arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Bertemu di Toko Kelontong Ningsih


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Pov Novia


" Gimana Vi, udah ke warungnya? " baru sampe kamar aku sudah diberondong pertanyaan oleh Teh Manda.


" Bentar teh aku masi cape, kepo amat sih hehee " aku menggoda Teh Manda, sebab aku tau dia lagi ngincar Ayu pasti bawaannya kepo berharap ribut lagi. Emang bar bar kakakku ini.


" Hahaaa, iya penasaran banget. Tadi liat Ayu sama Amah di warung. Untung posisi teteh diseberang.


Bukan teteh gak berani tapi kan harus tau dulu ada apa. Takutnya mereka memang bener belanja. Masa iya diajak ribut " tuh kan sudah kutebak pasti jiwa tarungnya berontak kalau lihat yang diincarnya.


" Tadi aku mampir ke warung, ketemu sama Bu Ningsih yang nyewa. Bu Ningsih bilang Amah datang buat minta sewa warung untuk 6 bulan ke depan.


Amah juga bakal ngasih diskon kalau Bu Ningsih setuju. Yang paling parah tuh amah udah ambil dp 1 juta.


Tapi aku udah tunjukin bukti bukti perjanjian jual belinya sam Bu Ningsih biar dia percaya. Untung saja udah ku foto " paparku panjang lebar pada Teh Manda.


" Isshhh mertua kamu itu emang gak tau malu ya, niat banget sih moroton duit kamu.


Tapi untung az kamu nyuruh Teteh mampir ke warung, kalau gak bisa rugi bandar hahaaaa " Teh Manda tertawa kencang seakan meledekku.


" Aku juga spontan teh, pas tadi pagi ngobrol sama Lori dia ngomong supaya aku buru buru datang ke warung takutnya Amah masih ambil uang sewanya.


Instingnya kuat juga ya, padahal Lori baru bertemu beberapa kali pas main ke rumahku.


Dia udah ngerti dan faham banget sama watak Amah "


" Iya cuma kamu aza yang gak pernah faham. Gak tau terlalu baik, terlalu polos atau emang bucin sama suami kamu.


Sampai sampai dikerjain, diperas mertua kamu diem aza nerimo " cerocosnya seperti kesal dan mengatai aku.


" Ya udah udah atuh Teh lagian udah terjadi, yang paling penting aku sudah tersadar dari tidur panjangku kan " belaku tak mau disalahkan terus.


" Emangnya kamu putri tidur? Gimana kalau besok kita ke warung lagi, Teteh punya feeling Amah bakal kesana lagi. Apalagi urusan duit dia pasti ijo tuh matanya.


Takutnya Bu Ningsih setuju buat bayar sewa 6 bulan ke depan, terus duitnya langsung diambil Amah.

__ADS_1


Kalau itu sampai terjadi Udah Vi terimalah nasibmu. Dikadalin mertuamu terus. Apes hahaaa " Teh Manda berbicara sambil menepuk keningnya berkali kali.


" Gak akan teh aku udah bilang sama Bu Ningsih dia gak boleh kasih uang sewa selain sama aku, termasuk A'Diki sekalipun.


Kalau sampai dia ngasih selain sama aku itu diluar tanggung jawabku. Soal urusan uang 1 juta yang di ambil Amah biarlah anggap saja aku sodaqoh ke mertua " kujelaskan pada Teh Manda hasil obrolanku bersama Bu Ningsih supaya dia tidak terlalu khawatir.


" Tapi kalau soal kesana emang aku harus tetep kesana lagi teh, prediksi ku juga gitu seperti yang teteh bilang.


Amah pasti kesana lagi buat nanyain duitnya. Teteh besok temenin aku ya kesana " pintaku pada Teh Manda.


" Amaann, kita besok berangkat pagi aza jam 8 an sekalian kita kepasar belanja sayuran buat stock, sudah lama gak olahraga juga " jawabnya sambil mengacungkan jempolnya mengangkat tangannya seperti mengangkat barbel.


" Huuhhhh semangat amat, bilang aza pengen ketemu Ayu biar bisa ribut lagi. Dasar barbar. Pake bilang udah lama gak olahraga. Terniat amat, pengen ribut ya " kujawab acungan jempolnya sambil melemparkan bantal ke wajahnya.


" Hahaaaa tau aza kamu. Teteh mau siapin tenaga buat besok " isshhh ngaku lagi, niat banget sampe nyiapin tenaga lagi.


Lama juga kami ngobrol Teh Manda sudah terlihat menguap. Aku duduk di meja rias dan membuka hp.


Ada banyak pesan masuk terutama dari pak suami yang masih gigih mengajakku pulang.


Sedang untuk hubunganku dengan A'Diki, rasanya makin hambar mengingat perlakuannya terakhir dengan beraninya menamparku.


Itu memang yang pertama, tapi tak menjamin tidak ada yang kedua kalinya. Sedangkan sakit yang kurasa bukan hanya tamparannya saja tapi ketidak tegasannya. Yang sudah bertahun tahun terjadi.


Mungkin sakit ini sudah kudapat sedari lama, tapi tak pernah kusadari selalu mengenyampingkan perasaan sendiri.


Selalu berusaha sabar dan menerima, tapi dengan kejadian kemarin mataku seakan terbuka. Aku sudah tak dapat memberi toleransi lagi.


Cukup sampai disini..


Dipesan berikutnya aku melihat ada nomor tidak kukenal.


[ Neng Via, sudah sampai rumah? ]


Mmhhh siapa ya, tapi yang memanggilku seperti ini hanya 1 orang. Adrian, ya ini pasti dia.


Darimana dia tau nomorku?

__ADS_1


Kulihat pesan tersebut masuk 1 jam setelah dia mengantarku. Tapi selepas aku diantar Adrian aku memang tidak membuka hp.


Tak kubalas juga pesannya, kalau kubalas nanti dia bakal kirim pesan lagi. Masalahku belum selesai, aku tak mau menambah daftar masalahku lagi.


Lebih baik aku tidur, sama halnya dengan Teh Manda menyiapkan tenaga untuk esok.


Segera aku ke kamar mandi dan melakukan ritualku membersihkan diri.


*******


Terbangun di pagi hari aku dan Teh Manda sudah siap berangkat ke warung Amah yang sekarang sudah jadi milikku. Dengan semangat 45 kami berangkat.


Aku dan teh manda berboncengan menggunakan motor Paman Arif, motor sport yang sering dianggurinnya.


Sebab biasanya ia lebih sering pergi menggunakan mobil. Kecuali kalau berkunjung ke rumahku karena letaknya di dalam gang. Dan susah mencari parkir.


Teh mManda walaupun penampilannya feminim tapi dia pandai membawa motor besar seperti ini. Sehingga menambah daya tarik setiap orang yang melihat.


Tak perlu waktu yang lama kami sudah sampai di warung, kami berniat parkir tepat di halaman warung karena tersedia lahan untuk parkir motor.


Ternyata Amah dan Ayu sudah ada disana dan terlihat sedang berbincang bersama Bu Ningsih dan suaminya. Mereka serempak memandang kami ketika kami parkir tepat dihadapan mereka.


Mereka belum sadar akan kedatangan kami berdua. Karena Teh Manda menggunakan helm fullface sedangkan aku dibonceng Teh Manda dan berada di belakangnya menggunakan helm berkaca hitam dan tertutup walaupun bukan fullface.


Kami turun dari motor dan membuka helm, Amah dan Ayu sontak terkejut matanya membelalak bahkan mulut Ayu menganga ketika melihat kamilah yang datang.


Sepertinya mereka tidak menyangka kedatangan kami. Surpriseeee...


Dalam hati aku tertawa dan ingin bernyanyi ' owh owh kamu ketahuan...'


Tapi tentu saja itu hanya bisa diucapkan dalam hati, aku tak mau memancing keributan terlebih dahulu biarlah itu jatah Teh Manda saja hahaaaa..


Kami turun dari motor dengan perasaan penuh percaya diri. Makin mendekat wajah Amah dan Ayu makin terlihat pucat. Terlihat salah tingkah.


Mungkin dalam hati Teh Manda dia berbicara ' welcome to the jungle '


Hahaaaaa....

__ADS_1


__ADS_2