatinya.
Diki menyudahi makannya, kemudian dia mengambil HP dan berniat menghubungi ibunya.
Tuutt Tuutt Tuutt
Sampe beberapa kali telepon tapi tak ada yang mengangkat. Begitupun ketika mencoba menghubungi robi, ayu dan cantika semua tidak ada yang menjawab.
" Ini pada kemana sih orang orang, di telepon gak ada yang nyahut seorang pun " diki terus saja menggerutu karena semua yang dihubunginya tak ada yang menjawab.
__ADS_1
" Daripada kesal mending unboxing dulu paketnya bagus gak ya. Gak sabar pengen buru buru kasih kejutan buat istri dan anak anakku "
Dengan penuh perasaan antusias Diki membuka paket yang sudah dipesannya. Difotonya dan dibuatkan video untuk dibuat review.
Ditimang timangnya barang itu " Ternyata tasnya bagus gak sia sia aku ngeluarin duit. Kalau misal aku kirim foto sekarang ke Novia gimana ya, ah nanti jadinya gak kejutan dong.
Aku kirim foto mainan anak anak saja lah jadi ada alasan buat chat ke Novia terus biar dibilang perhatian juga ke anak anak hehee. Emang si Diki ini pintar lah "
Diki memuji dirinya sendiri, bahkan dia terus memandangi barang barang itu sambil tersenyum. Diapun kembali membuka Hp nya dan mengirim foto foto mainan anaknya.
[ Vi, kemarin aa beli mainan untuk anak anak. Ini bentuk perhatian seorang bapak pada anak anaknya. Semoga Keysha dan Althaf menyukainya ya. Sun jauh buat mereka ya. Aa juga kangen kamu Vi ] send
Saking senangnya Diki dia sampe memeluk barang barang tersebut sambil memejamkan matanya, tak terasa dia pun terlelap sambil bermimpi bersama keluarga kecilnya kejar kejaran di padang rumput.
Bruuugghhh
Diki terperanjat bangun dari tidurnya dan langsung duduk, dia kaget wajahnya terlihat sangat kebingungan.
" Dasar mantu kurang ajar satu keluarga gak ada yang bener. Sudah bagus kita mau datang buat minta maaf malah ngajak ribut " Bu Murni pulang dengan marah, disusul dengan kedatangan bapak, Robi dan Ayu.
" Apa sih mah datang datang langsung marah marah pake banting pintu segala kan aku jadi kaget " ucap Diki sambil mengusap dadanya.
" Aku ketiduran tadi, pulang kerja langsung makan. Kekenyangan jadi tidur disini.
Ada masalah apa sih, heboh banget. Tadi kata Ikbal kalian ke rumah Novia "
Diki langsung mendapat tatapan tajam dari ibunya " Ya itu amah kesal sama istri kamu, apalagi sama kakaknya gak ada sopan santunnya sama sekali ".
" Amah juga katanya mau minta maaf tapi gak bisa bawa diri, minta maaf seperti yang gak ikhlas. Kalian juga sama saja. Ya jelas mereka marah " sambar pak Imam.
Dia terlihat sama kesalnya namun dia kesal pada keluarganya. Bahkan dia sampe menunjuk Robi dan Ayu.
"Emang kalian kesana mau pada ngapain, terus kok gak ngajak aku sih? "
" Tadi kita buru buru supaya cepat sampe lagian bapak pengen masalahnya segera beres " Pak Imam yang menjawab pertanyaan Diki, karena yang lain hanya terdiam sambil memasang wajah kesal.
" Masalah yang mana pak? "
__ADS_1
" Ah sudah kamu gak usah banyak nanya, kalau kamu nanya amah jadi tambah kesal ingat kejadian tadi.
Bapak juga gak usah bela mantu kesayangan bapak itu. Pokoknya Diki harus cerai dari Novia
Amah udah gak sudi punya menantu dia, sakit hati amah "
" Kok amah nyuruh aku cerai sih, emang apa yang udah Novia lakuin? Aku sayang Novia dan anak anakku dan gak mau bercerai " Diki menolak permintaan ibunya, justru dia makin penasaran apa yang terjadi di rumah Novia.
" Udah gak usah dengerin Amah, dia lagi emosi saja. Amah juga jangan ngomong sembarangan " Pak Imam mencoba untuk menenangkan Diki.
" Iya pak udah lah gak usah belain terus perempuan itu, dia cuma bawa masalah buat kita " Robi tambah memanasi ibunya dan terlihat mendukung keinginan ibunya itu.
" Diam kamu, masalah ini juga gara gara ide istri kamu itu " Pak Imam geram dengan ucapan Diki dia pun membentak anaknya itu.
Ayu yang mendengar namanya disebut langsung membuang muka ke sembarang arah. Kemudian dia beranjak berdiri " Aku mau ambil Chila di rumah Bi Dina"
Ayu keluar dari rumah sambil menghentakkan kakinya, dia berniat menghindari obrolan keluarganya karena dia tahu pasti akan terus dipojokan.
" Itulah istri kamu sudah bikin masalah tapi tak mau menyadari kesalahannya. Kalian semua bikin bapak malu " Pak Imam berdiri meninggalkan ruangan tersebut dan masuk ke kamarnya dalam keadaan marah.
Di ruangan itu hanya tertinggal Diki, Robi dan Bu Murni. Keadaan hening sejenak selepas Pak Imam kekamar sambil terlihat marah.
" Apa itu yang kamu pegang?" Bu Murni menilik barang yang dipegang Diki.
" Ini kado buat Novia, kan dia mau ulang tahun, dan ini buat anak anak "
" Buat apa kamu ngasih kado sama Novia, amah gak setuju kamu kembali pada Novia lebih baik kamu bercerai lagipula dia sudah berniat menceraikanmu.
Kamu gak usah takut menduda, akan amah carikan istri buat kamu yang lebih cantik dari si Novia "
" Apa? gak mungkin Novia ingin bercerai dariku mah " Diki memelototkan matanya tak percaya dengan apa yang didengarnya
" Kalau kamu gak percaya tanya adik adikmu, bahkan Cantika pulang sambil marah dia saja gak mau singgah dulu gara gara kejadian tadi"
" Iya a' tadi Novia ingin bercerai bahkan dia bilang tidak rugi berpisah darimu dia seperti nantangin gitu " Robi menimpali ucapan ibunya. Mendengar ucapan Robi wajah Diki terlihat merah menahan amarah. Kedua tangannya terkepal.
" Jadi begitu Vi, rupanya benar gosip itu pantas saja kamu menolakku terus ternyata kamu sudah memiliki penggantiku " Diki bermonolog dalam hatinya.
__ADS_1
Tanpa ada yang melihat bibir Robi tersenyum menyeringai, dia sangat senang kakaknya bisa terhasut ucapannya.
" Tunggu saja pembalasanku Novia dan kamu perempuan bar bar. Adikmu itu pasti di ceraikan. Bersiap siaplah jadi janda, aku pastikan kamu akan memohon pada kami" Robi pun bermonolog dalam hati, kedua kakak adik itu sibuk dengan pemikiran mereka masing masing.